FAQFAQ          Username: Password: Log me on automatically each visit

Mengapa melalui salib/ penderitaan?    
Goto page: Next

 
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Ruang Pengetahuan Dasar Iman Katolik
View previous topic :: View next topic  
Author Message
aw777



Joined: 22 Jan 2006
Posts: 301
Location: somewhere in the world

PostPosted: Mon, 22-02-2016 12:10 am    Post subject: Mengapa melalui salib/ penderitaan? Reply with quote

Pertanyaan ini awalnya muncul dari temanku yang non Katolik. Sampai sekarang aku belum mendapatkan jawaban yang benar-benar memuaskan. Bahkan belakangan ini pertanyaan ini semakin mengusik di pikiran. Semoga teman-teman di sini dapat membantu memberi pencerahan.


1. Mengapa penyelamatan harus melalui salib? Jawaban karena Allah sangat mengasihi manusia dan seterusnya dapat ditanya lagi: kenapa harus melalui cara yang sadis/ mengerikan? Kalau melihat film passion of Christ, seolah-olah Allah itu "haus" darah untuk menyelamatkan. Mengapa tidak melalui cara yang lebih nyaman atau hepi-hepi mengingat Allah itu Mahakuasa dan tentu salib bukan satu-satunya opsi.

2. Panggilan untuk ikut menderita.
Kita tahu bahwa pengikut-pengikut Yesus banyak yang dianiaya, baik fisik maupun psikis. Bahkan Rasul-rasul pertama banyak yang wafat dengan cara mengerikan. Mengapa Allah sepertinya "suka sekali" dengan penderitaan?

3. Silih untuk indulgensi, laku tapa untuk mencapai kesucian
Demikian pula untuk silih. Dari yang sifatnya puasa badani, sampai zaman dahulu menyakiti badan sendiri secara fisik. Praktek matiraga para biarawan dahulu juga cenderung menyiksa diri untuk melatih diri mengendalikan nafsu tidak teratur dalam rangka mencapai kesucian.
Kenapa Allah tidak menyediakan cara yang lebih "manusiawi" atau cara nyaman supaya manusia bisa mencapai kesucian? Kenapa harus lewat penderitaan?

4. Doktrin tentang penderitaan ini berimplikasi juga pada pandangan iman tentang eutanasia. Gereja percaya ada makna dan nilai keselamatan di balik penderitaan. Padahal mungkin orang tersebut sekarat, kesakitan hebat, atau singkatnya sangat menderita. Mengapa Allah sepertinya "suka sekali" dengan sesuatu yang berbau penderitaan supaya manusia menjadi suci dan selamat?

Jika melihat kehidupan Santo-Santa, mungkin bisa dirangkum beberapa keyword: dianiaya, didera, dihina, dipermalukan, direndahkan, dibunuh dengan menyakitkan. St. Theressia Lisseux dengan jalan kecilnya juga mengalami ketidakenakan dalam perjalanan menuju kesucian:
- mendekati Suster yang sering memarahi dia dan tidak bersahabat: membuang harga diri sendiri. Secara psikologi mungkin dipandang sebagai menyakiti diri sendiri.
- ketika sakit, sengaja minum obat yang pahit pelan-pelan supaya rasa tidak enaknya bisa dipersembahkan pada Tuhan
- waktu mencuci baju, mukanya sering kecipratan air kotor dari Suster lain tapi dia tetap membiarkan
- dalam catatannya dia juga menulis bahwa sudah melalui banyak penderitaan (baik fisik karena sakit maupun)

In the end, kenapa Allah sepertinya "sangat suka" dengan penderitaan? Penyelamatan dikerjakan melalui jalan itu, dan pengikutNya juga dipanggil untuk berpartisipasi. Jalan keselamatan itu sesak dan pintunya sempit.

Kenapa tidak dibuat yang lebih menyenangkan atau enak? Bukankah Allah Mahakuasa, sehingga Dia dapat menyediakan jalan lain selain penderitaan?
_________________
-- -- --
ingin menjadi bagian yang didoakan dalam DSA I:
'Kami mempersembahkannya (kurban Ekaristi) kepadaMu untuk ...... serta semua orang yang menjaga dan menumbuhkan iman Katolik, sebagaimana kami terima dari para Rasul'
Back to top
View user's profile Send private message
m2us



Joined: 26 Jan 2008
Posts: 1734
Location: Roman Catholic Church

PostPosted: Mon, 22-02-2016 5:11 pm    Post subject: Re: Mengapa melalui salib/ penderitaan? Reply with quote

aw777 wrote:
Pertanyaan ini awalnya muncul dari temanku yang non Katolik. Sampai sekarang aku belum mendapatkan jawaban yang benar-benar memuaskan. Bahkan belakangan ini pertanyaan ini semakin mengusik di pikiran. Semoga teman-teman di sini dapat membantu memberi pencerahan.


1. Mengapa penyelamatan harus melalui salib? Jawaban karena Allah sangat mengasihi manusia dan seterusnya dapat ditanya lagi: kenapa harus melalui cara yang sadis/ mengerikan? Kalau melihat film passion of Christ, seolah-olah Allah itu "haus" darah untuk menyelamatkan. Mengapa tidak melalui cara yang lebih nyaman atau hepi-hepi mengingat Allah itu Mahakuasa dan tentu salib bukan satu-satunya opsi.

2. Panggilan untuk ikut menderita.
Kita tahu bahwa pengikut-pengikut Yesus banyak yang dianiaya, baik fisik maupun psikis. Bahkan Rasul-rasul pertama banyak yang wafat dengan cara mengerikan. Mengapa Allah sepertinya "suka sekali" dengan penderitaan?

3. Silih untuk indulgensi, laku tapa untuk mencapai kesucian
Demikian pula untuk silih. Dari yang sifatnya puasa badani, sampai zaman dahulu menyakiti badan sendiri secara fisik. Praktek matiraga para biarawan dahulu juga cenderung menyiksa diri untuk melatih diri mengendalikan nafsu tidak teratur dalam rangka mencapai kesucian.
Kenapa Allah tidak menyediakan cara yang lebih "manusiawi" atau cara nyaman supaya manusia bisa mencapai kesucian? Kenapa harus lewat penderitaan?

4. Doktrin tentang penderitaan ini berimplikasi juga pada pandangan iman tentang eutanasia. Gereja percaya ada makna dan nilai keselamatan di balik penderitaan. Padahal mungkin orang tersebut sekarat, kesakitan hebat, atau singkatnya sangat menderita. Mengapa Allah sepertinya "suka sekali" dengan sesuatu yang berbau penderitaan supaya manusia menjadi suci dan selamat?

Jika melihat kehidupan Santo-Santa, mungkin bisa dirangkum beberapa keyword: dianiaya, didera, dihina, dipermalukan, direndahkan, dibunuh dengan menyakitkan. St. Theressia Lisseux dengan jalan kecilnya juga mengalami ketidakenakan dalam perjalanan menuju kesucian:
- mendekati Suster yang sering memarahi dia dan tidak bersahabat: membuang harga diri sendiri. Secara psikologi mungkin dipandang sebagai menyakiti diri sendiri.
- ketika sakit, sengaja minum obat yang pahit pelan-pelan supaya rasa tidak enaknya bisa dipersembahkan pada Tuhan
- waktu mencuci baju, mukanya sering kecipratan air kotor dari Suster lain tapi dia tetap membiarkan
- dalam catatannya dia juga menulis bahwa sudah melalui banyak penderitaan (baik fisik karena sakit maupun)

In the end, kenapa Allah sepertinya "sangat suka" dengan penderitaan? Penyelamatan dikerjakan melalui jalan itu, dan pengikutNya juga dipanggil untuk berpartisipasi. Jalan keselamatan itu sesak dan pintunya sempit.

Kenapa tidak dibuat yang lebih menyenangkan atau enak? Bukankah Allah Mahakuasa, sehingga Dia dapat menyediakan jalan lain selain penderitaan?




Menjawab pertanyaan:
1. Kenapa harus lewat salib, itu misteri Allah. Tetapi kalau membaca pejanjian lama, kurban persembahan itu merupakan pengampunan dosa, bisa baca artikel ini http://www.katolisitas.org/5565/korban- ..n-dan-anak-domba, jadi dengan Yesus disalibkan merupakan kurban penghapusan dosa yang paling besar yaitu dosa asal.

2. Menurut saya, bukan Allah yang menyebabkan penderitaan itu. Itu merupakan hasil dari dosa manusia. Ingat dosa tidak disebabkan oleh Allah, tetapi manusia yang tidak suka akan kebenaran, yang menyiksa dan membunuh orang yang menyampaikan kebenaran, dan apa yang dikatakan oleh Kristus "karena dunia tidak mengenal kamu" itulah maksud dari kenapa para pengikut Kristus akan menderita dan dibunuh.

3. Bukan matiraga yang membuat orang dapat suci. Suci itu jika kamu tidak berdosa atau bebas dari dosa dan mencintai Allah sepenuhnya. Matiraga salah satu cara menjadi suci, dan itu menurut pilihan orang masig-masing, banyak santo yang tidak matiraga menurut difinisi kamu itu. Intinya adalah bagaimana kamu dapat mengendalikan diri kamu agar kamu mencintai Allah sepenuhnya dan tidak jatuh kedalam dosa, mau matiraga atau tidak bukan suatu kewajiban.

4.Gereja menentang eutanasia bukan karena Allah senang dengan penderitaan manusia, itu pikiran yang ngawur. Eutanasia karena itu membunuh orang yang masih hidup. Hanya Allah yang boleh mencabut kehidupan manusia, karena itu milik Allah bukan milik manusia.

In the end, kesimpulan itu salah kalau Allah menghendaki penderitaan manusia. Kalau Allah menghendaki penderitaan manusia, seharusnya manusia tidak perlu diselamatkan, lebih baik manusia jatuh ke neraka dimana penderitaan itu lebih mengerikan dan abadi, tetapi karena Allah sebegitu besar mengasihi manusia maka Allah membebaskan manusia dari neraka, sehingga memperoleh kebahagian kekal. Tetapi tentunya akibat dosa asal, manusia tidak gampang ke surga sehingga diperlukan perjuangan untuk mengikuti jalan yang sudah ditentukan oleh Allah.

Perlu dijawab dengan jujur, apakah dengan hepi-hepi kamu dapat mencintai Allah dengan sepenuhnya?


rgds,
m2us
_________________
JEZU, UFAM TOBIE
KS,KGK, KHK
ekklhsiai kaq olhv
Back to top
View user's profile Send private message
raydo12



Joined: 24 Oct 2005
Posts: 2585
Location: Jakarta

PostPosted: Mon, 22-02-2016 8:38 pm    Post subject: Reply with quote

Indonesia Katolik -Terjemahan Baru   © Ekaristi dot Org
Matius  26:39Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."


Jalan penderitaan adalah yang terbaik berdasarkan pertimbangan Allah., kita hanya bisa berkata sama seperti Yesus, terjadilah kehendakNya. Pasrah dan tergantung penuh kepadaNya. Jika percaya kepada Allah, maka seharusnya percaya kepada rencanaNya, apapun itu, pasti itu yang terbaik bagi kita.

Pelajari lebih lanjut :
Indonesia Katolik -Terjemahan Baru   © Ekaristi dot Org
2 Korintus  12:10Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.


Saran: mohon rahmat agar mengerti sehingga semakin percaya dan semakin percaya semakin mengerti. Semua karena Rahmat (Grace) --> St. Augustinus.
_________________
ora pro nobis. Sancta Dei Genitrix
Back to top
View user's profile Send private message
aw777



Joined: 22 Jan 2006
Posts: 301
Location: somewhere in the world

PostPosted: Mon, 22-02-2016 10:32 pm    Post subject: Re: Mengapa melalui salib/ penderitaan? Reply with quote

m2us wrote:

Menjawab pertanyaan:
1. Kenapa harus lewat salib, itu misteri Allah. Tetapi kalau membaca pejanjian lama, kurban persembahan itu merupakan pengampunan dosa, bisa baca artikel ini http://www.katolisitas.org/5565/korban- ..n-dan-anak-domba, jadi dengan Yesus disalibkan merupakan kurban penghapusan dosa yang paling besar yaitu dosa asal.

2. Menurut saya, bukan Allah yang menyebabkan penderitaan itu. Itu merupakan hasil dari dosa manusia. Ingat dosa tidak disebabkan oleh Allah, tetapi manusia yang tidak suka akan kebenaran, yang menyiksa dan membunuh orang yang menyampaikan kebenaran, dan apa yang dikatakan oleh Kristus "karena dunia tidak mengenal kamu" itulah maksud dari kenapa para pengikut Kristus akan menderita dan dibunuh.

3. Bukan matiraga yang membuat orang dapat suci. Suci itu jika kamu tidak berdosa atau bebas dari dosa dan mencintai Allah sepenuhnya. Matiraga salah satu cara menjadi suci, dan itu menurut pilihan orang masig-masing, banyak santo yang tidak matiraga menurut difinisi kamu itu. Intinya adalah bagaimana kamu dapat mengendalikan diri kamu agar kamu mencintai Allah sepenuhnya dan tidak jatuh kedalam dosa, mau matiraga atau tidak bukan suatu kewajiban.

4.Gereja menentang eutanasia bukan karena Allah senang dengan penderitaan manusia, itu pikiran yang ngawur. Eutanasia karena itu membunuh orang yang masih hidup. Hanya Allah yang boleh mencabut kehidupan manusia, karena itu milik Allah bukan milik manusia.

In the end, kesimpulan itu salah kalau Allah menghendaki penderitaan manusia. Kalau Allah menghendaki penderitaan manusia, seharusnya manusia tidak perlu diselamatkan, lebih baik manusia jatuh ke neraka dimana penderitaan itu lebih mengerikan dan abadi, tetapi karena Allah sebegitu besar mengasihi manusia maka Allah membebaskan manusia dari neraka, sehingga memperoleh kebahagian kekal. Tetapi tentunya akibat dosa asal, manusia tidak gampang ke surga sehingga diperlukan perjuangan untuk mengikuti jalan yang sudah ditentukan oleh Allah.

Perlu dijawab dengan jujur, apakah dengan hepi-hepi kamu dapat mencintai Allah dengan sepenuhnya?


rgds,
m2us


1. mengapa pilihannya salib adalah suatu misteri. Misteri biasanya merupakan sesuatu yang dapat dijelaskan secara terbatas.
Apa so far ada ajaran Gereja tentang mengapa salib, bukan yang lain?

Dalam ajaran Gereja dibedakan antara dosa dan akibat dosa.
Dosa diampuni, tetapi akibat dosa masih harus ditanggung dengan silih. Kurban di Perjanjian Lama itu untuk pengampunan dosa atau sebagai silih? Jika sebagai silih, apakah artinya memang dari semula ditentukan bahwa akibat dosa harus ditebus dengan "tumbal"? sehingga di Perjanjian Baru, yang "ditumbalkan" adalah Kristus?


2. Sebenarnya ada banyak cara yang dapat dilakukan Allah supaya para pengikutnya tidak menderita karena dosa. Misalnya para pengikutNya diberikan tanda-tanda/ mukjizat empiris, atau tanda keistimewaan tertentu. Supaya yang mau menganiaya melihatnya, takjub, gentar, gemetar lalu percaya.
Kenapa harus melalui drama kemartiran, penolakan, penghinaan, dll yang menyiksa manusia?


3. Memang demikian. Laku tapa, penyangkalan diri, tindakan silih yang ekstrim kan sarana manusia untuk berlatih mengendalikan diri dari nafsu tak teratur. Pertanyaannya lebih ke arah, kenapa diciptakan hukum alam demikian?
- manusia merasa hepi, senang, tenang, nyaman karena hormon endorphin, oxytocin
- bila hawa nafsu terpenuhi, maka hormon endorphin, oxytocin dipicu sehingga manusia merasa demikian.
- hukumnya diciptakan seperti itu, namun manusia harus seolah melawannya sehingga dalam perjuangan tersebut pasti manusia merasa kurang hepi, sedih, sakit hati dll. Mereka yang berjuang hidup kudus pasti punya pengalaman demikian.
Kenapa harus ada "drama" seperti ini? kenapa tidak diciptakan saja hukumnya supaya manusia merasa senang, hepi, nyaman ketika mengampuni, mengalah, mau mengerti, mau memberi, mau berkorban dll.

4. Betul. Itu hakikat pertama tentang bahwa manusia tidak berhak mencabut nyawa (baik bunuh diri atau membunuh).
Dalam kasus eutanasia, artinya seorang yang sakit dan pasti akan mati. Eutanasia di beberapa negara dianjurkan untuk mengurangi biaya berobat (mungkin karena ditanggung asuransi/ negara), tetapi juga bisa untuk mempersingkat waktu sengsara pasien.
Implikasi dari penolakan eutanasia bagi sisi pasien adalah ia akan merasakan kesengsaraan lebih panjang. Dalam hal ini iman percaya bahwa ada makna atau nilai dalam penderitaan. Akibat dari implikasi ini dapat dipertanyakan bahwa seolah-olah Allah lebih suka membiarkan manusia sengsara pelan-pelan sampai mati daripada langsung mencabut nyawanya?


Apakah dengan hepi-hepi manusia dapat mencintai Allah sepenuhnya?
Jika jawabannya tidak, masih dapat ditarik pemikiran lain:
Manusia kan makhluk hidup yang diciptakan dengan hormon-hormon biologisnya. Apa yang membuat manusia merasa hepi juga dipengaruhi hormon tersebut. Untuk merangsang hormon tersebut dibutuhkan berbagai faktor. Kenapa seolah-olah untuk mencintai Allah harus menentang kodrat manusia sendiri dalam hubungannya dengan hormon-hormon tersebut? Seperti kata St. Paulus, "apa yang tidak kuinginkan, itulah yang aku lakukan"
Atau mungkin dihubungkan dengan keingingan daging vs keinginan roh? keduanya bertentangan. Kenapa diciptakan drama demikian?
_________________
-- -- --
ingin menjadi bagian yang didoakan dalam DSA I:
'Kami mempersembahkannya (kurban Ekaristi) kepadaMu untuk ...... serta semua orang yang menjaga dan menumbuhkan iman Katolik, sebagaimana kami terima dari para Rasul'
Back to top
View user's profile Send private message
aw777



Joined: 22 Jan 2006
Posts: 301
Location: somewhere in the world

PostPosted: Mon, 22-02-2016 10:40 pm    Post subject: Reply with quote

raydo12 wrote:
Indonesia Katolik -Terjemahan Baru   © Ekaristi dot Org
Matius  26:39Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."


Jalan penderitaan adalah yang terbaik berdasarkan pertimbangan Allah., kita hanya bisa berkata sama seperti Yesus, terjadilah kehendakNya. Pasrah dan tergantung penuh kepadaNya. Jika percaya kepada Allah, maka seharusnya percaya kepada rencanaNya, apapun itu, pasti itu yang terbaik bagi kita.

Pelajari lebih lanjut :
Indonesia Katolik -Terjemahan Baru   © Ekaristi dot Org
2 Korintus  12:10Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.


Saran: mohon rahmat agar mengerti sehingga semakin percaya dan semakin percaya semakin mengerti. Semua karena Rahmat (Grace) --> St. Augustinus.


Trims atas masukannya dari sisi spiritual. Saat ini saya juga perlu masukkan dari penjelasan untuk mengcounter pertanyaan tentang "mengapa salib? mengapa lewat penderitaan?" dst.

Umumnya orang beriman akan menjawab Yoh 3:16. Namun saya kesulitan kalau ditanya balik seperti yang saya tuliskan di atas.
_________________
-- -- --
ingin menjadi bagian yang didoakan dalam DSA I:
'Kami mempersembahkannya (kurban Ekaristi) kepadaMu untuk ...... serta semua orang yang menjaga dan menumbuhkan iman Katolik, sebagaimana kami terima dari para Rasul'
Back to top
View user's profile Send private message
raydo12



Joined: 24 Oct 2005
Posts: 2585
Location: Jakarta

PostPosted: Tue, 23-02-2016 8:20 am    Post subject: Reply with quote

aw777 wrote:
raydo12 wrote:
Indonesia Katolik -Terjemahan Baru   © Ekaristi dot Org
Matius  26:39Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."


Jalan penderitaan adalah yang terbaik berdasarkan pertimbangan Allah., kita hanya bisa berkata sama seperti Yesus, terjadilah kehendakNya. Pasrah dan tergantung penuh kepadaNya. Jika percaya kepada Allah, maka seharusnya percaya kepada rencanaNya, apapun itu, pasti itu yang terbaik bagi kita.

Pelajari lebih lanjut :
Indonesia Katolik -Terjemahan Baru   © Ekaristi dot Org
2 Korintus  12:10Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.


Saran: mohon rahmat agar mengerti sehingga semakin percaya dan semakin percaya semakin mengerti. Semua karena Rahmat (Grace) --> St. Augustinus.


Trims atas masukannya dari sisi spiritual. Saat ini saya juga perlu masukkan dari penjelasan untuk mengcounter pertanyaan tentang "mengapa salib? mengapa lewat penderitaan?" dst.

Umumnya orang beriman akan menjawab Yoh 3:16. Namun saya kesulitan kalau ditanya balik seperti yang saya tuliskan di atas.


mengapa salib/penderitaan ?

Tuhan menciptakan manusia dengan kehendak bebas
Manusia pertama, Adam dan Hawa, hidup berbahagia tidak menderita, tidak mati, tidak sakit.
Setelah manusia pertama, dengan menggunakan kehendak bebasnya, jatuh kedalam godaan Iblis, maka timbulah penderitaan.
Tuhan tidak meghendaki penderitaan tsb, tapi penderitaan adalah akibat dari pilihan yang salah dari kehendak bebas.
Keturunan Adam dan Hawa, ikut menderita akibat dosa tsb, Iblis senang. Tapi tidak ada yang mustahil bagi Tuhan untuk menyelamatkan manusia tanpa mengkontradiksi diriNya (memberikan kehendak bebas), yaitu penderitaan dirubah menjadi jalan keselamatan.

Sumber penderitaan adalah iblis. Allah tidak mengkontardiksi diriNya dengan melenyapkan Iblis, karena iblis, yang sebelumnya malaikat, juga diberikan kehendak bebas.

Iblis mengamuk ketika Yesus memilih salib, begitu juga iblis mengamuk ketika tahu kita memilih mengikuti Yesus, mememanggul salib kita. Dia berpikir tadinya kita akan mengutuki Tuhan akibat menderita. Ternyata iblis keliru.
Ketika kita menderita dalam segala hal, satukan penderitaan kita dengan penderitaan Yesus, maka iblis akan lari. Jangan terbujuk oleh godaannya, mis. pergi ke orang pintar/dukun atau mencari dokter/psikiater nomer wahid.
Iblis akan memberikan kenyamanan/kesenangan sementara, tapi pada ujungnya tetap kita harus menderita. Jika kita tua renta, kita akan menderita secara fisik, disinilah iblis akan mulai menuai jiwa kita dengan menawarkan pil eutanasia atau gantung diri.

"Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.", untuk dapat berkata seperti St. Paulus, adalah dengan memohon rahmat Tuhan dan mengikuti selalu apa yang diajarkanNya melalui GK sampai garis finish. Tidak ada jalan lain.
_________________
ora pro nobis. Sancta Dei Genitrix
Back to top
View user's profile Send private message
m2us



Joined: 26 Jan 2008
Posts: 1734
Location: Roman Catholic Church

PostPosted: Tue, 23-02-2016 7:01 pm    Post subject: Re: Mengapa melalui salib/ penderitaan? Reply with quote

aw777 wrote:

1. mengapa pilihannya salib adalah suatu misteri. Misteri biasanya merupakan sesuatu yang dapat dijelaskan secara terbatas.
Apa so far ada ajaran Gereja tentang mengapa salib, bukan yang lain?

Dalam ajaran Gereja dibedakan antara dosa dan akibat dosa.
Dosa diampuni, tetapi akibat dosa masih harus ditanggung dengan silih. Kurban di Perjanjian Lama itu untuk pengampunan dosa atau sebagai silih? Jika sebagai silih, apakah artinya memang dari semula ditentukan bahwa akibat dosa harus ditebus dengan "tumbal"? sehingga di Perjanjian Baru, yang "ditumbalkan" adalah Kristus?


2. Sebenarnya ada banyak cara yang dapat dilakukan Allah supaya para pengikutnya tidak menderita karena dosa. Misalnya para pengikutNya diberikan tanda-tanda/ mukjizat empiris, atau tanda keistimewaan tertentu. Supaya yang mau menganiaya melihatnya, takjub, gentar, gemetar lalu percaya.
Kenapa harus melalui drama kemartiran, penolakan, penghinaan, dll yang menyiksa manusia?


3. Memang demikian. Laku tapa, penyangkalan diri, tindakan silih yang ekstrim kan sarana manusia untuk berlatih mengendalikan diri dari nafsu tak teratur. Pertanyaannya lebih ke arah, kenapa diciptakan hukum alam demikian?
- manusia merasa hepi, senang, tenang, nyaman karena hormon endorphin, oxytocin
- bila hawa nafsu terpenuhi, maka hormon endorphin, oxytocin dipicu sehingga manusia merasa demikian.
- hukumnya diciptakan seperti itu, namun manusia harus seolah melawannya sehingga dalam perjuangan tersebut pasti manusia merasa kurang hepi, sedih, sakit hati dll. Mereka yang berjuang hidup kudus pasti punya pengalaman demikian.
Kenapa harus ada "drama" seperti ini? kenapa tidak diciptakan saja hukumnya supaya manusia merasa senang, hepi, nyaman ketika mengampuni, mengalah, mau mengerti, mau memberi, mau berkorban dll.

4. Betul. Itu hakikat pertama tentang bahwa manusia tidak berhak mencabut nyawa (baik bunuh diri atau membunuh).
Dalam kasus eutanasia, artinya seorang yang sakit dan pasti akan mati. Eutanasia di beberapa negara dianjurkan untuk mengurangi biaya berobat (mungkin karena ditanggung asuransi/ negara), tetapi juga bisa untuk mempersingkat waktu sengsara pasien.
Implikasi dari penolakan eutanasia bagi sisi pasien adalah ia akan merasakan kesengsaraan lebih panjang. Dalam hal ini iman percaya bahwa ada makna atau nilai dalam penderitaan. Akibat dari implikasi ini dapat dipertanyakan bahwa seolah-olah Allah lebih suka membiarkan manusia sengsara pelan-pelan sampai mati daripada langsung mencabut nyawanya?


Apakah dengan hepi-hepi manusia dapat mencintai Allah sepenuhnya?
Jika jawabannya tidak, masih dapat ditarik pemikiran lain:
Manusia kan makhluk hidup yang diciptakan dengan hormon-hormon biologisnya. Apa yang membuat manusia merasa hepi juga dipengaruhi hormon tersebut. Untuk merangsang hormon tersebut dibutuhkan berbagai faktor. Kenapa seolah-olah untuk mencintai Allah harus menentang kodrat manusia sendiri dalam hubungannya dengan hormon-hormon tersebut? Seperti kata St. Paulus, "apa yang tidak kuinginkan, itulah yang aku lakukan"
Atau mungkin dihubungkan dengan keingingan daging vs keinginan roh? keduanya bertentangan. Kenapa diciptakan drama demikian?


1. Kalau misteri ya tetap misteri, kita tidak tahu kenapa Allah memilih penyelamatan lewat salib bukan yang lain. Bagaimana penjelasan yang terbatas maksud kamu itu? Sampai saat ini saya belum menemukan ajaran Gereja yang menjelaskan kenapa bukan salib, dan sepertinya tidak ada.

Jika membaca penjelasan di link itu, kurban untuk silih dosa. Silih itu artinya ganti rugi. Jika kamu mencuri, dosa mencuri diampuni tetapi yang dicuri harus tetap dikembalikan, baca KGK agar lebih jelas

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK   @ Ekaristi dot Org

Penyilihan
1459Banyak dosa menyebabkan kerugian bagi sesama. Orang harus sedapat mungkin mengganti rugi (umpamanya mengembalikan barang yang dicuri, memperbaiki nama baik orang yang difitnah, memberi silih untuk penghinaan). Keadilan sendiri sudah menuntut ini. Tetapi di samping itu dosa melukai dan melemahkan pendosa sendiri, denukian pula hubungannya dengan Allah dan dengan sesama. Absolusi menghapuskan dosa, namun tidak mengatasi semua ketidak-adilan yang disebabkan oleh dosa Bdk. Konsili Trente: DS 1712.. Setelah pendosa mengangkat diri dari dosa, ia masih harus mendapat kesehatan rohani yang penuh. Ia harus "membuat silih", untuk dosa-dosanya, harus memperbaiki kesalahan atas suatu cara yang cocok. Penyilihan ini juga dinamakan "penitensi".1473


Saya tidak mengerti apa yang kamu maksud dengan tumbal di sini. Kalau maksudnya Kristus berkorbankan untuk mendamaikan manusia dengan Allah ya itu yang memang terjadi.
Kalau menurut saya, karena dosa yang disebabkan oleh Adam dan Hawa adalah dosa yang mendatangkan maut, maka untuk mendamaikan manusia dengan Allah tidak ada yang pantas selain Kristus (Manusia yang murni dan tidak berdosa). Kematian Kristus di salib membawa kematian juga bagi kemanusiaan kita yang lama yang berdosa dan tidak layak masuk surga, dan dengan kebangkitan Kristus membangkitkan kemanusian yang baru bagi kita sehingga kita layak mendapatkan surga.

2. Mujizat yang dilakukan Yesus itu sudah sedemikian wow nya kok tetap banyak yang tidak percaya? Malahan membunuh Yesus? Jadi kesimpulannya drama yang kamu maksud itu tidak diciptakan oleh Allah, tapi itu akibat dari manusia sendiri. Dosa membuat mereka buta untuk melihat kehadiran Allah. Yang membunuh dan menyiksa itu manusia bukan Allah, jadi pemikiran kamu itu tidak tepat. Lalu kenapa ini dibiarkan? Allah menghormati kehendak bebas manusia, karena Allah yang memberikannya.

3.Manusia diciptakan oleh Allah untuk bahagia. Adam dan Hawa sebelum berdosa, bahagia di firdaus, tidak menderita, tidak sakit, tidak sedih, dst. Dosa yang membuat manusia jadi menderita, sakit, dst. Yang membuat kondisi seperti ini bukan Allah, itu akibat putusnya hubungan manusia dengan Allah. Dosa asal sudah diampuni tetapi segala akibatnya harus ditanggung oleh manusia, kerugiannya harus dibayar, manusia sudah terlanjur cacat.
KATEKISMUS GEREJA KATOLIK   @ Ekaristi dot Org
1473Pengampunan dosa dan pemulihan persekutuan dengan Allah mengakibatkan pembebasan dari siksa dosa abadi. Tetapi siksa dosa sementara tinggal. Warga Kristen itu harus berusaha menerima siksa dosa sementara ini sebagai rahmat, dengan menanggung segala macam penderitaan dan percobaan dengan sabar dan, kalau saatnya telah tiba menerima kematian dengan tulus. Juga ia harus berikhtiar untuk menanggalkan "manusia lama" dan mengenakan "manusia baru" perbuatan-perbuatan belas kasihan dan cinta kasih serta dengan doa dan aneka ragam latihan mati raga Bdk. Ef 4:24..2447


4. KGK 1473 sudah menjelaskan kenapa manusia harus melewati sengsara atau penderitaan, jadi sudah jelas. Eutanasia tidak dapat dilakukan hanya karena pertimbangan kasihan terhadap yang sakit. Bisa saja Allah memberikan kesembuhan bagi yang sakit walaupun sakitnya luar biasa, who knows? Makanya jangan mendahului Allah. Dan sekali lagi itu pemikiran kamu yang ngawur bahwa Allah menghendaki manusia menderita. Itu ulah manusia sendiri.

Sekarang begini saja gampangnya, apakah kalau kamu tidak punya uang sama sekali apakah kamu bisa bahagia? Jawab saja to the point dan alasannya kenapa?

Kodrat awal manusia memang harusnya bahagia, tapi karena sudah cacat makanya manusia jatuh dalam penderitaan, jadi tidak melawan kodrat. Nah sekarang karena kedagingan manusia yang lemah, mudah jatuh dalam dosa maka manusia harus dapat menahan diri. Kondisi manusia karena sudah cacat itu cenderung kepada dosa, makanya kalau tidak dikontrol manusia akan jatuh kedalam dosa. Iblis juga menggoda manusia untuk berdosa melalui sesuatu yang membuat manusia senang.

Kenapa kedagingan bertentangan dengan keinginan roh sudah dijawab di atas jadi seharusnya kamu sudah mengerti, dan itu bukan drama, jadi stop pakai istilah itu.

Nah sekarang pertanyaannya apa definisi kamu bahagia itu?

rgds,
m2us
_________________
JEZU, UFAM TOBIE
KS,KGK, KHK
ekklhsiai kaq olhv
Back to top
View user's profile Send private message
aw777



Joined: 22 Jan 2006
Posts: 301
Location: somewhere in the world

PostPosted: Tue, 23-02-2016 9:40 pm    Post subject: Reply with quote

Raydo12,
thanks penjelasannya koheren dan cukup sistematis untuk dibaca.

m2us,
terima kasih atas masukannya. Kutipan dari KGK juga pas.

Thanks to both of you. So far aku puas dengan penjelasan di atas terkait penderitaan,


Apakah tanpa uang sama sekali bisa bahagia?
good question, aku belum pernah memikirkan ini.
Kalau kata St. Yohanes Salib, solo Dios basta (Allah saja cukup).
Kata katekismus juga demikian (KGK 1723)
Berarti jawabannya bisa.


Apa definisi bahagia?
Bingung mau mendefinisikan bagaimana. Tetapi jika ditanya soal "merasa bahagia", mungkin bisa dicirikan dengan merasa tentram, merasa aman, merasa tidak berkekurangan, merasa kebutuhan terpenuhi, merasa senang, merasa damai, merasa dicintai, merasa nyaman (tentu tingkatan/ itensitas tiap orang berbeda-beda).
Karena manusia tidak pernah puas, kalau sekarang cukup, besok kurang cukup, hari ini cukup nyaman, besok kurang nyaman. Apakah perasaan demikian (menderita karena tidak pernah merasa puas) juga akibat dosa?


Kalau membaca KGK 1720 - 1724, di sana kebahagiaan dijabarkan sebagai tujuan, cita-cita, panggilan hidup manusia: persekutuan dengan Allah.


Btw, kembali ke pertanyaan tentang salib.
Apakah Kristus disalib itu sebagai kurban silih?
Jika ya, apakah kurban silih harus dengan darah atau pengorbanan nyawa?
mengingat di Perjanjian Lama konteksnya seperti itu.


Bagi umat beriman sekarang, kurban silih dapat berupa doa, puasa, dll. Namun semua itu mendapat makna di dalam persekutuan dengan kurban Kristus.
Apakah artinya kurban silih hakekatnya harus dengan penumpahan darah dan pengorbanan nyawa?

Saya rasa jawabannya tidak harus. Allah Mahakuasa sehingga ada opsi lain untuk memberikan silih bagi manusia. Kalau saya tidak salah ingat, esensi penebusan bukan melalui penderitaan Kristus, melainkan ketaatan Kristus dari lahir hingga wafatNya.

Namun kembali lagi ada pertanyaan, mengapa Allah mengehendaki karya penebusan dilakukan lewat jalan yang penuh kesengsaraan? Menghubungkan dengan jawaban raydo12: supaya manusia belajar menerima penderitaan yang harus dijalani sekarang (akibat dosa) dengan sabar dan penuh harapan?
_________________
-- -- --
ingin menjadi bagian yang didoakan dalam DSA I:
'Kami mempersembahkannya (kurban Ekaristi) kepadaMu untuk ...... serta semua orang yang menjaga dan menumbuhkan iman Katolik, sebagaimana kami terima dari para Rasul'


Last edited by aw777 on Tue, 23-02-2016 9:51 pm; edited 1 time in total
Back to top
View user's profile Send private message
raydo12



Joined: 24 Oct 2005
Posts: 2585
Location: Jakarta

PostPosted: Wed, 24-02-2016 8:12 am    Post subject: Reply with quote

aw777 wrote:

mengapa Allah mengehendaki karya penebusan dilakukan lewat jalan yang penuh kesengsaraan?


Karena Allah tidak dapat melenyapkan freewill yang telah diberikan kepada ciptaanNya.
Apakah Tuhan penyebab kesengsaraan karena memberikan freewill ?
Atau, apakah freewill itu yang disalahgunakan ?
Atau lebih baik tidak ada freewill ? jadi robot saja ? Kenyataannya manusia punya freewill, harus mati dan sengsara. Mau protes dan melengserkan Tuhan ? kirim petisi dan demonstrasi ke Tuhan ? kok malah jadi ngatur Tuhan ??

maunya manusia, simsalabim, abrakadabra semua masuk surga tanpa menderita sengsara dan mati.
_________________
ora pro nobis. Sancta Dei Genitrix
Back to top
View user's profile Send private message
m2us



Joined: 26 Jan 2008
Posts: 1734
Location: Roman Catholic Church

PostPosted: Wed, 24-02-2016 1:17 pm    Post subject: Reply with quote

aw777 wrote:

Apakah tanpa uang sama sekali bisa bahagia?
good question, aku belum pernah memikirkan ini.
Kalau kata St. Yohanes Salib, solo Dios basta (Allah saja cukup).
Kata katekismus juga demikian (KGK 1723)
Berarti jawabannya bisa.


Apa definisi bahagia?
Bingung mau mendefinisikan bagaimana. Tetapi jika ditanya soal "merasa bahagia", mungkin bisa dicirikan dengan merasa tentram, merasa aman, merasa tidak berkekurangan, merasa kebutuhan terpenuhi, merasa senang, merasa damai, merasa dicintai, merasa nyaman (tentu tingkatan/ itensitas tiap orang berbeda-beda).
Karena manusia tidak pernah puas, kalau sekarang cukup, besok kurang cukup, hari ini cukup nyaman, besok kurang nyaman. Apakah perasaan demikian (menderita karena tidak pernah merasa puas) juga akibat dosa?


Kalau membaca KGK 1720 - 1724, di sana kebahagiaan dijabarkan sebagai tujuan, cita-cita, panggilan hidup manusia: persekutuan dengan Allah.


Betul jawabannya. Tanpa materi duniawi, Allah menginginkan manusia tetap bahagia namun manusia selalu mengukur kebahagian itu berdasarkan materi duniawi sehingga bila materi ini tidak cukup manusia merasa menderita. Jadi itu kehendak bebas manusia sendiri untuk memilih menderita. Kekuatiran akan masa depan juga yang membuat manusia menderita, padahal Yesus mengatakan jangan kuatir, jangan takut, dst.

Demikian juga dengan kesehatan, Allah menghendaki kita untuk menjaga tubuh kita, tetapi manusia yang merusak, misalnya makan sembarangan, merokok, obat-obatan, mabuk-mabukan, sering begadang, sex bebas, kerja tidak mengenal istirahat, dsb. Ulah manusia jugakan yang membuat dia akhirnya menderita,i.e: sakit berat dst. Jadi semua itu adalah kehendak bebas manusia.



aw777 wrote:

Btw, kembali ke pertanyaan tentang salib.
Apakah Kristus disalib itu sebagai kurban silih?
Jika ya, apakah kurban silih harus dengan darah atau pengorbanan nyawa?
mengingat di Perjanjian Lama konteksnya seperti itu.


Bagi umat beriman sekarang, kurban silih dapat berupa doa, puasa, dll. Namun semua itu mendapat makna di dalam persekutuan dengan kurban Kristus.
Apakah artinya kurban silih hakekatnya harus dengan penumpahan darah dan pengorbanan nyawa?

Saya rasa jawabannya tidak harus. Allah Mahakuasa sehingga ada opsi lain untuk memberikan silih bagi manusia. Kalau saya tidak salah ingat, esensi penebusan bukan melalui penderitaan Kristus, melainkan ketaatan Kristus dari lahir hingga wafatNya.

Namun kembali lagi ada pertanyaan, mengapa Allah mengehendaki karya penebusan dilakukan lewat jalan yang penuh kesengsaraan? Menghubungkan dengan jawaban raydo12: supaya manusia belajar menerima penderitaan yang harus dijalani sekarang (akibat dosa) dengan sabar dan penuh harapan?


Jika penebusan melalui jalan yang hepi apakah dapat disebut berkorban/dikorbankan? Definisi berkorban atau dikorbankan berartikan sesorang harus melalui situasi yang sulit atau tidak mengenakan atau merugikan diri sendiri untuk kepentingan orang lain.

Kalau situasinya enak bagi orang itu pasti tidak akan disebut berkorban.

Sudah menjadi perilaku manusia bahwa kejadian yang tidak mengenakan yang membuat manusia itu tersadar. Contoh kalau terjadi banjir yang merugikan, manusia baru sadar untuk memelihara kebersihan lingkungan, coba kalau banjirnya biasa-biasa saja, pasti tidak akan tergugah untuk memelihara lingkungan.

Demikian juga dengan karya penebusan Allah, katakan kalau itu lewat jalan yang hepi, apakah manusia akan sadar bahwa mereka sudah banyak dosa? Jaman perjanjian lama, ingat banyak nabi yang sudah mempertobatkan bangsa Israel, tapi bangsa Israel tetap keras kepala.

Kamu sendiri bertanya kenapa Allah tidak melalui mujizat yang membuat penganiaya takjub. Kebangkitan Kristus justru merupakan suatu mujizat yang besar, dengan kejadian ini justru memberikan efek yang besar dan banyak akhirnya yang percaya. Para murid Kristus juga semakin diteguhkan. Jadi menurut saya, karena Allah tahu sifat manusia, maka Allah merancang penebusan yang melalui sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus untuk menyadarkan manusia.

Esensi penebusan buka diketaatan Kristus, tetapi Kristus yang bangkit dari wafat. Jika Krsitus tidak bangkit maka sia-sialah iman kita.

Indonesia Katolik -Terjemahan Baru   © Ekaristi dot Org
1 Korintus  15:17Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.
1 Korintus  15:18Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus.


Semoga bermanfaat

rgds,
m2us
_________________
JEZU, UFAM TOBIE
KS,KGK, KHK
ekklhsiai kaq olhv


Last edited by m2us on Wed, 24-02-2016 1:36 pm; edited 1 time in total
Back to top
View user's profile Send private message
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Ruang Pengetahuan Dasar Iman Katolik All times are GMT + 6 Hours
Goto page: Next
Page 1 of 2

Log in
Username: Password: Log me on automatically each visit

 
Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum


© Copyright Ekaristi Dot Org 2001 Running on phpBB really fast 2001, 2002 phpBB Group. Keluaran (Exodus) 20:1-17