FAQFAQ          Username: Password: Log me on automatically each visit

Paus, Ijinkan Perceraian dalam Katolik    
Goto page: Previous Next

 
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Forum Terbuka
View previous topic :: View next topic  
Author Message
MentalRevo
== BANNED ==




Joined: 10 Sep 2014
Posts: 144

PostPosted: Thu, 17-09-2015 5:42 pm    Post subject: Reply with quote



Antonio Socci:

With Papally-Mandated "Catholic Divorce" destroying a Sacrament, Schism Looms Large on the Catholic Horizon.

After 2000 years, Divorce is Enforced in the Church -- and a Schism Looms Larger than Ever

...

The anxiety in the Church is now becoming enormous after the 8th of September. In fact with two Motu Proprios on the nullity of marriage, we have an official act by Bergoglio where we are going off the rails – according to authoritative opinions - by the institution of a sort of “Catholic divorce”.

This would mean the negation of Christ’s commandment on the indissolubility of marriage and the cancellation of two thousand years of Church teaching.

...

First of all - as Professor De Mattei explains – the totality of the reforms (of apparent facilitation and speeding up) go in the opposite direction from what the Church has always taken. It is a complete overturning of perspective: the defense of the Sacrament is no longer the priority (for the salvation of souls), but primarily the easiness and the speediness of obtaining an annulment.

....

Then again, Monsignor Pinto, Dean of the Roman Rota and President of the Commission which drew up the Motu Proprio, openly declared the purpose of this reform. He wrote in the “Osservatore Romano” that Pope Bergoglio has asked “the bishops for a true and proper “conversion”, a change in mentality which convinces them to follow the invitation of Christ”. According to Monsignor Pinto “the invitation of Christ, present in their brother, the Bishop of Rome”, would be that of “passing from the restricted number of a few thousand annulments to that immeasurable [number] of unfortunates who might have a declaration of nullity”.

That Christ wanted an “immeasurable” number of annulments is completely unheard of. Yet it is now clear that the goal of the Motu Proprio is large-scale divorce - much quicker, cheaper and easier than State divorce (there are already those who are trying to figure out whether divorce is [more] convenient through priests).

....

With this Motu Proprio, new reasons for nullity – without any magisterial and theological base – are being formulated, which could overturn de facto the role of the Church Herself: it would no longer be the Church Herself which must verify the original nullity of sacramental marriage in the eyes of God, but [She] risks becoming an entity that de facto “dissolves” sacramentally valid marriages, for today’s invented reasons.

....

The explosive charge that changes the “Rules of Procedure” is found mainly in article 14 where “ the lack of faith” of the parties is suggested as a possible cause of simulation or error in consent, and hence of the nullity of the marriage. Up to now, lack of faith as cause for the invalidity of a marriage has always been excluded by the Church, who limits Herself in elevating natural marriage to that of a Sacrament. Benedict XVI explained: “The indissoluble pact between a man and woman, does not require the personal faith of the contracting parties for the aims of sacramentality; what is required, as a necessary minimal condition, is the intention to do what the Church does”. That is to say, [to have] the intention of getting married.

This is so true that the Church also recognizes mixed marriages as sacramental , even when an atheist spouse or one of another religion is involved: all that is required is the desire for natural marriage.

Now everything is being overturned. And in conformity with Bergoglio’s style, an ambiguous form is being used to make the Catholic world believe that doctrine has not been changed.

....

This will open the door, without a doubt, for millions of annulments. Millions! Since when did you need to be a saint or have a university degree in theology from the Gregorian to get married?

....

Lengkapnya baca di:

http://rorate-caeli.blogspot.com/2015/0 ..ted-catholic.html

Jika benar perubahan aturan annulment ini 'de facto' perceraian Katolik, bukankah Paus Fransiskus secara 'de facto' telah mengajarkan bidaah?
_________________
FIAT VOLUNTAS TUA
Go to this link to learn MORE about THE JESUS MEDITATION
A simple contemplative spirituality based on Church teachings and traditions.


Last edited by MentalRevo on Thu, 17-09-2015 5:50 pm; edited 2 times in total
Back to top
View user's profile Send private message Yahoo Messenger
raydo12



Joined: 24 Oct 2005
Posts: 2585
Location: Jakarta

PostPosted: Fri, 18-09-2015 7:46 am    Post subject: Reply with quote

MentalRevo wrote:

Jika benar perubahan aturan annulment ini 'de facto' perceraian Katolik, bukankah Paus Fransiskus secara 'de facto' telah mengajarkan bidaah?


Pengertian yang seharusnya adalah :

Annulement itu pembatalan, jadi tidak ada perkawinan.
Sedangkan yang disebut perceraian adalah jika sudah ada perkawinan.

Apanya yang bidaah ??
_________________
ora pro nobis. Sancta Dei Genitrix


Last edited by raydo12 on Fri, 18-09-2015 7:47 am; edited 1 time in total
Back to top
View user's profile Send private message
MentalRevo
== BANNED ==




Joined: 10 Sep 2014
Posts: 144

PostPosted: Fri, 18-09-2015 7:55 am    Post subject: Reply with quote

raydo12 wrote:
...
Pengertian yang seharusnya adalah :

Annulement itu pembatalan, jadi tidak ada perkawinan.
Sedangkan yang disebut perceraian adalah jika sudah ada perkawinan.

Apanya yang bidaah ??


Benar juga kata-kata Antonio Socci:

And in conformity with Bergoglio’s style, an ambiguous form is being used to make the Catholic world believe that doctrine has not been changed.

Pakaian kaisar selalu tampak indah....sekalipun sesungguhnya ia tengah telanjang bulat.
_________________
FIAT VOLUNTAS TUA
Go to this link to learn MORE about THE JESUS MEDITATION
A simple contemplative spirituality based on Church teachings and traditions.


Last edited by MentalRevo on Fri, 18-09-2015 7:56 am; edited 2 times in total
Back to top
View user's profile Send private message Yahoo Messenger
MentalRevo
== BANNED ==




Joined: 10 Sep 2014
Posts: 144

PostPosted: Fri, 18-09-2015 8:42 am    Post subject: Reply with quote

Sebenarnya kalau kita memahami perbedaan kriteria 'formal' dan 'material', dengan mudah kita melihat Motu Proprio tentang perubahan proses annulment ini sebagai bencana besar bagi Gereja.

Secara formal atau 'de jure', dengan bahasa yang ambigu memang semuanya tampak tidak bertentangan dengan ajaran Gereja. Secara formal tidak ada kata-kata 'perceraian', hanya annulment/pembatalan. Tapi secara material atau 'de facto', perubahan proses ini tidak lain adalah perceraian.

Banyak orang mengira ini sekedar proses penyederhanaan birokrasi. Gampangnya, kalau bisa dibuat mudah kenapa sih dipersulit? Orang-orang ini naif, mereka tidak memahami bahwa memang ada urusan birokrasi yang lebih baik jika dipersulit. Misalnya saja ijin penggunaan senjata api untuk sipil. Betapa besar bahaya yang akan timbul jika urusan birokrasi proses ini dipermudah. Demikian juga dengan proses annulment, jika memang dibutuhkan perubahan akan jauh lebih baik prosesnya dipersulit dari pada dipermudah.

Selain itu Motu Proprio ini bukan sekedar penyederhanaan birokrasi, tapi juga mengubah kriteria pembatalan. Bayangkan, perkawinan bisa dibatalkan hanya dengan alasan kurangnya kesadaran iman ketika menerima sakramen membuat sakramen tersebut tidak valid. Ini alasan yang PASTI bisa digunakan untuk semua kasus! Dijamin pasangan yang akan meminta annulment bisa menggunakan alasan ini jika tidak ada alasan yang lain, dan Gereja akan setuju mengabulkan annulment dalam waktu paling lambat 45 hari!

Sebelumnya alasan kurangnya iman tidak pernah menjadi pertimbangan Gereja. Bagaimana dengan perkawinan campur? Apakah semuanya lalu menjadi tidak valid? Lalu bagaimana juga dengan pembaptisan bayi? Apakah tidak valid juga karena si bayi tidak mengerti apa-apa saat menerima baptisan?

Ini akan menimbulkan kekacauan besar!

Tidak heran jika banyak yang mengatakan bahwa Motu Proprio ini secara 'de facto' adalah perceraian Katolik.
_________________
FIAT VOLUNTAS TUA
Go to this link to learn MORE about THE JESUS MEDITATION
A simple contemplative spirituality based on Church teachings and traditions.


Last edited by MentalRevo on Fri, 18-09-2015 8:45 am; edited 1 time in total
Back to top
View user's profile Send private message Yahoo Messenger
shmily
Penghuni Ekaristi


Joined: 26 Oct 2005
Posts: 3782
Location: Ekaristi.org

PostPosted: Fri, 18-09-2015 8:43 am    Post subject: Reply with quote

harus dipahami bahwa dalam perubahan yang diusulkan, Uskup tidak akan memutuskan sendiri melainkan dengan 2 asesor dimana Uskup akan berdiskusi terlebih dahulu dengan mereka tentang kepastian dari sisi moral terhadap bukti-bukti anulasi yang telah diterima.

Jadi tetap harus ada bukti-bukti terlebih dahulu dan didiskusikan terlebih dahulu. Apabila disepakati, maka di sinilah dikatakan tidak perlu ada banding, Uskup dapat memutuskan memberikan atau menolak memberikan anulasi. ini yang disebut proses singkat

isunya sekarang adalah bagaimana para asesor atau bahkan Uskup yang belum mendapatkan pelatihan mengenai hukum Kanon dapat membuat penilaian dan keputusan yang benar ?

Semoga saja para penasihat resmi Vatikan yang menyuarakan bahaya dari konten reformasi anulasi ini, benar-benar mendapat perhatian dan menjadi pertimbangan sebelum hukum diubah.

namun dari apa yang saya ketahui ada hal yang menarik.. jika ada keluarga bahagia, keduanya atau salah satunya bertanya-tanya apakah perkawinan mereka sesungguhnya NULL, jika di masa lalu, si wanita pernah aborsi, atau salah satu dari mereka memiliki anak dari hubungan orang lain, atau pernah dipenjara. Sebenarnya ini adalah hal klasik, jika salah satu pernah mengalami hal itu dan menyembunyikannya dari pasangan sehingga ia kemudian dapat menikah dengan pasangannya dan kini hidup bahagia, adalah suatu kebohongan besar yang seharusnya tidak dilakukan ? Karena bisa saja, jika ia ceritakan segalanya sebelum perkawinan, maka pasangannya tidak menerima dan menolak menikah dengannya. Atau bila kini ia bercerita, pasangannya akan marah, menceraikan dan mengajukan anulasi karena kebohongan itu.

Sekarang saya ingin tanya kepada kalian.. terutama kamu mentalrevo. katakan si pemiliki masa lalu kelam (sebut saja MAWAR) sudah mengaku dosa ...

1. apakah seharusnya mawar itu berkata jujur sebelum perkawinan kepada calon suaminya ?

2. apakah sekarang saat sudah memiliki perkawinan yang bahagia, mawar perlu menceritakan masa lalunya kepada sang suami ?

3. apakah jika kamu seorang Uskup, akan mengabulkan permohonan si suami jika mengajukan anulasi karena merasa dibohongi, dengan alasan "jika dulu mawar berkata jujur tentang masa lalunya, saya pasti tidak menikahi dia karena hilang cinta dan kepercayaan saya kepada dia" ?

silakan teman-teman di sini menjawab..
_________________
Salam dan doa
F A Q Belajar Bersama Kanon 7 Sakramen

Psalms 119:159 See how I love your precepts, LORD; in your kindness give me life.
Back to top
View user's profile Send private message
raydo12



Joined: 24 Oct 2005
Posts: 2585
Location: Jakarta

PostPosted: Fri, 18-09-2015 9:55 am    Post subject: Reply with quote

shmily wrote:

Sekarang saya ingin tanya kepada kalian.. terutama kamu mentalrevo. katakan si pemiliki masa lalu kelam (sebut saja MAWAR) sudah mengaku dosa ...

1. apakah seharusnya mawar itu berkata jujur sebelum perkawinan kepada calon suaminya ?


Jika kasusnya berat, perlu diceritakan. Misalnya pernah kawin atau free sex, aborsi.
Juga tergantung sang calon pasangan, jika sang calon tidak menuntut, tidak perlu cerita.

Quote:
2. apakah sekarang saat sudah memiliki perkawinan yang bahagia, mawar perlu menceritakan masa lalunya kepada sang suami ?


Jika dari awal sang suami tidak menuntut tidak perlu cerita.

Quote:
. apakah jika kamu seorang Uskup, akan mengabulkan permohonan si suami jika mengajukan anulasi karena merasa dibohongi, dengan alasan "jika dulu mawar berkata jujur tentang masa lalunya, saya pasti tidak menikahi dia karena hilang cinta dan kepercayaan saya kepada dia" ?


Tidak. Karena si suami/istri tidak pernah menuntut daftar dosa dari calonnya sebelum kawin. Dalam hal ini si suami/istri tidak berbohong. Orang berbohong itu jika ditanya dan menjawab, jika tidak ditanya dan tidak menjawab tidak bisa dikatakan bohong.
_________________
ora pro nobis. Sancta Dei Genitrix


Last edited by raydo12 on Fri, 18-09-2015 9:56 am; edited 1 time in total
Back to top
View user's profile Send private message
MentalRevo
== BANNED ==




Joined: 10 Sep 2014
Posts: 144

PostPosted: Fri, 18-09-2015 6:35 pm    Post subject: Reply with quote

Salah satu bagian paling berpotensi menimbulkan masalah dalam Motu Proprio Mitis Iudex Dominus Iesus (maaf, saya tidak bisa mendapatkan versi resmi bahasa Inggris atau Indo-nya):

(Terjemahan bahasa Inggris versi google dari teks Italia)

Art.14. Among the circumstances that may allow the handling of the case of nullity of the marriage by means of the process shorter according to cann. 1683-1687, for instance include: the lack of faith that can generate the simulation of consent or the error that determines the will, the brevity of married life, procured abortion to prevent procreation, the stubborn persistence in a extramarital affair at the time of the wedding or at a time immediately following, the malicious concealment of infertility or a serious or contagious disease of children born from a previous relationship or incarceration, the cause of marriage completely foreign to married life or substantial the unplanned pregnancy of the woman, the physical violence inflicted to extort the consent, the lack of use of reason proved by medical documents, etc.

(Terjemahan bahasa Inggris versi google dari teks Latin - untuk perbandingan)

Art. 14. The cause of the nullity of marriage has been made between the things and the persons involved, the path of the process that would enable him brevioris in accordance with cann. 1683-1687 more carefully, they are enumerated, for example: is lack of faith is able to make a semblance of consent or a son is always the will of its determination of the error, a brief common conjugal life, procured abortion is in order to avoid procreation, determined on the relation of the affairs of a lasting time of the wedding or immediately following, sterility or death, grave illness a deceitful contagiosae celatio or of his children from the relation of the preceding or being thrust down into the prison, the cause of the stranger, or no contract at all was foreseen as pregnant to a married life of the woman, to be extorted from the consent of the physical violence inflicted, the lack of use of reason, the physicians, the documents approved, etc.

Dalam terjemahan artikel Antonio Socci di rorate-caeli disebutkan:

the lack of faith” of the parties is suggested as a possible cause of simulation or error in consent, and hence of the nullity of the marriage.

And among the circumstances that have opened wide the possibility of a super-fast divorce is “the brevity of conjugal cohabitation” or the fact that the couple were married “because of the woman’s unexpected pregnancy”.

The unbelievable list actually ends with an “et cetera”. Does it mean that one can amplify at will? What kind of law is this?

Kurang lebih bisa disimpulkan bahwa kurangnya kesadaran iman membuat sakramen perkawinan invalid. Ini membingungkan, karena bisa berarti lebih dari setengah pasangan suami-istri di dunia sebenarnya tidak valid perkawinannya meski mereka tidak bermasalah dan tidak ingin berpisah, hanya karena mereka tidak memiliki kesadaran iman yang 'cukup' untuk memahami makna sakramen perkawinan saat menerimanya. Bahkan mungkin perkawinan orang tua kita juga sebenarnya invalid.

Masalah ini akan makin membesar saat mereka yang perkawinannya invalid, dengan demikian hidup dalam perzinahan tanpa mereka menyadarinya, menerima sakramen ekaristi secara rutin dalam keadaan yang tidak layak. Jelas sekali perubahan aturan ini malah memberi masalah baru bagi pasangan yang seharusnya tidak bermasalah.

Selain itu seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, aturan ini membuka kesempatan lebar-lebar bagi pasangan yang bermasalah dalam kehidupan perkawinannya untuk memanfaatkan alasan kurangnya iman sebagai dasar untuk meminta annulment bagi semua masalah. Bagaimana Gereja bisa membuktikan pernyataan kurangnya iman yang terjadi 10 tahun yang lalu selain dari pengakuan subyektif masing-masing pasangan? Raja Henry VIII tentu sangat menyesal ia dilahirkan sebelum Papa Frans mengeluarkan Motu Proprio ini, ia terpaksa ada di neraka hanya karena lahir di waktu yang salah.

Yang lebih gila lagi, perkawinan dibatalkan karena singkatnya masa 'hidup bersama' pasangan sebelum mengikatkan diri mereka dalam ikatan perkawinan. Ini sama saja merestui kohabitasi atau hidup bersama sebagai tahapan yang sah sebelum melanjutkan hubungan dalam ikatan suami-istri yang tetap. Betul-betul kasperian-style... Papa Frans sudah menunjukkan keberpihakannya pada usulan Kardinal Kasper sebelum sinode Oktober nanti.

Dan yang paling gila adalah: 'et cetera', artinya alasan pembatalan bisa bertambah menurut 'pertimbangan pastoral' uskup atau hirarki yang berwewenang. Bisa tanpa batas!

Saya tidak yakin sama sekali ini suara Kristus.

Kardinal Raymond Burke ditanya, bagaimana seandainya dalam sinode nanti dihasilkan perubahan yang menyimpang dari ajaran tradisional yang ada? Kardinal Raymond Burke menjawab singkat 'tetaplah setia pada iman' ("Stay faithful"). Artinya... tolak perubahan itu, apapun resikonya!

http://rorate-caeli.blogspot.com/2015/0 ..-latest.html#more

Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia. (Gal.1:8-9)
_________________
FIAT VOLUNTAS TUA
Go to this link to learn MORE about THE JESUS MEDITATION
A simple contemplative spirituality based on Church teachings and traditions.


Last edited by MentalRevo on Fri, 18-09-2015 6:49 pm; edited 4 times in total
Back to top
View user's profile Send private message Yahoo Messenger
raydo12



Joined: 24 Oct 2005
Posts: 2585
Location: Jakarta

PostPosted: Sat, 19-09-2015 10:23 am    Post subject: Reply with quote

MentalRevo wrote:


Kurang lebih bisa disimpulkan bahwa kurangnya kesadaran iman membuat sakramen perkawinan invalid. Ini membingungkan, karena bisa berarti lebih dari setengah pasangan suami-istri di dunia sebenarnya tidak valid perkawinannya meski mereka tidak bermasalah dan tidak ingin berpisah, hanya karena mereka tidak memiliki kesadaran iman yang 'cukup' untuk memahami makna sakramen perkawinan saat menerimanya. Bahkan mungkin perkawinan orang tua kita juga sebenarnya invalid.

Masalah ini akan makin membesar saat mereka yang perkawinannya invalid, dengan demikian hidup dalam perzinahan tanpa mereka menyadarinya, menerima sakramen ekaristi secara rutin dalam keadaan yang tidak layak. Jelas sekali perubahan aturan ini malah memberi masalah baru bagi pasangan yang seharusnya tidak bermasalah.

Selain itu seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, aturan ini membuka kesempatan lebar-lebar bagi pasangan yang bermasalah dalam kehidupan perkawinannya untuk memanfaatkan alasan kurangnya iman sebagai dasar untuk meminta annulment bagi semua masalah. Bagaimana Gereja bisa membuktikan pernyataan kurangnya iman yang terjadi 10 tahun yang lalu selain dari pengakuan subyektif masing-masing pasangan? Raja Henry VIII tentu sangat menyesal ia dilahirkan sebelum Papa Frans mengeluarkan Motu Proprio ini, ia terpaksa ada di neraka hanya karena lahir di waktu yang salah.

Yang lebih gila lagi, perkawinan dibatalkan karena singkatnya masa 'hidup bersama' pasangan sebelum mengikatkan diri mereka dalam ikatan perkawinan. Ini sama saja merestui kohabitasi atau hidup bersama sebagai tahapan yang sah sebelum melanjutkan hubungan dalam ikatan suami-istri yang tetap. Betul-betul kasperian-style... Papa Frans sudah menunjukkan keberpihakannya pada usulan Kardinal Kasper sebelum sinode Oktober nanti.

Dan yang paling gila adalah: 'et cetera', artinya alasan pembatalan bisa bertambah menurut 'pertimbangan pastoral' uskup atau hirarki yang berwewenang. Bisa tanpa batas!

Saya tidak yakin sama sekali ini suara Kristus.


Jangan sembarangan menyebarkan hal-hal yang gak bener berdasarkan analisa sendiri yang tidak didukung oleh fakta.

"There are no new grounds for declaring a marriage null"

Read more: http://www.ncregister.com/daily-news/an ..ts/#ixzz3m9gF2cki
_________________
ora pro nobis. Sancta Dei Genitrix
Back to top
View user's profile Send private message
MentalRevo
== BANNED ==




Joined: 10 Sep 2014
Posts: 144

PostPosted: Sat, 19-09-2015 12:40 pm    Post subject: Reply with quote

raydo12 wrote:
...

Jangan sembarangan menyebarkan hal-hal yang gak bener berdasarkan analisa sendiri yang tidak didukung oleh fakta.

"There are no new grounds for declaring a marriage null"

Read more: http://www.ncregister.com/daily-news/an ..ts/#ixzz3m9gF2cki


Sepertinya kata-kata semacam ini juga diucapkan ketika orang berbicara soal Konsili Vatikan II atau Novus Ordo... nggak ada yang berubah. Tapi dalam kenyataannya kita tahu itu omong kosong. Cukup dengan melihat buah-buah yang dihasilkannya...

Artikel 14 dalam Motu Proprio itu jelas memberikan perubahan besar pada kriteria apa yang dapat menjadi dasar pembatalan. Misalnya saja soal perlunya kesadaran iman sebagai dasar validnya sakramen. Itu TIDAK PERNAH dipakai sebagai kriteria sebelumnya. Tidak berubah? Omong kosong.
_________________
FIAT VOLUNTAS TUA
Go to this link to learn MORE about THE JESUS MEDITATION
A simple contemplative spirituality based on Church teachings and traditions.


Last edited by MentalRevo on Sat, 19-09-2015 12:43 pm; edited 1 time in total
Back to top
View user's profile Send private message Yahoo Messenger
raydo12



Joined: 24 Oct 2005
Posts: 2585
Location: Jakarta

PostPosted: Sat, 19-09-2015 4:00 pm    Post subject: Reply with quote

MentalRevo wrote:
raydo12 wrote:
...

Jangan sembarangan menyebarkan hal-hal yang gak bener berdasarkan analisa sendiri yang tidak didukung oleh fakta.

"There are no new grounds for declaring a marriage null"

Read more: http://www.ncregister.com/daily-news/an ..ts/#ixzz3m9gF2cki


Sepertinya kata-kata semacam ini juga diucapkan ketika orang berbicara soal Konsili Vatikan II atau Novus Ordo... nggak ada yang berubah. Tapi dalam kenyataannya kita tahu itu omong kosong. Cukup dengan melihat buah-buah yang dihasilkannya...

Artikel 14 dalam Motu Proprio itu jelas memberikan perubahan besar pada kriteria apa yang dapat menjadi dasar pembatalan. Misalnya saja soal perlunya kesadaran iman sebagai dasar validnya sakramen. Itu TIDAK PERNAH dipakai sebagai kriteria sebelumnya. Tidak berubah? Omong kosong.


Yang berbicara itu canon lawyer. Lha sampeyan siapa ?
Gak jelas asal usul mu. Dari ekologist, pakar meditasi lalu menjadi ahli tafsir hukum perkawinan. Cape deh Nangis deh

tapi saya salut kamu bisa bertahan sekian lama dengan argumen instant yang bolong sana sini.
_________________
ora pro nobis. Sancta Dei Genitrix


Last edited by raydo12 on Sat, 19-09-2015 4:04 pm; edited 1 time in total
Back to top
View user's profile Send private message
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Forum Terbuka All times are GMT + 6 Hours
Goto page: Previous Next
Page 4 of 6

Log in
Username: Password: Log me on automatically each visit

 
Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum


© Copyright Ekaristi Dot Org 2001 Running on phpBB really fast 2001, 2002 phpBB Group. Keluaran (Exodus) 20:1-17