Lomba Menulis
 
 
 
 

Lomba Menulis

 

“INILAH IBUKU”

Kirim Ke Printer Undang teman ke Ekaristi


“INILAH IBUKU”

Oleh: Leonardo76

Aku adalah seorang wanita dari penganut protestan. Keluargaku juga berasal dari penganut protestan. Pada saatnya aku dipertemukan oleh seorang pria dari keluarga katolik. Ia orang yang baik dan mau mengerti aku apa adanya. Orangnya yang dewasa dan sabar membimbingku yang mempunyai watak yang keras kepala membuatku jatuh hati padanya katolik. Dari awal aku sudah tau kepercayaan suamiku yang katolik.
Aku berprinsip toh kita masih sama-sama pengikut Kristus jadi yah tidak masalah. Orang tuaku pun berpandangan yang sama sehingga semakin mendukung hubungan kami. . Akhirnya kami pun menikah di gereja. Aku pun mengikuti keyakinan suamiku katolik walaupun banyak hal-hal yang tidak ku mengerti. Suamiku dengan sabar membimbingku namun aku masih tetap merasa belum bisa meyakini seperti apa yang diyakini oleh suamiku. Terutama ketika berdoa dengan perantaraan bunda Maria. Walaupun begitu aku tetap rajin mengikuti kegiatan doa lingkungan seperti doa rosario. Walau sudah hapal namun seringkali doa rosario hanya mengalir begitu saja lewat bibirku tanpa penghayatan dalam hati.
Kami berdua adalah pasangan yang bekerja yang memilki kesibukan masing-masing. Kami bersemangat dalam pekerjaan sampai-sampai sering lembur dalam pekerjaan. Mungkin karena itu pula sampai beberapa tahun menikah kami masih belum mempunyai anak.

Akhirnya kami sadar keluarga dibangun bukan cuman dengan materi tapi juga rohaninya. Dengan kesadaran itu kami mulai mengurangi kesibukan di kantor tertutama saat lembur.
Dan akhirnya doa kami terkabul. Setelah 5 tahun kami dikarunikan seorang putri yang cantik. Ayahnya berkata putriku cantik seperti aku yang adalah ibunya.
Kebahagian kami pun semakin lengkap karena selang beberapa tahun kemudian kami mempunyai anak lagi. Kami dianugrahi 3 orang anak : yang pertama putri yang kedua putra dan yang terakhir putri.
Dalam rumah tangga yang harmonis kadang-kadang terselip juga pertengkaran-pertengkaran kecil antara aku dan suamiku. Biasanya kalau begitu akulah yang lebih ketus dan suamiku yang lebih sabar biasanya diam. Putriku yang pertama adalah anak yang paling ku kasihi karena ia begitu dewasa dan sering menjadi pendamai pertengkaran-pertengkaran kecil dalam keluarga kami.

Putri pertamaku memang selalu menjadi anak kesayanganku. Walau begitu ia tidak manja dan selalu menjadi contoh yang baik bagi adik-adiknya. Dalam pelajaran di sekolahnya pun ia selalu berprestasi.
Ia selalu menjadi juara di kelasnya.
Karena prestasinya ia diterima di SMA katolik favorit di Bogor. Konsekuensinya ia harus tinggal di asrama. Walau hatiku sedih karena harus berpisah dengan putri tercintaku namun aku juga ingin mendidik putriku agar bisa semakin mandiri.

Akhirnya kami menyekolahkan putri pertama kami di Bogor dan tinggal di asrama putri. Tiap minggu kami menjemput putriku untuk pulang berkumpul bersama keluarga. Semuanya begitu indah dan karier kami di kantor juga semakin baik. Ku rasakan ini adalah berkat Tuhan pada keluarga kami.

Pada suatu hari aku ditelpon oleh pihak asrama kalau putriku jatuh pingsan pada saat olahraga sekolah dan sekarang dirawat di rumah sakit. Tanpa pikir panjang aku dan suamiku langsung pergi menengok putriku yang terbaring di rumah sakit. Waktu ku temui hanya senyum manis yang terpancar dari malaikat kecil ku. Ia malah berkata kalau dirinya hanya kecapaian dan menyuruh aku dan suamiku pulang saja karena besok juga sudah sembuh dan lagi karena besok kami juga harus kembali bekerja. Aku pun meyakinkannya dengan menanyakan pada dokter yang merawat putriku dan memang jawabannya pun sama seperti yang kuterima dari putriku.
Hatiku pun kembali tenang dan akhirnya putriku ku tinggal di rumah sakit.

Tiba-tiba saat tengah malam aku ditelpon pihak rumah sakit karena putriku dalam keadaan kritis. Maka segeralah aku dan suamiku pergi kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan putriku.
Namun kehendak Tuhan bicara lain putriku tersebut (sang malaikat kecil) itu dipanggil Tuhan. Dengan berat hati kami harus merelakan putriku tersebut untuk selama-lamanya.
Aku tidak siap untuk menerima kenyataan ini. Aku mengalami depresi berat. Aku marah pada Tuhan karena Ia begitu kejam telah merenggut putriku dari keluarga kami. Setiap kali aku teringat akan putri kesayanganku maka aku akan berteriak histeris dan menjadi seperti orang gila.

Sudah banyak dokter dan alternatif tapi tidak juga membuahkan hasil. Keadaan ini semakin lama semakin buruk saja jadinya. Tiada lagi keceriaan dalam keluarga kami. Aku berhenti bekerja karena dipecat dari perusahaan saat aku bertengkar dengan rekan sekerjaku tanpa sebab yang jelas. Para tetangga mulai menjauhi kami, aku juga semakin lama semakin tidak peduli akan lingkungan dan keluargaku sendiri. Hanya kebencian dan kesedihan yang mengisi hari-hari hidupku. Beruntung aku mempunyai suami yang masih sabar menghadapi segala cobaan ini. Ia bahkan sampai menjual rumah dan pindah ke tempat tinggal yang lain agar kenanganku terhadap putriku dapat berkurang. Namun semuanya hanya sia-sia saja.

Setelah 3 tahun berlalu sang suami tergerak lagi untuk mengajakku ke gereja. Kebetulan saat itu adalah Jumat Agung dan di pagi harinya ada prosesi jalan salib. Padahal sudah sering kali kalau diajak ke gereja begitu dengar puji2 an langsung histeris dan berteriak-teriak seperti orang gila. Entah kenapa pada waktu itu aku ingin ke gereja mungkin memang sudah rencana Tuhan.
Pada saat jalan salib dan dikisahkan Yesus bertemu dengan Bunda Maria ibu-Nya aku teringat pada putriku aku jatuh terduduk dan menangis. Suamiku sudah bersiap-siap untuk membawaku pulang namun aku menolaknya. Dengan air mata yang mengalir aku meneruskan untuk mengikuti prosesi jalan salib. Setelah Yesus tergantung di kayu salib Yesus memandang ibuNya dan Yohanes muridnya.Pada saat itu Yesus berkata : “Ibu inilah anakmu dan pada Yohanes : Anak inilah ibumu.
Pada saat itu tangisku kembali pecah dan aku menjauh dari prosesi menunggu di halaman gereja.
Setelah selesai prosesi aku kembali pulang ke rumah bersama suami dan putra putriku. Dalam sepanjang perjalanan aku menangis. Aku menangis teringat pada pengorbanan Bunda Maria yang juga senasib denganku telah kehilangan anak yang sangat dicintainya.
Namun bunda Maria dengan rela mau menerima itu semua berserah diri pada Bapa di Surga.

Dan pada saat itu ada sesuatu yang terlepas dariku. Beban itu akhirnya hilang. Aku sembuh berkat kepasrahanku meneladani sikap Bunda Maria, aku sadar bahwa semua itu adalah kehendak Tuhan.
Dan aku juga bersyukur karena Tuhan Yesus telah menyerahkan bunda-Nya yang amat dicintai-Nya itu untuk jadi bundaku.
Aku sembuh dan sekarang aku sadar bahwa aku juga masih mempunyai tanggung jawab sebagai isteri dan ibu dari kedua putra-putriku.
Kami sekeluarga mengucap syukur tiada berhingga pada kemurahan Tuhan. Sejak saat itu aku rajin untuk berdevosi pada Bunda Maria lewat dosa Rosario atau doa novena. Bunda Maria telah menolongku dan Tuhan telah memulihkan keluarga kami kembali. Sekarang dengan penuh rasa syukur aku dapat berucap pada bunda Maria : “Inilah Ibuku”.

Tuhan memberkati kita semua

Salam damai

Diambil dari kesaksian rekan seiman
Dikirim Tgl 19 27 Feb 2007 oleh Tony

  Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda