FAQFAQ          Username: Password: Log me on automatically each visit

Sekolah Katolik = sekolah mahal ???    
Goto page: Previous Next

 
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Keluarga Katolik yg sehat dan sejahtera
View previous topic :: View next topic  
Author Message
Yolie



Joined: 10 Mar 2007
Posts: 1932

PostPosted: Wed, 26-09-2007 4:38 pm    Post subject: Reply with quote

Nah kalau gitu kabar baik, yang terbaik kubaca hari ini.

Tertarik sebagai alumni dari de Brito cobalah untuk memberi info agar kami di sini dapat lebih tahu dan jelas lagi. Misalnya kantornya, visi-misi dll, kalau perlu no rekeningnya sekalian, jadi kalau ada yang mau donasi kan gampang tuh.

Bagaimana dengan sekolah cewenya? Dah ada kabar? Kalau ada bolehlah infonya yah.

Bagaimana dengan sekolah swasta Katholik, apakah juga jadi 1 wadah? ataukah ada wadah lainnya.

Aku tadi sempat menghitung, jika saja minimal Rp.10 ribu/bulan/orang, berapa dana yang tergalang jika alumninya 100rb. Wah kita tidak akan pusing tuh dengan segala macam biaya tambahan.

Thanks untuk infonya. good Job
Back to top
View user's profile Send private message
pearl



Joined: 02 Oct 2006
Posts: 608

PostPosted: Thu, 27-09-2007 7:27 am    Post subject: Reply with quote

acc dg mba Yolie Ketawa Ngakak

no rek mana?
sebagai ungkapan kepedulian buat dunia pendidikan katolik agar terus berkibar

long life sekolah katolik

Nyanyi terus! Ketawa Ngakak Ketawa Ngakak
Back to top
View user's profile Send private message
Tertarik
== BANNED ==




Joined: 25 Apr 2007
Posts: 577

PostPosted: Thu, 27-09-2007 8:34 am    Post subject: Reply with quote

Terima kasih
Nanti saya akan mencoba carikan informasi yg lebih lengkap.
Juga saya coba carikan beberapa lembaga donasi bagi sekolah2 katholik di desa2.
Seandainya ada yg sudah menemukan alangkah baiknya di post ke forum ini.
_________________
Berkah Dalem
Back to top
View user's profile Send private message
Ignaz



Joined: 20 Jun 2007
Posts: 883

PostPosted: Thu, 27-09-2007 10:34 am    Post subject: Reply with quote

Tertarik wrote:
Terima kasih
Nanti saya akan mencoba carikan informasi yg lebih lengkap.
Juga saya coba carikan beberapa lembaga donasi bagi sekolah2 katholik di desa2.
Seandainya ada yg sudah menemukan alangkah baiknya di post ke forum ini.


Siplah mas Tertarik.... bola salju sudah mulai menggelinding lagi... kita sama -sama berbagi dengan sesama melalui kepedulian kita terhadap sekolah Katolik.
Kalau ada ekaristiker yang mempunyai kaitan dengan dunia pendidikan, khususnya sekolah Katolik, saatnya untuk saling berbagi.

Berkah Dalem
Back to top
View user's profile Send private message
A Gentur Panuwun
== BANNED ==




Joined: 15 Jun 2006
Posts: 1357
Location: Borneo Island.......

PostPosted: Sat, 20-10-2007 8:42 am    Post subject: Reply with quote

Sekolah katolik mahal, harus dilihat juga dari hal-hal yg masuk akal atau tidak. Kenapa begitu, sebab banyak hal yg menjadi alasan.

Menurutku yg terpenting adalah jangan lari atau bergeser dari misi, visi, dan motivasi didirikan sekolah Katolik itu apa ?

Kalo tidak salah(bisa dikoreksi), seingatku ada hubungan kemandirian umat yg dulu dikelola oleh misi. Syarat didirikan stasi yg baru selain banyaknya umat yg terpenuhi, juga adanya sekolah SD(sekolah dasar), setelah itu juga dibentuknya Paroki di suatu daerah mensyaratkan adanya pendidikan minimal SMP, demikian juga sebaiknya SMA. Pendidikan itu diperuntukkan agar umat terpenuhi pelayanannya dalam pendidikan, dan hal ini karena karya Misi waktu itu masih bisa mensubsidi. Kita semua tahu bahwa subsidi dari luar negeri saat ini sulit. Maka banyak sekolah yg kekurangan dana dan tentunya harus bertahan dalam kemandiriannya agar tetap bisa melayani umatnya untuk hal pendidikan. Masalah dana inilah yg menjadi kompleks, dan tidak semua pengurus dari yayasan tahu arti dan maksud awalnya didirikan sekolah2 ini. Intinya adalah pelayanan. Namun jangan juga sinis/tersinggung, jika ada yg mengatakan banyak pengurus yg nakal, ini juga fakta. Artinya banyak juga pengurus yg menyandarkan hidupnya dari hasil pungutan selain SPP, untuk memenuhi kesejahteraannya. Hal inilah yg menjadi kontradiksi dgn misi, visi dan motivasi, didirikan sekolah2 tersebut. Apakah hal ini salah ? Tetap saja salah, tapi kita juga harus maklum, khusus untuk pengurus yg berkeluarga tentu hal ini, tidak bisa apa-apa (aku sendiri juga tidak bisa komentar banyak dalam hal ini). Maka benar harus ada team audit untuk khusus hal ini, aku setuju sekali.

Jadi, kita tidak bisa hanya melihat secara dangkal dalam hal ini, karena menyangkut banyak hal. Aku juga setuju, segi bisnis sdh terjadi lama dalam sekolah2 Katolik, artinya sudah bergeser ke bentuk bisnis, bukan lagi ke misi, visi dan motivasi awal. Jadi semangat awalnya banyak yg sudah hilang.

Ini pendapat pribadi, bisa salah....
_________________
CREDO IN UNUM DEUM
Back to top
View user's profile Send private message MSN Messenger
mbedut



Joined: 02 Aug 2006
Posts: 1111
Location: Jakarta

PostPosted: Sat, 20-10-2007 11:27 pm    Post subject: Reply with quote

Quote:
Sekolah katolik mahal, harus dilihat juga dari hal-hal yg masuk akal atau tidak. Kenapa begitu, sebab banyak hal yg menjadi alasan.


dulu memang iya seokalh Katolik MAHAL.... dibanding sekolah kristen-protestan
tapi sekarng sekolah KRISTEN-PROTESTAN JAUH LEBIH MAHAL (dari survey pribadi di jkt) Ketawa Ketawa Ketawa
_________________

Sebab itu, berdirilah teguh & berpeganglah pd ajaran-ajaran yg km terima dr ajaran2x yg km terima dr kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.(2Tes 2:15)
Back to top
View user's profile Send private message Yahoo Messenger
Philly



Joined: 21 Nov 2005
Posts: 1373

PostPosted: Mon, 22-10-2007 9:23 am    Post subject: Reply with quote

FYI, siapa tahu ada yang tertarik.... good Job
GBU

Quote:
BAGI PARA PEMINAT PENDIDIKAN

Undangan Simposium Pendidikan 25 Oktober 2007 (GRATIS)

Ketika sebuah negara seperti Indonesia sedang terpuruk, hampir semua sepakat untuk menyoroti Pendidikan sebagai salah satu biang keladi utama. Tapi, apakah semua sudah sepakat dan sepaham tentang apa itu Pendidikan? Apakah Pendidikan itu sama seperti ketrampilan atau keahlian di sebuah bidang tertentu? Apakah Pendidikan itu berarti paham pemikiran logika dan sistematis, yang hanya mengandalkan fungsi otak kiri saja? Apakah Pendidikan hanyalah sebuah sarana untuk mendapatkan Ijazah formal dan pekerjaan agar dapat membiayai diri sendiri (dan keluarga) untuk hidup layak? Di Indonesia, masalah pendidikan sudah sangat pelik. Dari kurangnya komitmen politik pemerintah untuk memenuhi anggaran pendidikan minimal 20% dari total anggaran pendapatan dan belanja negara sesuai amanat Undang-Undang Dasar sampai ditudingnya Departemen Pendidikan sebagai salah satu sarang utama korupsi. Dari mewah fasilitas sekolah dan mahalnya biaya pendidikan sampai begitu banyaknya bangunan sekolah yang hampir roboh dimakan usia atau korupsi. Dari pendidikan yang disisipi indoktrinasi pemahaman tertentu sampai pendidikan disamakan dengan sekedar transfer Ilmu Pengetahuan semata. Jadi apakah pendidikan itu? Sistem pendidikan seperti apakah yang cocok diterapkan di Indonesia ini?


Pendidikan bukanlah (hanya) transfer of knowledge
=================================================
Ada sebuah penelitian di Amerika Serikat yang melaporkan bahwa, peran otak kiri, yang berkaitan dengan logika dan intelektual, pada keberhasilan seseorang dalam mencapai kesuksesan hanya 4%. Porsi terbesar untuk mencapai kesuksesan yakni 96% didominasi peran otak kanan yang berkaitan dengan kreativitas dan inovasi. Sayangnya, pola pendidikan yang dapat membantu perkembangan otak kanan kurang diperhatikan di Indonesia. Oleh karena itu, pengembangan emosi dan kepribadian yang dapat menuntun seseorang menjadi manusia arif dan bijaksana menjadi terlalaikan. Padahal, untuk bisa membangun suatu bangsa yang kuat diperlukan orang yang tidak hanya berintelektual tinggi, tetapi juga peka terhadap kondisi yang terjadi. Selain itu, bangsa Indonesia pun memerlukan orang yang punya kebijaksanaan tinggi untuk dapat menghadapi segala persoalan dengan tepat. Keseimbangan antara fungsi otak kiri dan otak kanan sangat ditentukan oleh pola pendidikan jenis apakah yang diterima seorang murid. Tapi pola pendidikan ideal seperti ini sangat langka di Indonesia yang cenderung lebih mengarah pada transfer of knowledge daripada pendidikan dalam arti membimbing seorang anak didik menjadi manusia yang mengenal dirinya sendiri tapi peka terhadap apa yang terjadi dengan lingkungan sekitar dirinya.


Pendidikan bukanlah Indoktrinisasi Pemahaman
============================================
Di Indonesia banyak sekali lembaga pendidikan yang didirikan oleh lembaga-lembaga agama dengan tujuan secara langsung maupun tidak langsung untuk menanamkan doktrin-doktrin agama dalam benak anak didik dari usia muda. Hal ini patut disesalkan karena dikhawatirkan kelak anak-anak tersebut tidak mampu mengapresiasi keberagaman yang diciptakan oleh Tuhan di dunia ini. Diperparah pula oleh timbulnya perda-perda syariat yang seakan melegalisir pemisahan bagi para siswa di sekolah. Dan, hasilnya adalah konflik antar agama, konflik horisontal antar kelompok masyarakat hanya karena berbeda dengan dirinya. Perbedaan yang semestinya menjadi rahmat keberagaman bagi umat manusia, malah menjadi kutukan dan penyebab perang di
antara umat manusia.


Pendidikan bukanlah hanya untuk orang kaya saja
===============================================
Sekolah favorit selalu menjadi incaran orangtua murid untuk menyekolahkan anaknya di sana. Kenapa? Karena dengan bersekolah di sekolah favorit maka kemungkinan besar, sang murid akan mudah mendapatkan pekerjaan yang layak di masyarakat dan menjadi kaya. Jadi apakah kita berpendidikan hanya untuk mendapatkan pekerjaan yang layak? Bila jawabannya tidak, tapi kenyataannya bahwa banyak sekolah-sekolah yang menawarkan fasilitas dan kelas ketrampilan tambahan menjadi sekolah-sekolah favorit walaupun bertarif sangat mahal. Dan, hanya orang-orang kaya saja yang mampu menyekolahkan anak-anaknya di sana karena banyak juga perusahaan yang hanya mau mempekerjakan para lulusan dari sekolah-sekolah favorit saja. Pola pikiran seperti ini hanya menimbulkan ekses-ekses bahwa hanya orang kaya saja yang mampu mendapatkan pendidikan. Jelas ini bertentangan dengan Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, sila ke-2 dari Pancasila.


Program Televisi (TV) yang tidak mendidik
=========================================
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2006, menyatakan bahwa penduduk Indonesia yang berumur lebih dari 10 tahun menonton televisi adalah sebanyak 85.86%, dibandingkan 40.26% yang mendengarkan radio dan 23.46% yang membaca surat kabar. TV telah menjadi salah satu media yang paling mudah memberikan informasi kepada masyarakat dan mendidik masyarakat. Celakanya, program-program TV negara ini dipenuhi hal-hal berbau klenik, perdukunan, kekerasan, budaya instan, pola hidup konsumtif, dll. Sehingga tidak mengherankan bila masyarakat kita mudah sekali ditipu oleh sms-sms berhadiah karena ingin cepat kaya (budaya instan), oleh iklan-iklan yang menimbulkan keinginan berbelanja barang-barang yang tidak diperlukan (konsumtif), bertikai dengan kekerasan karena berbeda, dan mudah dibodohkan oleh cerita-cerita gaib ilmu perdukunan.


Solusi : Pendidikan Holistik berbasis budaya Nusantara
======================================================
Pendidikan holistik adalah pendidikan yang bertujuan memberi kebebasan anak didik untuk mengembangkan diri tidak saja secara intelektual, tapi juga memfasilitasi perkembangan jiwa dan raga secara keseluruhan sehingga tercipta manusia Indonesia yang berkarakter kuat yang mampu mengangkat harkat bangsa. Mewujudkan manusia merdeka seperti ungkapan Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, ”Manusia merdeka yaitu manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung kepada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri.” Bila sekarang Pendidikan Barat memperkenalkan istilah PQ, IQ, EQ, SQ, tapi Budaya Nusantara mengenal istilah Sembah Raga, Sembah Rasa dan Sembah Cipta dari karya agung Kitab Wedhatama karya KGPA Mangkunegara IV sejak abad ke-19.

Pendidikan yang baik akan menempa seorang siswa agar mampu hidup mandiri tanpa tergantung orang lain dan sebenarnya, negara Indonesia tidak perlu mengadopsi kurikulum pendidikan bangsa lain, yang belum tentu cocok diterapkan di Indonesia, tapi cukup mengembangkan sistem pendidikan nasional yang mampu membentuk karakter manusia Indonesia seutuhnya.

Salah satunya adalah Pelajaran Budi Pekerti seperti yang pernah diterapkan dalam kurikulum nasional oleh Bapak Ki Hajar Dewantara, pendiri Perguruan Taman Siswa. Prinsip dasar dalam pendidikan Taman Siswa yang sudah tidak asing di telinga kita adalah:
1. Ing Ngarso Sung Tulodo (di depan kita memberi contoh)
2. Ing Madya Mangun Karso (di tengah membangun prakarsa dan bekerja sama)
3. Tut Wuri Handayani (di belakang memberi daya-semangat dan dorongan).

Inilah pendidikan holistik berbasis budaya Nusantara yang perlu dikembalikan semangat dan kearifannya bagi pendidikan siswa-siswa, generasi penerus bangsa.



Forum Pengajar, Dokter dan Psikolog Bagi Ibu Pertiwi (ForADokSi-BIP),
sebagai salah satu sayap dari National Integration Movement (NIM) memfasilitasikan sebuah simposium Pendidikan yang membahas semua hal di atas, bertema : “Peran Pengajar, Dokter, dan Psikolog dalam Mengembalikan Arah Pendidikan yang Berlandasan Budaya Nusantara demi Keselamatan Generasi Bangsa” :

Di Gedung Aula Dwi Warna, Gedung Panca Gatra (LEMHANAS)
Jl. Kebon Sirih No. 28 – Jakarta Pusat
Kamis, 25 Oktober 2007
Jam : 08:30-12:00

Keynote Speakers :
* Menteri Kesehatan, DR.Dr. Siti Fadilah Supari, Sp.Jp.
* Menteri Komunikasi dan Informatika, Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA
* Ketua National Integration Movement, Maya Safira Muchtar

Pembicara :
* Dr. B. Setiawan, Sp.B., Sp.B.S. (tokoh di bidang Kedokteran, Spesialis Bedah Otak dan Bedah Syaraf, serta pemerhati pendidikan)
* Prof. Dr. Mochtar Buchori (Deputi Ketua LIPI bidang Ilmu Pengetahuan Sosial Kemanusiaan – IPSK)
* Sartono Mukadis, Psi. (Psikologi Senior, pemerhati pendidikan)
* Ir. Sudarmadi, WS, MM (Staf Ahli Menteri, Pendidik/Pengajar)
* Jenderal Ki Tyasno Sudarto, SH (Ketua Majelis Luhur Taman Siswa)
* Sasa Djuarsa, PhD (Ketua KPI)
* Butet Manurung (Tokoh LSM, Tokoh Pendidikan Luar Sekolah)
* Dick Doang (Artis/pendiri sekolah alam)
* Drs. Lukman S. Sriamin, M Psi, Psikolog (Ketua HIMPSI JAYA)
* Perwakilan IDI

Contact person :
Ibu Dyah 0812 - 1113860

_________________

" fiat mihi secundum verbum tuum
be it done unto me according to Thy word
terjadilah padaku menurut perkataanMu "
Back to top
View user's profile Send private message Send e-mail Yahoo Messenger
pearl



Joined: 02 Oct 2006
Posts: 608

PostPosted: Mon, 22-10-2007 10:21 am    Post subject: Reply with quote

Quote:
Pendidikan bukanlah Indoktrinisasi Pemahaman
============================================
Di Indonesia banyak sekali lembaga pendidikan yang didirikan oleh lembaga-lembaga agama dengan tujuan secara langsung maupun tidak langsung untuk menanamkan doktrin-doktrin agama dalam benak anak didik dari usia muda. Hal ini patut disesalkan karena dikhawatirkan kelak anak-anak tersebut tidak mampu mengapresiasi keberagaman yang diciptakan oleh Tuhan di dunia ini. Diperparah pula oleh timbulnya perda-perda syariat yang seakan melegalisir pemisahan bagi para siswa di sekolah. Dan, hasilnya adalah konflik antar agama, konflik horisontal antar kelompok masyarakat hanya karena berbeda dengan dirinya. Perbedaan yang semestinya menjadi rahmat keberagaman bagi umat manusia, malah menjadi kutukan dan penyebab perang di
antara umat manusia.


menarik sekali mba Philly Ketawa Ngakak ...kita sudah merasakan buahnya dari berdirinya sekolah2 tersebut
sungguh tidak mudah untuk mengelola pendidikan di Indonesia karena hal yang paling utama adalah menanamkan sikap untuk menghormati nilai-nilai pluralisme, dalam upaya menjaga keutuhan Indonesia

layak dipertanyakan, adakah kerelaan hati yang tulus dari pihak mayoritas untuk menjaga toleransi pada pihak minoritas?toh minoritas ini tidak hanya menyangkut agama

maukah memberikan ruang hidup bagi yang minoritas?

Nangis deh Nangis deh
Back to top
View user's profile Send private message
mbedut



Joined: 02 Aug 2006
Posts: 1111
Location: Jakarta

PostPosted: Wed, 24-10-2007 11:28 pm    Post subject: Reply with quote

klw pendapat pribadiku, aku sekolahkan anak disekolahan katolik
1. membuat pondasi iman katolik yang kuat pada anak
2. saya sesuaikan budget
3. cari lokasi sekolah yang tidak terlalu jauh dari rumah
4. baru liat kredibilitas dan mutu sekolahan katolik tsb.
5. baru diputuskan sekolah dimana dengan pertimbangan dari istri juga

semoga membantu

GBU
_________________

Sebab itu, berdirilah teguh & berpeganglah pd ajaran-ajaran yg km terima dr ajaran2x yg km terima dr kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.(2Tes 2:15)
Back to top
View user's profile Send private message Yahoo Messenger
Philly



Joined: 21 Nov 2005
Posts: 1373

PostPosted: Fri, 02-11-2007 6:59 am    Post subject: Reply with quote

Beranda : Ruang Hukum Gereja -- Mirifica wrote:
24 Oktober 2007 - 17:02
Memaknai Predikat Sekolah Katolik
(Relevansi, kanon 803)

D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr

Pendahuluan

Sekolah berhak memakai predikat Katolik jika sekolah itu dipimpin oleh otoritas gerejawi yang berwenang atau oleh badan hukum gerejawi publik atau yang diakui demikian oleh otoritas gerejawi melalui dokumen tertulis. Memakai predikat Katolik berarti mengatasnamakan Gereja Katolik dalam misi pewartaan melalui sekolah. Maka pengajaran dan pendidikan di sekolah Katolik harus berdasarkan asas-asas ajaran Katolik; selain dari pada itu hendaknya para pengajar unggul dalam ajaran yang benar dan hidup yang baik. Mereka guru - guru dipilih dan terpilih oleh otoritas Gereja sebagai pewarta ajaran Katolik melalui pendidikan (bdk. kan 803).

1. Prinsip Dasar tentang Pendidikan Katolik

Dalam sebuah bukunya yang berjudul “Dio educa il suo popolo” (Tuhan mendidik umat-Nya), Kardinal Carlo Martini melukiskan peristiwa pembebasan Israel dari Mesir sebagai bentuk pendidikan Tuhan. Dengan merayakan Paska Perjanjian Baru, kita mengenangkan Tuhan Yesus yang membebaskan manusia dari perbudakan dosa. Dalam konteks itu pendidikan dimengerti sebagai proses “pembebasan”. Demikian juga hal yang sama dikatakan oleh Paulo Freire (1921-1997) seorang tokoh pendidikan yang berhasil mengembangkan sebuah metode pendidikan yang responsif terhadap situasi masyarakatnya sebagai sebuah proses “pembebasan”. Paulo Freire meyakini bahwa panggilan dasar manusia adalah menjadi subyek yang bertindak dan mengubah dunianya demi pengembangan hidup dan komunitasnya. Dunia dan masyarakat bukanlah kenyataan yang harus diterima begitu saja karena memang demikian adanya dan tidak dapat diubah. Akan tetapi belajar dari sejarah, orang disadarkan bahwa mengarahkan sejarah demi tujuan tertentu adalah mungkin. Demikian juga dalam bidang pendidikan, kita dapat berupaya untuk mengatur dan mengarahkan meski terdapat campur tangan Negara dan bahkan perubahan jaman yang menghambat proses pendidikan sebagai proses pembebasan. Pendidikan bagi Freire dapat menjadi alat pelestarian sistem yang ada sekarang bahkan kepentingan-kepentingan politik tertentu, atau sebaliknya pendidikan menjadi sebuah praktek pembebasan (Pedagogy of the oppressed). Pendidikan sebagai praktek pembebasan itu mengajak setiap orang untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan dunia baru yang lebih adil dan lebih manusiawi. Paus Paulus VI dalam ensikliknya Perkembangan Bangsa – Bangsa, no. 83 menegaskan bahwa “Anda para pendidik hendaklah bertekad menyemangati kaum muda untuk mencintai bangsa-bangsa yang miskin”. Dengan pernyataan itu Paus mau mengatakan kepada kita kaum pendidik agar membuka hati dan melihat realitas kehidupan masyarakat, untuk memajukan kehidupan yang lebih baik demi kesejahteraan umum. Pendidikan merupakan tindakan budaya yang seharusnya membebaskan dan tidak mengasingkan siswa di tengah realitas dunia. Relasi antara anggota masyarakat dan relasi dengan dunianya ditelaah secara kritis demi perkembangan siswa dan masyarakatnya. Pertumbuhan integral setiap pribadi, kesejahteraan umum dan keutuhan ciptaan merupakan sasaran pendidikan yang bersifat holistik. Itulah prinsip pendidikan untuk semua bidang kehidupan.

Jadi prinsip dasar pendidikan adalah suatu usaha bersama dalam proses terpadu-terorgarnisir untuk membantu manusia mengembangkan diri dan menyiapkan diri guna mengambil tempat semestimya dalam pengembangan masyarakat dan dunianya dihadapan sang pencipta. Pusat perhatian dalam pendidikan adalah usaha untuk membagikan dan membangkitkan pengalaman nilai dalam hidup manusia secara keseluruhan. Baik itu pengembangan intelektual, ketrampilan, afeksi maupun lebih jauh lagi dalam bidang pendidikan moral atau pendidikan suara hati. Pendidikan suara hati yang dikemukakan oleh sosiolog Andre Benoit asal Belgia itu membantu manusia untuk dapat mengolah hidup dan membuat discernment atas peristiwa, situasi, sesuatu hal dengan bantuan argumentasi etis. Karena itu penting pendidikan moral/suara hati agar memampukan orang untuk mengaktualisasikan suatu nilai dalam hidup. Banyak siswa tahu tentang sesuatu nilai tetapi tidak tahu memraktekannya dalam hidup. Di sini ada ketimpangan, karena siswa tidak bisa mengaplikasikan ilmunya untuk pengembangan hidupnya dan masyarakat. Kecerdasan seseorang bukan diukur dari kemampuan mendapat nilai akademik melainkan juga kemampuan mengaplikasikan ilmu dan kedewasaan emosional dalam kehidupan konkrit bermasyarakat.

2. Memaknai sekolah yang berpredikat Katolik

Konsili suci dalam tentang penidikan kristen “Gravissimum Educationis” menyatakan bahwa sangat pentingnya pendidikan dalam hidup manusia serta dampak pengaruhnya yang makin besar atas perkembangan masyarakat zaman sekarang. Memang bahwa tugas menyelenggarakan pendidikan, yang pertama-tama menjadi tanggungjawab adalah keluarga. Namun demikian keluarga memerlukan bantuan seluruh masyarakat. Bahkan akhirnya Konsili menegaskan secara istimewa bahwa pendidikan termasuk tugas Gereja, bukan hanya masyarakat saja (bdk. GE, no. 1,3). Gereja bertugas mewartakan jalan keselamatan kepada semua orang, menyalurkan kehidupan Kristus kepada umat beriman serta tiada hentinya penuh perhatian membantu mereka, supaya mampu meraih kepenuhan hidup. Maka Konsili mendorong para Uskup di wilayahnya atau para misionaris agar mengusahakan pendidikan Katolik di sekolah yang memiliki makna istimewa bagi masyarakat luas. Sekolah katolik memiliki misi Gereja menumbuhkan kemampuan akal budi, meningkatkan kesadaran akan tata nilai, memberi penilaian yang cermat, memperkenalkan harta warisan budaya, mempersipkan para siswa untuk mengelola kejujuran tertentu, memupuk rukun persahabatan antara para siswa dan mengembangkan sikap saling memahami.“Secara khusus tugas dan hak mendidik itu dimiliki Gereja yang diserahi oleh Allah perutusan untuk menolong orang-orang agar dapat mencapai kepenuhan hidup kristiani. Para gembala rohani mempunyai tugas untuk mengurus segala sesuatu sedemikian rupa sehingga semua orang beriman dapat menikmati pendidikan katolik. Karena pendidikan yang sejati harus meliputi pembentukan pribadi manusia seutuhnya, yang memperhatikan tujuan akhir dari manusia dan sekaligus pula kesejahteraan umum dari masyarakat maka anak-anak dan para remaja hendaknya dibina sedemikain rupa sehingga dapat mengembangkan bakat-bakat fisik, moral dan intelektual mereka secara harmonis, agar mereka memperoleh citarasa tanggungjawab yang semakin sempurna dan dapat menggunakan kebebasan mereka dengan tepat pun pula dapat berperan serta dalam kehidupan sosial karitatif”.

Baik ajaran Konsili maupun Kitab Hukum Kanonik 1983 (bdk. kann. 793-795) ingin mengajak kita semua anggota Gereja-Nya untuk mewartakan, melayani dan memperjuangkan nilai-nilai Kerajaan Allah lewat Sekolah Katolik. Nilai-nilai yang diperjuangkan melalui pendidikan adalah pencerdasan anak bangsa, penanaman nilai-nilai kemanusiaan, pembinaan hati nurani agar hidup bersama menjadi lebih baik. Nilai-nilai disiplin, kejujuran, gotong royong, tolong-menolong, ketrampilan dalam kerjasama, kepemimpinan yang bertanggungjawab demi kesejahteraan umum semua nilai itulah yang diperjuangkan oleh Yesus dan hendaknya ditanamkan dalam diri siswa di Sekolah Katolik.

3. Gereja Katolik berkewajiban mencerdaskan anak bangsa

Sekali lagi memakai nama Katolik berarti sekolah itu mengatasnamakan Gereja membawa kekatolikan termasuk ajarannya. Memang tidaklah mudah mengaplikasikan ajaran, doktrin Gereja dalam situasi konkrit sekolah di bumi Indonesia yang serba amburadul ini. Bila dipetakan masalah-masalah yang muncul mungkin akan ditemukan setumpuk persoalan misalnya: kekurangan dana, siswa kurang, kualitas dan mentalitas guru, prasarana kurang, gaji guru kecil, suasana tidak nyaman kotor-panas, kurang disiplin, campur tangan Negara terhadap pendidikan dan lainnya. Namun kita tidak bisa menghindar atau lari dari masalah karena itu kita wajib mengatasi masalah pendidikan itu demi tugas panggilan mencerdaskan bangsa dan pewartaan nilai-nilai Kerajaan Allah. Di situlah peran Gereja ikut mencerdaskan bangsa melalui Sekolah Katolik. Bila kita mau dengan sungguh-sungguh mengatasi persoalan itu akan mudah dilalui. Semoga.

http://mirifica.net/wmview.php?ArtID=4459

_________________

" fiat mihi secundum verbum tuum
be it done unto me according to Thy word
terjadilah padaku menurut perkataanMu "
Back to top
View user's profile Send private message Send e-mail Yahoo Messenger
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Keluarga Katolik yg sehat dan sejahtera All times are GMT + 6 Hours
Goto page: Previous Next
Page 6 of 7

Log in
Username: Password: Log me on automatically each visit

 
Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum


© Copyright Ekaristi Dot Org 2001 Running on phpBB really fast 2001, 2002 phpBB Group. Keluaran (Exodus) 20:1-17