Lomba Menulis
 
 
 
 

Lomba Menulis

 

HATIKU GEMBIRA Lomba 2007

Kirim Ke Printer Undang teman ke Ekaristi


HATIKU GEMBIRA

Oleh: Sibanyaknanya

Hatiku Gembira Tuhan, Engkau Datang Padaku. Sepenggal bait lagu dari Puji Syukur yang sungguh sederhana namun indah. Entah mengapa malam itu keinginan untuk menyanyikan lagu itu begitu menggebu-gebu. Ironisnya saya justru menangis ketika menyanyikan lagu itu, saya seperti menipu diri saya sendiri. Hatiku tidak gembira dan saya juga tidak merasakan Tuhan datang pada saya. Itulah yang membuat saya menangis.

Sudah banyak kesaksian iman yang saya baca dan dengar, biasanya diawali dengan kalimat-kalimat bombastis, “Saya sudah menemukan Tuhan.” Atau “Saya merasakan damai dan bahagia disini.” Atau ada yang lebih dashyat “Semalam saya bertemu Yesus” Aneh…saya merasa malu, apakah mereka yang terlalu suci atau saya yang terlalu berdosa. Mengapa sampai sekarang saya tidak pernah merasakan kasih Tuhan?

Boleh dikatakan, saya bukanlah orang yang kuat iman. Saya hanya orang biasa dan menjalani rutinitas saya sebagai Katolik seperti layaknya orang biasa. Ke Gereja setiap minggu, yah..kadang-kadang saya berdoa, kadang saya juga baca kitab suci. Menurut saya, itu sudah cukup, saya sudah melaksanakan kewajiban saya. Now it’s God’s turn. Tapi saya tetap tidak pernah tau apa itu menemukan Tuhan..apakah Ia begitu sulitnya dicari? Apakah Tuhan yang begitu maha harus bersembunyi begitu jauhnya sampai saya sulit untuk merasakan kasihnya?

Keadaan saya kemudian ditambah lagi dengan kepergian ayah saya, keluarga saya pun juga diterjang kesulitan keuangan yang begitu dashyatnya, sampai-sampai ibu saya menangis dalam tidurnya. Lengkap sudah ketidakhadiran kasih Tuhan dalam hidup saya.

Oh, sebelumnya saya ingatkan bahwa anda tidak akan menemukan “akhirnya Tuhan mengabulkan doa saya, dan saya sekarang menjadi pengusaha sukses” Tidak..tidak..saya tidak sedang membicarakan teologi kemakmuran disini.

Kembali lagi ke masalah saya, saya pun mulai berpikir..apa yang kulakukan selama ini? Apakah itu berguna? Apakah saya begitu berdosa sehingga Tuhan harus menghukum saya seberat ini? Mengapa orang lain memikul salib dari emas dan saya dari batu? In short, why bad things always happen to me?

Saya pun memulai lagi pertualangan saya mencari Tuhan. Dari baca-baca artikel sampai menonton tayangan di TV, intinya tetap sama, mereka menemukan Tuhan dan merasa bahagia. Lalu bagaimana dengan saya? Apakah saya selamanya tidak akan merasa bahagia? Bagaimana mungkin saya bisa merasa bahagia jika saya tidak bisa menemukan Tuhan?

Sudahlah..saya sudah capek..saya sudahi saja pertualangan ini. Terlalu sulit buat saya. Saya merasa percuma. Saya berpikir jika semua doa dan permohonan sudah tidak didengar lagi, mungkin sudah saatnya saya mencari jalan lain.

Dan jalan lain itu adalah AGNOSTISME. Saya merasa nyaman disana. Hidup nyaman dan tenang tanpa beban. Something bad happens? Well, you deserve it, with or without God, bad things still happen, so why bother? Saya pun membuat permusuhan dengan Tuhan, “God, I’m outta here” dan saya membayangkan Tuhan berkata, “fine”. Saya pun membalas dengan tidak kalah kerasnya, “FINE!!” Saya pun membanting pintu dan membantingnya dan tidak lupa saya kunci sehingga tidak seorangpun bisa masuk.

Saya tetap hidup dalam rutinitas saya, kerja, pulang, makan, tidur. Sama seperti dulu penuh kesulitan dan tetap tidak pernah merasakan kasih Tuhan. Tapi saya belajar dari pengalaman, just let it be. Ya benar, let it be, If God wont help you, who will?

Suatu malam, ketika istri dan anak saya sudah tertidur lelap, dan saya sedang tidak ada kerjaan, iseng-iseng saya coba membaca lagi kitab suci yang sudah lama tidak saya sentuh. Ketika sedang bingung mau membaca kitab apa, saya coba-coba random pick. Dan ternyata yang terbuka adalah Yakobus 1:12 (saya tidak menuliskan ayatnya, saya harap pembaca dapat membuka sendiri dan membaca apa yang tertulis disitu). Namun rasa skeptis dan sarkastis saya masih begitu besar, saya pun berkata dalam hati, “Yeah right!. What a coincidence” Tapi ada rasa tertarik untuk melanjutkan sampai selesai, sampai akhirnya saya membaca Yakobus 5. Saya seperti mendapat wake up call. Ah..ternyata saya memang hanya manusia biasa. Saya mencintai Tuhan jika…saya mengasihi Tuhan jika…Apakah ini yang orang-orang maksud dengan menemukan Tuhan, well..saya tidak berani berspekulasi dan apapun itu saya seperti tersadar bahwa hanya ada satu cara untuk menemukan Tuhan.

Saya pun seperti orang yang terburu-buru turun dari ranjang, saking semangatnya saya sampai terjatuh dari ranjang. Tapi saya tidak perduli, saya kembali berdiri dan berlari. Terjatuh, tersandung dan bahkan jatuh dari tangga, tapi saya tidak perduli..saya hanya punya satu tujuan..pintu itu..pintu yang sudah lama saya kunci. Walaupun penuh perjuangan, akhirnya saya bisa sampai pada pintu tersebut. Saya memutar kunci itu pelan-pelan. Dan ternyata Tuhan masih ada disana, dengan setia dia berdiri menunggu disana dan masih tersenyum. Sedangkan saya hanya bisa berdiri terpaku dan menitikkan air mata.

Selama ini saya seperti hidup di dalam kolam Lumpur. Mencoba keluar dari sana dengan berbagai cara sampai akhirnya saya merasa capek dan menyerah. Tapi Tuhan ada di samping sana menjulurkan Tangannya untuk membantu. Tapi saya yang terlalu picik, terlalu lemah untuk menerima uluran tanganNya. Perasaan malu, takut dan kecewa membuat saya menarik tangan saya kembali. Tuhan kembali mencoba, kali ini sambil berlutut dan tetap menjulurkan tanganNya. Tapi saya tetap belum sanggup menerimaNya. Saya berpikir..sudahlah..Tuhan, tidak ada gunanya..saya tidak berarti buatMu. Saya pun membalikkan badan dan menjauh. Saya pikir Tuhan pasti akan capek dan berhenti berusaha..Well..at least He tried..Twice. Ternyata tidak, justru Dia lompat masuk ke dalam kolam dan memeluk saya dengan erat dari belakang, seperti baru bertemu dengan seorang sahabat yang telah lama berpisah.

Akhirnya saya bisa seperti orang-orang dalam kesaksian itu. Tapi bukan karena saya menemukan Tuhan, tapi Tuhanlah yang menemukan saya.
Sekarang..saya masih hidup dalam kolam lumpur..begitu banyak kesulitan yang saya hadapi, begitu banyak masalah yang belum terselesaikan. Tapi setidaknya sekarang saya tidak sendiri di kolam itu.

Terus terang, sampai saat saya menulis tulisan ini, tidak ada satupun permohonan saya yang pernah dikabulkan olehNya. Tapi yang tidak pernah saya mohonkan justru terus diberi. Saya masih diberi nyawa untuk melihat senyum anak saya. Saya masih diberi tangan untuk memeluk istri saya. Dan yang pasti saya masih diberi suara untuk memuliakan namaNya yang Kudus.

Saya akan berbohong jika mengatakan saya sudah bahagia, belum..terkadang saya masih mengeluh.saya masih ngambek sama Tuhan..tapi saya tidak lagi lari.
Dulu hidup saya penuh kesulitan..kini hidup saya penuh tantangan.
Dulu hidup saya serba kekurangan..kini hidup saya serba berkecukupan.

Hatiku Gembira Tuhan, Engkau Datang Padaku.
Ah…saya masih saja menangis jika menyanyikan lagu ini..tapi kini yang mengalir adalah air mata kebahagiaan karena Ia telah menemukan aku.

Dedicated to:
My wife, my son, and all ekaristi.org members that cannot be name one by one.
Dikirim Tgl 19 27 Feb 2007 oleh Tony

  Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda