Moral Katolik

 

Kesaksian Dewa dan Tuhan Buatan Manusia

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


Dewa dan Tuhan Buatan Manusia oleh: Tony B

Keadaan yang nyata dan tidak dapat digugat adalah manusia sangat mudah tertipu. Mulai dari kejatuhannya Adam dan Hawa kedalam dosa. Warisan dosa asal karena pilihan dan perbuatan leluhur kita yaitu manusia pertama, mereka telah diperdaya oleh Iblis dan berbuat dosa yang turun kepada setiap manusia terkecuali Maria dan Yesus.

Kebahagian adalah ambisi dan obyektif setiap individu, bahagia atau kebahagian atau alasan dan menjadi alasan dari segalanya dalam hidup. Bagaimana manusia melihatnya dari perspektif bahkan yang perseptif sekalipun tetap tidak dapat melihat dan mendapakan kebahagian tanpa solusinya. Apakah solusi untuk mencapai kebahagian? Pertanyaan ini menjadi ambisi atau alasan manusia dalam menyatakan keadilan dan menjadi daya gerak manusia di dunia dalam segalanya tanpa kecuali.

Solusi kebahagian menjadi bahan dan satu-satunya obyek pencarian selama sejarah dan masa depan keberadaban manusia seperti yang kita ketahui saat ini. Bila kita ingin jujur dan menyatakan satu saja penemuan yang terbaik dan berpengaruh bagi manusia hingga kini mungkin hanya sedikit pihak yang tidak setuju dengan pernyataan ini, yaitu penemuan anistesis atau obat penghilang rasa sakit. Obat kebahagian yang instan dan mujarab sebuah penawar rasa sakit atau penderitaan yang dialami dan ditakuti dan sedapat mungkin dihindari oleh siapapun. Mengapa obat penghilang sakit menjadi tumpuan dan lapisan penutup penderitaan untuk mendapatkan kebahagian? Budha menemukan dan mendirikan satu agama besar yang mendasarkan segalanya untuk menghilangkan duka, karena duka dianggap sebagai penyebab segala penderitaan manusia dan tanha (bhs. India) atau ketamakan/ keserakahan sebagai penyebabnya. Kemudian dengan solusi ajaran ke delapan lapisan atau tingkatan menuju kepada nirwana untuk menghilangkan duka. Ternyata Sidarta sangat jeli dan melihat penderitaan manusia dan memberikan solusi anistetik yaitu obat penghilang duka lewat ajaran dan filsafatnya. Sedangkan Yesus tidak seperti Sidarta Yesus datang untuk menghapus dosa dan mengajarkan penderitaan sebagai kemenangan dan jalan menuju penebusan dan keselamatan. Menebus berarti menderita karena untuk menebus kita harus membayar, dan Yesus telah menebus kematian yang desebabkan oleh dosa asal yang mengakibatkan kecanduan obat penghilang sakit di dunia yaitu kebahagian manusia di dunia. Yesus menawarkan keselamatan, bukan obat penghilang sakit melainkan penebusan untuk keselamatan dan untuk kehidupan yang kekal bebas dari penderitaan. Daging adalah temporal dan rohani adalah abadi, bila kita ingin memberikan suatu yang fisik/ daging tentu harus dipecah atau dibagi-bagikan menjadi bagian-bagian yang terbagi, sedangkan rohaniah bila diberikan adalah sebaliknya dan akan berlipat ganda dan bertambah banyak. Ini adalah hukum yang tidak dapat digugat lagi. Terlihat bahwa solusi anistetik adalah sangat materialistik dan filsafat apapun yang mendasarkan pada suatu yang matetialistik tidak dapat memenuhi kebutuhan dan tuntutan, karena bila dibagi-bagikan akan menjadi kecil dan tambah kecil dan suatu saat hilang dan tidak dapat dibagikan lagi. Seperti pengertian dan tuduhan bahwa gereja adalah otoriter dan tidak mengijinkan imam wanita. Adalah sebaliknya karena gereja adalah patuh dan tidak otoriter maka gereja tidak membantah kepada otoritas Yesus, dimana bila gereja mengijinkan imam wanita tentu gereja telah menjadi otoriter. Karena gereja bukan ideologi tetapi sebagai pengukur dan tolok ukur sebuah ideologi. Karena dosa asal manusia adalah produk rusak dan pembawa dosa asal dan karena itu semua produk manusia tidak mungkin sempurna dan selalu terdapat kesalahan atau kesesatan. Karena itu kebahagian dan alasan kepada kebahagian bagi manusia didunia akan membawakan kematian rohaniah dan menjadikan obat penghilang sakit itu sebagai dewa dan tuhan-tuhan kerdil pengganti Tuhan yang sebenarnya atau yang kita sebut sebagai perbuatan berhala.

Apakah benar dengan menghilangkan pendertiaan, manusia akan menemukan dan mendapatkan kebahagian? Untuk berapa lama kebahagian itu bertahan dan dapat dinikmati? Seorang Katolik akan berkata bahwa Yesus datang untuk menderita dan menghapus dosa dunia dan memberikan keselamatan, tentu dengan pernyataan ini adalah suatu yang sangat kontroversial dan tidak mungkin diterima oleh siapapun terutama seorang yang beragama budha pemeluk filsafat anti-duka. Sekalipun dan sama bagi umat kristen yang teguh mencari dan rindu kebahagian duniawi. Karena dalam ajaran menderita untuk menghapus dosa tidak terlihat unsur dan bukti kebahagian dan sama sekali tidak mengandung obat penghilang penderitaan (anistesia) bahkan sebaliknya menebus dengan penderitaan. Pengertian untuk menderita adalah menyelamatkan, adalah asing bagi penganut filsafat materialistik dan tidak dapat dimengerti dan masuk akal. Menderita untuk menyelamatkan … dari apa? Bukankah menyelamatkan diri dari penderitaan yang dicari manusia didunia?

Mari kita simak dan kupas satu saja dewa/tuhan palsu kebahagian obat penghilang penderitaan kemudian apa yang rela dan berani manusia kurbankan sebagai tumbalnya. Relativisme dan salah satu aparatnya yaitu seks. Karena seks telah dijadikan dewa kebahagian sebagai anistesia penderitaan manusia. Seperempat wanita di AS, Eropa dan Asia rela membunuh dan mengurbankan anaknya kepada dewa seks dengan melakukan aborsi. Sebab sudah pasti dan tidak dapat disangkal bahwa mereka melakukan aborsi karena ingin melakukan seks tanpa mendapatkan anak, karena aborsi adalah kontrasepsi cadangan. Tidak mungkin seorang melakukan aborsi tanpa melakukan seks. Karena itu mereka rela membunuh dan mengurbankan anaknya sendiri dialtar dewa seks. Ibu Teresa sewaktu diundang sebagai pembicara di Harvard sebuah pusat ideologi liberal, sosialis dan relativisme di AS menjawab nada undangan yang bernada antonim,“Kami mengundang Ibu Teresa di India negara termisikin didunia untuk berbicara di AS negara terkaya didunia dalam topik kemiskinan … ”. Beliau menjawab bahwa India tidaklah miskin sebaliknya bahwa Amerikalah yang sangat miskin sehingga kaum ibu membunuh anaknya sendiri untuk dapat hidup. Aborsi dan keegoisan dalam seks tidak dapat dipisah seperti banyak pendapat dan pernyataan dikotomis dalam yustifikasi perbuatan untuk kebahagian. Apapun dan segalanya telah dilakukan, diizinkan, dikurbankan, disangsikan, diyustifikaskan, diagungkan dan dihalalkan dan keluarga sebagai lembaga awal dan pembangun masyarakat sekalipun dikurbankan untuk dewa yang satu ini. Perceraian dan penyebabnya sudah tidak asing dan menjadi kebiasaan hidup bermasyarakat. Sepertiga pasangan diseluruh dunia melakukan perceraian. Tentu maysarakat tidak akan pernah membenarkan perbuatan-perbuatan seperti berbohong, selingkuh, jinah, menipu, menyakiti anak dan ingkar janji. Mengapa manusia justru melakukan itu kepada satu-satunya manusia yang dijanjikan cinta kasihnya untuk selamanya. Ironis sekali bahwa pasangan yang dijanjikan justru yang menjadi sasaran segala perbuatan jahatnya untuk cerai. Dunia tidak melarang cerai bahkan semua gereja meyustifikasikan perceraian dan hanya satu gereja saja yang melarang perceraian dengan itupun gereja itu dituduh sebagai otoriter dan kuno. Dapat kita lihat siapa dan pihak mana yang melakukan berhala dan berbuat otoriter dalam memutuskan semaunya saja. Manusia mencuri, berbohong, menipu, membunuh, dan bunuh diri atas nama dewa seks. Sungguh bila saja semangat dan dedikasi itu diarahkan kepada Yesus dan gereja-Nya dalam membangun tubuh mistis-Nya. Kenyataan dan perbuatan menyatakan lain dari yang diharapkan.

Anistesia yang dicari untuk mengobati segala aspek kehidupan adalah nyata dan berbahaya karena akan menjauhkan diri dari Yesus. Obat menderita kemiskinan adalah korupsi, mencuri, menipu dan berbuat kikir dan ketidak jujuran lainnya. Obat kasih manusia agar masa depan anaknya yang nikmat dan tidak menyusahkan orang tua adalah untuk berkontrasepsi agar dapat mengalokasikan sarana dan fasilitas kepada anak pilihan saja. Bagaikan sebuah benda! Anak diperlakukan sebagai benda pajangan toko yang dapat diperhitungkan dan dengan itu memperhitungkan berapa banyak anak yang dikehendaki. Tidak sadar bahwa dalam perbuatannya mereka telah menjadi tuhan-tuhan kerdil dan menentukan siapa yang lahir dan siapa untuk tidak lahir dsb.

Sakit hati dan tidak dapat menemukan pasangan yang cocok atau hidup kesepian? Tidak perlu khawatir karena mudah saja melakukan masturbasi, narkoba, ganti kelamin, pelacuran, mencari hewan peliharaan bahkan bunuh diri dengan mudah didapatkan dimana-mana dan dibanyak negara bahkan dilindungi atau tidak ditindak oleh hukum. Segala penderitaan dan apapun alasannya terdapat obat penawarnya dan semua kembali kepada setiap individu dan berapa ia mampu atau bersedia membayar untuk mendapatkan anistetik dunia. Karena banyak agama, ideologi dan filsafat yang menawarkannya.

Penderitaan dan pengampunan tidak menawarkan kebahagian didunia melainkan jalan menuju, mendekati dan kembali ke Tuhan Allah, Yesus telah mengadakan jalan menuju keselamatan dengan menebus dosa dunia sewaktu menderita kematian yang keji disalib. Relativisme telah memperdaya mereka yang tidak rela menderita dengan menyatakan Yesus telah berkorban dan dengan itu kita tidak perlu menderita untuk selamat adalah racun yang tidak dapat dilihat, dirasa dan dicium kehadirannya tanpa rahmat Tuhan yang mempertingati kita akan bahayanya. Karena itu kita tiba kepada Kebahagian Kristen katekismus no.1718 s/d 1724 dan Ucapan Bahagia Mat5:3-12 dan Luk6:20-23. Perkataan Yesus yang sangat sulit untuk dimengerti, diterima dan dilakukan dalam hidup ini.

Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan surga.

Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.

Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.

Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.

Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.

Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan surga.

Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.

Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga.
Dikirim Tgl 26Feb2007 oleh Tony

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda



smile



Tulisan di atas sungguh membuktikan bahwa Gereja Katolik adalah benteng moral kehidupan manusia. Kita harus jaga dan menghayatinya dalam hidup sehari-hari.Dalam kehidupan modern saat ini, terjadi ketegangan yang begitu hebat, antara kekuatan daging dan keuatan Roh. Kadang dalam pandangan duniawi, penampilan daging lebih memesona kita sebagai manusia fana. Dalam hal ini Gereja telah tampil menjadi benteng yang menyelamatkan, bagi anggotanya yang setia. Shallom!
dari Dominikus Widibyo pada 18 Sep 2009 07:08 am



Nama:
E-mail: (perlu diisi)
Smile: smile wink wassat tongue laughing sad angry crying 

| lupakan