Kesaksian

 

Kesaksian MUTIARA

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


(Sebuah Percikan Permenungan)

Kisah Kino dan Juana yang merasa kaya karena menemukan mutiara terbesar di dunia akhirnya kandas, setelah oleh para calon pembeli gagal mendapatkannya yang telah melarikan diri. John Steinbecxk amat lihai dalam memainkan penanya, sehingga para pembaca diajak untuk berdecak kagum dengan apa yang dialami oleh Kino itu sendiri. Tulisan yang berjudul The Pearl dan sudah di-film-kan ini, hendak mengajak kita betapa berharganya nilai keutuhan dan kekuatan keluarga dibandingkan dengan kekayaan yang baru saja ditemukan oleh Kino. Namun setelah mutiara yang menjadi rebutan dan pergunjingan banyak orang itu dilemparkan kembali ke dasar samodra, dan hati Kino kini menjadi tenang kembali.

Tiap orang mempunyai kelekatan yang mendasar dalam hidup ini. Karena kelekatan itu juga manusia bisa bermusuhan bahkan saling membunuh. Memang, sudah menjadi kodratnya bahwa sejak manusia hidup di dunia ini ada kecenderungan untuk memiliki. Keinginan untuk memiliki dan memiliki secara berlebihan, membuat orang lupa diri, sehingga memunculkan keserakahan yang luar biasa. Kisah Kino di atas, sebenarnya hendak mengkritik kita bahwa hidup yang sederhana dan menerima dengan apa yang dimilikinya adalah sikap hidup yang baik. Dalam sejarah maupun mitologi, keinginan yang berlebihan bisa membawa kehancuran, seperti dalam diri Raja Midas dalam mitologi Yunani maupun dalam diri Qarun kisah dari Arab. Dari kisah Qarun tersebut, muncul kata harta karun. Mereka sama-sama mati menggenaskan karena sikapnya yang tamak.

Kelekatan tidak hanya terhadap barang saja, tetapi bisa juga kelekatan terhadap relasi. Kalau seseorang menyandarkan diri pada relasi dan ingin menguasainya, maka yang terjadi adalah kekecewaan dan cemburu karena ternyata orang lain yang kita anggap kita kuasai ternyata memiliki relasi dengan orang lain. Ingatkah kisah Alexander Agung (356-323 SM), raja Macedonia yang mempunyai hubungan khusus dengan lelaki? Namanya Hephaistion. Dan itu pun hancur karena terjadi relasi yang tidak sehat. Mutiara yang indah dalam persahabatan itu bisa menjadi kusam, setelah ada indikasi bahwa persahabatan tersebut tidak tulus. Sebenarnya, persahabatan yang tulus itu tidak mengikat melainkan membebaskan satu dengan yang lain. Ada sebuah kisah pengalaman tentang seorang dua orang ibu yang sangat akrab. Kalau salah satu ada di sana, pasti yang lain pasti juga berada di sana. Kedua orang ibu itu bersatu dan tidak pernah terpisahkan. Kedua orang itu dalam bersahabat sungguh-sungguh tulus. Namun, pada suatu hari, mereka berdua mempunyai ide untuk bekerja sama dalam bisnis. Pada awalnya, bisnis berjalan dengan lancar. Tetapi lama-lama mereka saling mencurigai. Ketidakpercayaan mulai muncul, tatkala diperhadapkan dengan kepentingan diri sendiri. Kembali pada novel The Pearl tadi, pasangan suami istri yang tadinya harmonis, kini menjadi saling menyalahkan bahkan terjadi pembunuhan tatkala menemukan mutiara yang besar di seluruh dunia. Kekayaan yang seharusnya menjadi sumber kesejahteraan malah menjadi sumber kecurigaan dan akhirnya keluarga itu menjadi terasing dari dunianya untuk mempertahankan mutiara yang sangat berharga.

Kelekatan dengan diri sendiri juga bisa menohok pada emosi kita. Orang yang memiliki rasa gengsi tinggi atau arogan, sulit untuk bersikap rendah hati. Novel Biografi berjudul The Perfect Joy of St. Francis tulisan Felix Timmermans mengajarkan kepada kita bahwa kebahagiaan sejati itu terwujud kalau seseorang rela melepaskan pangkat dan jabatan untuk melayani orang lain. Dalam kisah itu, St. Fransiskus (1181 , 1226), menjadi orang yang lepas bebas tidak melekat dengan seseorang maupun sesuatu. Ia membuang mutiara dan ia hidup dalam kemiskinan yang radikal. Orang yang takut membuang mutiaranya, bagaikan kisah dari Afrika berikut ini. Pada waktu itu, pemburu-pemburu ingin mendapatkan kera yang bertengger di pohon. Untuk menangkap binatang tersebut, seorang pemburu menyediakan kacang di dalam toples. Karena kera itu rakus, maka kera mengambil kacang dalam toples sampai-sampai karena tangannya penuh dengan kacang, maka sulit untuk keluar dari toples tersebut. Begitulah, para pemburu dengan mudah menangkap kera tersebut.

Bukankah dalam hidup ini, kita membawa 2 beban. Beban di depan berisi tentang kecemasan-kecemasan hidup yang akan datang. Sedangkan tas yang kita bawa di belakang berisi tentang pengalaman masa lalu yang senantiasa kita ingat karena kesalahan-kesalahan yang pernah kita alami. Inilah yang membuat hidup ini terasa berat. Bahkan ada orang yang mempunyai kecenderungan untuk masuk dalam dunianya sendiri yang penuh dengan penderitaan. Kesenangan semacam disebut juga sebagai mashochisme. Orang yang sudah terlena dengan kemapanannya (esthablished), tidak mau mengalami dunia yang lain. Kemapanan atau stagnasi dalam kehidupan kita yang penuh dengan tantangan dan pembaharuan bisa menimbulkan manusia-manusia kerdil pikirannya. Dalam dunia yang serba canggih, tehnologi sudah menjadi makanan sehari-hari, sehingga orang yang tidak menguasai informasi bisa tergilas di dalamnya. Jargon menguasai informasi berarti menguasai dunia mendapatkan kebenarannya. Untuk berkembang dalam bidang ini, mutiara-mutiara yang dibuang adalah rasa gatek (gagap tehnologi) dan berani melangkah maju ke depan meski banyak tantangan. Membuang mutiara dalam hidup ini bukan pekerjaan yang mudah, karena harus ada kesiapan mental yang kuat. Kita bagaikan masuk dalam perang kehidupan. Kemenangan akan terjadi, jika kita sungguh-sungguh berani membuang sesuatu yang bernilai dalam hidup kita, tetapi yang menghambat untuk perkembangan pribadi. Oh, mutiara-mutiara.

Merauke,
Markus Marlon msc
Dikirim Tgl 01Mar2011 oleh Redaksi

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda





Nama:
E-mail: (perlu diisi)
Smile: smile wink wassat tongue laughing sad angry crying 

| lupakan