Bible Study - Les Kitab Suci - Les Alkitab
 
 
 
 

Y. Samiran. SCJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Bible Study No. 8: Pilih yang mana?

Kirim Ke Printer Undang teman untuk Bible Study


Mat 21:28 "Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur.
Mat 21:29 Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi.
Mat 21:30 Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga.
Mat 21:31 Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Mat 21:32 Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya."


Baca homili Rm. Sumarya DISINI
Silahkan renungkan dan tulis pendapat dan komentar.

Salam dan doa
Dikirim Tgl 22 29 Sep 2005 oleh Rm. Y. Samiran. SCJ

  Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda



Respon dari Maria Theresia Novita pada 30 Sep 2005 08:58 am

well, parable ini membuat saya tersenyum kecut lho...
sama saja dengan pertanyaan dibawah ini,
"Anda Katholik?" ya...
"Mengikuti Misa setiap hari atau setiap minggu?" hhmm... kadang kadang
"Mengaku Dosa...??" ...hhmmm wah... sudah lama sekali dulu...

Apa bedanya dengan si Anak yang menjawab "YA" tapi tidak pergi menuruti perintah Bapanya.

semoga bisa direnungkan

Respon dari Iwan Kumalaputra pada 01 Oct 2005 09:32 am

Ilustrasi Injil kali ini, Seseorang itu adalah Tuhan Allah. Anak-anaknya adalah kita semua, manusia. Merenungi Injil kali ini, saya teringat pada bencana alam gempa bumi tsunami di Aceh akhir tahun 2004 lalu dan situasi bangsa Indonesia akhir-akhir ini.

Pertama, bencana alam tsunami yang begitu dahsyat telah mengundang berbagai pihak di dunia ini, termasuk negara-negara yang dicap liberalis turun membantu para korban tsunami di Aceh. Oleh banyak kalangan negara-negara Barat ini dicap kurang religius. Namun pada kenyataannya mereka justru memiliki kepekaan terhadap sesamanya. Mereka memiliki rasa kasih yang besar untuk saudara-saudaranya di Aceh. Mungkin kita salah mencap mereka. Kedua, bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang religius, beragama, ber-Tuhan. Namun, kita melihat banyak terjadi tindakan-tindakan anarkis di negeri ini. Mungkin kita juga salah mengenali bangsa kita.

Injil kali ini sungguh menarik. Ukuran Kerajaan Allah bukan kata-kata "YA", bukan pula pembaptisan kita. Bukan berarti kalau kita sudah beragama, sudah ber-Tuhan maka kita akan masuk Kerajaan Surga. Injil hari ini menegaskan bahwa tindakan kita penting untuk dinilai. Sejauh mana kita bertindak dengan penuh cinta kasih bagi saudara kita. Bertindak jauh lebih baik daripada sekedar berkata-kata. Tidak menarik jika hidup kita hanya NATO (No Action Talk Only). Bisa-bisa orang yang tidak belum beragama sudah bertindak lebih baik daripada kita.

Injil kali ini juga menarik. Ketika Yesus bertanya, "Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir." Inilah yang paling berbahaya. Kita sudah tahu tetapi tetap tidak mau berubah. Mungkin ini juga yang terjadi pada kita semua. Setiap kali kita mendengar Sabda Allah, setiap kali itu pula kita tahu apa yang harus dilakukan sesuai kehendak Allah. Celakanya, begitu selesai mengikuti Ekaristi, kita lupa segalanya. Kita mulai lagi mementingkan diri kita sendiri, tidak peduli orang lain.

Semoga pendapat saya dapat berguna dan menguatkan iman kita semua. Mari kita bertekad untuk SUNGGUH menjalankan kehendak Bapa. Tidak hanya lewat kata-kata tetapi juga melalui tindakan nyata kita. Amin. smile

Respon dari Maria Theresia Novita pada 01 Oct 2005 09:55 am

menyambung postingan saya previously waktu itu belum selesai...
Ada dan banyak orang menjadi katholik, dibaptis, menerima komuni, menerima Sakrament Krisma, atau bahkan mungkin akvif di gereja, tapi apakah hal hal subtansial sebagai orang Katholik benar benar dilakukan..???
padahal kalau ditanya, seperti pada postingan sya terdahulu, mereka menjawab ya, tapi tidak melakukan apa yang diperintahkan Bapa.
Sebuah refleksi yang bagus sekali, parable atau perumpamaan ini, adalah sebuah koreksi bagus tentang keimanan kita, kepatuhan kita (OBIDIENCE) pada apa yang diminta Bapa.
Kita mengatakan YA, pada Bapa, pada waktu kita dibaptis dalam namaNya, dan Putra dan Roh Kudus.
Apakah kata YA, yang kita katakan waktu itu, konsistensinya masih berlaku ? Sudahkah kita melakukan semua perintah perintahNya. Mengasihi sesama, berbuat kebajikan dan kejujuran,rendah hati, sabar dan memaafkan,dan pergi mengaku dosa..??
Kita tentu tidak mau dan tidak ingin menjadi yang terakhir.

smile

Respon dari Lucas Djunaidi pada 07 Oct 2005 11:35 am

Atas bacaan Injil Mat 2:28-32, Romo mengajukan pertanyaan yang menggelitik: Pilih yang mana?
Kalau mau bicara dari hati nurani, sikap yang terbaik adalah menjawab Ya dan kemudian pergi bekerja di kebun anggur seperti perintah bapanya.
Namun seringkali kita bersikap seperti anak pertama, menyatakan kesediaan hanya untuk menyenangkan hati saja, tapi tidak pernah ada tindakan nyata. Pernyataan ya tsb selain semata-mata untuk menyenangkan hati sang ayah, bisa juga karena tidak ingin diganggu lebih lanjut dengan keinginan diri yang ingin dilakukan oleh si anak pertama tsb, sehingga dia menyatakan: ya, dan ternyata memang sesudah itu, bebaslah dia dari perintah-perintah berikutnya. Saya ambil contoh, anak saya yang masih duduk di sekolah dasar, ketika dia sedang asyik membaca buku cerita, dan hari sudah sore, saya memintanya untuk pergi mandi, dan dengan entengnya dia hanya menjawab:"Ya". Tapi, dia tetap tidak beranjak pergi mandi, tetap saja asyik membaca buku ceritanya. Tentu saja ini sekedar ilustrasi bahwa jawaban ya tsb disamping untuk menyenangkan si orang tua, juga untuk membuat dia terbebas dari perintah berikutnya, sehingga kesenangan yang sedang dilakukannya saat itu yaitu baca buku tetap bisa dilanjutkan. Mungkin begitulah kira-kira di benak sang anak pertama, di dalam refleksi saya.
Berbeda dengan anak kedua, awal mulanya dia menyatakan tidak bersedia, namun dia kemudian menyesal atas jawaban yang pastinya mengecewakan ayahnya tsb, namun ada proses penyesalan/pertobatan yang membuatnya untuk mengambil tindakan berlawanan dengan apa yg semula dia utarakan. Dari tidak bersedia, kemudian menjadi menyesal dan bersedia menuruti kehendak sang ayah.
Ketika Tuhan menyapa kita dari setiap aspek kehidupan, entah lewat orang terdekat di sekeliling kita, keluarga, teman-teman dan sesama entah lewat berbagai peristiwa kehidupan, dsb Kebanyakan dari kita sering hanya bersikap berusaha menyenangkan hari saja, tapi ternyata tidak ada tindakan kongkrit/nyata. Lewat bacaan injil ini, kita diajak untuk berlajar dari sang anak kedua yang mau menyadari kesalahan dan mengungkapkan rasa penyesalan atas perbuatan kita lewat tindakan nyata sesuai dengan kehendak Bapa. Semoga kita semakin hari semakin dikuatkan, dan mampu dengan rendah hati belajar dari kaum pendosa (pemungut cukai dan perempuan sundal), yang mau membuka hati menyadari segala perbuatan dosa/kesalahan untuk berbalik arah mengikuti kehendak Bapa. Amin. smile

Respon dari Trisulawati pada 20 Oct 2005 07:55 am

Romo, kok sudah laaama sekali bacaan topik di atas ndak dibahas ya?
Dari bacaan ini saya lebih tertarik pada ayat terakhir Mat 21:32, Sebab Yohanes datang untuk menunjukan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya.Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya.Dan meskipun kamu melihatnya,tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.
Disini saya melihat bahwa pemungut cukai dan perempuan sundal adalah orang2 yang menyadari bahwa dirinya penuh dosa dan memerlukan seseorang untuk menolong dan menyelamatkan mereka; dalam kondisi ini seseorang akan merasa rendah hati ( rendah diri? ), tidak berguna, sendirian dan ditinggalkan, sehingga bila mendengar kabar baik dan bisa mengeluarkan mereka dari kondisi ini; pasti yang ingin sembuh akan menanggapi dan percaya, dengan penuh harapan untuk dapat diselamatkan dan di keluarkan dari kondisi yang sungguh menekan ini.
Masalahnya seberapa besar kesadaran saya atau kita2 untuk merasa bahwa saya orang berdosa sehingga perlu untuk diselamatkan.
Apakah ada cara untuk selalu sadar bahwa kita orang berdosa dan perlu penyelamatan, rindu akan rahmat Tuhan?

Respon dari Johannes pada 26 Oct 2005 04:57 am

Menurut saya, kita, umat kristiani, seringkali mengaku di mulut bahwa kita mengenal Tuhan Yesus sebagai jalan keselamatan, mengaku mengetahui ajaran2 dan perintah2Nya, tetapi tidak ada perbuatan yang merealisasikan ucapan kita tersebut kepada sesama kita. Itulah si anak sulung laki-laki, yang dalam tradisi, kelak menjadi pewaris kekayaan dan usaha keluarganya. anak ke-2, mungkin tahu bahwa kakaknya disuruh pergi pula oleh ayahnya tetapi tidak melakukannya, sehingga mungkin ia berpikir untuk apa aku pergi bekerja sedang kakakku saja tidak pergi. SEringkali kita terjebak oleh pikiran ini, kita melihat orang yang tidak melakukan kehendak Tuhan bisa hidup enak, tidak repot, untuk apa aku bersusah payah lebih aku mencontoh dia dan menikmati hidup ini. dan kita pun turut jatuh dalam dosa. Tetapi jika kita menyadari kesalahan ini dan akhirnya mengikuti perintah Tuhan, maka saya yakin sang ayah tahu dan akan memberikan "upah" bagi anak yang ke-2 kelak, karena Apa yang telah dikerjakannya telah menyenangkan hati ayahnya. Begitu pula si Sulung kelak akan menerima hukumannya karena telah berbohong dan tidak menuruti perintah ayahnya. Kelak, kita pun akan menerima "upah" yang setimpal untuk apa yang telah kita perbuat untuk Tuhan.Bukan begitu Romo dan teman2 sekalian ?

Respon dari setanggi pada 22 Nov 2005 05:32 am

Dear Romo...
Saya berminat utk mengikuti les alkitab disini. Tp saya bingung mulai dari mana? Skrg blm ada posting baru ya Romo? Terima kasih.

Respon dari Rm. Y. Samiran. SCJ pada 02 Dec 2005 01:16 pm

Mulai dari latihan No. 2 Kitab Kejadian.

Bagi peserta yg lain mohon kesabarannya.


Salam dan doa

Respon dari ianto pada 24 Mar 2007 01:35 pm

smilehmm klo bisa saya amati sebenarnya hal ini juga dapat kita bayangkan ketika orang yang dari kristen lalu memilih untuk keluar namun kemudian memilih untuk kembali....dan Bapa dengan senantiasa menerima kembali anaknya...berbahagialah orang yang selalu percaya dan menuruti apa yang diperintahkan,dan tanpa mengeluh



Nama:
E-mail: (perlu diisi)
Smile: smile wink wassat tongue laughing sad angry crying 

| lupakan