Bible Study - Les Kitab Suci - Les Alkitab
 
 
 
 

Y. Samiran. SCJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Bible Study No. 7: Perumpamaan Pekerja di Kebun Anggur

Kirim Ke Printer Undang teman untuk Bible Study


Mat 20:1 "Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.
Mat 20:2 Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.
Mat 20:3 Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar.
Mat 20:4 Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan merekapun pergi.
Mat 20:5 Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi.
Mat 20:6 Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?
Mat 20:7 Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.
Mat 20:8 Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu.
Mat 20:9 Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar.
Mat 20:10 Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun menerima masing-masing satu dinar juga.
Mat 20:11 Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu,
Mat 20:12 katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.
Mat 20:13 Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?
Mat 20:14 Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.
Mat 20:15 Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?
Mat 20:16 Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir."



Silahkan baca ayat Mat 20:1-16, renungkan dan artikan, saya tunggu komentarnya kemudian akan saya berikan ilustrasi dan artinya.

Selamat merenungkan.
Dikirim Tgl 21 19 Sep 2005 oleh Rm. Y. Samiran. SCJ

  Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda



Respon dari me pada 20 Sep 2005 01:52 pm

Aku coba yah... wink

Ada pola umum yang terlihat dalam kelompok pekerja ini.

Masing-masing merasa sudah melakukan tugasnya lebih baik daripada yang lain sehingga menuntut hak yang dirasa sama.

Padahal, pekerjaan itu diberikan oleh majikan itu. Dialah yang memberikan pekerjaan bagi para pekerja itu.

Jika majikan itu tidak memberikan pekerjaan, maka para pekerja otomatis tidak mendapatkan pekerjaan.

Artinya, jika ada kesempatan untuk bekerja,
- kerjakanlah sebaik-baiknya, karena waktunya pendek
- karena itu adalah aktifitas atau kesempatan hidup
- karena untuk lebih mengenal si pemberi pekerjaan, dan lebih-lebih mengenal diri sendiri, yaitu, jika terus-menerus disodorkan pekerjaan yang sama dan membosankan, apakah diri masih tetap dapat bekerja dengan semangat yang sama seperti sewaktu menerima pekerjaan itu pada mulanya.

Respon dari berto pada 21 Sep 2005 07:47 am

hmmm.. aku juga coba de ^^
menurut aku, majikan itu sama dengan Tuhan, yg merupakan seorang gembala yang baik dan selalu mencari domba2-Nya yang hilang (majikan itu pergi keluar untuk mencari pekerja2). Dia selalu senantiasa menyambut orang2 yang mau mejawab panggilan-Nya kapan saja (pagi, siang ataupun petang hari)

Tidak peduli siapa yang ditemukan duluan, siapa yang terakhir. Semua akan mendapat yang sama di hadapan Allah.
Jadi tidak mustahil bagi orang2 yang terakhir baru diselamatkan untuk juga mendapatkan karunia2-Nya dan juga menjadi pewarta kabar gembira-Nya dan bergabung dalam kerajaan-Nya.

Kutipan "Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu" berati: Bagi orang2 yang terdahulu, juga ga boleh takabur, ga boleh sombong, ga boleh iri hati atau merasa tersaingi dengan orang2 baru itu.

Toh kan kita bekerja untuk satu Tuhan, satu iman, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua (dengan kata lain ya satu majikan toh).

"bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. "
Menurut aku, kerja untuk Tuhan itu engga gampang, berat seperti bekerja sehari suntuk menanggung panas terik matahari.
Tetapi ga perlu kuatir, Tuhan pasti akan senantiasa merekrut orang2 baru untuk membantu kita2 orang terdahulu dalam melaksanakan tugas2-Nya.

Tetapi aku engga mengerti makna: "Mat 20:16 Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir."
Contoh kasusnya seperti apa ya?

Respon dari Trisulawati pada 21 Sep 2005 09:01 am

Mat 20:1-12 ini adalah kejadian yang umum berlaku di masyarakat kita, karena pada umumnya orang yang pertama bekerja mendapat upah yang lebih besar dr pd yang bekerja terakhir, atau biasa kita lebih kenal dengan kata "senior", dan sungguh ini biasa terjadi para senior ini suka cemburu dengan para yunior yang baru bekerja sebentar trus gajinya sama dengan yang sudah senior. Nah dengan cemburu/iri hati ini biasanya bukan hal positif yang didapat tetapi justru hal-hal yang negatif seperti menjadi malas, frustasi, membuat suana sedemikian sehingga yuniornya tidak kerasan, membenci atasannya yg tidak adil dsb. Dari semua yg dilakukan akibat iri hati/cemburu ini bukannya makin disayang oleh atasan tapi malah semakin memperburuk kinerja.
Maka alangkah baiknya jika kita selalu mengucap syukur atas apa yg telah Tuhan berikan kepada kita ( apalagi kesempatan untuk bekerja). Dengan mengucap syukur hati kita menjadi gembira dan dengan rela dapat melakukan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin. Dengan bersyukur kita terpacu untuk meningkatkan kemampuan yang sudah ada. Dan hak untuk memberi upah/balasan adalah bukan hak kita, maka kita kembalikan kepada Sang Pemberi... BAPA kita yang maha adil. Ini pengalaman yang bisa saya bagikan untuk teman-teman berkaitan dengan bacaan Mat20: 1-16

Respon dari Iwan Kumalaputra pada 21 Sep 2005 10:53 am

Menurut pendapat saya cerita ini tidak diceritakan Yesus sebagai suatu fakta melainkan suatu perumpamaan. Suatu perumpamaan merupakan suatu analogi. Perumpamaan tentang pekerja di kebun anggur (Mat 20:1-16) adalah gambaran Kerajaan Allah.

Tuan pemilik kebun anggur itu adalah Allah sendiri. Ia memanggil orang-orang yang menganggur untuk bekerja di kebun anggurnya, sama seperti Allah memanggil kita semua, anak-anak-Nya untuk menuai buah-buah Kerajaan Allah di dunia ini. Allah memanggil kita semua setiap saat, mulai dari pagi hingga malam, sejak dahulu hingga hari esok. Namun semua itu berpulang kepada diri kita masing-masing, kapan kita mau menyambut ajakan Tuhan itu untuk masuk dalam Kerajaan Allah dan menuai buahnya. Setelah kita menyambut ajakan Tuhan, kita perlu bekerja keras menuai buah-buah kerajaan Allah dalam hidup kita, melalui seluruh kehidupan kita. Dengan setia dan taat kepada Allah, pada sesama, dan pada diri kita sendiri. Setelah kita menuai hasilnya, kita semua akan mendapat upah yang sama, yang ditawarkan Yesus, yaitu keselamatan kekal. Inilah upah bagi kita semua yang menyambut ajakan Tuhan dan berusaha menuai buah-buahnya.

Pelajaran yang dapat kita petik dalam perumpamaan ini adalah bahwa keselamatan kekal ditawarkan Allah kepada semua manusia, tanpa terkecuali. Melalui Putera-Nya yang tersalib, Allah telah membuka jalan keselamatan bagi kita. Yesus telah memberikan hidup-Nya demi hidup kita. Inilah keselamatan yang ditawarkan Yesus. Jadi, intinya adalah kapan kita mau sungguh-sungguh menyambut ajakan Yesus ini. Kadang meskipun kita adalah orang Katolik, tetapi perbuatan dan tindakan kita jauh dari pekerjaan menuai buah-buah kerajaan Allah. Inilah tantangannya. Bagaimana kita mau sungguh berusaha untuk menyambut ajakan Yesus itu? Dan maukah kita bekerja keras untuk menuai buah-buah Kerajaan Allah tersebut? tongue

Respon dari dede pada 22 Sep 2005 09:58 am

Ikutan ah,...
Kalau menurut saya sih, ini adalah perumpamaan untuk kita kita semua, apa bila kita melakukan kebaikan janganlah kita melakukan perhitungan dengan Allah, sehingga kita semua menjadi terjebak dalam penyataan "Loh sayakan sudah berbuat baik yg banyak, tapi koq kenapa balasan dari Allah hanya sebegini aja ?" lebih parah lagi kemudian kemudian membandingkan perbuatan baik dan buruk, jadi seolah olah selama perbuatan baik yg saya lakukan lebih banyak dari perbuatan buruk saya maka semuanya menjadi OK di mata Allah, sehingga patut menuntut upah lebih tongue

Respon dari antonius pada 22 Sep 2005 12:36 pm

Keadilan Manusia Vs Kemurahan Hati Allah

kita sering melihat dan merasa kehidupan ini tidak adil, mengapa??
Sering kali kita menjumpai dimana seseorang yang sudah berbuat baik, menjadi hamba Tuhan, melayani, tekun dalam doa tetapi hidupnya biasa biasa saja, bahkan mungkin beberapa kurang beruntung. Tetapi coba kita lihat, orang orang lain yang hidupnya penuh dengan tindakan yang buruk, seperti orang yang korupsi, bandar judi, berdagang dengan menipu, orang yang sok kuasa krn kedudukannya dll hidupnya lebih baik dari mereka yang taat.
Bila kita melihat keadaan ini kita pun pasti berseru "Tuhan kenapa Engkau tidak adil......"
Sama seperti dengan para pekerja di kebun anggur tadi. "Mat 20:12 katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. "
Dan dijawab, "Mat 20:13 Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?
Mat 20:14 Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.
Mat 20:15 Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? "

Kita sering kali mengukur Kemurahan Hati Allah dengan "takaran keadilan manusia", kita lupa bahwa Allah itu maha pemurah.

Semoga kita dapat mengerti sifat Murah Hati dari Allah Bapa sehingga kita tidak terjebak dalam konsep "keadilan versi manusia". Dan kita tidak perlu ragu akan keadaan kita di dunia, karena Allah mempunyai rencana yang indah untuk setiap kita yang percaya kepada Nya.


smile

Respon dari Lucas Djunaidi pada 22 Sep 2005 01:21 pm

Romo dan teman-teman ytks. Ikutan nimbrung yach. Dalam bacaan Injil Mat 20:1-16 dikatakan dengan jelas pada ayat 1 bahwa perumpamaan kebun anggur ini berkaitan dengan Kerajaan Surga, sedangkan majikan dari kebun anggur tsb adalah Tuhan sendiri.
Tuhan yang begitu setia dan tak kunjung bosan-bosannya menyapa kita/memanggil kita untuk ambil bagian di dalam KerajaanNya terbukti dengan kata-kata bahwa majikan tsb keluar pagi-pagi benar mencari pekerja-pekerja (ayat 1) dan ini dilakukan berulang kali (lihat ayat 5 dan 6). Dan Tuhan itu maha adil, upah dari tanggapan kita kepada sapaan atau panggilan Tuhan adalah sama bagi semua orang, tidak perduli apakah kita sudah sekian lama (sejak lahir) menjadi pengikut-Nya ataukah baru-baru ini saja kita mengikuti-Nya, yaitu upah keselamatan (1 dinar).
Begitu murah hati Tuhan, tidak peduli baru kemarin kita bertobat, menjawab panggilan Tuhan, kita tetap mendapatkan upah yang sama, yaitu upah keselamatan.
Mungkin sebagian orang akan tergelitik, seperti pekerja yang merasa bekerja lebih lama, merasa wah gak adil banget dong, padahal mereka sudah sejak dahulu mengikuti Tuhan, tapi kok enak banget yang terakhir bertobat kok juga sama upahnya. Ya itulah Tuhan kita yang maha murah. Tentunya bagi orang yang merasa sudah jauh lebih mengenal Tuhan, diingatkan untuk tidak sombong rohani, bukankah mengikuti Tuhan sejak lama, merupakan berkat tersendiri, karena selama ini sudah merasakan berkatNya, kemurahan hatiNya, merasakan penyertaan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari yang pada saat itu belum dialami oleh pekerja yang terlambat ikut dalam menanggapi panggilan tsb?
Kita juga tetap harus bersyukur, walaupun orang yang terakhir bertobat menjelang kematiannya, kemudian menerima upah keselamatan juga, yang dengan demikian menjadi orang pertama, dan orang pertama menjawab panggilan Tuhan menjadi yang terakhir.
Ada sukacita yang sama yang dijanjikan oleh Tuhan kepada kita para pekerja kebun anggur-Nya yaitu keselamatan.
Salam. LD

Respon dari Maria Theresia Novita pada 27 Sep 2005 01:55 pm

So how about this story...

There is a woman, who had let an awful life, she has done all the bad things over her life. All the big sins she has committed.
One day, she hit by the train accidentially, and at the moment of her death, she said to GOD,"YOU A RIGHT TO TAKE MY LIFE, BECAUSE IN THIS WAY I WILL NO LONGER BE ABLE TO OFFEND YOU."

And this had erase all her sins, this example shows A SINGLE MOMENT OF GREAT HUMILITY AND REPENTANCE OF THE MOMENT OF DEATH.
And she avoided a HELL.

so, she is the last who to be the first.
(Maria Simma's Story)

Respon dari Rm. Y. Samiran. SCJ pada 29 Sep 2005 09:53 pm

Saya senang dan bahagia membaca komentar dan pendapat semua. Ternyata kedalaman anda dalam ayat2 tsb adalah baik dan jelas yaitu Tuhan Allah adalah pengasih, pengampun dan sabar.

Terdapat ilustrasi dari ayat:

Mat 20:16 Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir."

Apa yg dapat kita lihat disini? Coba renungkan sebuah situasi atau analogi sbb:

Seorang pemilik kebun anggur setelah sekian lama mengolahnya kemudian mengajak saudaranya untuk ikut mengolahnya. Setelah sekian lama karena malas pemilik kebun tidak lagi ikut mengolah dan membiarkan saudaranya untuk mengolahnya sendiri, karena dia mengetahui bahwa saudaranya memiliki komitmen dan tanggung jawab untuk tetap mengolah kebun anggur miliknya. Sedangkan saudaranya melihat kemalasan si pemilik kebun dan tetap teguh untuk mengolahnya walaupun dia harus memikul beban kerja tambahan.

Tuhan memberikan semua manusia rahmat yg sama. Manusia menyadari pemberian rahmat dan menerimanya, kemudian mengimplimentasikan dalam karya hidupnya.

Cara bekerjanya rahmat adalah dalam tahapan, yaitu kehendak bebas untuk menerima dan menolaknya. Bagi yg memilih untuk menerima, rahmat akan berkarya dalam hidup yg membawakannya dekat kepada Tuhan dan karena itu mendapatkan tambahan rahmat dst. Bagi yg menolak rahmat karena (sifat egoisnya manusia/ dosa asal) akan mempercumakan panggilan untuk berkarya dan tentu tidak akan menerima rahmat lagi untuk berkarya sampai dia menyadari untuk menjalani panggilan rahmat Tuhan semula. Yaitu kembali ke posisi semula dan menggunakan rahmat yg awal/ semula untuk memilih yg benar dst.

Sebagai pemilik kebun anggur dia adalah yg dimaksudkan dengan yg terdahulu mendapatkan rahmat dan memilih untuk tidak menjalani panggilan dan pemberian rahmat karena dia mengetahui bahwa dia dapat mempergunakan rahmat saudaranya yg bertanggung jawab, sedangkan saudaranya adalah yg terakhir menerima panggilan untuk mengolah kebun anggur. Karena dia menerima rahmat dan menjalani tugasnya dengan ikhlas dan penuh kasih dia mendapatkan rahmat tambahan, gigih dan terus berkarya walaupun dia melihat dan merasakan ketidak adilan yg dilakukan oleh pemilik kebun yg malas dan tidak bertanggung jawab. Dia tetap setia untuk menjalani beban dan mengolah kebun anggur. Dia mengolah kebun bukan karena rasa takut, setia, baik atau menanggungkan hidup kepada pemilik kebun melainkan, dia menjalani tugasnya karena rahmat Tuhan, karena dia menyadari bahwa seluruh karyanya adalah untuk Tuhan dan bukan untuk saudaranya si pemilik kebun ataupun dirinya sendiri. Tentu dia sedang mengumpulkan harta untuk hidupnya yg abadi karena seluruh karyanya didedikasikan kepada Tuhan, dia akan selalu dekat dengan Tuhan dan dengan itu mendapatkan banyak sekali rahmat untuk tetap mengolah kebun dengan dedikasi dan kasih yg luar biasa.

Pemilik kebun yg terdahulu menjadi yg terakhir dan saudaranya yg tadinya hanyalah pegawai kebun menjadi yg terdahulu.

Semoga membantu dan semoga kita semua menyadari dan selalu memilih untuk menerima dan menjalankan rahmat Tuhan dengan penuh kasih.

Untuk lebih mengerti perumpamaan lihat latihan no. 1: Pukat Penangkap Ikan.



Nama:
E-mail: (perlu diisi)
Smile: smile wink wassat tongue laughing sad angry crying 

| lupakan