Lomba Menulis
 
 
 
 

Lomba Menulis

 

BAPAKU YANG DI BUMI DAN BAPAKU YANG DI SURGA

Kirim Ke Printer Undang teman ke Ekaristi


BAPAKU YANG DI BUMI DAN BAPAKU YANG DI SURGA

Oleh: Eliz

Ketika aku dilahirkan.
Bapaku yang di bumi berkata,
“Wah, kok anak lelaki? Padahal aku sudah berdoa supaya dapat anak perempuan saja. Yah, tidak apalah.”
Bapaku yang di surga berkata,
“Sejak engkau ada dalam kandungan ibumu, aku telah membentuk engkau. Aku menginginkan engkau, karena engkau sangatlah berharga bagiku.”

Ketika aku jatuh dari sepeda sewaktu bermain.
Bapaku yang di bumi marah dan berkata,
“Makanya kalau main jangan nakal-nakal. Begini kan akibatnya. Sudah jangan menangis, anak lelaki tidak boleh cengeng.”
Bapaku yang di surga tersenyum dan berkata,
“Sudah jangan menangis lagi, sayang. Aku tetap mengasihi engkau. Ingat, bahwa aku adalah Allah penyembuhmu.”

Ketika aku ketahuan mencuri mangga tetangga.
Bapaku yang di bumi berang dan berkata,
“Kamu ini, jangan buat malu Bapa yach! Cepat sana kembalikan dan minta maaf sama tetangga sebelah, dan jangan sekali-kali kau ulangi lagi! Memalukan Bapa saja nanti.”
Bapaku yang di surga sedih dan berkata,
“Hati Bapa sangat sedih kau lakukan hal itu, dan Bapa berharap engkau tidak akan mengulanginya lagi. Walaupun begitu, engkau harus tau bahwa Bapa tetap mengasihi engkau. Bapa berharap engkau tidak melakukan hal yang membuat hati Bapa menjadi sedih.”

Ketika aku tidak naik kelas.
Bapaku yang di bumi memukulku dan berkata,
“Mulai sekarang kamu tidak boleh banyak bermain lagi. Lebih baik kamu banyak belajar di rumah. Ingat kata Bapa ya! Bapa sudah bekerja dengan susah payah untuk menyekolahkan kamu, jangan buat Bapa kecewa! Memang kamu anak yang mengecewakan, sedari kecil hanya bisa membuat orang tua susah.”
Bapaku yang di surga menghiburku dan berkata,
“Tetaplah berpengharapan. Jangan berputus-asa dan menganggap engkau adalah anak yang gagal. Aku menciptakan engkau dengan tujuan yang besar, tujuan yang mulia. Dan ketahuilah bahwa Aku sangat mengasihi engkau.”

Ketika aku ketahuan berkelahi dengan teman sekelas sampai babak belur.
Bapaku yang di bumi sangatlah marah dan berkata,
“Bapa sudah tidah tahu harus bilang apalagi sama kamu. Dan Bapa juga sudah tidak tahu bagaimana lagi mengajarmu untuk menjadi anak baik. Kenapa engkau tidak bisa seperti adikmu yang begitu baik dan penurut.Sudahlah terserah kamu saja. Bapa sudah lelah menasihatimu.”
Bapaku yang di surga terlihat sedih dan berkata,
“Tahukah kamu, bahwa kamu menyakiti hati Bapa lagi, dan juga Bapamu yang di bumi. Sebenarnya engkau harus tahu bahwa Bapamu yang di bumi juga sangatlah mengasihi engkau. Bapamu yang di Surga pun sangat mengasihi engkau.”

Ketika aku beranjak dewasa.
Bapaku yang di bumi berkata,
“Bapa tidak punya pilihan lain, Bapa dan Ibumu harus bercerai, sudah tidak ada jalan keluarnya. Ingat pesan Bapa, kamu harus jadi anak baik yah, kalau kamu nakal Bapa tidak akan sayang sama kamu. Jaga Ibumu baik-baik. Sekarang Bapa harus pergi dari rumah ini. Maafkan Bapa tidak bisa menjagamu lagi, Nak.”
Bapaku yang di surga berkata,
“Jangan takut, Bapa selalu besertamu. Bapa tidak akan meninggalkan engkau walau sedetikpun. Bapa sangat mengasihi engkau, apapun itu yang kau lakukan. Bapa akan selalu menjagamu. Bapa mengasihimu, AnakKu.”

Ketika aku masuk pusat rehabilitasi narkoba.
Bapaku yang di bumi mengunjungiku dan berkata,
“Apa ini yang engkau lakukan anakku. Kenapa engkau berbuat seperti ini. Kenapa engkau menghancurkan masa depanmu sendiri. Kenapa engkau tidak menjaga dirimu baik-baik seperti pesan Bapa dulu. Kenapa Anakku? Kenapa?”
Andaikan saja Bapaku yang di bumi tahu, itu semua karenanya. Aku jadi seperti hari ini, itu karenanya. Semua karenanya.
Bapaku yang di surga sangat sedih dan berkata,
‘Jangan pernah menyalahkan Bapamu yang di bumi, anakKu. Engkaulah yang bertanggung jawab atas hidupmu sendiri, dan bukan siapa-siapa. Jangan pernah menganggap orang lain berhutang padamu atas hidupmu. Aku memberikan engkau hidup dan Aku akan meminta pertanggung-jawabanmu sendiri atas hidupmu, dan bukan siapapun. Bertobatlah anakKu, kembalilah padaKu. Ketahuilah bahwa Aku tetap mengasihimu dan Aku selalu menanti engkau untuk kembali dalam pelukanku.”
Aku hanya bisa menangis pilu.

Ketika aku hampir mati kesakitan di pusat rehabilitasi narkoba.
Bapaku yang di bumi berkata,
“Anakku, Bapa sangat sedih melihatmu dalam keadaan seperti ini. Mungkin semua ini salah Bapa yang meninggalkanmu seorang diri. Maafkan Bapa, anakku. Kembalilah ke jalan yang benar. Jangan sia-siakan hidupmu seperti ini.”
Aku berkata dalam hatiku, “Sudah terlambat, sia-sia kalau baru sekarang Bapaku yang di bumi menyesali perbuatannya. Semuanya sudah terlambat.”
Bapaku yang di surga berkata,
“Tidak ada kata terlambat, anakku. Setiap detik Aku selalu menantimu kembali padaKu. Aku menunggumu dengan penuh harap. Tidak ada kata terlambat bagi pertobatan yang sejati. Aku mengasihimu, anakku. Bapa mengasihimu, tahukah kamu? Hati Bapa sangatlah pedih melihatmu seperti ini. Bangkitlah anakku, jangan pakai kekuatanmu sendiri. Bersandarlah pada Bapa. Bapa mengasihimu selalu.”

Ketika aku dipenjara karena membunuh orang.
Bapaku yang di bumi berkata,
“Sampai kapankah engkau akan terus seperti ini, anakku? Apa yang harus Bapa lakukan untuk membuat engkau tersadar?”
Aku acuhkan Bapa dan berkata dalam hatiku, “Tidak ada, Bapa, Tidak ada yang bisa dilakukan lagi. Semuanya sudah terlambat. Aku sudah bergelimang dosa dan darah. Hidupku sudah berakhir. Tidak ada lagi pengharapan.”
Bapaku yang di surga berkata,
“Anakku, tidakkah engkau lihat Yesus yang telah mati bagimu di atas kayu salib? Tidakkah engkau lihat Yesus mencurahkan darahNya dan menyerahkan nyawaNya untuk menebus hidupmu. Tidakkah engkau sadar betapa Bapa sangat mengasihimu. Walaupun dosamu merah seperti kirmizi, Bapa dapat mengubahnya menjadi seputih salju. Walaupun merah seperti kain kesumba, Bapa juga dapat mengubahnya menjadi seputih bulu domba. Percayalah anakku. Bapa tetap mengasihimu, apapun yang telah engkau lakukan. Kembalilah anakku, jangan keraskan hatimu. Bapa menantimu.”
Aku ingin kembali Bapa, tetapi aku takut. Aku takut, Bapa. Aku mau bertobat, Bapa. Aku mau kembali padamu.

Ketika aku akhirnya menghembuskan nafasku yang terakhir, terbunuh dalam penjara.
Bapaku yang di bumi menangis menatap jasadku dan berkata,
“Maafkan Bapa, anakku. Maafkan Bapa. Bapa mengasihimu.”
Akhirnya … Akhirnya Bapaku yang di bumi mengatakan bahwa Ia mengasihi aku. Tapi kenapa baru Ia katakan itu setelah aku pergi meninggalkan dunia ini. Kalau saja Ia katakan bahwa Ia mengasihi aku sedari aku kecil, mungkin jalan cerita hidupku tidak akan menjadi seperti ini. Mungkin saja.
Terima kasih, Bapaku yang di bumi, karena sekarang akhirnya aku tahu bahwa sebenarnya engkau mengasihi aku.
Aku bisa tenang meninggalkan dunia ini dengan tersenyum, karena Bapaku yang dibumi mengasihiku dan Bapaku yang di surga juga sudah menerimaku kembali ke dalam pangkuannya.
Bapaku yang di surga berkata,
“Pulanglah ke rumah Bapa, anakku. Bapa menantimu.”
Dikirim Tgl 19 27 Feb 2007 oleh Tony

  Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda