FAQFAQ          Username: Password: Log me on automatically each visit

Kesesatan (Heterodoksi) Gerakan Karismatik    

 
Post new topic   This topic is locked: you cannot edit posts or make replies.    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Forum Terbuka
View previous topic :: View next topic  
Author Message
DeusVult
Evangelos


Joined: 10 Feb 2004
Posts: 10848
Location: Orange County California

PostPosted: Tue, 06-06-2006 4:57 pm    Post subject: Kesesatan (Heterodoksi) Gerakan Karismatik Reply with quote

Lately I've been doing something for myself karena itu aku jarang aktif di forum selama dua minggu belakangan. Waktu yang biasa aku gunakan untuk berkomunikasi di forum telah termakan banyak oleh kegiatan pribadiku tersebut. Namun aku menyisipkan waktu untuk membuat tulisan tentang karismatik yang bisa kalian lihat dibawah.


Nah, selain berisi tulisanku tentang kesesatan karismatik, topik ini juga akan aku isi dengan berbagai hal lain yang menunjukkan kesesatan karismatik. Aku juga akan terjemahkan beberapa artikel kalau sempat (seperti artikel dari Tony yang bagus dan artikel dari Rm Most). Jadi topik ini akan menjadi satu thread yang membongkar kesesatan karismatik secara komprehensif.


Dan agar tidak terbaurkan oleh diskusi pro dan kontra maka topik ini akan aku kunci sehingga tidak ada yang bisa mereply kecuali moderator. Ini tidak berarti bahwa member lain tidak boleh menyanggah apa yang aku tulis. Silahkan melayangkan keberatan kalian, tapi lakukan dengan membuat topik yang baru. Soalnya aku ingin topik ini khusus untuk menunjukkan kesesatan karismatik.


Bila ada yang baru aku juga akan menambahkan materi-materi yang menunjukkan kesesatan karismatik.




PS
Tambahan 27 Agustus 2013

Berikut adalah link yang menunjukkan posisi awalku dimana aku merasa 9di-awal-awal) bahwa Karismatik bisa diperbaiki.
_________________
Mohon doa saudara-saudari
Back to top
View user's profile Send private message
DeusVult
Evangelos


Joined: 10 Feb 2004
Posts: 10848
Location: Orange County California

PostPosted: Tue, 06-06-2006 4:58 pm    Post subject: Reply with quote

KESESATAN (HETERODOKSI) GERAKAN KARISMATIK




I. INTRO

Berikut adalah upayaku (DeusVult) untuk meletakkan dalam satu halaman keberatan-keberatan atas Karismatik dan mengapa aku berpikiran bahwa gerakan Karismatik adalah gerakan yang sesat dan harus dipunahkan dari Bunda Gereja Kudus tercinta. Dengan tulisan ini aku harap aku tidak perlu lagi berulang-ulang menjawab argumen-argumen dari para pro-karismatik dan menjawab mereka yang sekedar ingin tahu kenapa aku berkesimpulan bahwa karismatik itu sesat.



II. GERAKAN KARISMATIK DIRESTUI OLEH PARA PEJABAT GEREJA

Pertama-tama aku akan tegaskan bahwa Gereja sampai sekarang ini sama sekali tidak melarang gerakan Karismatik. Beberapa pejabat Gereja bahkan mendukung gerakan Karismatik.



III. JUSTIFIKASI SIKAP CONTRA-CHARISMATICISM

Kalau Gereja tidak melarang gerakan Karismatik dan banyak pejabat Gereja yang juga mendukung Karismatik, lalu kenapa aku (DeusVult) berani berseberangan? Pertanyaan ini sangat bagus. Jawabannya adalah, "meskipun Gereja merestui gerakan Karismatik dan banyak pejabat Gereja yang mendukung gerakan Karismatik, ini tidak berarti bahwa gerakan Karismatik adalah suatu gerakan yang sesuai dengan iman Gereja."

Banyak sekali gerakan-gerakan didalam Gereja, dan bahkan ordo-ordo, yang pada awalnya direstui dan didukung banyak pejabat Gereja, namun dengan berlalunya waktu gerakan tersebut dilarang. Salah satu contohnya adalah ordo Ksatria atau yang lebih terkenal dengan sebutan The Knights Templars.

Ketika Perang Salib, para Templars adalah orang-orang yang sangat disegani dan dihormati oleh awam maupun Gereja. Ini karena anggota mereka kebanyakan adalah bangsawan-bangsawan dan ksatria-ksatria kerajaan. Namun, karena satu dan lain hal (tidak akan dibahas supaya tidak memperpanjang), The Knight Templars kemudian menjadi organisasi yang dilarang oleh Gereja. Anggotanya sendiri dibubarkan.

Contoh lainnya adalah Society of Saint Pius X (SSPX). SSPX adalah suatu priestly society. Anggota dari SSPX adalah romo-romo dan Uskup (4 orang pada saat ini). Organisasi ini didirikan oleh Uskup Agung Prancis Marcel Lefebvre. Pada awalnya society ini direstui oleh Gereja. Bahkan society ini mempunyai ijin untuk pembelajaran seminarian mereka di Econe, Swiss. Namun, karena satu dan lain hal, SSPX menjadi satu organisasi yang tidak direstui Gereja.



IV. SEJARAH GERAKAN KARISMATIK YANG SESAT

Ada dua bagian sejarah Karismatik. Ini karena gerakan Karismatik bukanlah suatu gerakan yang murni berasal dari Gereja Katolik. Gerakan Karismatik berasal dari LUAR Gereja Katolik, yaitu dari Protestantism, tepatnya dari Pentecostalism.

A. Berawal Dari Protestantisme
John Wesley, pendiri Methodism, bisa dikatakan pelopor dari Pentecostalism yang berujung ke Gerakan Karismatik. Wesley berkhotbah tentang baptisan Roh Kudus atau "pemberkatan kedua," yaitu satu pengalaman pribadi yang intensif dengan Allah. Namun kebanyakan pengikut Wesley lebih cenderung ke Methodism daripada Pentecostalism. Mereka yang lebih bermentalitas Pentecostal masih sebagai minoritas diantara pengikut Wesley.

Pada 1900 di Topeka, Kansas (USA) sebuah sekte Protestant kecil dengan Charles P. Parham, seorang pendeta Methodist, sebagai pemimpinnya, merasa bahwa ada yang kurang dalam hidup menggereja mereka. Setelah Parham dan jemaatnya mempelajari Kitab Suci, Parham tiba pada kesimpulan bahwa berbahasa Roh adalah tanda bahwa seorang Kristen telah menerima Baptisan Roh Kudus.

Salah satu umat, Nona Agnes N. Ozmen mengingatkan para jemaat lain akan peristiwa Pentakosta di Kisah Para Rasul. Dia merasa Roh Kudus akan datang bila ada penumpangan tangan. Beberapa jemaat kemudian menumpangkan tangan mereka kepada Ozmen sambil berdoa. Sesaat kemudian Ozmen mampu berbahasa Roh begitu juga jemaat yang lain dalam beberapa hari selanjutnya.

    Parham menghabiskan lima tahun berikut sebagai pengkhotbah keliling sebelum membuka sekolah Kitab Suci baru, kali ini, di Houston. Salah satu muridnya, seorang pendeta kulit hitam bernama W.J. Seymore, membawa pesan “kepenuhan injil” ke Los Angeles. Sebuah kebangunan [rohani] tiga tahun lamanya di kota California tersebut (ie: Los Angeles) menarik orang dari berbagai negara, dan orang-orang ini menanamkan Pentecostalism di kebanyakan kota-kota besar di Amerika Serikat dan juga banyak di negara-negara Eropa.” - Minority Religions in America, William J. Whalan. Halaman 179-180. (sumber)

Mgr. Vincent Walsh, seorang Uskup Katolik yang karismatik dan antusiastik dari acara Toronto Blessing, menulis, "Melalui pelayanan Parham dan Seymore, Pentecostalism yang modern dan mendunia telah diluncurkan." (sumber)


B. Masuknya Pentecostalism ke Gereja Katolik (ie: Gerakan Karismatik)
Pada tahun 1966, Ralph Keifer dan William Storey dua orang staf pengajar dari Universitas Duquesne, Pittsburgh menghadiri Kongres Gerakan Cursillo (Cursillo movement). Kehadiran mereka di Kongres tersebut didorong oleh keinginan untuk "pengalaman spiritual baru" setelah pencarian mereka akan "gerakan yang ekumenis liturgikal, apostolik dan damai" berujung kepada kefrustrasian. Di Kongres tersebut mereka bertemu dengan Steve Clarke dan Ralph Martin, koordinator aktivitas siswa/i dari Paroki St. John di East Lansing, Michigan (sumber).

Keempatnya kemudian bertemu dan membicarakan kisah dari satu buku yang mengesankan mereka, The Cross and the Switchblade (note: "switchblade" adalah pisau tangan yang sering dipakai anggota geng) karangan David Wilkerson. Buku ini adalah sebuah autobiography. Wilkerson dulunya adalah seorang pendeta Pentecostal yang digaji oleh satu paroki Protestant. Karena ketidakpuasannya atas kehidupan sebagai pendeta gajian, Wilkerson kemudian meninggalkan pekerjaannya menuju ke tempat kumuh di Brooklyn dimana banyak geng, kriminalitas dan narkoba (sumber). Bab 21 dari buku Wilkerson yang berjudul "Baptisan Roh Kudus" menimbulkan kesan yang mendalam bagi keempat umat Katolik yang membacanya. Mereka merasa telah menemukan apa yang "hilang dari gerakan-gerakan yang lain."

Keifer juga menunjukkan buku lain sebagai sharing, yaitu They Speak in Other Tongues karangan John Sherrils, seorang Episcopalian (cabang luar Inggris dari Anglicanism). Buku ini menjadi semacam buku patokan di pertemuan empat Katolik tersebut. Buku ini berisi penyelidikan sang pengarang atas fenomena bahasa roh (sumber).

Di musim gugur tahun yang sama (1966) keempat umat Katolik awam itu bertemu kembali sesuai yang mereka rencanakan. Mereka merasa sangat ingin tahu tentang fenomena Baptisan dalam Roh Kudus dan Bahasa Roh sehingga mereka berhubungan dengan sekte-sekte Pentecostal. Mereka kemudian bertemu dengan seorang Pendeta Episkopal bernama W. Lewis (sumber). Lewis kemudian mempertemukan mereka dengan seorang anggota jemaatnya bernama Florence Dodge (RIP 17 Jan 2004, umur 84) yang terlibat dengan Gerakan Karismatik (note: Gerakan Karismatik protestant). Sedikit latar belakang mengenai Florence Dodge:

    Nona Dodge dibesarkan di sebuah rumah tangga Presbyterian yang saleh di Ben Avon. Setelah lulus dari SMU, Dodge bekerja di Kaufman’s Department Store dan di hari kedepan bertanggung jawab atas pelatihan 5,000 pegawai. Pada 1962, mungkin melalui kontak dengan gerakan karismatik yang mulai muncul di komunitas Episkopalnya, dia menerima apa yang disebut oleh para karismatik "Baptisan Roh Kudus," yang menuntun ke kehidupan spiritual yang lebih dalam dan penjelmaan [dari kehidupan spiritualitas yang mendalam tersebut] dalam bentuk seperti bahasa Roh. (sumber[1])

Pada 6 Januari tahun 1967 sebuah undangan diterima oleh empat sekawan tersebut. Undangan itu mengajak mereka untuk menghadiri pertemuan doa interfaith pada tanggal 13 Januari. Berikut terjemahan dari situs Karismatik atas pertemuan tersebut:

    Di pertemuan tersebut, lebih banyak keraguan muncul atas bagaimana perkara-perkara dilakukan [pada pertemuan itu]. Ralph [ketika itu mengalami] kebingungan di pertemuan doa [tanggal 13 Januari tersebut]. Tidak diragukan dia memandang positif mengenai sharing tingkat tinggi dan teologi yang hidup, tapi pikiran intelektualnya terskandalisasi atas penafsiran literal dari Kitab Suci dan gagasan akan komunikasi langsung dengan Allah. Dari empat orang yang menghadiri pertemuan ini, hanya Ralph yang kembali minggu berikutnya, namun dengan membawa seorang lagi Professor Theology, Patrick Bourgeois dan pada akhir pertemuan kedua orang tersebut meminta untuk menerima Baptisan Roh Kudus. Satu kelompok berdoa atas Ralph, meletakkan tangan mereka, dan satu kelompok lagi [melakukan hal yang sama atas] Patrick. Ralph diminta untuk melakukan sebuah "tindakan iman" ("an act of faith") agar kuasa Roh bekerja. Dia [Ralph] berdoa dalam bahasa Roh dengan cepat. Ralph dan kelompok lain mulai memiliki pengalaman doa yang dalam dan indah. Hasil dari semua ini adalah upaya untuk mencari suatu kelompok doa interdenominasi dan informal yang telah mengalami pengalaman yang disebut “baptisan Roh Kudus” (Kisah Para Rasul dan 1Korintus 12-14 dibaca secara literal oleh kelompok ini). (sumber)

Beberapa pertemuan doa kemudian diadakan di rumah teman Ralph Keifer yaitu Kevin Ranaghan dan Dorothi Ranaghan (suami-istri). Berikut apa yang diingat Kevin Ranaghan sendiri, dia mengatakan ini pada ulang tahun ke 30 Catholic Charismatic Renewal (CCR):

    Pada awalnya, kontak dengan [jemaat] Pentakostal di daerah kita, membantu kita untuk bertumbuh dalam pemahaman dan pengalaman Karisma. Kami bertemu di rumah wakil dari Full-Gospel Businesman (catatan: semacam sekte Protestant). Dan ketika dia mendengar bahwa sekumpulan Katolik datang [ke tempatnya], dia mengumpulkan anak buahnya, [dia] membawa beberapa pendeta Pentakosta dan sekamar penuh pejuang doa (prayer warriors) untuk berhadapan dengan apa yang mereka yakini sebagai pertempuran yang sulit untuk dilakukan. Apa yang mereka sadari [setelah bertemu dengan para Katolik dan melakukan doa bersama], ternyata [doa bersama tesebut] adalah waktu-doa yang paling mudah yang mereka pernah tahu. Kami (para Katolik) mengklaim bahwa kami telah dibaptis oleh Roh Kudus, yang sukar dipercaya oleh mereka karena kami adalah Katolik ... :disini hadirin pesta perayaan ulang tahun CCR ke 30, tertawa keras: ... Kami mengatakan bahwa kami (para Katolik) hanya menginginkan bantuan mereka dan nasehat mereka untuk menempa dan menggunakan karunia-karunia ini. Mereka (Protestant) kemudian menumpangkan tangan diatas kita, dan satu persatu di kamar penuh tersebut mulai berdoa dan bernyanyi dalam bahasa Roh. Tidak ada pertempuran, hanya perayaan kemenangan. :tepuk tangan meriah dari para hadirin: ... :beberapa saat kemudian, pada penghujung pidatonya, Ranaghan berkata: ... Pujilah Allah untuk Pentacosta jaman-lalu dan untuk semua pengikut Karismatik independen yang dikirim Allah kepada kami ... Ya, sejak awal, ini (Karismatisme) adalah perayaan ekumenikal. (sumber)

Begitulah sejarah masuknya Karismatik ke dalam Gereja Katolik.


Apa yang salah dengan kilasan sejarah Karismatik tersebut? Berikut adalah keberatan berkenaan dengan kilasan sejarah karismatik saja:

1. Karismatik berasal dari Pentakosta dan Pentakosta berasal dari Protestantism
2. Umat Katolik mendapat karunia "roh" setelah ditumpangi tangan oleh Protestant
3. Umat Katolik meminta nasihat theologis dari seorang Pendeta Episkopal dan jemaatnya


Pertama-tama, asal-usul gerakan Karismatik membuat kita mempertanyakan klaim para Karismatik bahwa gerakan ini dimulai sejak jaman para rasul. Peristiwa Pentakosta dan kisah di surat Korintus 12-14 sering disebut sebagai awal gerakan Karismatik. Para Karismatik bersikeras bahwa mereka hanya ingin kembali ke masa-masa tersebut. Namun Karismatik Katolik baru ada setelah Pentakosta muncul (tahun 1900) dan Pentakosta bisa muncul karena Protestantism yang baru dimulai pada abad 16. Sehingga karismatik murni berasal dari Protestantism dan tidak berasal dari Gereja yang Satu Kudus Katolik dan Apostolik.

Para karismatik juga menelan utuh kenaifan Protestant yang ingin kembali ke jaman para rasul dimana karya karismatik luar biasa, seperti bahasa roh, sangat berperan. Padahal jarangnya manusia diberi karya-karya karismatik setelah jaman para rasul adalah karena karya seperti itu sudah tidak terlalu diperlukan lagi. Berikut perkataan St. Agustinus yang dikutip St. Thomas di Summa Theologica:

    Augustine says (Tract. xxxii in Joan.), "whereas even now the Holy Ghost is received, yet no one speaks in the tongues of all nations, because the Church herself already speaks the languages of all nations: since whoever is not in the Church, receives not the Holy Ghost." (sumber: Summa Theologica)

    (Terjemahan 1)

Di jaman St. Agustinus Gereja sudah menjadi organisasi kuat, menjangkau berbagai tempat dan bahkan mempunyai putra-putri dari berbagai bangsa dan bahasa. Karena itu karya karismatik seperti bahasa roh yang memang pada awalnya diperlukan jemaat perdana untuk mengajar semua bangsa, sudah tidak diperlukan lagi. Jemaat perdana, kecuali Paulus, terdiri dari orang yang kurang berpendidikan dan tentunya perlu untuk diberi karisma luar biasa seperti bahasa roh untuk mengajarkan bangsa-bangsa.

Tidak hanya bahasa roh, tapi karisma-karisma luar biasa lain juga semakin berkurang setelah Gereja tumbuh kuat dan pesat. Ini juga diakui salah satu booklet Karismatik sendiri (Fanning the Flame - Killiam Mc Donnell) yang mengutip tulisan para Bapa Gereja Awal tentang karunia Karismatik:

    Then we see a remarkable admission [from Fanning the Flame booklet, written by Kilian Mc Donnell] on St. John Chrysostom, quoted on the same page, "Chrysostom complained, however 'the charisms are long gone.'" St. Augustine, in City of God (21.5), has to argue strongly that miracles are possible, against those in his day who denied the possibility. He says that if they want to say the Apostles converted the world without any miracles - that would be a great miracle. If there were miraculous gifts commonly around, Augustine would have merely pointed to them. But he did not.

    Still further, historically. The miraculous gifts were common in Paul's day, but at least by the middle of the next century became scarce in the mainline Church, but common in heretical groups. The present movement started in 1901 among Protestants. By 1925 there were about 38 denominations in the U.S. alone. Some decades later, in 1966. some Catholics, precisely by contact with the Protestants, asked that the Protestants lay hands on them, to receive tongues - for tongues were supposed to be the sign that one had been baptized in the Spirit. (Sumber: Errors of Charismatics – William G. Most)

    (Terjemahan 2)

Beberapa orang yang lemah imannya berpikiran bahwa berkurangnya karisma luar biasa (ie: mukjijat-mukjijat) ini menandakan kejauhan orang dari Allah sehingga Allah tidak berkenaan untuk melakukan tanda-tanda mukjijat lagi. Pemikiran seperti ini bagaikan pemikiran seorang bayi yang belum siap menerima makanan keras (Ibr 5:12-14). Tanda-tanda mukjijat memang diperlukan bagi jemaat perdana karena mereka harus menunjukkan karya Allah kepada dunia yang tidak percaya. Namun setelah Gereja tumbuh dan berkembang di dunia iman kita sudah semakin dewasa dan tidak bergantung kepada tanda-tanda mukjijat. Salah satu Bapa Gereja Awal St. Gregorius Naziansus dalam komentarnya atas Mark 16:17-18 mengatakan:

    Gregorius Naziansus: Are we then without faith because we cannot do these signs? Nay, but these things were necessary in the beginning of the Church, for the faith of believers was to be nourished by miracles, that it might increase. Thus we also, when we plant groves, pour water upon them, until we see that they have grown strong in the earth; but when once they have firmly fixed their roots, we leave off irrigating them. These signs and miracles have other things which we ought to consider more minutely. For Holy Church does every day in spirit what then the Apostles did in body; for when her Priests by the grace of exorcism lay their hands on believers, and forbid the evil spirits to dwell in their minds, what do they, but cast out devils? And the faithful who have left earthly words, and whose tongues sound forth the Holy Mysteries, speak a new language; they who by their good warnings take away evil from the hearts of others, take up serpents; and when they are hearing words of pestilent persuasion, without being at all drawn aside to evil doing, they drink a deadly thing, but it will never hurt them; whenever they see their neighbors growing weak in good works, and by their good example strengthen their life, they lay their hands on the sick, that they may recover. And all these miracles are greater in proportion as they are spiritual, and by them souls and not bodies are raised. (Sumber: Catena Aurea oleh St. Thomas Aquinas)

    (Terjemahan 3)

Kenyataan bahwa karisma luar biasa sudah jarang terjadi lagi tidak berarti bahwa Allah tidak pernah lagi memberikan karisma luar biasa kepada Gereja. Banyak kisah dari para Kudus dimana mereka melakukan karisma-karisma luar biasa. St. Patrick beberapa kali membangkitkan orang mati, St. Martin De Porres mengalami bilokasi (berada di dua tempat pada saat bersamaan), St. Franciss de Sales diracun oleh para bangsawan Calvinist tapi tidak mati, St. Pio Pietrelcina (Padre Pio) mampu berbahasa roh dan lain-lain. Namun perlu diingat bahwa karya Allah tidak perlu selalu ditunjukkan oleh mukjijat, sebenarnya karya Allah lebih efektif ditunjukkan lewat karunia Allah yang tidak kalah indahnya, yaitu kasih. Dari para kudus diatas, dan banyak yang lain, yang paling berkesan dari cerita hidup mereka bukanlah tanda-tanda mukjijat yang mereka lakukan tapi kasih dalam hidup mereka kepada Allah dan sesama.


Kedua, penumpangan tangan selalu dianggap tindakan yang sakral oleh Gereja, suatu tindakan yang tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang dan mempunyai makna yang fundamental dalam kehidupan Gereja:

    699 The hand. Jesus heals the sick and blesses little children by laying hands on them.51 In his name the apostles will do the same.52 Even more pointedly, it is by the Apostles' imposition of hands that the Holy Spirit is given.53 The Letter to the Hebrews lists the imposition of hands among the "fundamental elements" of its teaching.54 The Church has kept this sign of the all-powerful outpouring of the Holy Spirit in its sacramental epicleses.

    1288 "From that time on the apostles, in fulfillment of Christ's will, imparted to the newly baptized by the laying on of hands the gift of the Spirit that completes the grace of Baptism. For this reason in the Letter to the Hebrews the doctrine concerning Baptism and the laying on of hands is listed among the first elements of Christian instruction. The imposition of hands is rightly recognized by the Catholic tradition as the origin of the sacrament of Confirmation, which in a certain way perpetuates the grace of Pentecost in the Church."99

    Footnotes:
    51 Cf. Mk 6:5; 8:23; 10:16.
    52 Cf. Mk 16:18; Acts 5:12; 14:3.
    53 Cf. Acts 8:17-19; 13:3; 19:6.
    54 Cf. Heb 6:2.
    99 Paul VI, Divinae consortium naturae, 659; cf. Acts 8:15-17; 19:5-6; Heb 6:2.

    (Terjemahan 4)

Dari sini kita bisa mengetahui betapa gegabah dan hujah (sacrilegious) tindakan seorang Katolik yang menerima penumpangan tangan dari Protestant untuk mendapatkan "karunia Roh".

Lalu patut dipertanyakan, "apakah Protestant mempunyai Roh Kudus dalam diri mereka?" Sama sekali tidak! Bidat, Skismatik dan murtad tidak mempunyai Roh Kudus dalam diri mereka.

Pertanyaan selanjutnya adalah, "bila Roh Kudus tidak ada dalam diri mereka mungkinkah mereka melakukan bahasa Roh yang adalah karunia Roh Kudus?"

Mula-mula perlu dimengerti dengan jelas perbedaan antara karunia-karunia dari Roh Kudus. Berikut kutipan dari Ensiklopedi Katolik lama entry "Gifts of Miracles"

    The gift of miracles is one of those mentioned by St. Paul in his First Epistle to the Corinthians (xii, 9, 10), among the extraordinary graces of the Holy Ghost. These have to be distinguished from the seven gifts of the Holy Ghost enumerated by the Prophet Isaias (xi, 2 sq.) and from the fruits of the Spirit given by St. Paul in his Epistle to the Galatians (v, 22). The seven gifts and the twelve fruits of the Holy Ghost are always infused with sanctifying grace into the souls of the just. They belong to ordinary sanctity and are within the reach of every Christian. The gifts mentioned in the Epistle to the Corinthians are not necessarily connected with sanctity of life. They are special and extraordinary powers vouchsafed by God only to a few, and primarily for the spiritual good of others rather than of the recipient. In Greek they are called charismata, which name has been adopted by Latin authors- they are also designated in theological technical language as gratiae gratis datae (graces gratuitously given) to distinguish them from gratiae gratum facientes, which means sanctifying grace or any actual grace granted for the salvation of the recipient. (Sumber: Catholic Encyclopedia: Gifts of Miracles)

    (Terjemahan 5)

Pemberian Roh Kudus kepada manusia ada tiga macam:
    1. Tujuh karunia Roh Kudus (Yesaya 11:2), yaitu hikmat, pengertian, nasehat, keperkasaan, pengenalan akan Allah, kesalehan, takut akan Allah (bdk. Katekismus 1831).

    2. Dua belas buah Roh Kudus (Gal 5:22), yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri, kerendahan hati, kesederhanaan dan kemurniaan (bdk. Katekismus 1832).

    3. Karya karismatik Roh Kudus yang dibagi menjadi karya karismatik biasa (ordinary) dan karya karismatik luar biasa (extraordinary). Karya yang biasa adalah karisma untuk mengajar, bernyanyi dan lain-lain. Sementara karya yang luar biasa bersifat mukjijat-mukjijat seperti bahasa roh, penyembuhan dan lain-lain (bdk. Katekismus 2003).

Nomor 1 dan 2 diatas SELALU diberikan bersamaan dengan rahmat pengudusan kepada orang yang terbenarkan/terjustifikasi (ie: seorang Katolik terbaptis yang tidak dalam kondisi berdosa besar). Ini terjadi pada saat baptisan yang dilakukan Gereja. Dosa besar membuat seseorang yang terbenarkan/terjustifikasi kehilangan rahmat pengudusan dalam dirinya dan hilangnya tujuh karunia roh dan 12 buah roh kudus. Setelah dosa besar dihapus maka kesemuanya akan kembali.

Sedangkan karya karismatik Roh Kudus tidak berkaitan dengan hidup yang kudus. Artinya, seorang pendosa, seorang bidat (heretics, seperti Protestant), seorang skismatik ataupun seorang non-Kristen bisa mendapatkan karya karismatik Roh Kudus. Lalu apa gunanya karunia tersebut diberikan pada orang yang hidupnya tidak kudus tersebut? Berikut dari lanjutan dari entry "Gifts of miracle":

    Here we have a distinction clearly drawn out as to the manner in which gratiae gratis datae may be to the advantage of the person receiving them as well as to the utility of others, and how it is that by these graces persons without sanctifying grace may perform signs and wonders for the good of others. But these are rare and exceptional cases and real miracles can never be performed by a sinner in proof of his own personal sanctity or in proof of error, because that would be a deception and derogatory to the sanctity of God Who alone can perform miracles. (Sumber: Catholic Encyclopedia: Gifts of Miracles)

    (Terjemahan 6)

Jadi, seorang yang tidak hidup kudus pun (ie: tanpa memiliki rahmat pengudusan) mampu melakukan mukjijat NAMUN HANYA SEBATAS untuk kepentingan orang lain. Tidak bisa seorang pendosa, bidat atau skismatik melakukan keajaiban untuk membuktikan kesesatan mereka.

Sekarang mari berkilas balik. Gerakan Katolik karismatik mulai ada ketika 4 orang Katolik berinteraksi dengan Protestant. Para Katolik ini kemudian tertarik dengan praktek baptisan Roh Kudus dan bahasa roh yang sudah lebih dulu dilakukan para Protestant puluhan tahun sebelumnya. Para Katolik ini kemudian meng-amin-i dan meminta Protesant untuk mengajari praktek-praktek tersebut (baptisan Roh Kudus dan bahasa roh) kepada mereka.

Nah, kita tahu bahwa Protestant tidak mempunyai Roh Kudus dalam diri mereka sehingga KALAUPUN MEMANG BENAR praktek mereka adalah karunia Roh Kudus yang asli, maka, sesuai dengan apa yang dikatakan ensiklopedi Katolik, praktek tersebut HANYA akan berguna untuk ORANG LAIN dan tidak untuk pengudusan mereka (Protestant) sendiri atau untuk memberi justifikasi kesalahan mereka. NAMUN yang terjadi adalah sebaliknya!

Praktek baptisan roh dan bahasa roh sendiri telah dilakukan oleh para Protestant sejak tahun 1900 di Topeka, Kansas (sampai sekarang)! Padahal, orang Katolik baru mengikuti praktek baptisan roh dan bahasa roh pada 1966, enam puluh enam tahun kemudian. Jadi patut dipikirkan, untuk kepentingan siapa bahasa Roh dan baptisan roh pertama kali muncul di Protestantism? Jelas hanya untuk kepentingan Protestant sendiri dan bukan untuk kepentingan yang lain. Artinya apa? Artinya praktek tersebut HANYA MENJADIKAN PEMBENARAN ATAS BIDAAH (HERESY) PROTESTANTISM! Dan karena, menurut ajaran Gereja, Allah tidak melakukan karunia mukjijat untuk pembenaran suatu kesalahan (ie: Protestantism), maka either karunia mukjijat tersebut (baptisan roh dan bahasa roh) berasal dari malaikat kegelapan atau dibuat-buat (palsu).

Kemudian bisa dilihat dari pengalaman Ralph Keifer dan khotbah Kevin Ranaghan diatas bahwa kedua orang ini, setelah ter-expose oleh pratek mukjijat (ie: baptisan Roh dan bahasa roh) Protestantism, malahan menjadi percaya akan kebenaran Protestantism dan mulai meminta nasihat para protestant akan "mukjijat" tersebut dan belajar untuk berlaku seperti Protestant!

Terakhir, bukannya menjadi semakin Katolik dengan tetap memeluk ajaran Gereja yang dijamin Allah Roh Kudus sendiri, yaitu Extra Ecclesiam Nulla Salus (Diluar Gereja Tidak Ada Keselamatan), Kevin Ranaghan, sebagai salah satu pelopor Karismatik, cenderung bersikap indifferentist terhadap Protestant dan memimpikan suatu ekumene dimana perbedaan fundamental yang membedakan umat Allah sejati (ie: Katolik) dengan para bidat (ie: Protestant) hilang karena daya kerja Roh Kudus. Patut dipertanyakan Roh Kudus darimana itu? Karena Roh Kudus sejati malahan menjaga ajaran Gereja Katolik tanpa salah dan tanpa kompromi sehingga Gereja bisa berdiri tegak sejak 2,000 tahun meskipun pada jayanya bidaah Arianisme 97-99% Uskup Gereja Katolik telah mengkompromiskan Dogma Gereja akan keilahian Yesus Kristus.


Ketiga, sungguh melawan kebijaksanaan bila seorang Katolik meminta nasehat theologis yang berkenaan dengan spiritualitas kepada seorang pendeta Protestant (Episcopal) APALAGI seorang awam anggota jemaat dari pendeta tersebut yang hanya mendapatkan pendidikan formal sampai SMU. Perkara-perkara spiritualitas biasanya diselimuti kabut misteri hanya bisa terterangi oleh terang iman yang benar. Selain Protestant tidak mempunyai iman yang benar, mereka juga tidak diberi tujuh karunia Roh Kudus dimana salah satunya adalah karunia pengertian yang penting untuk memahami perkara iman secara umum dan spiritual secara khusus. Dua hal tersebut (iman dan karunia pengertian) punya kaitan yang erat, ini akan kita lihat sebentar lagi.

St. Thomas memberi penjelasan mengenai apa itu karunia pengertian dan apa gunanya:

    human knowledge begins with the outside of things as it were, it is evident that the stronger the light of the understanding, the further can it penetrate into the heart of things. Now the natural light of our understanding is of finite power; wherefore it can reach to a certain fixed point. Consequently man needs a supernatural light in order to penetrate further still so as to know what it cannot know by its natural light: and this supernatural light which is bestowed on man is called the gift of understanding. (sumber: Summa Theologica)

    (Terjemahan 7)

Jadi, karunia pengertian ini membuat manusia mampu menembus (penetrate) apa yang tidak bisa diketahui manusia oleh terang kodrati. Apakah yang tidak bisa diketahui manusia oleh terang kodrati? Iman.

    the gift of understanding is not only about those things which come under faith first and principally, but also about all things subordinate to faith. (sumber: Summa Theologica)

    (Terjemahan 8)

Karunia Pengertian ini diinfusikan pada saat pembaptisan bersama dengan tujuh karunia Roh Kudus yang lain, berikut dari Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma p. 261:

    3. The Gifts of the Holy Ghost

      The Gifts of the Holy Ghost also are infused with sanctifying grace. (Sent. communis.)

    The scriptural basis is Is. 11:2 et seq., in which the spiritual endowment of the future Messiah is depicted, "And the spirit of the Lord shall rest upon Him: the spirit of wisdom and understanding, the spirit of counsel and of fortitude. The spirit of knowledge and of the fear of the Lord. 3. And in the fear of the Lord he has pleasure. “ (Sept. and Vulg. : "... the spirit of knowledge and of godliness [... pietas], 3. and He shall be filled with the Spirit of the fear of the Lord".) The Massorah details six gifts, in addition to the spirit of the Lord. The Septuagint and the Vulgate enumerate seven, as they render the concept "Fruit of the Lord" in V. 2 and V. 3 differently. The sevenfold number, which goes back to the Septuagint, is not essential. The Liturgy, the Fathers (for example, St. Ambrose, De Sacramentis III 2, 8; De mysteris, 7,42), and the theologians have inferred from this passage that these gifts are bestowed on all the just. As the just are shaped after the image of Christ (Rom 8:29). Cf. the rite of Confirmation and the hymns used in the Liturgy "Veni Sancte Spiritus" and "Veni Creator Spiritus," and also the Holy Ghost Encyclical of Pope Leo XIII "Divinum Illud" (1897).

    There is some uncertainty regarding the nature of the gifts of the Holy Ghost and their bearing on the infused gifts. According to the teaching of St. Thomas, which is generaly accepted today, the gifts of the Holy Ghost are supernatural, permanent, dispositions (habitus) of the faculties of the soul, really distinct from the infused virtues, and by means of which man is enabled easily and joyfully to respond to the stirrings and promptings of the Holy Ghost: dona sunt quidam habitus perficientes hominem ad hoc, quod promptes sequatur instinctum Spiritus Sancti (S. th. 1 II 68,4).

    The gifts of the holy Ghost refer partly to the intellect (wisdom, understanding, knowledge, counsel), partly to the will (piety, fear of the Lord). They are different from the infused virtues in that the motivationg principle of the gifts is the Holy Ghost immediately. While the virtues enable one to perform extraordinary and heroic acts. The gifts are distinguished from charismata in that they are bestowed for the salvation of the recipient and are always infused when justification takes place. S. th. 1 II 68,4).

    (Terjemahan 9)

Terlihat bahwa Karunia Pengertian (dan tujuh karunia Roh lainnya) hanya didapatkan kepada mereka yang memiliki Rahmat Pengudusan. St Thomas juga sepakat:

    Therefore whoever has the gift of understanding, cometh to Christ, which is impossible without sanctifying grace. Therefore the gift of understanding cannot be without sanctifying grace. (sumber: Summa Theologica)

    (Terjemahan 10)

Nah, karena Rahmat Pengudusan hanya ada pada diri seorang Katolik yang tidak berdosa besar, maka, Protestant, selain tidak mempunyai Roh Kudus dalam diri mereka, juga tidak mempunyai tujuh karunia Roh termasuk Karunia Pengertian. Tidak hadirnya Roh Pengertian ini tidak selalu berarti bahwa seorang Katolik pasti selalu lebih mengerti tentang iman daripada seorang Protestant. Namun, sekali lagi, yang menjadi obyek dari pemahaman/pengertian disini adalah perkara-perkara spiritual yang diselimuti kabut misteri. Hanya dengan terang iman yang benarlah kabut misteri bisa sedikit terkuak, dan semua ini adalah berkat bantuan Karunia Pengertian yang membuat akal budi (rasio) kita menjangkau apa yang diluar kemampuan akal budi (rasio) kita.

Sehingga untuk perkara spiritual seyogyanya seorang Katolik berkonsultasi dengan seorang Katolik lain yang mempunyai pengertian yang baik akan perkara-perkara spiritual.



V. DOKTRIN UTAMA KARISMATIK: BAPTISAN ROH KUDUS DAN BAHASA ROH

A. Baptisan Roh Kudus
"Satu Tuhan, Satu Iman, Satu BAPTISAN" (Ef 4:5)
"Confiteor Unum BAPTISMA in remissionem peccatorum" (Credo Nicea-Constantinople)

Diatas adalah dua pengakuan iman dari dua sumber Tradisi Suci, yaitu Alkitab dan keputusan dogmatis Gereja di Konsili Nicea-Constantinople. Gereja hanya mengakui SATU Baptisan, tidak ada baptisan yang lain. Untuk "menciptakan" suatu doktrin baptisan yang baru, seperti yang dilakukan oleh Protestantism dan Karismatik, berarti telah melangkah keluar dari wahyu yang terus menerus diajarkan Gereja Kudus dan merupakan penghujahan (sacrilege).

Apa yang terjadi pada saat pembaptisan? Berikut jawaban beserta referensi dari Katekismus Gereja Katolik
    1. Penghapusan semua dosa sebelumnya. Semua! Total! Termasuk hukuman atas akibat dosa yang biasanya ditanggung di Api Penyucian (sehingga mereka yang mati setelah dibaptis sebelum berbuat dosa apapun, akan langsung masuk ke surga). Bdk. Katekismus 1263.

    2. Penghapusan dosa tidak serta merta membebaskan manusia dari concupiscence (kecenderungan untuk berdosa), penderitaan, kematian etc yang datang ke dunia karena dosa. Bdk. Katekismus 1264.

    3. Manusia "diciptakan" kembali menjadi "ciptaan baru" (2Kor 5:17), seorang anak angkat Allah (Gal 4:5-7), pengikut serta dalam kodrat ilahi sang Allah (2Pet 1:4), Anggota Kristus (1Kor 6:15) dan pewaris bersama dengan Kristus (Rom 8:17), dan kuil bagi Roh Kudus (1Kor 6:19). Bdk. Katekismus 1265.

    4. Pemberian Rahmat Pengudusan dan/atau Rahmat Pembenaran yang memungkinkan mereka untuk menerima kebajikan-kebajikan ilahi (iman, harapan, cinta kasih), karunia-karunia Roh Kudus (tujuh karunia Roh Kudus) dan kebajikan-kebajikan susila (keadilan, keberanian, penguasaan diri). Bdk. Katekismus 1266.

    5. Menjadi bagian dari Imamat Rajawi Kristus (1Pet 2:9), suatu bangsa imamat umum sebagaimana Israel sebagai satu bangsa imamat (Kel 19:6). Bdk. Katekismus 1268.

    6. Mendapatkan Karakter Sakramen Baptis berupa "materai Allah" ("Dominicus character") yang tak terhapuskan yang diberi oleh Sang Allah Roh Kudus. Bdk. Katekismus 1272-1274.

Sesuai dengan Katekimus 1265 yang merujuk pada 1Kor 6:19 (no:3 diatas), pada pembaptisan Allah Roh Kudus sudah hadir secara nyata dalam diri terbaptis, beserta karunia-karuniaNya (lihat no:4 diatas). Tidak diperlukan suatu "baptisan Roh Kudus tambahan" yang seakan-akan dilakukan karena menganggap bahwa pada saat dibaptis umat tidak menerima Roh Kudus. Begitu juga suatu "baptisan Roh Kudus tambahan" tidak akan membuat kita lebih dikaruniai Roh Kudus karena semua karunia Roh Kudus telah kita terima pada saat baptisan air yang dirayakan di Gereja secara biasa (ordinary).

Beberapa Protestant tertentu dan Karismatik mengajukan ayat seperti Mat 3:11 untuk berargumen akan adanya suatu Baptisan Roh Kudus. Namun Tradisi Gereja mengajarkan bahwa yang dimaksud Baptisan Roh Kudus dan Baptisan Api di Mat 3:11 adalah sama dengan Baptisan dengan air yang diterima setiap umat Katolik di Gereja.

Berikut dari Summa Theologica yang mengkonfirmasi dan mengulangi apa yang diajarkan Gereja Katolik:

    SUMMA THEOLOGICA

    QUESTION 66: OF THE SACRAMENT OF BAPTISM

    ARTICLE 11: Whether three kinds of Baptism are fittingly described - viz. Baptism of Water, of Blood, and of the Spirit?


    OBJ 1
    : It seems that the three kinds of Baptism are not fittingly described as Baptism of Water, of Blood, and of the Spirit, i.e. of the Holy Ghost. Because the Apostle says (Ephesians 4:5): "One Faith, one Baptism." Now there is but one Faith. Therefore there should not be three Baptisms.

    ...

    Reply OBJ 1: The other two Baptisms are included in the Baptism of Water, which derives its efficacy, both from Christ's Passion and from the Holy Ghost. Consequently for this reason the unity of Baptism is not destroyed. (sumber: Summa Theologica)

    (Terjemahan 11)

Terlebih, ketika Yohanes Pembaptis mengatakan, "Aku membaptis kamu dengan air ... tapi Ia [Kristus] akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan Api," Yohanes Pembaptis tidak bermaksud mengatakan bahwa baptisan air yang dilakukan Gereja sekarang ini adalah sesuatu yang inferior daripada baptisan Roh Kudus dan Api. Yohanes Pembaptis disini membandingkan baptisan yang dilakukan dirinya sendiri ("aku membaptismu dengan air untuk pertobatan" – Mat 3:11) dengan baptisan yang akan dilakukan oleh Kristus. Gereja mengajarkan bahwa Baptisan air yang dilakukan Yohanes Pembaptis adalah baptisan pertobatan dan bukan baptisan yang bersifat sakramen:

    720 Finally, with John the Baptist, the Holy Spirit begins the restoration to man of "the divine likeness," prefiguring what he would achieve with and in Christ. John's baptism was for repentance; baptism in water and the Spirit will be a new birth. (Yoh 3:5)

    (Terjemahan 12)

Argumen lain yang juga digunakan Karismatik dan Protestant untuk menjustifikasikan doktrin "Baptisan Roh Kudus" adalah Kis 8:14-17. Dikisahkan bahwa Philipus telah membaptis orang-orang Samaria, namun ketika para rasul tiba di Samaria mereka melihat bahwa Roh Kudus belum datang atas orang Samaria yang terbaptis. Para rasul kemudian menumpangkan tangan atas mereka sehingga Roh Kudus datang pada mereka. Cerita dari Kis 8:14-17 ini seakan-akan membenarkan praktek Protestant dan Karismatik yang meminta turunnya Roh Kudus bagi umat bahkan setelah pembaptisan. Apakah iman Gereja Katolik yang mengajarkan bahwa Roh Kudus benar-benar tinggal dalam diri seseorang setelah dia dibaptis (Katekismus 1265; 1Kor 6:19) berlawanan dengan ayat tersebut? Berikut adalah Komentar dari Haydock Bible Commentary, suatu Kitab Suci berbasis Duoay-Rheims yang disertai komentar Rm. Haydock, atas Kis 8:15,17:

    Ver. 15. The Holy Ghost, which the apostles came to give the Samaritan Neophytes, was not the spirit of grace, of justice, and of sanctity, for that they had received at baptism; but the spirit of strength, to confess with confidence and freedom the name of Jesus, and the supernatural and miraculous graces, usually at that time granted to the faithful, by the imposition of hands. Philip did not administer the sacrament, because he could not; he was not a bishop. Hence now in the Church, we see only the chief pastors do it, præcipuos et non alios videmus hoc facere. See St. Chrysostom, hom. xviii. in Acta. --- There is no mention here, it is true, of unction, but the most venerable antiquity clearly specifies it. St. Cyprian, in the third age [third century], says: "it is moreover necessary, that he who has been baptized, should be anointed, that having received the chrism, that is, the unction, he may be the anointed of God." (Ep. lxx.) --- In the next age [fourth century], St. Pacianus writes: "Do you say that this (the power of remitting sins) was granted only to the apostles? Then I say, that they alone could baptize, and give the Holy Spirit, for to them alone was the command of doing it given. If, therefore, the right of conferring baptism, and of anointing, descended to their successors, to them also has come the power of binding and loosing." (Ep. i. ad Sym. Bibl. Max. T. iv. p. 307)

    Ver. 17. They received the Holy Ghost. Not but that they had received the grace of the Holy Ghost at their baptism; but not that plentitude of grace, and those gifts, which they received from bishops in the sacrament of confirmation. This sacrament, as St. Chrysostom observes,[2] St. Philip, the deacon, had not the power to give. (Witham) (Sumber: Haydock Bible Commentary)

    (Terjemahan 13)

Jadi, yang dilakukan para rasul di Kis 8:15,17 adalah memberikan para orang Samaria Sakramen Krisma BUKAN memberi mereka suatu "baptisan Roh Kudus" seperti yang secara salah diyakini oleh Protestant dan Karismatik. Sesuai yang ditulis Rm. Haydock, Philipus bukanlah Uskup sehingga tidak bisa memberikan Sakramen Krisma kepada orang Samaria. Sehingga para rasul-lah, yang adalah cikal bakal semua Uskup Gereja Katolik, yang mampu memberikan orang Samaria Sakramen Krisma agar Roh Kudus yang sudah ada dalam diri mereka dikuatkan. Katekismus, di bagian Sakramen Krisma (no:1285-1321), mengkonfirmasi penafsiran Rm. Haydock :

    1315 "Now when the apostles at Jerusalem heard that Samaria had received the word of God, they sent to them Peter and John, who came down and prayed for them that they might receive the Holy Spirit; for it had not yet fallen on any of them, but they had only been baptized in the name of the Lord Jesus. Then they laid their hands on them and they received the Holy Spirit" (Acts 8:14-17).

    1316 Confirmation perfects Baptismal grace; it is the sacrament which gives the Holy Spirit in order to root us more deeply in the divine filiation, incorporate us more firmly into Christ, strengthen our bond with the Church, associate us more closely with her mission, and help us bear witness to the Christian faith in words accompanied by deeds.

    (Terjemahan 14)

Bisa dilihat bahwa Gereja, sesuai Katekismus, meyakini bahwa Kis 8:14-17 adalah ayat yang menunjukkan praktek Sakramen Krisma, BUKAN suatu praktek "baptisan Roh Kudus" seperti yang diyakini Karismatik dan Protestant.


Sementara itu beberapa karismatik mencoba untuk mendapatkan dasar patristik (Bapa Gereja) akan doktrin "baptisan roh kudus" mereka. Dalam bukunya Fanning The Flame (Liturgical Press,1991), Killian McDonnell mencoba untuk membuktikan bahwa praktek baptisan Roh Kudus (ala karismatik tentunya) adalah praktek yang dilakukan di Gereja Purba. McDonnell juga mengutip beberapa teks dari tulisan para Bapa Gereja Awal untuk mendukung argumennya. Berikut sanggahan dari Romo William Most:

    Many charismatics today are trying to say all Catholics must be charismatic, that "baptism in the spirit" was routine in the Patristic age. We find this clearly in a booklet, Fanning the Flame, by Kilian Mc Donnell (Liturgical Press,1991). He cites a few patristic texts to try to show these phenomena were routine in the patristic age. But the texts given are few, just three are given: Fairly clear are those of Tertullian, St. Hilary, St. Cyril of Jerusalem. But the booklet admits on p.18 that: "Both Basil of Caesarea... and Gregory Nazianzus... situate the prophetic charisms within the Christian initiation, though they are more reserved in their regard than Paul." No quotes are given. (Sumber: Errors of Charismatics – William G. Most)

    (Terjemahan 15)



Sebenarnya mengapa Karismatik begitu terobsesi dengan "baptisan Roh Kudus?" Alasannya bisa dilacak dari asal muasal gerakan karismatik itu sendiri, yaitu Protestantism. Martin Luther, yang memulai deformasi menuju Protestantism, selalu didera rasa ketakutan bahwa dirinya penuh dengan dosa dan akan masuk neraka. Gejala ini biasanya disebut sebagai "scrupulousity." Orang yang "scrupolous" merasa bahwa apapun yang dilakukan dan dipikirkan adalah dosa. Suatu ketika Luther menemukan obat mujarab dari paranoia (ketakutan berlebih) yang dideritanya. Dia berkeyakinan bahwa hanya dengan iman saja (Sola Fide) seseorang akan terbenarkan dan kebenaran Kristus akan menutupi dia dan melindungi dirinya dari semua dosa. Lebih lanjut, Luther mengatakan bahwa iman yang membenarkan itu adalah iman yang penuh dengan keyakinan yang pasti akan kasih Allah yang telah membenarkan dan menghapus dosa-dosa. Keyakinan ini begitu penting sehingga sedikitpun keraguan berarti bahwa seseorang tidak mempunyai iman yang menyelamatkan[2]. Berangkat dari pemikiran yang salah tersebut, Protestant selalu berusaha untuk memompa keyakinan mereka bahwa mereka telah selamat. Karena sedikit keraguan berarti bahwa si Protestant belum selamat. Keyakinan bahwa diri sendiri terbenarkan, terhapus dosanya dan terselamatkan adalah sesuatu yang penting bagi doktrin Protestantism.

Dalam bentuk praktisnya bila seorang Protestant tidak bersemangat dalam iman, tidak berapi-api, tidak emotionally charged dan hanya melakukan rutinitas ibadah keseharian dengan biasa-biasa saja, maka dia akan merasa bahwa imannya tidak hidup. Karena itulah dalam ibadah Protestant seringkali kita melihat upaya-upaya yang mereka lakukan untuk mengisi baterai iman mereka dengan musik-musik sentimentil yang emosional, khotbah berapi-api yang motivasional dan pagelaran-pagelaran. Sementara itu, para Protestant melihat umat Katolik sebagai satu kumpulan yang "tidak diberi makanan [rohani]" karena setiap kali beribadah umat Katolik hanya akan disuguhi ritual yang itu-itu saja dari minggu ke minggu. Bahkan seorang Protestant akan merasa bahwa umat Katolik mestinya tidak perlu ke Gereja karena toh mereka sudah bisa membayangkan apa yang nanti akan dilakukan di Gereja: ini, lalu itu, lalu ini lagi, lalu itu dan ditutup dengan itu, lalu pulang.

Lalu apa hubungan semua ini dengan doktrin "baptisan Roh Kudus?" Pada dasarnya, doktrin baptisan Roh Kudus berangkat dari perlunya suatu pengisian baterai iman yang sangat dibutuhkan seseorang Protestant supaya dia mempunyai keyakinan yang kuat akan imannya (karena keraguan akan iman berarti seorang Protestant tidak mempunyai iman yang menyelamatkan). Meskipun Luther sendiri memandang baptisan sebagai suatu sakramen (namun lain dengan pengertian sakramen menurut Gereja Katolik) banyak proto-Protestant yang merasa bahwa baptisan sama sekali bukan sakramen dan bahkan hanya merupakan formalitas yang "bila ingin silahkan dilakukan, kalau tidak ya tidak apa-apa."

Memang cukup beralasan bila Protestant yang menganut Sola Fide, -dimana iman atau fide yang menyelamatkan adalah iman yang tidak disertai keraguan bahwa seseorang telah terselamatkan-, akan memandang baptisan sebagai suatu formalitas, suatu ritual yang tidak menyelamatkan. Terlebih, ritual baptisan biasanya tidak disertai suatu perasaan tertentu yang mengindikasikan bahwa dosa-dosa telah terhapuskan atau bahwa kita telah terselamatkan dan menjadi anak Allah. Jadi bagaimana mungkin sekedar ritual baptisan air yang biasa-biasa saja itu membuat seseorang terbenarkan? Solusinya adalah doktrin baptisan Roh Kudus.

Doktrin akan baptisan Roh Kudus yang dipisahkan dari baptisan air bisa dilacak dari John Wesley yang bisa dikatakan sebagai pionir Pentecostalism. Dalam bukunya A Plain Account of Christian Perfection (1777), Wesley mengkhotbahkan akan "baptisan Roh Kudus" dan mengembangkan theologi "pemberkatan kedua." Adalah John Fletcher, kolega dari Wesley, yang menyebut Pemberkatan Kedua tersebut sebagai baptisan Roh Kudus dan mengatakan bahwa baptisan Roh Kudus tersebut adalah sebuah pengalaman mendalam, pribadi. Tanda-tanda atau indikasi dari Baptisan Roh Kudus tersebut adalah glossalia yang disebut "bahasa Roh." (sumber).

Dalam baptisan Roh Kudus inilah Protestant mendapatkan "keyakinan" yang diidamkan. Dengan suatu upacara yang dramatik yang disertai dengan doa-doa yang melankolis, penumpangan tangan dan musik seseorang diarahkan ataupun dicenderungkan untuk tergerak perasaan yakinnya. Dan setelah itu, sebagai suatu konfirmasi bahwa telah terjadi sesuatu, orang yang terbaptis dari Roh Kudus sekali lagi diarahkan ataupun dicenderungkan untuk berbahasa roh.

Itulah mentalitas dari ajaran gereja Endorphin Kudus (The Church of Holy Endorphin), suatu sebutan ejekan bagi gereja-gereja yang mengedepankan manipulasi emosi seperti Pentakosta. Endorphin sendiri adalah cairan kimia dalam tubuh manusia yang menimbulkan perasaan senang.

Mentalitas ini berangkat dari pendapat keliru bahwa seorang yang dikaruniai Allah pastilah merasa (suatu perasaan emosional) bahagia, senang dan damai. Tapi iman tidak identik dengan perasaan yang emosional. Sekalipun baptisan air hanyalah ritual yang biasa-biasa saja, namun Gereja, sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran (1Tim 3:15), mengajarkan bahwa seseorang benar-benar telah menjadi ciptaan baru dan terbersihkan dari segala dosa. Begitu juga sekalipun roti yang terkonsekrasi rasanya tetap hambar dan biasa-biasa saja, namun Gereja mengajarkan bahwa itu adalah tubuh sang Penyelamat sendiri. Emosi yang mudah dimanipulasi dan dipengaruhi oleh karakter seseorang, kondisi lingkungan sekitar, obat-obatan dan lain-lain tidak bisa dijadikan dasar untuk mengkonfirmasi kebenaran iman.

Terlebih iman yang sejati justru sering diuji dengan saat-saat kering dimana kasih dan damai Allah seakan-akan tidak pernah ada. Seperti Kristus yang mengalami kekeringan di padang pasir dan merasakan ditinggal oleh Bapa (meskipun sebenarnya Dia tidak pernah ditinggalkan), begitu juga tidak jarang Allah menguji, bukan mencobai[3], umatNya. Para kudus pun tidak lepas dari ujian ini agar mereka semakin mirip dengan Tuhan mereka Yesus Kristus. Yang mudah kita ingat adalah St. Yohanes dari Salib yang dalam bukunya "The Dark Night of the Soul" menceritakan masa-masa kekeringan dan ditinggalkan Allah. Setiap umat Katolik pada satu waktu pun akan mengalami masa kekeringan dalam intensitas yang berbeda-beda menurut kehendak Allah. Sering umat merasakan tidak bersemangat untuk ke Gereja, tidak bersemangat untuk berdoa dan lain-lain. Saat-saat kering ini tidak berarti bahwa kasih Allah ataupun Roh Kudus hilang dari kita, namun saat-saat ini adalah ujian yang akan menguatkan kita.

"Baptisan Roh Kudus" tidak akan pernah bisa menghapuskan kekeringan iman yang akan dilalui oleh semua yang mengikuti jejak Kristus. "Baptisan roh kudus" adalah manipulasi emosi warisan Protestantism. Dan pada akhirnya, "Baptisan Roh Kudus" tidak sesuai dengan iman yang Katolik dan Apostolik.


B. Bahasa Roh
Selain Baptisan Roh Kudus, bahasa Roh adalah sine qua non dari gerakan karismatik. Meskipun begitu tidak jarang umat Karismatik sendiri berbicara dengan remeh akan bahasa roh itu sendiri. Sering ketika ditanya oleh seseorang yang kritis terhadap fenomena bahasa roh di lingkungan kahrismatik, akan muncul tanggapan-tanggapan seperti, "bahasa roh bukanlah petanda kesucian seseorang. Seseorang tidak berbahasa roh pun bukan berarti bahwa dia tidak dikaruniai." Bahkan tidak jarang yang mengakui bahwa bahasa roh adalah karunia keajaiban yang paling rendah sesuai dengan yang dikatakan Paulus di 1Kor 12:8-10 (bahasa roh dan terjemahannya terdaftar paling akhir).

Namun tampaknya tanggapan seperti yang diatas adalah sekedar lips service karena bahasa roh mempunyai peran yang amat penting dalam karismatik sendiri. Mengapa? Sebab, seperti yang dikatakan John Fletcher yang sudah disebut diatas, kemampuan berbahasa roh merupakan tanda bahwa seseorang telah menerima Baptisan Roh Kudus. Dengan berbahasa roh seseorang merasa bahwa dirinya spesial, karena telah dinaungi Roh kudus berkat "baptisan Roh Kudus." Namun, seperti yang telah aku jelaskan diatas, perasaan tersebut tidak sesuai dengan iman yang Katolik dan Apostolik. "Baptisan Roh Kudus" tidak membuat seseorang dinaungi Roh Kudus.

Sayangnya praktek baptisan roh kudus di gerakan karismatik sendiri sudah terlalu jauh melenceng dari Tradisi Suci. Berikut aku akan menunjukkan kesesatan-kesesatan praktek bahasa roh dalam karismatik. Selanjutnya aku juga akan tunjukkan beberapa argumen yang digunakan oleh Karismatik untuk membenarkan kesesatan praktek bahasa roh mereka yang kemudian akan aku tanggapi.

Mengenai bahasa Roh Paulus berkata, "Jikalau ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain yang menafsirkannya. Jika tidak ada yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam 'pertemuan Jemaat' (kata aslinya 'ekkalesia' sehingga mestinya diterjemahkan 'Gereja') dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah. (1Kor 14:27-28)" Ini adalah ayat yang paling sering aku gunakan untuk menunjukkan kesesatan praktek bahasa roh di gerakan karismatik. Ayat ini cukup lugas dan karenanya kita bisa langsung melihat ketidaksesuaian praktek bahasa roh karismatik dengan ayat tersebut.

Ada tiga point yang bisa diambil dari perikop tesebut:

1. Bila ada lebih dari satu orang yang hendak berbicara dalam bahasa roh, maka mereka harus melakukannya satu persatu dan tidak bisa bersamaan.
2. Penafsiran diharuskan bila ada yang berbahasa roh.
3. Bila penafsiran tidak ada, i.e. tidak ada yang diberi karunia menafsir, maka bahasa roh harus dilakukan dalam hati.

Apakah aturan ini diterapkan dalam sessi bahasa Roh Karismatik? Sama sekali tidak! Dalam kebanyakan pertemuan karismatik, bahkan hampir semua, "bahasa roh" dilakukan berbarengan. Tidak hanya itu, seruan Paulus akan perlunya penafsiran jarang sekali diperhatikan.

Perlu dijelaskan bahwa bahasa roh pada dasarnya ada dua jenis. Bahasa roh yang tidak memerlukan penerjemahan, karena bisa langsung dimengerti, dan bahasa roh yang perlu penerjemahan. Contoh dari yang pertama adalah bahasa roh yang dilakukan Petrus di Kis 2:1-12. Yang kedua contohnya adalah di 1Kor 14:13. Sampai saat ini hampir semua (kalau tidak sudah semua) bahasa roh yang dilakukan karismatik Katolik dan Protestant adalah versi yang memerlukan penerjemahan. Patut sedikit dicurigai kenapa justru versi yang mudah dibuat-buat ini yang banyak dipraktekkan sementara para kudus sendiri seperti St. Pio, St. Francis Xaverius, St Vincent Verrer dan banyak lainnya justru diberi versi bahasa roh type yang lebih superior seperti di Kis 2:1-12.

Nah, apakah sesuatu yang bertentangan dengan anjuran rasul di Kitab Suci merupakan sesuatu yang berasal dari Allah (ie: Roh Kudus)? Tentu saja tidak. Sehingga bisa disimpulkan bahwa praktek "bahasa roh" dari karismatik yang tidak sesuai dengan anjuran Kitab Suci sama sekali bukan praktek yang berasal dari Roh Kudus.

Kesimpulan tersebut adalah salah satu alasan mengapa aku merasa ada bahaya yang besar dari praktek bahasa roh karismatik. Pertama-tama, karena praktek "bahasa roh" yang dilakukan para karismatik adalah bahasa roh yang palsu maka para karismatik telah secara langsung melanggar Mat 6:7 dimana Yesus melarang pengikutNya untuk berdoa dengan kata-kata kosong yang bertele-tele. Ketika itu di Israel dan bangsa sekitarnya, orang sering berpendapat bahwa dengan banyak dan lamanya doa maka keinginan akan lebih mudah dikabulkan. Sikap berdoa seperti itu seakan-akan mencoba untuk menyetir Allah sesuai keinginan kita dan, yang lebih parah, melupakan bahwa Allah itu adalah Bapa kita yang mengasihi kita dan tahu apa yang kita inginkan bahkan sebelum kita memintanya.

Kedua, bila bahasa roh yang dilakukan oleh karismatik tidak otentik, lalu siapakah yang menggerakkan para karismatik saat berbahasa roh? Ada dua kemungkinan yang saling berkaitan. Pertama adalah dari diri sendiri lewat auto-sugestion atau dari kuasa-kuasa kegelapan. Dua hal ini berkaitan sebab ketika seorang memaksakan diri dan terlalu berapi-api, yang merupakan permulaan auto-suggestion, untuk mendapatkan karisma luar biasa maka dia juga akan membuka diri terhadap intervensi kuasa-kuasa kegelapan. Berikut adalah kutipan dari Rm. William G. Most dari tulisannya Errors of charismatics:

    [In Lumen Gentium paragraph 12] the [Second Vatican] Council distinguishes ordinary and extraordinary charisms: "The extraordinary gifts are not to be rashly asked for, nor should the fruits of apostolic works be presumptuously expected from them; but the judgment of their genuine character and the ordered exercise of them pertains to those who preside in the Church...."

    The great St. Teresa of Avila, who had so much experience with extraordinary gifts, would be horrified. In her Interior Castle 6.9 she warns souls that when they learn or hear that God is giving souls extraordinary graces, "you must never ask or desire Him to lead you by that road." She goes on to explain why: First, it shows a lack of humility; second, one leaves self open to "great danger because the devil needs only to see a door left a bit ajar to enter; third, "when a person has a great desire, he convinces himself he is seeing or hearing what he desires." She adds that there are many holy people who have never had such things, and others who have them, and are not holy. This of course agrees with the warning of Our Lord Himself in Mt 7:22-23.

    Finding New Life in the Spirit (Servant,1872) has sold 1,690,000 copies. It is a guidebook given to all participants in Life in the Spirit Seminars, developed by the Word of God Community out of Ann Arbor, Michigan. Candidates are taught how to invite the gift of tongues, to make a buildup for it -- St. Teresa, as we said above, would worry that the door is left more than a little ajar. This is open to satan and/or autosuggestion. On p.25 the candidate is told to say: "I ask you to baptize me in the Holy Spirit and give me the gift of tongues." (sumber: Errors of Charismatics – William G. Most)

    (Terjemahan 16)

Dari kesaksian banyak orang, banyak kejadian dimana para kharimatik (baik Protestant maupun Katolik) memperlihatkan gejala-gejala kerasukan. Seperti yang terjadi di Toronto Blessing yang diikuti baik Protestant dan Katolik (sumber).

Hal lain yang patut dipetik dari kutipan tulisan Rm. William G. Most diatas selain kata-kata bijaksana dari St. Teresa dari Avila, adalah kutipan dari Lumen Gentium yang mengatakan bahwa karya-karya extraordinary (ie. Karisma luar biasa), seperti nubuat, bahasa roh, karunia penyembuhan etc, tidak boleh secara sembarangan diminta. Bahkan Lumen Gentium mengatakan bahwa karisma luar biasa tersebut tidak seharusnya terlalu kita harap-harap secara "presumptous" bila kita melakukan karya apostolik. Penggunaan kata "presumptous" ini harus dibedakan dengan amanah Paulus untuk "mengejar" (kata Yunaninya "Zeloo") yang digunakan Paulus di 1Kor 14:1. "Presumptous" digunakan di Lumen Gentium berkenaan dengan keinginan akan karisma luar biasa yang tidak sehat. Sedangkan "Zeloo" lebih bersifat mendambakan dengan tulus tanpa terlalu bersifat obsesif akan karisma luar biasa tersebut. Jadi secara singkat, amanah Lumen Gentium tersebut mengajarkan supaya kita tidak berpikiran bahwa karena kita sudah banyak berdoa, berderma, menginjil dan lain-lain lalu kemudian kita pasti akan menerima karisma luar biasa.

Sayangnya kebanyakan karismatik justru memaksakan diri sendiri dan/atau umat lain untuk menginginkan karisma luar biasa seperti bahasa roh dengan cara yang tidak sehat. Aku sendiri (DeusVult) pernah mendengar cerita dari seorang Romo tentang hal ini. Ketika itu sang Romo pergi ke kesusteran di Jati Jejer yang sering digunakan untuk acara karismatik dan susternya banyak yang karismatik. Ketika berada disana sang Romo mengikuti ibadah karismatik sementara para peserta disana, termasuk para suster, tidak tahu bahwa beliau adalah seorang Romo. Di tengah-tengah acara dimana beberapa peserta dipanggil ke depan untuk ditumpangi tangan, tibalah giliran sang Romo. Ketika sang Romo ditumpangi tangan, para hadirin dan suster yang menumpangi tangan mengharapkan bahwa si Romo kemudian berbahasa roh. Si Romo, yang tidak terpengaruh dengan sugesti yang dikondisikan para suster, berdiam diri selama beberapa menit. Tentu saja ini menggelisahkan suster yang menumpangkan tangan pada si Romo. Beberapa saat setelah sang Romo tidak kunjung berbahasa Roh, salah satu suster tergerak untuk melakukan eksorsisme dengan menghardik setan yang dia kira mengganggu sang Romo. Ini gegabah sekali dan melanggar aturan Gereja karena eksorsisme dengan menghardik setan sama sekali tidak boleh dilakukan oleh seorang awam seperti suster tersebut. Sang Romo tetap tenang-tenang saja. Setelah tidak kunjung berbahasa roh, para suster kemudian mengajak sang Romo ke belakang untuk mencegah skandal yang lebih besar bagi kepalsuan praktek mereka. Sang Romo menurut. Sorenya, sang Romo lengkap dengan jubahnya memimpin misa di kapel Jati Jejer karena memang sedianya dia diminta untuk melakukan misa ditempat tersebut. Sang romo menuturkan padaku (DeusVult) bahwa dia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memberikan wejangan bagi para karismatik. Sang Romo lebih lanjut mengatakan bahwa dia kemudian tidak pernah diundang lagi untuk membantu misa di Jati Jejer.

Selain kisah dramatis tersebut aku juga mendengar banyak kesaksian pribadi dari mulut orang-orang yang dipaksa dan dikondisikan oleh karismatik untuk berbahasa roh. Beberapa mereka menyanyikan lagu yang sama, "kalau tidak segera berbahasa roh kan nanti terus dipegangi didepan hadirin dalam posisi yang tidak nyaman, mendingan sok bisa saja supaya segera bisa duduk ke bangku."

Fenomena aneh praktek bahasa roh lain yang sempat aku observasi dalam lingkungan karismatik sendiri adalah perbedaan "bahasa roh" dari tiap kelompok karismatik. Maksudku begini, meskipun tidak ada satu karismatik yang persis sama dalam berbahasa roh dengan karismatik yang lain, namun biasanya dalam satu perkumpulan doa karismatik, anggota-anggota dari perkumpulan doa tersebut mempunyai kemiripan dalam berbahasa roh. Perbedaan bunyi bahasa roh lebih terasa bila kita membandingkan anggota satu kelompok doa karismatik dengan kelompok doa karismatik yang lain. Fakta ini mendorong kita untuk berkesimpulan bahwa kemampuan bahasa roh memang dikondisikan oleh lingkungan (kelompok doa karismatik) dan bukan sesuatu yang berasal dari Roh Kudus sendiri.

Dalam lebih lanjut mengobservasi praktek bahasa roh di lingkungan karismatik sendiri aku juga merasa bahwa bahasa roh yang dilakukan para karismatik tidak mempunyai kaidah bahasa. Bahasa roh para karismatik terdengar tidak lebih dari celotehan tak berarti biasa. Padahal sebagai suatu "bahasa" bahasa roh pastilah mempunyai kaidah-kaidah bahasa seperti bahasa-bahasa lain. Karena itulah bahasa roh bisa diterjemahkan.


Setelah aku tuliskan diatas permasalahan theologis dan praktis akan praktek bahasa roh dalam gerakan karismatik, berikutnya aku akan menjawab beberapa apologi yang digunakan untuk memberi pembenaran atas praktek bahasa roh di Karismatik:

"Dalam 1Kor 14:27-28 Paulus memang menganjurkan agar bahasa roh dilakukan secara teratur dan disertai terjemahan. Namun itu hanyalah 'anjuran' dan bukan 'larangan'"
Cukup sering aku mendapat tanggapan seperti ini. Pendapat diatas sungguh naif sekali. Apakah sebagai umat yang taat kita mempunyai mentalitas untuk mengacuhkan anjuran sampai anjuran itu berubah menjadi larangan? Tentu saja tidak. Anak yang baik akan cukup tahu diri untuk tidak pulang terlalu malam lagi setelah orang tuanya mengingatkan untuk tidak pulang terlalu malam.

"Hanya bahasa roh yang mengandung nubuat yang memerlukan penafsiran. Sedangkan bahasa roh yang bukan nubuat tidak perlu penafsiran. Paulus mengatakan bahwa siapa yang berkata-kata dalam bahasa roh membangun dirinya sendiri dan siapa yang bernubuat dalam bahasa roh membangun Gereja/jemaat (1Kor 14:4). Sehingga sah-sah saja kita berbahasa roh tanpa penafsiran, paling tidak yang melakukannya akan membangun dirinya sendiri meskipun tidak membangun Gereja/jemaat"
Ini adalah apologi para karismatik ketika aku menekankan pentingnya penafsiran yang seringkali diabaikan oleh para karismatik. Aku akan beri dua tanggapan.

Pertama, Paulus memang mengatakan bahwa bahasa roh bisa digunakan untuk membangun diri sendiri ataupun membangun Gereja/jemaat di 1Kor 14:4. Namun, dalam hal membangun diri sendiri sekalipun Paulus menekankan perlunya penafsiran:

1Kor 14:13-15
13 Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya. 14 Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. 15 Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku juga akan menyanyi dan memuji dengan akal budiku.

Menurut Paulus, bahasa roh saja tanpa penafsiran berarti yang berdoa hanya roh saja. Tapi dengan penafsiran maka akal budi pun akan berdoa. Mengingat itu Paulus sendiri mengatakan bahwa dia akan berusaha agar baik roh maupun akal budinya berdoa. Sehingga tidak hanya diri sendiri terbangun semakin sempurna karena roh dan akal budi sama-sama berdoa, namun Gereja/jemaat juga akan terbangun MESKIPUN bahasa roh itu hanyalah nyanyian atau pujian (ie: bukan nubuatan)

Kedua, KALAUPUN seseorang yang melakukan bahasa roh memang diijinkan berbahasa roh tanpa memerlukan penafsiran dengan alasan bahwa bahasa roh yang dilakukannya bukanlah bahasa roh dalam bentuk nubuat (yang menurut Paulus memerlukan penafsiran), lalu bagaimana bisa menentukan apakah bahasa roh yang dilakukan orang tersebut adalah nubuat (yang memerlukan penafsiran) atau bukan nubuat (yang memerlukan penafiran)? Tentu saja kita tidak bisa menentukan apakah bahasa roh seseorang itu adalah versi nubuat (yang memerlukan penafsiran) ataupun versi bukan nubuat (yang tidak memerlukan penafsiran) TANPA ADANYA PENAFSIRAN! Sehingga mutlak penafsiran akan selalu dibutuhkan.

Namun ada juga yang lebih lanjut berargumen… (lihat bawah)

"Apakah suatu bahasa roh itu nubuat (yang memerlukan penafsiran) atau bukan nubuat (yang tidak memerlukan penafsiran) bisa diketahui secara otomatis. Bila tidak ada yang diberi karunia penafsiran maka bahasa roh tersebut adalah versi yang bukan nubuat yang memang tidak butuh penafsiran. Sedangkan bila ada yang diberi karunia penafsiran, maka bahasa roh tersebut adalah versi nubuat yang memang membutuhkan penafsiran"
Argumen lanjutan dari argumen diatas tadi ini cukup naif. Namun untuk menanggapi dan menunjukkan kesalahan dari argumen ini cukuplah mudah. Paulus di 1Kor 14:13 mengatakan bahwa siapa yang berbahasa roh hendaknya juga berdoa untuk karunia penafsiran. Ayat ini menunjukkan bahwa karunia bahasa Roh UNTUK BERNUBUAT SEKALIPUN, TIDAK SELALU diberikan (OTOMATIS) dengan penafsirannya. Orang harus berdoa supaya kepadanya diberikan karunia penafsiran! Kalau orang tersebut tidak berdoa, bisa jadi karunia untuk menerjemahkan tidak diberikan (lihat penekanan Paulus pada kata "harus").

Berikutnya juga adalah argumen dari karismatik yang mencoba untuk meremehkan perlunya panafsiran…

"Di Kisah Para Rasul 10:46 terlihat Kornelius berbahasa roh tanpa perlunya penafsiran. Ini berarti bahwa berbahasa roh tanpa penafsiran sah-sah saja"
Petruslah yang hadir dan dikirim kepada Kornelius. Dan karena Petrus mampu berbahasa roh type yang lebih superior (tipe yang tidak perlu karunia penafsiran yang terpisah) maka dia bisa menafsirkan. Lagipula bila kita melihat di ayat selanjutnya Kis 10:46 kita bisa mengetahui bahwa dengan bahasa rohnya Kornelius memuliakan Allah. Nah, darimana diketahui kalau bahasa roh yang dilakukan Kornelius itu adalah bahasa roh yang memuliakan Allah? Mengapa bukan nubuat atau nyanyian atau doa lainnya? Jawabannya, sebab ada penafsiran dan dari penafsiran itu diketahui bahwa Kornelius memuji Allah dengan bahasa rohnya (bukannya bernubuat atau yang lainnya). Sekali lagi terlihat perlunya penafsiran.

Konteks 1Kor 14:27-28 adalah di Gereja. Kata "jemaat" yang digunakan di 1Kor bab 14 berasal dari kata "ecclesia" yang berarti juga "Gereja." Karismatik sendiri mematuhi larangan hierarkhi untuk tidak berbahasa roh saat Misa Kudus.
Argumen diatas mencoba menciptakan suatu dikotomi yang keliru bahwa "Gereja" dan "jemaat" itu berbeda. Memang harus diakui bahwa dalam pemahaman masyarakat Indonesia kata "Gereja" lebih mengarah ke gedungnya, sementara kata "jemaat" lebih mengarah ke orang-orangnya. Tapi dikotomi ini hanya ada dalam pemahaman masyarakat Indonesia. Di negara-negara seperti Inggris, Perancis, Spanyol, Italia, Jerman dan lain-lain kata "Gereja" juga berarti jemaatnya. Alkitab sekalipun juga menggunakan kata "ecclesia" untuk "jemaat" (Kis 11:26; Kis 18:22 etc). Sehingga ketika Paulus menggunakan kata "ecclesia" di 1Kor bab 14, ini tidak berarti sang rasul membatasi aturannya hanya untuk saat orang-orang berada dalam gedung Gereja, apalagi saat orang-orang sedang merayakan Misa Kudus di Gereja. Kata "ecclesia" digunakan Paulus untuk mengacu kepada komunitas umat beriman di Korintus, para jemaat Korintus, baik dalam gedung maupun diluar gedung.

Lagipula tidak pernah dalam sejarah Gereja Katolik ada sessi/acara bahasa roh dalam Misa Kudus. Dalam liturgi-liturgi paling kuno sekalipun tidak pernah ada suatu sessi/acara bahasa roh saat Misa Kudus. Sehingga 1Kor 14:27-28 memang bukan dalam konteks Misa Kudus tapi pertemuan jemaat yang bukan Misa Kudus. Pertemuan jemaat yang bukan Misa Kudus misalnya adalah ibadah sabda, pendalaman iman, persekutuan doa dan lain-lain. 1Kor 14:26 mengatakan "bilamana kamu berkumpul... yang seorang bermazmur, yang lain pengajaran atau pernyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia menafsirkan bahasa roh...." Deskripsi ini lebih mirip persekutuan doa daripada Misa Kudus ataupun ibadah sabda.

Jadi 1 Kor 14:27-28 berlaku setiap kali umat beriman berkumpul, baik dalam Gereja (kecuali saat Misa Kudus karena Gereja tidak pernah mengijinkan sessi/acara bahasa roh saat Misa Kudus sepanjang sejarahnya) maupun diluar Gereja.

"Ada kelompok karismatik yang melakukan bahasa roh dengan penafsiran. Jumlahnya semakin bertambah"
Adanya penafsiran tidak selalu berarti bahwa praktek bahasa roh di satu kelompok karismatik tidak melanggar amanah Paulus. Harus dilihat dulu apakah ketentuan-ketentuan lain, seperti berbahasa roh secara bergiliran, telah dipatuhi. Disamping itu harus dicheck keotentikan dari penafsiran yang dilakukan. Karena tidak jarang penafsiran tersebut dibuat-buat. Kemampuan menafsirkan bisa dicheck dengan mengingat kaidah bahasa, sebagai contoh tidak mungkin sesuatu yang berbunyi "abada abada abada" ditafsirkan "Yesus mencintaimu." Penafsiran seperti itu tidak sesuai dengan kaidah bahasa.


Itulah beberapa argumen dari karismatik mengenai praktek bahasa roh yang aku ingat. Bila ada yang lain aku akan tambah lagi di kemudian hari.




VI. BISAKAH KESESATAN KARISMATIK DIBENAHI?

Kesesatan Karismatik hanya bisa dibenahi dengan memunahkan/menghilangkan gerakan Karismatisme dari Bunda Gereja Kudus.

Atas pemikiran diatas beberapa penganut karismatik menyangkal dan mereka berkata bahwa karismatisme bisa dibenahi. Mereka berjanji akan membenahi gerakan karismatik agar ajaran atau praktek yang tidak sesuai dengan iman Gereja dihapuskan sehingga karismatik menjadi murni dan sesuai dengan iman Gereja. Lagipula, seperti yang sering mereka katakan, bukankah berkat karismatik banyak umat yang semakin rajin ke Gereja, berdoa, mengaku dosa etc? Bukankah buah yang baik ini menunjukkan bahwa pada dasarnya karismatik itu baik sehingga yang perlu dilakukan hanyalah membenahi penyimpangan-penyimpangan?

Sayangnya pembenahan tidak dimungkinkan. Mengapa? Karena kesesatan karismatik yang berlawanan dengan ajaran Gereja itu adalah esensi atau inti dari karismatik itu sendiri. Sebagai analogi, akan naif sekali bagi seorang anggota Freemasonry untuk berharap bahwa suatu saat Freemasonry akan diterima Gereja setelah kesesatan Freemasonry yang tidak sesuai dengan ajaran Gereja dihapuskan. Baik Karismatik atau Freemasonry sendiri intinya sudah sesat dan berlawanan dari ajaran Gereja. Upaya untuk memperbaiki kesesatan hanya bisa dilakukan dengan menghilangkan atau memunahkan Freemasonry dan Karismatik. karena kesesatan karismatik adalah inti dan nyawa dari karismatisme itu sendiri. Bila inti atau nyawa hilang, maka karismatik telah punah

Kesesatan yang merupakan esensi dari karismatisme adalah doktrin baptisan roh kudus dan bahasa roh mereka. Dan memang inilah yang membedakan karismatik dengan gerakan yang lain (katakanlah Opus Dei, Legio Maria, Landing Ministries etc). Suatu perkumpulan doa karismatik tanpa baptisan roh ataupun bahasa roh hanyalah suatu perkumpulan doa biasa.

International Catholic Charismatic Renewal (ICCR) sendiri menyatakan bahwa benang pemersatu dari Karismatisme adalah baptisan Roh Kudus:

    The common thread for the Movement is the 'baptism of the Holy Spirit'. For many people, this new, powerful, and life-transforming outpouring of the Holy Spirit takes place in the context of a specifically designed seminar called 'Life in the Spirit', although many have been 'baptised in the Spirit' outside of the seminar. (sumber)

    (Terjemahan 17)

Pentingnya baptisan Roh Kudus juga terlihat dari statute resmi ICCR yang bisa diakses dengan mengklik disini. Dan karena bahasa roh adalah salah satu indikasi bahwa seseorang telah menerima bapitsan Roh Kudus, maka keduanya (baptisan Roh Kudus dan bahasa roh) adalah doktrin inti dan esensi dari karismatisme itu sendiri.

Sementara itu nyawa dari gerakan karismatik, yang melatar belakangi dua doktrin utama karismatik tersebut adalah mentalitas yang lebih menekankan suatu keyakinan sia sia atau vain confidence (lihat kutipan dari Konslili Kudus Trent di catatan kaki [2]). Mentalitas inilah yang membuat Luther memberontak dan Protestantism timbul. Dan karena Karismatik memang satu nyawa dengan Protestantism maka tidaklah heran bila karismatik begitu mudah untuk berkompromi dengan ajaran-ajaran Protestant dan menganggap bahwa Protestant adalah bagian dari Gereja.

Lalu bagaimana dengan "buah-buah" dari Gerakan Karismatik? Bukankah Mat 7:16-20 mengajarkan bahwa kita bisa mengenal kebenaran lewat buahnya? Sebenarnya susah sekali menilai buah sejati dari sesuatu. Sebagai contoh, banyak Pondok Pesantren yang mengkhususkan diri dalam menangani pasien narkoba. Bukankah upaya tersebut memang berbuah baik? Bukankah tidak jarang pecandu yang menjadi orang yang lebih baik? Bahkan kita bisa mengatakan lebih jauh bahwa Islam sangat berbuah positif karena daerah Arabia yang dulunya barbar dan buas sekarang jauh lebih beradab setelah datangnya Islam. Orang Arab sudah tidak sembarangan membunuh, merampok, memperkosa dan lain-lain. Bukankah ini buah yang positif sekali?

Kurangnya kebijaksanaan akan membuat orang kurang teliti dalam menilai buah sejati dari suatu perbuatan. Seperti kita tidak bisa mengatakan bahwa Islam sesuai dengan iman yang Katolik dan Apostolik karena "buah-buahnya" baik, kita juga tidak bisa gegabah mengatakan bahwa karismatik itu pada dasarnya benar karena "buah-buahnya" baik. Kita harus bijaksana untuk mengkaji lebih jauh buah sejati dari suatu kebenaran. Islam sendiri, meskipun mempunyai unsur-unsur kebenaran[4], namun, seperti agama non-Katolik lain, juga memiliki "celah-celah, kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan" ("gaps, insufficiencies and errors")[5], sesuatu yang bukan berasal dari Allah dan tidak bisa disatukan dari Allah. Adanya "celah-celah, kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan" tersebut terbukti dengan buah-buah buruk dari Islam yaitu penyangkalan terhadap firman Yesus yang asli, keganasan isi Quran, intoleransi dan lain-lain.

Sama halnya dengan karismatik. Tidak bisa karismatik dipandang benar hanya karena buah-buah baiknya saja. Keseluruhan dari buah karismatik harus diperhatikan. Seperti yang sudah aku tulis diatas buah-buah buruk karismatik adalah ketidak-setiaan terhadap amanah Paulus dan Kitab Suci, doktrin baptisan Roh Kudus yang cenderung mengingkari iman Gereja akan baptisan, mentalitas indifferentism dan lain-lain. Dengan memperhitungkan buah-buah tersebut, sesuai dengan amanah Mat 7:16-20, bisa diketahui bahwa karismatik, seperti Islam, mengandung "celah-celah, kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan" dan seperti Islam atau Protestantism atau Freemasonry; karismatik tidak bisa disatukan dengan Gereja Katolik.

Buah-buah baik dari agama non-Katolik ataupun dari karismatik sekalipun pastilah berasal dari Allah. Ini karena Allah lebih berkuasa daripada dosa dan mampu membuat yang baik dari yang buruk. Allah tetap berkarya dan memberikan kasihNya terlepas baik buruk seseorang (Mat 5:45). Karya Allah ini sama sekali bukan pembenaran akan kesalahan, kesesatan atau kejahatan (Karismatik, Freemasonry, Orthodoksi, Protestantism, Islam, Budhist, Hindu etc). Karya Allah ini berfungsi untuk menuntun orang dari gelap menuju terang sejati, yaitu Kristus di Gereja Katolik (lihat catatan kaki [4]).

Sejak awal karismatisme memang bukan berasal dari Gereja Katolik dan pada perkembangannya pun karismatisme tidak pernah bisa bersatu dengan Gereja Katolik karena banyaknya penyimpangan yang merupakan inti dan nyawa dari karismatisme sendiri. Bagaikan virus yang bukan berasal dari tubuh dan tidak akan pernah bersatu dengan tubuh tanpa membuat sakit tubuh tersebut, maka karismatik, seperti virus, harus dipunahkan dari tubuh agar tubuh (ie. Gereja) kembali menjadi sehat.




VII. PENUTUP
Aku akan selalu berdoa kepada Roh Kudus penjaga Gereja agar kesesatan karismatisme segera dilarang Gereja. Aku juga berusaha memberikan pengertian dan pengetahuan kepada banyak orang (awam atau anggota hirarkhi) akan kesesatan karismatik. Aku harap tulisan ini membantu para pembaca untuk mengerti bahaya Karismatisme sehingga mereka bisa menjauhkan diri mereka, orang yang mereka cintai dan sesama saudara dalam Kristus dari kesesatan karismatisme.


Gloria Patri, et Filio, et Spiritui Sancto. Sicut erat in principio, et nunc, et semper, et in saecula saeculorum. Amen.






Catatan kaki (footnotes):

[1] Dalam artikel berita kematian Florence Dodge tersebut dikatakan bahwa Dodge meminta agar para Katolik yang hadir dalam pertemuan doanya tidak ditumpangi tangan. Fakta ini berlawanan dengan kesaksian para Katolik Karismatik awal sendiri yang mengatakan bahwa mereka ditumpangi tangan oleh Protestant. Karena lebih banyaknya sumber, bahkan dari para Katolik Karismatik yang hadir sendiri, yang mengatakan bahwa memang para Katolik ditumpangi tangan oleh Protestant maka menurutku itulah yang lebih benar (bahwa Protestant menumpangi tangan umat Katolik).


[2] Berikut adalah kutipan dari Luther yang menunjukkan iman seperti apakah yang menyelamatkan menurut pendapatnya:


Terlihat bagi Luther sendiri bahwa iman yang membenarkan adalah iman yang didasarkan akan keyakinan akan kasih Allah, yaitu kasih Allah yang menyelamatkan, menghapuskan dosa dan membenarkan seseorang. Bagi Luther keyakinan bahwa dosa telah terhapus, diri sendiri telah terbenarkan dan terselamatkan adalah indikasi yang penting bahwa seseorang memiliki iman yang menyelamatkan. Keraguan akan terhapusnya dosa, status pembenaran/justifikasi dan status keselamatan seseorang menandakan bahwa imannya masih lemah, dan karenanya bukanlah iman yang menyelamatkan.

Tanggap mengenai berbahayanya doktrin Luther tersebut, Konsili Kudus Trent mendedikasikan satu bab mengenai "Melawan keyakinan sia-sia dari para bidat" di sessi enam (Dekrit Mengenai Justifikasi), bab 5:


    THE COUNCIL OF TRENT

    CHAPTER IX.

    Against the vain confidence of Heretics
    But, although it is necessary to believe that sins neither are remitted, nor ever were remitted save gratuitously by the mercy of God for Christ's sake; yet is it not to be said, that sins are forgiven, or have been forgiven, to any one who boasts of his confidence and certainty of the remission of his sins, and rests on that alone; seeing that it may exist, yea does in our day exist, amongst heretics and schismatics; and with great vehemence is this vain confidence, and one alien from all godliness, preached up in opposition to the Catholic Church. But neither is this to be asserted,-that they who are truly justified must needs, without any doubting whatever, settle within themselves that they are justified, and that no one is absolved from sins and justified, but he that believes for certain that he is absolved and justified; and that absolution and justification are effected by this faith alone: as though whoso has not this belief, doubts of the promises of God, and of the efficacy of the death and resurrection of Christ. For even as no pious person ought to doubt of the mercy of God, of the merit of Christ, and of the virtue and efficacy of the sacraments, even so each one, when he regards himself, and his own weakness and indisposition, may have fear and apprehension touching his own grace; seeing that no one can know with a certainty of faith, which cannot be subject to error, that he has obtained the grace of God.

    (Terjemahan 19)



[3] Sesuai dengan Yakobus 1:13 Allah tidak pernah mencobai. Terjemahan doa Bapa Kami baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, seakan-akan memang berlawanan dengan ayat Kitab suci tersebut (ie: "Janganlah masukkan kami kedalam pencobaan" / "Lead us not into temptation"). Namun ini hanyalah masalah terjemahan yang kurang memadai akan kata Yunani dari doa Bapa Kami tersebut. Katekismus sendiri mengatakan:

    2846 This petition goes to the root of the preceding one, for our sins result from our consenting to temptation; we therefore ask our Father not to "lead" us into temptation. It is difficult to translate the Greek verb used by a single English word: the Greek means both "do not allow us to enter into temptation" and "do not let us yield to temptation."150 "God cannot be tempted by evil and he himself tempts no one";151 on the contrary, he wants to set us free from evil. We ask him not to allow us to take the way that leads to sin. We are engaged in the battle "between flesh and spirit"; this petition implores the Spirit of discernment and strength.

    Footnotes:
    150 Cf. Mt 26:41.
    151 Jas 113.

    (Terjemahan 20)

Sehingga terjemahan yang lebih tepat seharusnya adalah "Janganlah biarkan kami masuk kedalam pencobaan" untuk yang bahasa Indonesia. Aku biasanya pakai yang ini.



[4] Unsur-unsur kebenaran dan unsur-unsur pengudusan (ie: sakramen) memang ada diluar batas kelihatan Gereja Katolik. Namun unsur-unsur kebenaran dan pengudusan adalah karunia Allah bagi Gereja Katolik sehingga memang milik Gereja Katolik. Terlebih keduanya mengarahkan orang yang menerimanya untuk semakin bersatu dengan Gereja katolik:


    THE SECOND COUNCIL OF VATICAN

    LUMEN GENTIUM


    8. ... [A]lthough many elements of sanctification and of truth are found outside of its visible structure. These elements, as gifts belonging to the Church of Christ, are forces impelling toward catholic unity.

    (Terjemahan 21)



[5] Diambil dari Dominus Iesus yang juga mengutip dari Redemptoris Missio:

    Nevertheless, God, who desires to call all peoples to himself in Christ and to communicate to them the fullness of his revelation and love, "does not fail to make himself present in many ways, not only to individuals, but also to entire peoples through their spiritual riches, of which their religions are the main and essential expression even when they contain 'gaps, insufficiencies and errors'".27 Therefore, the sacred books of other religions, which in actual fact direct and nourish the existence of their followers, receive from the mystery of Christ the elements of goodness and grace which they contain.

    (Terjemahan 22)

_________________
Mohon doa saudara-saudari
Back to top
View user's profile Send private message
DeusVult
Evangelos


Joined: 10 Feb 2004
Posts: 10848
Location: Orange County California

PostPosted: Sat, 16-12-2006 8:32 pm    Post subject: Reply with quote

Terjemahan kutipan-kutipan berbahasa Inggris




    Agustinus mengatakan (Traktat. xxxii dalam Yohanes), "ketika bahkan pada saat ini Roh Kudus telah diterima, tapi tidak seorangpun berbicara dengan lidah semua bangsa, karena Gereja sendiri telah berbicara bahasa-bahasa semua bangsa; karena siapapun yang tidak berada dalam Gereja, tidak menerima Roh Kudus" (sumber: Summa Theologica)

    (kembali)



    Kemudian kita membaca sebuah pengakuan yang mengejutkan [di booklet Fanning the Flame, yang ditulis Kilian Mc Donnell] dari St. Yohanes Khrysostomus, yang dikutip di halaman yang sama, "Khrysostomus mengeluh, bahwa 'karisma-karisma sudah lama hilang.'" St. Augstinus, dalam tulisannya City of God (21.5), harus berargumen dengan keras bahwa mukjizat itu mungkin terjadi, untuk melawan mereka yang pada masanya menolak kemungkinan adanya mukjijat. Ia berkata bahwa jika mereka (lawan bicara St. Agustinus) berkata bahwa Para Rasul mempertobatkan dunia tanpa melakukan mukjizat – maka itu adalah sebuah mukjizat yang besar. Jika karunia mukjijat sering terjadi [di jaman St. Agustinus], St. Agustinus tinggal menunjukkan terjadinya mukjijat di sekitarnya [untuk membuktikan kepada mereka yang tidak percaya akan mukjijat]. Tapi ia tidak melakukannya (melainkan memberikan contoh mukjizat dari Para Rasul).

    Masih berdasarkan sejarah, karunia mukjizat adalah hal yang biasa di jaman St. Paulus, namun menjadi makin jarang terjadi di Gereja di pertengahan abad selanjutnya, namun [justru] banyak terjadi di kelompok kelompok heretik. Gerakan (karismatik) sekarang ini dimulai pada tahun 1901 diantara orang Protestant. Sampai tahun 1925 ada sekitar 38 denominasi (karismatik Protestant) di Amerika saja. Beberapa dekade kemudian, di tahun 1966, beberapa orang Katholik, karena pergaulannya dengan orang Protestant, meminta kepada orang Protestant untuk meletakkan tangan kepada mereka, untuk mendapatkan karunia lidah – karena [menurut mereka] (karunia) lidah adalah tanda bahwa seseorang sudah dibaptis dalam Roh. (Sumber: Errors of Charismatics – William G. Most)

    (kembali)



    Gregorius Naziansus: Kalau begitu apakah kita tidak mempunyai iman karena kita tidak mampu melakukan tanda-tanda [mukjijat]? Tidak, tapi hal ini [tanda-tanda mukjijat] memang diperlukan pada permualaan Gereja, karena iman para umat yang percaya perlu di pupuk dengan mukjijat-mukjijat, sehingga [iman tersebut] bisa bertumbuh. Begitu juga bila kita menanam batang kayu, menyiraminya dengan air, sampai kita lihat tumbuhan tersebut tumbuh kuat dalam tanah; Tapi setelah tumbuhan tersebut mempunyai akar yang sudah tetap, kita tidak lagi mengairinya. Tanda-tanda dan mukjijat-mukjijat punya hal lain yang perlu kita pertimbangkan lebih jauh. Karena Gereja Kudus setiap hari melakukan apa yang dulunya dilakukan oleh para rasul sendiri ketika hidup; karena ketika Romo-romonya (nya = Gereja) oleh rahmat eksorsisme, menumpangkan tangan pada orang yang percaya dan melarang roh jahat untuk tinggal dalam pikiran mereka, apa lagi yang mereka (para Romo) lakukan kalau bukan mengusir iblis-iblis? Dan para umat yang meninggalkan perkataan-perkataan dunia, dan yang lidahnya menyuarakan Misteri Kudus, berbicara bahasa baru (catatan: maksudnya ketika dalam Misa umat menggunakan bahasa liturgi dan bukan bahasa sehari-hari. Jaman dahulu misa dilakukan tidak dalam bahasa sehari-hari); mereka yang oleh peringatan baiknya mengambil yang jahat dari hati yang lain, mengambil ular (catatan: maksudnya seseorang yang memperingatkan sesamanya ketika si sesama berbuat tidak baik maka itu bagikan mengambil ular dari dalam hati si sesama yang sedianya berkehendak jahat); dan ketika mereka mendengar kata-kata bujukan yang mewabah, tanpa tertarik untuk melakukan perbuatan jahat, mereka meminum bahan mematikan, tapi [bahan tersebut] tidak akan pernah menyakitkan mereka (catatan: maksudnya ketika kita mendengar berita, omongan, isu atau apapun yang buruk tapi tidak terpengaruh, ini bagaikan kita meminum racun tapi tidak terkena efek mematikan dari racun); kapanpun mereka melihat sesama mereka menjadi lemah dalam berbuat baik, dan oleh teladan mereka mereka [si sesama tersebut] diperkuat dalam hidup, mereka menumpangkan tangan pada yang sakit, sehingga mereka (yang sakit) menjadi sembuh (catatan: maksudnya, ketika kita melihat sesama yang lemah dalam berbuat baik dan kemudian oleh teladan kita yang giat berbuat baik si sesama dikuatkan ini bagaikan kita menumpangkan tangan atas seseorang yang sakit [karena kurang giat berbuat baik] dan kemudian menyembuhkannya [dengan teladan kita]). Dan semua mukjijat ini adalah banyak dalam proporsi dan juga spiritual, dan oleh karena [keajaiban-keajaiban ini] jiwa-jiwa dan bukannya tubuh dibangkitkan. (Sumber: Catena Aurea oleh St. Thomas Aquinas)

    (kembali)



    699 Tangan. Yesus menyembuhkan orang-orang sakit dan memberkati anak-anak kecil, dengan meletakkan tangan keatas mereka.51 Atas nama-Nya para Rasul melakukan yang sama52. Melalui peletakan tangan para Rasul Roh Kudus diberikan.53 Surat kepada umat Ibrani memasukkan peletakan tangan dalam "unsur-unsur pokok" ajarannya.54 Dalam epiklese sakramentalnya, Gereja mempertahankan tanda pencurahan Roh Kudus ini yang mampu mengerjakan segala sesuatu.

    1288 "Mulai dari saat ini para Rasul menyampaikan kepada mereka yang baru dibaptis, sesuai dengan kehendak Kristus, oleh peletakan tangan, karunia Roh Kudus demi penyempurnaan rahmat Pembaptisan. Dengan demikian, didalam surat kepada umat Ibrani disebutkan diantara unsur-unsur pengajaran Kristen pertama adalah pengajaran mengenai Pembaptisan dan mengenai peletakan tangan. Peletakan tangan ini dalam tradisi Katolik tepat sekali dipandang sebagai awal Sakramen Penguatan, yang melanjutkan rahmat Pentakosta di dalam Gereja atas satu cara tertentu."99

    Catatan kaki:
    51 Cf. Mk 6:5; 8:23; 10:16.
    52 Cf. Mk 16:18; Kis 5:12; 14:3.
    53 Cf. Kis 8:17-19; 13:3; 19:6.
    54 Cf. Ibr 6:2.
    99 Paulus VI, Divinae consortium naturae, 659; cf. Kis 8:15-17; 19:5-6; Ibr 6:2.

    (kembali)



    Karunia mukjijat adalah apa yang disebut oleh St Paulus dalam Surat Pertama Kepada Jemaat di Korintus (xii, 9, 10), yaitu rahmat luar biasa dari Roh Kudus. [Rahmat-rahmat luar biasa] ini harus dibedakan dengan tujuh karunia Roh Kudus yang didaftar oleh nabi Yesaya (xi, 2 sq.) dan dari buah-buah Roh yang ditulis St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Galatia (v, 22). Tujuh karunia Roh Kudus dan dua belas buah Roh Kudus selalu di-infusikan dengan rahmat pengudusan kedalam jiwa orang yang terbenarkan. [Tujuh karunia Roh Kudus dan dua belas buah Roh Kudus] ini termasuk [rahmat] pengudusan biasa dan berada dalam jangkauan setiap umat Kristen. Karunia yang disebut di Surat kepada jemaat di Korintus tidak sepenuhnya berkenaan dengan kekudusan hidup. [Karunia yang disebut di Surat kepada jemaat di Korintus] adalah kuasa khusus dan luar biasa yang dipercayakan Allah kepada sedikit orang, dan terutama [berfungsi] untuk kebaikan spiritual orang lain dan bukannya orang yang menerima karunia tersebut. Dalam bahasa Yunani karunia [di Surat Korintus] disebut sebagai charismata, dan nama ini diadopsi oleh penulis [Kitab Suci dalam bahasa] Latin- [karunia ini] juga disebut dalam bahasa tekhnis teologi sebagai gratiae gratis datae (rahmat yang diberikan dengan gratis) untuk membedakan karunia ini dengan gratiae gratum facientes, yang berarti rahmat pengudusan atau rahmat aktual apapun yang diberikan untuk keselamatan yang menerimanya. (Sumber: Catholic Encyclopedia: Gifts of Miracles)

    (kembali)



    Disini kita mempunyai pembedaan yang dengan jelas menunjukkan mengenai bagaimana gratiae gratis datae bisa menjadikan keuntungan bagi orang yang menerimanya dan juga berguna bagi orang lain, [dan pembedaan tersebut juga menunjukkan bagaimana] melalui rahmat-rahmat ini (gratiae gratis datae) seseorang tanpa rahmat pengudusan bisa melakukan tanda-tanda keajaiban untuk kebaikan orang lain. Tapi [kejadian dimana orang tanpa rahmat pengudusan menerima gratiae gratis datae dan mampu melakukan tanda-tanda keajaiban] cukup langka dan diluar kebiasaan dan mukjijat sejati tidak akan bisa dilakukan oleh seorang pendosa sebagai bukti akan kekudusan pribadinya atau sebagai bukti kesalahan; karena hal tersebut akan merupakan suatu penipuan dan penghinaan terhadap kekudusan Allah yang merupakan satu-satunya yang dapat melakukan kejaiban [sejati]. (Sumber: Catholic Encyclopedia: Gifts of Miracles)

    (kembali)



    Pengetahuan manusia dimulai dengan [pengamatan] luaran dari hal-hal seperti apa adanya, telah ditunjukkan [sebelumnya] bahwa lebih kuat cahaya pengertian, [maka lebih] jauh [pengetahuan manusia] bisa menembus inti dari hal-hal. Nah cahaya kodrati dari pengetahuan kita berasal dari kuasa yang terbatas; karenanya [pengetahuan kita] hanya bisa sampai pada satu titik tertentu. Oleh karena itu manusia memerlukan cahaya supernatural untuk menembus lebih jauh lagi untuk mengetahui apa yang tidak bisa diketahui oleh cahaya kodrati: dan cahaya supernatural ini yang diberikan kepada manusia disebut karunia pengertian. (sumber: Summa Theologica)

    (kembali)



    Karunia pengertian tidak hanya berkenaan dengan perkara-perkara yang terutama dan secara prinsipiil dalam ruang lingkup iman tapi juga perkara-perkara lain dibawah iman. (sumber: Summa Theologica)

    (kembali)



    3. Karunia Roh Kudus

      Karunia Roh Kudus juga di-infusikan dengan rahmat pengudusan. (Sent. communis.)

    Dasar Kitab Sucinya adalah Yes. 11:2 dst., dimana pemberian spiritual oleh Messiah yang akan datang ditunjukkan, "Roh Tuhan akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan Tuhan: 3. ya, kesenangannya adalah takut akan Tuhan" (Sept. dan Vulg. : "... roh pengenalan dan ketuhanan [... pietas], 3. dan Dia akan dipenuhi dengan Roh takut akan Tuhan".) Manuskrip Massorah mendetailkan enam karunia, ditambah dengan Roh akan Tuhan. Septaguinta dan Vulgata menyebutkan tujuh, karena di kedua kitab tersebut konsep "Buah dari Tuhan" di V. 2 dan V. 3 dipahami berbeda. Jumlah tujuh, yang mula-mula ada di Septaguinta, bukan intinya. [Dalam] Liturgi, [tulisan] para Bapa (sebagai contoh, St. Ambrosius, De Sacramentis III 2, 8; De mysteris, 7,42), dan para theolog memahami dari ayat-ayat tersebut bahwa karunia-karunia ini diberikan kepada semua orang benar (orang yang dibenarkan). Seperti bagaimana para orang benar dibentuk serupa dengan gambar Kristus (Rom 8:29). Cf. ritus sakramen Krisma dan Hymne yang digunakan dalam Liturgi "Veni Sancte Spiritus" dan "Veni Creator Spiritus," dan juga Ensiklik Roh Kudus oleh Paus Leo XIII "Divinum Illud" (1897).

    Ada beberapa ketidak pastian mengenai sifat dari karunia-karunia Roh Kudus dan pengaruh mereka terhadap karunia-karunia yang diinfusikan. Menurut ajaran St. Thomas, yang secara umum diterima saat ini, karunia-karunia Roh Kudus adalah disposisi-disposisi (habitus) adikodrati dan permanan dari kemampuan jiwa, benar-benar berbeda dengan kebajikan yang diinfusikan, yang olehnya (karunia Roh Kudus yang diinfusikan tersebut) manusia diberdayakan untuk secara mudah dan senang untuk menanggapi penggerakkan dan ajakan Roh Kudus: dona sunt quidam habitus perficientes hominem ad hoc, quod promptes sequatur instinctum Spiritus Sancti (S. th. 1 II 68,4).

    Karunia Roh Kudus mengacu sebagian pada intelek (hikmat, pengertian, pengenalan, nasihat), sebagian pada kehendak (kesalehan, takut akan Tuhan). Perbedaan [Karunia-karunia Roh Kudus ini] dengan kebajikan yang diinfusikan adalah bahwa prinsip yang memotivasi dari karunia-karunia tersebut adalah Roh Kudus secara segera/langsung. Sementara kebajikan-kebajikan memberdayakan seseorang untuk melakukan tindakan-tindakan luar biasa dan heroik. Karunia-karunia tersebut dibedakan dengan charismata karena [karunia-karunia tersebut] diberikan untuk keselamtan penerimanya dan selalu diinfusikan ketika pembenaran terjadi. S. th. 1 II 68,4).

    (kembali)



    Karenanya siapapun yang mempunyai karunia pengertian, datang kepada Kristus, [dimana kedatangan ini] tidak dimungkinkan tanpa rahmat pengudusan. Karenanya karunia pengertian tidak bisa tanpa rahmat pengudusan. (sumber: Summa Theologica)

    (kembali)



    PERTANYAAN 66: MENGENAI SAKRAMEN BAPTIS
    ARTIKEL 11: Apakah tiga macam baptisan [dapat] dideskripsikan dengan tepat - viz. Baptisan Air, Darah, dan Roh?

    Keberatan 1
    : Tampaknya memang tiga jenis baptisan tidak tepat dideskripsikan sebagai Baptisan Air, Darah dan Roh (maksudnya Roh Kudus). Karena sang Rasul berkata (Efesus 4:5): "satu Iman, satu Baptisan." Namun hanya ada satu Iman. Karena itu seharusnya tidak ada tiga Baptisan.


    Tanggapan atas Keberatan 1: Dua baptisan yang lain (darah dan roh) termasuk dalam Baptisan Air, yang mendapatkan efektifitasnya baik dari sengsara Kristus dan dari Roh Kudus. Karena alasan ini kesatuan dari Baptisan tidak dihancurkan. (sumber: Summa Theologica)

    (kembali)



    720 Dalam diri Yohanes Pembaptis, Roh Kudus memulai dan mempratandai karya yang akan Ia selesaikan bersama dan dalam Kristus yakni pemulihan sifat "serupa dengan Allah" dalam diri manusia. Pembaptisan Yohanes adalah pembaptisan untuk pertobatan; Pembaptisan dalam air dan dalam Roh Kudus akan menghasilkan satu kelahiran baru. (Yoh 3:5)

    (kembali)



    Ver. 15. Roh Kudus, yang diberikan umat Samaria baru, bukanlah roh rahmat, keadailan dan kekudusan, karena semua itu sudah diterima [umat Samaria baru] pada saat baptisan; tapi roh kekuatan, untuk mengakui dengan keyakinan dan secara bebas nama Yesus, dan rahmat supernatural dan mukjijat, [yang] biasanya diberikan kepada umat, melalui penumpangan tangan. Filipus tidak memberikan sakramen tersebut, karena dia tidak dapat; dia bukanlah seorang Uskup. Karenanya, sekarang di Gereja, kita melihat hanya Pastor kepala yang melakukannya, præcipuos et non alios videmus hoc facere. Lihat St. Khrysostomus, hom. xviii. dalam Akta. --- Tidak disebut disini, memang benar, akan pengurapan, tapi [tradisi] kuno yang terpuji jelas-jelas menyebutnya secara spesifik. St. Siprianus (Cyprian), dalam jaman ke-tiga [abad ke-tiga], mengatakan: "adalah perlu, bahwa dia yang telah dibaptis, harus diurapi, bahwa setelah menerima krisma, yaitu, pengurapan tersebut, dia bisa menjadi yang terurapi oleh Allah." (Ep. lxx.) --- Di jaman berikutnya [abad ke-empat], St. Pacianus menuliskan: "Apakah engkau mengatakan bahwa ini (kuasa untuk menghapuskan dosa) diberikan hanya kepada para rasul? Maka aku berkata, bahwa hanya mereka bisa membaptis, dan memberi Roh Kudus, karena untuk mereka sajalah perintah untuk melakukannya diberikan. Jika, karenanya, hak untuk memberi baptisan, dan pengurapan, menurun kepada pengganti mereka, kepada mereka juga telah datang kuasa untuk mengikat dan melepaskan." (Ep. i. ad Sym. Bibl. Max. T. iv. p. 307)


    Ver. 17. Mereka menerima Roh Kudus. Bukan [karena mereka sebelumnya belum memperoleh Roh Kudus, sebab] mereka telah menerima rahmat Roh Kudus pada pembaptisan mereka; tapi [mereka belum menerima] kepenuhan rahmat, dan karunia-karunia, yang mereka dari uskup-uskup dalam sakramen krisma. Sakramen ini, seperti yang dicermati oleh St. Khrysostomus,[2] St. Filipus, sand diakon, tidak punya kuasa untuk memberikan. (Witham) (Sumber: Haydock Bible Commentary)

    (kembali)



    1315 "Ketika Rasul-Rasul di Yerusalem mendengar, bahwa tanah Samaria telah menerima firman Allah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ. Setibanya di situ, kedua Rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus. Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorang pun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus" (Kis 8:14-17).

    1316 Penguatan menyempurnakan rahmat Pembaptisan. Itu adalah Sakramen yang memberi Roh Kudus, supaya mengakarkan kita lebih kuat dalam persekutuan anak-anak Allah, menggabungkan kita lebih erat dengan Kristus, memperkuat hubungan kita dengan Gereja, membuat kita mengambil bagian lebih banyak dalam perutusannya, dan membantu kita, supaya memberi kesaksian iman Kristen dengan perkataan dan perbuatan.

    (kembali)



    Banyak orang Karismatik sekarang ini mencoba mengatakan bahwa semua orang Katholik harus menjadi karismatik, bahwa "baptisan roh" lazim dilakukan pada jaman Patriarkh (maksudnya para Bapa Gereja Awal). Kita menemukan (pernyataan) ini dengan jelas di sebuah booklet, Fanning the Flame, oleh Kilian Mc Donnell (Liturgical Press, 1991). Ia mengutip sedikit teks dari beberapa patriarkh untuk menunjukkan bahwa fenomena ini (baptisan roh) rutin dilakukan pada jaman tersebut. Namun hanya sedikit teks yang dikutip, hanya tiga yang diberikan: Yang paling jelas adalah yang ditulis oleh Tertullian, St. Hilarius, dan St. Cyril dari Yerusalem. Namun booklet tersebut mengakui di hal.18 bahwa: "Baik Basilius dari Caesarea... dan Gregorius dari Nazianzus... menempatkan karisma nubuat dalam [ritual] inisiasi Kristen [babtisan dan Krisma], namun mereka (Basilius dan Gregorius) lebih berhati-hati dalam tulisan mereka daripada Paulus." Tidak ada kutipan yang diberikan. (Sumber: Errors of Charismatics – William G. Most)

    (kembali)



    [Dalam Lumen Gentium paragraph 12] Konsili [Vatikan II] membedakan karisma biasa dan karisma khusus: "karunia khusus tidak bisa diminta secara paksa, dan buah karya apostolik juga tidak boleh diharap-harapkan dan dibangga-banggakan dari [karya apostolik tersebut]; namun keputusan akan ke-asli-an dari [karunia khusus dan buah karya apostolik] dan juga aturan mengenai penggunaan [karunia khusus dan buah karya apostolik tersebut] diberikan kepada mereka yang berkepentingan di Gereja (ie: hierarkhi Gereja)..."

    St. Teresia dari Avila, yang memiliki banyak pengalaman (dalam hidupnya) akan karunia khusus (yang dimilikinya), akan sangat terkejut. Dalam tulisannya Interior Castle 6.9 ia mengingatkan bahwa ketika seseorang belajar atau mendengar bahwa Tuhan memberikan karunia-karunia yang khusus kepada orang-orang, "kamu tidak boleh meminta atau menginginkan Dia untuk menuntunmu di jalan itu." Ia memberikan alasannya: Pertama, itu menunjukkan kurangnya kerendahan hati; kedua, orang membuat dirinya terbuka bagi "bahaya yang besar karena setan dapat melihat pintu dan hanya memerlukan sedikit celah untuk masuk," ketiga, "ketika seseorang mempunya keinginan yang besar, dia meyakinkan dirinya sendiri [bahwa] dia melihat dan mendengarkan apa yang diinginkannya." Ia menambahkan bahwa banyak orang kudus tidak memiliki hal hal tersebut [ie. karunia-karunia khusus], dan juga banyak orang yang memilikinya namun (mereka) tidak (hidup secara) kudus. Tentu saja (peringatan ini) sejalan dengan peringatan Tuhan Kita sendiri di Mat 7:22-23.

    Buku Finding New Life in the Spirit (Servant, 1872) telah terjual sebanyak 1,690,000 copy. Buku tersebut adalah sebuah buku panduan yang diberikan kepada semua peserta seminar Life in the Spirit, yang diadakan oleh komunitas Word of God di Ann Arbor, Michigan. Peserta (seminar) diajarkan bagaimana mengundang karunia lidah, dan memiliki kelimpahan (karunia) itu – St. Teresia, seperti yang kami tulis diatas, akan (bertambah) khawatir bahwa pintu itu sekarang lebih terbuka daripada sekedar celah kecil. Tentu ini membuka kesempatan bagi setan dan/atau sugesti pribadi. Di hal.25 si kandidat diinstruksikan untuk berkata : "Saya memohon anda untuk membaptis saya dalam Roh Kudus dan memberikan kepada saya karunia lidah (bahasa roh)." (sumber: Errors of Charismatics – William G. Most)

    (kembali)



    Benang pemersatu dari Gerakan ini adalah 'baptisan Roh Kudus'. Bagi banyak orang pencurahan Roh Kudus yang baru, berkuasa dan mengubah hidup ini mengambil tempat dalam konteks suatu seminar yang didesain khusus yang disebut 'Hidup dalam Roh', meskipun banyak yang telah 'dibaptis Roh Kudus' diluar seminar. (sumber)

    (kembali)



    Iman adalah sebuah kepercayaan yang hidup dan berani dalam rahmat Allah, begitu pasti akan pengasihan Allah sehingga [iman tersebut] akan mempertaruhkan mati seribu kali untuk meyakininya. Keyakinan dan pengetahuan seperti itu akan rahmat Allah membuatmu bahagia, gembira dan berani dalam hubunganmu dengan Allah dan semua ciptaan.- DR. MARTIN LUTHER'S VERMISCHTE DEUTSCHE SCHRIFTEN. - Johann K. Irmischer, ed. Vol. 63 (Sebuah petikan dari "Pengenalan akan Surat St. Paulus kepada umat Roma,")

    Iman membenarkan tidak sebagai perbuatan, atau sebagai suatu kualitas, atau sebagai suatu pengetahuan, tapi ketaatan kehendak dan keyakinan teguh dalam kerahiman Allah – LW 54, 359-360

    Iman yang memegang kuat Kristus adalah iman yang membenarkan … Karena iman adalah yakin dan teguh, [iman] harus memegang kuat tidak sesuatupun kecuali Kristus saja – LW 26,28

    Tapi jika itu adalah iman sejati, maka [iman itu] adalah kepercayaan yang pasti dan penerimaan yang teguh dalam hati – LW 26,129

    (kembali)



    KONSILI TRENT

    BAB IX.

    Melawan keyakinan sia-sia para Bidat
    Namun, meskipun adalah perlu untuk mempercayai bahwa dosa-dosa tidak dihapuskan, ataupun tak pernah terhapuskan kalau tidak karena kerahiman Alah demi Kristus; namun tidaklah bisa dikatakan, bahwa dosa dimaafkan, atau telah dimaafkan, kepada tiap orang yang memegahkan keyakinannya dan kepastiannya akan penghapusan dosanya, dan bersandar pada hal itu saja; dengan memperhatikan bahwa hal tersebut [ie. orang yang memegahkan keyakinannya dan kepastiannya akan penghapusan dosanya, dan bersandar pada hal itu saja] bisa terjadi, dan memang ada di jaman kita, diantara para bidat dan skismatik; dan dengan semangat besar dalam keyakinan sia-sia ini, dan orang yang asing terhadap kekudusan, berkhotbah berlawanan dengan Gereja Katolik. Tapi juga tidak bisa dinilai,-bahwa mereka yang benar-benar dibenarkan (di-justifikasi-an) harus perlu, tanpa ragu sekitpun, menenangkan diri bahwa mereka dibenarkan, dan tidak seorangpun yang dilepaskan dari dosa-dosa dan dibenarkan, kecuali dia yang percaya dengan pasti bahwa dia dilepaskan [dari dosa] dan dibenarkan; dan bahwa absolusi dan pembenaran diberdayakan oleh iman saja ini: seakan-akan siapa yang tidak mempercayainya, meragukan janji-janji Allah, dan [meragukan] daya guna dari kematian dan kebangkitan Kristus. Karena sekalipun tidak seorang saleh pun yang mestinya meragukan kerahiman Allah, atau jasa-jasa Kristus, dan kebajikan dan daya guna sakramen-sakramen, namun masing-masing orang, ketika dia melihat diri sendiri, dan kelemahannya sendiri dan ketidaksiapannya, mungkin mempunyai ketakutan dan kegugupan [dalam] menyentuh rahmatnya sendiri; melihat bahwa tidak ada seorang pun yang tahu dengan kepastian iman, yang tidak bisa menjadi salah, bahwa dia telah mendapatkan rahmat Allah.

    (kembali)



    2846 Permohonan ini berakar dari permohonan yang mendahuluinya, karena dosa kita adalah hasil persetujuan kita pada percobaan. Kita memohon Bapa kita, supaya jangan "masukkan" kita ke dalam percobaan. Tidaklah mudah untuk mengungkapkan dalam satu kata ungkapan Yunani yang kira-kira berarti "janganlah membiarkan kami masuk ke dalam percobaan" atau "janganlah kami dikalahkan olehnya." (Mat 26:41) "Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun" (Yak 1:13); Ia malahan lebih banyak hendak membebaskan kita darinya. Kita mohon kepada-Nya, supaya jangan membiarkan kita berjalan di jalan yang menuju dosa. Kita berada dalam perjuangan "antara daging dan roh"; demikianlah permohonan Bapa Kami ini memohon roh pembedaan dan kekuatan.

    (kembali)



    KONSILI VATIKAN KEDUA
    LUMEN GENTIUM

    8. ... [W]alaupun diluar persekutuan itupun terdapat banyak unsur pengudusan dan kebenaran, yang merupakan karunia-karunia khas bagi Gereja Kristus dan mendorong ke arah kesatuan katolik.

    (kembali)



    8. ... Walaupun demikian, Allah, yang menginginkan untuk memanggil semua orang kepada dirinya sendiri dalam Kristus dan untuk mengkomunikasikan kepada mereka kepenuhan dari wahyuNya dan cintaNya, "tidak gagal untuk membuat diriNya sendiri hadir dalam banyak cara, tidak hanya kepada individu-individu, tapi juga kepada seluruh orang melalui kekayaan spiritual mereka, dimanan agama-agama mereka adalah ekspresi yang utama dan esensial meskipun ketika [agama-agama mereka tersebut] mengandung 'celah-celah, kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan'".27 Karenanya, buku-buku suci dari agama-agama lain, yang dalam fakta aktual mengarahkan dan memelihara keberadaan pengikut-pengikut mereka, menerima dari misteri Kristus unsur-unsur kebaikan dan rahmat yang terkandung didalam [buku-buku suci tersebut]

    (kembali)

_________________
Mohon doa saudara-saudari
Back to top
View user's profile Send private message
Tony
Evangelos


Joined: 20 Jan 2004
Posts: 4642
Location: Disini, ngga kelihatan apa?

PostPosted: Fri, 03-08-2007 2:40 am    Post subject: Reply with quote

Saya rasa untuk menjelaskan Liturgi yg benar dan tidak dapat digugat oleh siapa saja perlu diberikan referensi agar membaca dokumen2 berikut.

1. Konstitusi tentang Liturgi Suci <-- dok Vat II mengenai Liturgi.
2. Roman Missal (GIRM) General Instruction of The Roman Missal)
3. Musicam Sacram ( Instruksi Musik untuk Liturgi)
4. Inaestimabile Donum (Instruksi mengenai Ibadah dan Misteri Ekaristi)
5. Motu Proprio Pius X Tra Le Sollecitudini ( mengenai Musik Suci Liturgi) YP II merayakan 100 th dan menekankan penggunaan Motu Proprio Pius X
6. Catechesi Tradentae APOSTOLIC EXHORTATION (mengenai pelecehan misa dan Ekaristi)
7. Notitiae 11 (1975) 202-205: Dance In The Liturgy (mengenai tarian atau gerak-gerik dalam misa)
8. Redemtionis Sacramentum (Instruksi Liturgi an TPE)
9. Errors of Charismatics (kesalahan2 praktek karsimatik)
10. Cardinal Joseph Ratzinger, Spirit of the Liturgy.

Sebagai tolok ukur yg kredibel dan tidak mungkin akan salah paham. Sayang sekali karismatikers dan koor dan juga banyak romo yg tidak paham akan dokumen2 tsb lebih lagi pernah membacanya. Mungkin dengan tersedianya dokumen2 tsb mereka akan dapat dibantu pengertiannya mengenai LITURGI. Selebihnya bahwa liturgi tidak dapat ditawar-tawar. Karena hanya ada satu Liturgi dalam gereja Katolik dengan 2 macam tata cara liturgi, yiatu Tridentine dan Novus Ordo. Kenyataannya adalah kedua cara dari liturgi tidak pernah adanya apapun dari yg diprkatekan oleh karismatik dengan istilah misa karismatik. Yg jelas tidak adanya satupun dokumen yg menyinggung lebih lagi menyatakan adanya misa karismatik. Dengan kekosongan istilah saja, tentu tanpa dokumen tentu tidak ada istilah dan tanpa istilah PASTI tidak ada nama atau bentuk atau praktek dengan nama atau sebutan misa karismatik!!!

Case Closed! The Church (Rome) Has Spoken! <--- istilah dan tradisi bahwa tidak lagi bisa ditawar karena sudah berada dalam peti besi!
_________________
Salam dan doa
F A Q
It fails to show just how the world is divided. Evil stands for division against unity. In union with God and His miracles I see my self everyday in the mirror. I am a miracle that science still is at it's heels glancing up a vast yet unacceptable impossibility, a climb to faith. Science can't and will never explain God, for science is only capable in calculating the calculable. How is science to measure anything outside of time and space that started time and space, how is the created to measure the creator? Science is an apathy of one who seeks his heart and yet refuse to see it,
Tony B Mat 12:32 Jangan membohongi diri!
Indonesia Katolik -Terjemahan Baru   © Ekaristi dot Org
Matius  12:32Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak.
Back to top
View user's profile Send private message
Display posts from previous:   
Post new topic   This topic is locked: you cannot edit posts or make replies.    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Forum Terbuka All times are GMT + 6 Hours
Page 1 of 1

Log in
Username: Password: Log me on automatically each visit

 
Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum


© Copyright Ekaristi Dot Org 2001 Running on phpBB really fast 2001, 2002 phpBB Group. Keluaran (Exodus) 20:1-17