Bible Study - Les Kitab Suci - Les Alkitab
 
 
 
 

Y. Samiran. SCJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Bible Study No. 6: Kuasa Gereja

Kirim Ke Printer Undang teman untuk Bible Study


Selamat berjumpa kembali, dan selamat bergabung kepada anggota yg baru mengikuti program kami.

Kelanjutan dari latihan-latihan sebelumnya akan saya teruskan dan menyatukannya dengan kalender "A" bacaan injil hari Minggu yg baru lalu dst.

Bacaan adalah Mat 18:15-20 dari Minggu biasa tahun A. Anda dapat mengikuti homili Rm. Sumarya untuk lebih mendalam mengenainya Disini.
Silahkan baca ayat Matius 18:15-20 dan renungkan, kemudian tanyakan atau jelaskan pikiran sdr/i pada kotak komentar setelah itu saya akan memberi komentar dan masukan.

Selamat mengikuti latihan alkitab dan semoga sdr/i akan mendapatkan tambahan masukan.

Salam dan doa


Mat 18:15 "Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.
Mat 18:16 Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.
Mat 18:17 Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.
Mat 18:18 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.
Mat 18:19 Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.
Mat 18:20 Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."
Dikirim Tgl 8 07 Sep 2005 oleh Rm. Y. Samiran. SCJ

  Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda



Respon dari berto pada 08 Sep 2005 03:42 am

Dear Romo Samiran,
Saya mengalami kesulitan untuk membedakan antara teguran-dengan-kasih dan ikut-campur dan menghakimi...

Saya setuju sekali dengan homili Rm. Sumar, tapi saya juga merasa hal ini sangat sulit sekali untuk diterapkan bukan? Karena dibutuhkan keterbukaan hati dari kedua belah pihak.
Yang namanya manusia, disenggol dikit langsung meledak.

Terus, dari segi kita sndiri,.. juga dibutuhkan keterbukaan hati untuk menerima orang laen apa adanya. gimana?
Soalnya, kita ga bisa langsung begitu saja negor2 orang. Kan, bisa jadi karena perbedaan budaya.
Mungkin untuk bisa sampai ketahap yang satu ini, dibutuhkan kedewasaan diri, kemampuan untuk mengontrol emosi dan juga kebijaksaan dalam menghadapi masalah. (ini pasti ga gampang..)

Jangan sampe maksud hati untuk menegur-dengan-kasih, tetapi berakhir dengan bete2an sebel2an, karena orang yang sudah-ditegor-dengan-kasih itu ga mau denger teguran kita.

mmmmmm.. atau mungkin lebih baik.. kita menerapkan teori leave-him-alone. Yaitu jangan terlalu mau mencampuri urusan orang laen.. biarkan dia sadar sndiri?
Bukankah dunia kan lebih damai dan bebas gosip kalau manusia2 ga terlalu mau-tau dan mau-ikut-campur akan urusan orang laen?

Respon dari berto pada 08 Sep 2005 03:47 am

Romo, apa yg dimaksud dengan "apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga"

Apakah ini berupa janji2 kita kepada Bapa?

Lain halnya, kalau misalnya kita mengutuk orang karena kejelekannya, bagaimana mungkin kutukan itu bisa terikat di surga?
soalnya sudah pasti kutuk itu bukan didalam nama Yesus kan...

Respon dari berto pada 12 Sep 2005 06:40 pm

waks... peserta kok ga ada crying crying crying crying crying romoo??? tok** tok** tok**

Respon dari Trisulawati pada 16 Sep 2005 07:27 am

Romo, ada yang menjadi pertanyaan bagi saya tentang Mat 18:17b Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah ia sebagai orang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.
Apakah yang dimaksud dengan: sebagai orang yang tidak mengenal Allah atau pemungut cukai?
Apakah dengan menganggap sebagai orang yang tidak mengenal Allah saya boleh tidak usah peduli lagi akan apapun yang dikerjakan orang tsb? atau boleh menganggap orang tersebut tidak ada?
Atau jika sebagai pemungut cukai ( dalam bayangan saya = petugas pajak )saya boleh selalu menghindar dan sedapat mungkin tidak usah ketemu?
Apakah ini tidak bertentangan dengan ayat Mat. 18:21,22?
Mohon pencerahan, sebab terus terang saya bingung juga.

Respon dari Samiran pada 19 Sep 2005 09:35 pm

by berto @ 08 Sep 2005 06:42 am
Dear Romo Samiran,
Saya mengalami kesulitan untuk membedakan antara teguran-dengan-kasih dan ikut-campur dan menghakimi...

===================================

Tidak perlu ragu untuk membedakan baik dan dosa, menegur bukanlah menghakimi dan persis itulah yg diharapkan dari kita. Untuk menegur yg salah agar dapat mengetahui kesalahannya dan agar dapat memperbaiki diri dan mengetahui kebenaran yg pasti.
====================================

Saya setuju sekali dengan homili Rm. Sumar, tapi saya juga merasa hal ini sangat sulit sekali untuk diterapkan bukan? Karena dibutuhkan keterbukaan hati dari kedua belah pihak.
Yang namanya manusia, disenggol dikit langsung meledak.

Terus, dari segi kita sndiri,.. juga dibutuhkan keterbukaan hati untuk menerima orang laen apa adanya. gimana?
Soalnya, kita ga bisa langsung begitu saja negor2 orang. Kan, bisa jadi karena perbedaan budaya.
Mungkin untuk bisa sampai ketahap yang satu ini, dibutuhkan kedewasaan diri, kemampuan untuk mengontrol emosi dan juga kebijaksaan dalam menghadapi masalah. (ini pasti ga gampang..)

Jangan sampe maksud hati untuk menegur-dengan-kasih, tetapi berakhir dengan bete2an sebel2an, karena orang yang sudah-ditegor-dengan-kasih itu ga mau denger teguran kita.

mmmmmm.. atau mungkin lebih baik.. kita menerapkan teori leave-him-alone. Yaitu jangan terlalu mau mencampuri urusan orang laen.. biarkan dia sadar sndiri?
Bukankah dunia kan lebih damai dan bebas gosip kalau manusia2 ga terlalu mau-tau dan mau-ikut-campur akan urusan orang laen?
===================================

Menegur dengan kasih adalah cara yg terbaik, karena itu ayat tsb menunjukan tiga derajat teguran, 1. Pribadi, 2. Menyertakan saksi, 3. Membawanya kehadapan kuasa gereja.

======================================

by berto @ 08 Sep 2005 06:47 am
Romo, apa yg dimaksud dengan "apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga"

Apakah ini berupa janji2 kita kepada Bapa?
==============================

Bukan, melainkan janji Yesus kepada gereja Mat 16:18-19 Yesus memberikan kuasa mengikat dan melepaskan. Berarti gereja memiliki kuasa didunia untuk senantiasa membimbing dan mengajarkan umat juga menegakan ajaran yg benar.
===================================


Lain halnya, kalau misalnya kita mengutuk orang karena kejelekannya, bagaimana mungkin kutukan itu bisa terikat di surga?
soalnya sudah pasti kutuk itu bukan didalam nama Yesus kan...

====================================
Manusia memiliki kebebasan memilih dan akan tetapi kutukan manusia adalah hanyalah ucapan dan ungkapan sakit hati yg tidak mengikat dan berdampak hukum yg nyata. Yg dimaksud mengikat dan melepas adalah ajaran dan dosa seperti dalam sakramen tobat sebagai contoh, gereja/ uskup/ romo mengampuni dosa yg bertobat dalam dan atas nama Yesus (in persona Kristi) dalam konteks dan janji Yesus pada Mat 16:18-19.
======================================

by berto @ 12 Sep 2005 09:40 pm
waks... peserta kok ga ada romoo??? tok** tok** tok**
==============================
Maaf terlambat, saya banyak kesibukan.
==================================

by Trisulawati @ 16 Sep 2005 10:27 am
Romo, ada yang menjadi pertanyaan bagi saya tentang Mat 18:17b Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah ia sebagai orang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.
Apakah yang dimaksud dengan: sebagai orang yang tidak mengenal Allah atau pemungut cukai?
Apakah dengan menganggap sebagai orang yang tidak mengenal Allah saya boleh tidak usah peduli lagi akan apapun yang dikerjakan orang tsb? atau boleh menganggap orang tersebut tidak ada?
Atau jika sebagai pemungut cukai ( dalam bayangan saya = petugas pajak )saya boleh selalu menghindar dan sedapat mungkin tidak usah ketemu?
Apakah ini tidak bertentangan dengan ayat Mat. 18:21,22?
Mohon pencerahan, sebab terus terang saya bingung juga.
====================================

Pada jaman itu pemungut cukai/ tax collector seperti contoh Matius sendiri sebelum mengikuti Yesus adalah pekerjaan tidak yg halal karena mereka memajak dan memungut pajak dari kaum Yahudi untuk kerajaan Roma dan juga mereka umumnya mengambil/ korupsi sebagian dari pajak untuk pribadinya. Kemudian yg dimaksudkan dengan seorang yg tidak mengenal Allah adalah (gentile) persamaan dengan pemungut cukai adalah bagaimana dapat seorang pemungut cukai yg menarik pajak dari seorang janda miskin berbuat demikian karena rahmat Allah? Tentu saat itu dia tidak mengenal Allah dalam tindakannnya.

Semoga penjelasannya membantu, silahkan pertanyakan kalau kurang mengerti.

Salam dan doa


===============================

Respon dari Samiran pada 19 Sep 2005 10:33 pm

Mengapa kuasa gereja?

Alkitab menjelaskan bahwa bila seorang yg berbuat salah agar ditegur oleh yg mengetahui letak kesalahannya, kemudian disaksikan oleh pihak ketiga yg dapat menekankan letak kesalahannya, kemudian membawanya kehadapan kuasa gereja. Mengapa kuasa gereja dijadikan tolok ukur? Bahkan sebagai sarana terkahir?

Karena gereja adalah penopang kebenaran. 1Tim 3:15

1Tim 3:15 But if I tarry long, that thou mayest know how thou oughtest to behave thyself in the house of God, which is the church of the living God, the pillar and ground of the truth.

1Tim 3:15 Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat (gereja) dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.

Sebagai contoh doktrin sola scriptura kaum reformis yg mengajarkan bahwa alkitab adalah penopang kebenaran yg tunggal, adalah menyesatkan, sebab terlihat bahwa yg dalam keadaan salah akhirnya dibawa kehadapan kuasa gereja dan bukan kehadapan alkitab. Bilamana masih tidak menerima keputusan dan kebenaran kuasa gereja yg bersalah agar disamakan dengan yg tidak mengenal Allah yg berartikan seorang yg tidak mengenal kuasa Allah dalam gereja-Nya. Dampak dari tidak mengenal kuasa gereja dan gereja-Nya adalah tidak mengenal Allah yg mendirikan gereja-Nya Mat 16:18

Dari semua murid Yesus hanya SATU yg benar, yaitu Petrus (Simon bin Yunus) dan karena itulah Yesus mendirikan gereja-Nya yg dipimpin oleh SATU murid-Nya yg mengenal-Nya.

Mat 16:14 Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi."

Mat 16:15 Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?"

Mat 16:16 Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!"

Mat 16:17 Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.

Mat 16:18 Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku(gereja) dan alam maut tidak akan menguasainya.

Mat 16:19 Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."

Terlihat bahwa kedua belas rasul hanya Petruslah yg diberikan "Kunci kerajaan Sorga" Mengapa? Apakah Yesus tidak salah? Apakah kita perlu percaya akan janji Yesus kepada Petrus? Apakah kita perlu percaya kepada gereja dan kuasa gereja? Tentiu kita percaya kepada janji Yesus, tentu kita percaya kepada gereja, gembala dan hirakinya, tentu kita patuh kepada kuasa gereja karena disitulah letak kebanaran sepenuhnya yg pasti. Seperti janji Yesus bahwa alam mautpun tidak akan berkuasa yg berartikan kekekalan gereja-Nya.

Respon dari senang pada 19 Sep 2005 11:02 pm

Terima kasih romo aku senang dan tenang dengan penjelasannya smile

berto! anda perlu sabar sedikit aku cukup beruntung dengan adanya les alkitab ini.

Respon dari Trisulawati pada 20 Sep 2005 01:13 pm

Romo,terimakasih untuk penjelasannya, tapi masih ada yang belum terjawab, yaitu bagaimana sikap kita terhadap orang tersebut?( kalau yg sudah ditegur dengan kasih, secara pribadi, dng saksi, ataupun dimuka jemaat tapi masih terus berbuat kesalahan yang sama) Apakah kita boleh pura-pura ndak mengenal? Atau menjauh, atau bagaimana? Kalau seperti pemungut cukai, saya pasti akan menghindar saja, ndak mau cari gara2. Apakah ini tidak bertentangan dengan Mat 18: 21-22, mengenai pengampunan? sad

Respon dari Samiran pada 20 Sep 2005 08:34 pm

by Trisulawati @ 20 Sep 2005 04:13 pm
Romo,terimakasih untuk penjelasannya, tapi masih ada yang belum terjawab, yaitu bagaimana sikap kita terhadap orang tersebut?( kalau yg sudah ditegur dengan kasih, secara pribadi, dng saksi, ataupun dimuka jemaat tapi masih terus berbuat kesalahan yang sama) Apakah kita boleh pura-pura ndak mengenal? Atau menjauh, atau bagaimana? Kalau seperti pemungut cukai, saya pasti akan menghindar saja, ndak mau cari gara2. Apakah ini tidak bertentangan dengan Mat 18: 21-22, mengenai pengampunan?

=======================================
Bila Tuhan Allah menghargai rahmat kebebasan memilih yg Dia berikan tetapi dengan konsekuensi atas yg menggunakan kebebasan tsb dan Allah adalah Allah maha pengampun, demikian juga kita mengharapkan pertobatan dan kembalinya saudara kita kejalan yg benar. Pertobatan menuntut rasa bersalah, menyesal dan harapan, pengampunan menuntut permohonan untuk pengampunan demikian juga kasih, tidak berarti membenarkan perbuatan dan karena itu kita tetap menegurnya. Dalam latihan ini gereja sebagai sarana akhir dan kuasa adalah dalam hal2 doktrinal dan ekonomi keselamatan, dengan itu gereja telah memutuskan dan menunjukan letak kesalahannya. Selama kesadarannya untuk bertobat tidak kunjung tiba kita wajib menunjukan iman kita dan menyampaikan Injil dalam perbuatan. Kesalahannya berada dan terdapat dalam perbuatannya dan tidak pada dirinya, tentu kita berwajib untuk tetap mengasihinya.

Respon dari Trisulawati pada 21 Sep 2005 09:07 am

smileTerima kasih Romo, saya jadi lega dengan penjelasannya.

Respon dari Nichan pada 05 Apr 2006 06:04 am

aduh romo, kayaknya kalo saya yang malah dijudge macem-macem oleh orang yang yah, sebenarnya, nggak kalah kacau dari saya. Saya tadinya, ingin 'mengadukan' masalah ini ke salah satu 'tetua' di karismatik karena menurut saya orang yang menjudge saya ini sudah mengarahkan saya pada kesombongan dan hal-hal yang tidak baik (hati kecil saya berteriak keras setiap kali dia 'mengarahkan' saya pada hal-hal yang buruk)...dan jangan sampai itu terjadi lebih parah pada orang lain…

tapi saya pikir lagi, ah, sudahlah, entar orang lain juga pada tahu dan dia kena batunya...lagipula, saya pun ragu degnan tetua ini…

saya juga masih bingung seperti Trisulawati...bagaimana sikap saya terhadap orang seperti itu?...

bagaimana, ya, romo, caranya kita mengingatkan orang-orang seperti itu...yang merasa posisinya sudah di atas...apa orang-orang seperti itu masih bisa dikritik atau dinasehati baik-baik?...bahaya, kan?... bisa-bisa malah jadi pencuri kecil bukan gembala kecil…

lalu, kita sendiri harus bagaimana membedakan kita ini sedang dinasehati atau dijudge (dalam artian negatif)?...pada kasus tertentu kita bisa terbius karena melihat, wah, ini orang senior di organisasi/kegiatan katolik, wah, pasti ini orang benar...jadi, patut kita dengarkan...

crying



Nama:
E-mail: (perlu diisi)
Smile: smile wink wassat tongue laughing sad angry crying 

| lupakan