FAQFAQ          Username: Password: Log me on automatically each visit

Reinkarnasi dalam Katolik    
Goto page: Previous Next

 
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Ruang Pengetahuan Dasar Iman Katolik
View previous topic :: View next topic  
Author Message
okkisafire



Joined: 04 Dec 2013
Posts: 14

PostPosted: Tue, 17-12-2013 3:01 pm    Post subject: Reply with quote

Oke lah, saya sedang berusaha melempar bola panas kepada saudara-saudari seiman sekalian. Supaya umat Katolik tidak terlalu nyaman dengan apa yang ada saat ini dan jadi berani melihat ke luar. Jangan sampai kejadian dengan Galileo Galilei terulang kembali dan menjadi bahan lelucon umat-umat agama lain ke Katolik.

Kalian pernah membaca nggak tentang pernyataan Einstein bahwa: bahwa agama masa depan itu ... bla bla bla (silahkan cari sendiri, soalnya saya lupa Ketawa ) ... dan bahwa agama yang mencakup semua itu adalah agama Buddha. Umat Buddhist bangga loh dengan pernyataan "satu-satunya orang yang diketahui telah menggunakan 4% dari keseluruhan kemampuan otaknya", sementara manusia pada umumnya hanya menggunakan 1% saja.

Apakah Katolik bisa menjadi "agama masa depan"? Atau satu demi satu orang-orang akan meninggalkan Katolik dan beralih ke agama lain? Dengan alasan apa kita bisa meyakinkan mereka bahwa Katolik memang lebih unggul dan "benar"? Lah, kalo ditanyai mengenai sesuatu yang berbau pengetahuan saja jawabnya "percayalah pada imanmu!"?

Ada seorang penulis muslim di Timur Tengah (entah dimana itu) yang menulis buku yang menentang konsep evolusi. Bahkan pemerintah sana memasukkan ke dalam kurikulum sekolah. Baru saja saya menarik napas dalam-dalam dan membantin: untung bukan Katolik yang melakukan pembodohan seperti ini, eh saya nemu buku tipis yang isinya sama dan penulisnya adalah seorang Kristen Nangis deh

Semoga saudara-saudari sekalian memahami harapan saya good Job


Last edited by okkisafire on Tue, 17-12-2013 3:02 pm; edited 1 time in total
Back to top
View user's profile Send private message
DeusVult
Evangelos


Joined: 10 Feb 2004
Posts: 10848
Location: Orange County California

PostPosted: Tue, 17-12-2013 7:21 pm    Post subject: Reply with quote

okkisafire wrote:
lama ngga buka forum

@DeusVult: pasti anda tau kan proses pemilihannya bagaimana. Saya merasa sayang, apa mungkin masih banyak kitab2 asli yang tidak dimasukkan ke dalam kanon? ato apakah ada kitab2 yang seharusnya tidak masuk ke dalam kanon? begitu ceritanya kenapa kok saya nggak seberapa setuju dengan cara pemilihannya, dan berharap jika Vatican nanti berencana untuk memilah-milah kembali. tapi memang sih sebagian kitab2 non-kanonik yang saya baca isinya kok "aneh".


Aku tahu proses Kanon Alkitab (Konsili Laodicea, Konsili Roma, Konsili Hippo, Konsili Chartage, Konsili Florence, Konsili Trent), tapi aku rasa yang aku tahu berbeda dari apa yang kamu tahu.

Pernah mendengar nama konsili-konsili itu dalam hubungannya dengan penetapan kanon? Maybe not.

Apakah ada Kitab asli yang tidak masuk kanon? Mengingat, misalnya, Paulus, punya banyak tulisan lain selain yang masuk dalam Alkitab, maka kalau tulisan seperti itu eksis pada proses kanon Alkitab, maka tulisan itu akan termasuk dalam Alkitab. Tapi selain dari apa yang kita punyai sekarang, sudah tidak ada lagi tulisan-tulisan seperti itu.

Apakah ada kitab yang seharusnya tidak masuk dalam kanon? Jelas tidak ada.

Dan karena sejak Konsili Trent Kanon Kitab Suci terlah ditutup, maka daftar kanon sudah definitif. Tidak bisa ditambah (dan jelas tidak bisa dikurangi).

Quote:
Saya cuma mencoba mengerucutkan saja kitab2 sumbernya. Itu sebabnya kalau tidak tertera di keempat injil, mungkin bisa lah diambil dari kitab2 yang "lebih diyakini" untuk ditulis Paulus sendiri.


Kitab itu tidak harus "tertera di keempat injil" supaya masuk dalam kanon Alkitab. Tidak pernah ada kriteria macam ini. Dan faktanya, kitab seperti Hakim-Hakim, Esther, 1 Tawarikh, Kidung Agung, Ratapan dll adalah kitab yang tidak pernah dikutip di seluruh Perjanjian Baru manapun.


Quote:
Meskipun banyak juga yang meragukan ajaran Paulus, karena latar belakang dia serta karena dia tidak pernah bertemu Yesus sekalipun. Tapi itu sudah terlalu jauh sehingga tidak bisa saya jangkau lagi.


Apa pernah sekolah di Universitas Tübingen, Jerman?


Berikut sanggahan pandangan yang bahwa ajaran Paulus meragukan karena dia tidak pernah bertemu Yesus:


    Catholic Encyclopedia: Paul

    Paul and Christ

    This question has passed through two distinct phases. According to the principal followers of the Tübingen School, the Apostle had but a vague knowledge of the life and teaching of the historical Christ and even disdained such knowledge as inferior and useless. Their only support is the misinterpreted text: "Et si cognovimus secundum carnem Christum, sed nunc jam novimus" (2 Corinthians 5:16). The opposition noted in this text is not between the historical and the glorified Christ, but between the Messias such as the unbelieving Jews represented Him, such perhaps as he was preached by certain Judaizers, and the Messias as He manifested Himself in His death and Resurrection, as He had been confessed by the converted Paul. It is neither admissible nor probable that Paul would be uninterested in the life and preaching of Him, Whom he loved passionately, Whom he constantly held up for the imitation of his neophytes, and Whose spirit he boasted of having. It is incredible that he would not question on this subject eyewitnesses, such as Barnabas, Silas, or the future historians of Christ, Sts. Mark and Luke, with whom he was so long associated. Careful examination of this subject has brought out the three following conclusions concerning which there is now general agreement:


      * There are in St. Paul more allusions to the life and teachings of Christ than would be suspected at first sight, and the casual way in which they are made shows that the Apostle knew more on the subject than he had the occasion, or the wish to tell.
      * These allusions are more frequent in St. Paul than the Gospels.
      * From Apostolic times there existed a catechesis, treating among other things the life and teachings of Christ, and as all neophytes were supposed to possess a copy it was not necessary to refer thereto save occasionally and in passing.

    The second phase of the question is closely connected with the first. The same theologians, who maintain that Paul was indifferent to the earthly life and teaching of Christ, deliberately exaggerate his originality and influence. According to them Paul was the creator of theology, the founder of the Church, the preacher of asceticism, the defender of the sacraments and of the ecclesiastical system, the opponent of the religion of love and liberty which Christ came to announce to the world. If, to do him honour, he is called the second founder of Christianity, this must be a degenerate and altered Christianity since it was at least partially opposed to the primitive Christianity. Paul is thus made responsible for every antipathy to modern thought in traditional Christianity.

    This is to a great extent the origin of the "Back to Christ" movement, the strange wanderings of which we are now witnessing. The chief reason for returning to Christ is to escape Paul, the originator of dogma, the theologian of the faith. The cry "Zuruck zu Jesu" which has resounded in Germany for thirty years, is inspired by the ulterior motive, "Los von Paulus". The problem is: Was Paul's relation to Christ that of a disciple to his master? or was he absolutely autodidactic, independent alike of the Gospel of Christ and the preaching of the Twelve? It must be admitted that most of the papers published shed little light on the subject. However, the discussions have not been useless, for they have shown that the most characteristic Pauline doctrines, such as justifying faith, the redeeming death of Christ, the universality of salvation, are in accord with the writings of the first Apostles, from which they were derived. Julicher in particular has pointed out that Paul's Christology, which is more exalted than that of his companions in the apostolate, was never the object of controversy, and that Paul was not conscious of being singular in this respect from the other heralds of the Gospel. Cf. Morgan, "Back to Christ" in "Dict. of Christ and the Gospels", I, 61-67; Sanday, "Paul", loc. cit., II, 886-92; Feine, "Jesus Christus und Paulus" (1902); Goguel, "L'apôtre Paul et Jésus-Christ" (Paris, 1904); Julicher, "Paulus und Jesus" (1907).



    Paul and Christ

    Paulus and Kristus

    Pertanyaan ini punya dua fase berbeda. Menurut pengikut utama dari Sekolah Tübingen, sang Rasul hanya punya pengetahuan yang samar-samar tentang kehidupan dan ajaran Kristus historis dan bahkan [sang Rasul] meganggap pengetahuan [yang samar itu] inferior dan tidak berguna. Satu-satunya bukti mereka adalah ayat yang di-salah-tafsirkan: "Et si cognovimus secundum carnem Christum, sed nunc jam novimus" (2 Korintus 5:16). Lawan [dari Sekolah Tübingen] menunjukkan bahwa ayat ini tidak membedakan antara Kristus historis dan Kristus Mulia, tapi antara Mesiah sebagaimana diyakini para Yahudi atau para Judaizer tertentu, dan Mesiah sebagimana dijelmakan dalam diriNya sendiri dalam Kematian dan KebangkitanNya, dan sebagimana di-ikrar-kan oleh Paulus yang telah bertobat. Tidaklah bisa diterima ataupun tidaklah bisa dimungkinkan bahwa Paulus akan tidak tertarik akan kehidupan dan khotbah akan Dia, yang amat dicintainya, yang dijadikan suri tauladan bagi pengikutbarunya, dan yang jiwaNya dibanggakan sebagai telah dimilikinya [ie. Paulus]. Cukup luar biasa bahwa Paulus tidak bertanya mengenai subyek tersebut [ie. kehidupan Kristus] terhadap saksi-mata seperti Barnabas, Silas atau St. Markus dan Lukas yang nantinya menjadi sejarahwan akan Kristus [ie. karena mereka menulis injil], dimana mereka-mereka ini kenal lama dengan Paulus. Penelitian yang hati-hati atas subyek ini telah menghasilkan tigak kesimpulan yang sekarang dianggap sebagai kesepakatan umum:


      * Pada Santo Paulus ada lebih banyak acuan terhadap kehidupan dan ajaran Kristus daripada diduga awalnya, dan bagaimana kasualnya [acuan tersebut] tertunjukkan [dari pengajaran Paulus] menunjukkan bahwa sang Rasul tahu lebih banyak mengenai subyek tersebut [ie. mengenai kehidupan Kristus] daripada apa yang sempat dia katakan kepada orang lain.
      * Acuan ini lebih sering terlihat di [surat] St. Paulus daripada di Injil
      .
      * Sejak jaman Apostolik sudah ada katekisasi yang membahas, diantara banyak hal, kehidupan dan ajaran Krisus. Dan karena semua pengikut baru seharusnya mempunyai kopi [materi katekisasi], maka tidaklah perlu untuk merujuk kepada [kopi-an tersebut] kecuali kadang-kadang dan sambil lalu.

    Fase kedua dari pertanyaan tersebut berhubungan dengan yang petama. Para teolog yang sama, yang berpendapat bahwa Paulus indifferen tehadap kehidupan duniawai dan ajaran Yesus, dengan sengaja melebih-lebihkan ke-orisinalitas dan pengaruh St. Paulus. Menurut mereka Paulus adalah pencipta teologi, pendiri Gereja, pengkhotbah aschetism, pembela sakramen dan pembela sistem gerejjawi, lawan dari agama kasih dan kebebasan yang dikumandangkan Kristus kepada dunia. Kalau, untuk memberi penghormatan, dia disebut sebagai pendiri dari ke-Kristen-an kedua, maka ini pastilah sebuah ke-Kristen-an yang ter-degenerasi dan berbeda karena [ke-Kristen-an kedua ini], paling tidak secara parsial, bertentangan dengan Ke-Kristen-an primitif. Karena semua ini Paulus dibuat bertanggungjawab atas semua antipati terhadap pemikiran modern pada Ke-Kristen-an tradisional.

    Hal diatas, dalam jangkauan yang luas, merupakan awal dari gerkan "Kembali ke Kristus," yang merupakan pengembaraan yang aneh yang sekarang kita saksikan. Alasan utama kembali ke Kristus adalah untuk lepas dari Paulus, sang muasal dogma, sang teolog iman. Teriakan Zuruck zu Jesu" yang dikumandangkan di Jerman 30 tahun yang lalu, diilhami oleh suatu motif tersembunyi, yaitu "Los von Paulus." Masalanya adalah: apakah hubungan Paulus kepada Kristus adalah suatu hubungan murid kepada gurunya? Atau dia benar-benar belajar sendiri [tentang Kristus], independen dari Injil Kristus dan khotbah ke-duabelas rasul? Harus diakui bahwa kebanyakan karya tulis yang dipublikasikan hanya memberi sedikit terang terhadap masalah ini. Namun diskusi tersebut tidak pernah tidak berguna, karena [diskusi tersebut] telah menunjukkan bahwa ajaran yang paling berkarakteristik Paulus, seperti iman yang membenarkan, kematian Kristus yang menebuskan, universalitas keselamatan, adalah [doktrin] yang sesuai degan tulisan para Rasul pertama, dimana sebenarnya justru dari para rasul-lah doktrin Paulus didapatkan. Julicher, khususnya, telah menunjukkan bahwa Kristologi Paulus, yang lebih tinggi daripada teman-teman para Rasul, tidak pernah menjadi obyek kontroversi dan Paulus tidak pernah merasa sendirian di kalangan pewarta Injil lainnya. Bdk. Morgan, "Back to Christ" in "Dict. of Christ and the Gospels", I, 61-67; Sanday, "Paul", loc. cit., II, 886-92; Feine, "Jesus Christus und Paulus" (1902); Goguel, "L'apôtre Paul et Jésus-Christ" (Paris, 1904); Julicher, "Paulus und Jesus" (1907).



Singkatnya, pendapat bahwa "ajaran Paulus itu meragukan karena dia tidak pernah bertemu Yesus" adalah pendapat yang tidak berdasar dan tidak didukung oleh paralelitas tulisan Paulus dengan Injil dan surat rasul lainnya.

Quote:
Saya benar-benar berharap Katolik bisa semakin menegaskan ajaran-ajaran gereja yang masih murni dengan lugas. Semoga harapan saya bukan hanya sekedar harapan. Ada teman kristen yang berkata bahwa agama2 samawi itu agama afeksi, sementara agama2 "bedawi" itu agama2 rasio. Saya tidak bisa menerima hal tersebut, Katolik pun harus bisa mencakup rasio.


Di Injil Yohanes 1:1 dikatakan: "pada awalnya adalah logos. Logos ini bersama-sama dengan Allah dan sang logos adalah Allah."

Logos adalah istilah Filsafat Yunani yang digunakan Rasul Yohanes. Dalam Filsafat Yunani Logos juga mempunyai arti "rasio" atau "kebijaksanaan."

Gereja Katolik selalu menekankan pentingnya rasio. Namun disisi lain, Gereja juga mengatakan bahwa ada hal-hal yang diluar rasio ("a-rational" bukannya "ir-ratioal" [alias bertentangan dengan rasio]).

Lagipula, tidak ada yang namanya pembedaan "afeksi vs rasio." Tidak tahu pula atas dasar apa ada pengkategorian semacam itu.


Quote:
Oke lah, saya sedang berusaha melempar bola panas kepada saudara-saudari seiman sekalian. Supaya umat Katolik tidak terlalu nyaman dengan apa yang ada saat ini dan jadi berani melihat ke luar. Jangan sampai kejadian dengan Galileo Galilei terulang kembali dan menjadi bahan lelucon umat-umat agama lain ke Katolik.


Apakah sudah pernah benar-benar membaca kisah Gallileo? Bukannya mendengar dari si A atau si B atau si C. Bukannya membaca dari sumber yang tidak jelas kredibilitasnya.

Sudah pernah?

Faktanya Gallileo itu memang terbukti salah karena hitung-hitungan matematis yang dia tunjukkan TIDAK BISA membuktikan bahwa Matahari adalah pusat alam semesta. Namun dia ngotot. Dan kengototan ini dikarenakan ego. Sebagai akibatnya, dia malah meremehkan otoritas Gereja dan menghina Paus yang menjadi temannya.

Apa pernah dengar fakta ini? Tidak pernah kan? Karena cerita ini kurang seru dibanding cerita kalau Gereja yang jahat dan anti-science menghukum Gallileo si pahlawan science.

Tapi seringkali yang benar itu justru yang biasa-biasa saja, bukan yang heboh.

Quote:
Kalian pernah membaca nggak tentang pernyataan Einstein bahwa: bahwa agama masa depan itu ... bla bla bla (silahkan cari sendiri, soalnya saya lupa Ketawa ) ... dan bahwa agama yang mencakup semua itu adalah agama Buddha. Umat Buddhist bangga loh dengan pernyataan "satu-satunya orang yang diketahui telah menggunakan 4% dari keseluruhan kemampuan otaknya", sementara manusia pada umumnya hanya menggunakan 1% saja.


Buddha itu bukan agama, tapi sebuah filosofis atheistis.

Lagipula, omong kosong kalau manusia itu hanya menggunakan 1% kemampuan otak. Sebagai bukti, coba otak manusia di ambil sedikit saja. Pasti setelah itu si manusia akan menjadi tidak normal. Entah saraf motorik yang bagian kaki yang tidak berfugsi, atau kemampuan kognitifnya hilang, atau kemampuan berbicaranya terhambat, atau ingatan jangka pendeknya lenyap, atau ingatan jangka panjangnya yang hilang dll. Aku tidak pernah percaya pseudo-science modern yang bilang bahwa manusia itu hanya menggunakan 10% kemampuan otak karena faktanya, kalo otak kita rusak sedikit saja, pasti kita menjadi tidak normal.

Quote:
Apakah Katolik bisa menjadi "agama masa depan"? Atau satu demi satu orang-orang akan meninggalkan Katolik dan beralih ke agama lain? Dengan alasan apa kita bisa meyakinkan mereka bahwa Katolik memang lebih unggul dan "benar"? Lah, kalo ditanyai mengenai sesuatu yang berbau pengetahuan saja jawabnya "percayalah pada imanmu!"?


Yesus memberi tugas kepada murid-murid-Nya untuk menyebarkan ajaranNya dimana Dia akan menyertai mereka dalam tugas ini sampai akhir jaman (Mat 28:20), ini berarti sampai akhir jaman, agama yang benar adalah agama yang dibawa Yesus, yaitu agama Katolik ini.

Quote:
Ada seorang penulis muslim di Timur Tengah (entah dimana itu) yang menulis buku yang menentang konsep evolusi. Bahkan pemerintah sana memasukkan ke dalam kurikulum sekolah. Baru saja saya menarik napas dalam-dalam dan membantin: untung bukan Katolik yang melakukan pembodohan seperti ini, eh saya nemu buku tipis yang isinya sama dan penulisnya adalah seorang Kristen Nangis deh


Evolusi itu adalah sebuah "teori."

"Teori Evolusi."

Suatu "teori" itu diyakini karena pada saat tertentu mampu menjelaskan banyak fenomena tertentu.

Kalau ada teori yang lebih mampu menjelaskan dengan baik, maka teori yang lama akan diganti yang baru.

Teori Evolusi sendiri punya banyak kelemahan sehingga tidak bisa dan memang tidak pernah dianggap sebagai sesuatu yang sudah pasti.

Oleh karena itu, kalau kita ingin bersikap rasional, maka tidaklah salah untuk kritis terhadap teori ini. Siapa tahu teori ini salah.

Quote:
Semoga saudara-saudari sekalian memahami harapan saya good Job


Mungkin dengan belajar lebih banyak, harapan itu akan membantu. Forum ini bisa digunakan untuk itu.
_________________
Mohon doa saudara-saudari
Back to top
View user's profile Send private message
karunia



Joined: 19 Jul 2011
Posts: 621
Location: Surabaya

PostPosted: Wed, 18-12-2013 8:14 am    Post subject: Reply with quote

Tony wrote:


Bila memang kamu menggunakan logika, tolong jelaskan logika reinkarnasi mengapa populasi dunia tidak sama? Bukankah manusia lahir kembali dan diulang seterusnya. Bagaimana mungkin jumlah populasi bertambah? Bila terdapat 100 manusia dulu, tentu hari ini dengan reinkarnasi jumlah manusia juga sama karena yg mati lahir lagi dalam tubuh baru dst tanpa habisnya.


Ini tidak bisa digunakan sebagai logika pembanding untuk melawan konsep reinkarnasi. Sebab mereka meyakini dunia tempat makhluk hidup tidak hanya bumi ini. Reinkarnasi juga bukan hanya kembali menjadi manusia. Ditambah lagi tidak hanya lahir di bumi ini.

Saya hanya mengutip perbandingan dari Sdr Tony, itu tidak bisa dipakai untuk mendebat. Mengenai ketidakmasuk akal an reinkarnasi yang lain , saya tidak membahasnya.
_________________
Selalu bersyukur
Back to top
View user's profile Send private message
DeusVult
Evangelos


Joined: 10 Feb 2004
Posts: 10848
Location: Orange County California

PostPosted: Wed, 18-12-2013 10:35 am    Post subject: Reply with quote

karunia wrote:
Tony wrote:


Bila memang kamu menggunakan logika, tolong jelaskan logika reinkarnasi mengapa populasi dunia tidak sama? Bukankah manusia lahir kembali dan diulang seterusnya. Bagaimana mungkin jumlah populasi bertambah? Bila terdapat 100 manusia dulu, tentu hari ini dengan reinkarnasi jumlah manusia juga sama karena yg mati lahir lagi dalam tubuh baru dst tanpa habisnya.


Ini tidak bisa digunakan sebagai logika pembanding untuk melawan konsep reinkarnasi. Sebab mereka meyakini dunia tempat makhluk hidup tidak hanya bumi ini. Reinkarnasi juga bukan hanya kembali menjadi manusia. Ditambah lagi tidak hanya lahir di bumi ini.


Logika ini justru tepat untuk membuktikan kekeliruan reinkarnasi.

Sebelum Bumi terbentuk populasi Bumi adalah nol. Sekarang jumlah manusianya saja sudah 7 milliar lebih. Belum binatangnya.

Kalaupun di bagian lain semesta ada kehidupan, berarti populasi mereka juga harus berkurang 7 milliar plus.

Padahal di mana di bagian semesta yang ada populasi 7 milliar plus?
_________________
Mohon doa saudara-saudari
Back to top
View user's profile Send private message
okkisafire



Joined: 04 Dec 2013
Posts: 14

PostPosted: Wed, 18-12-2013 11:13 am    Post subject: Reply with quote

@DeusVeus: semoga bisa memberi saya pengetahuan mengenai cara pemilihan kitab2 kanon Katolik. Mungkin jika saya menerima informasi dari sumber2 yang salah, saya berharap dapat segera diluruskan.

Untuk masalah Rasul Paulus, saya pribadi tidak mempermasalahkan beliau pernah bertemu Yesus atau tidak. Saya percaya "pertemuan" mereka selama tiga hari itu sudah cukup banyak berarti. Tapi saya berterima kasih mendapat informasi baru mengenai Universitas Tübingen itu. Smile

Tapi untuk masalah lain2, saya denganj terpaksa tidak menyetujui.
1. Galileo Galilei sebenarnya bukanlah pencetus paling mula2 mengenai teori heliosentris, dan apapun itu perhitungan matematika yang ia buat sebenarnya sudah mendekati. Tapi saya tidak mau memperdebatkan masalah ini, karena selain sudah keluar dari topik, juga sudah jelas sekarang bahwa memang bumi memutari matahari.
2. Yang dimaksud dengan 1% itu adalah "kemampuan otak"nya, bukan otaknya secara fisik sendiri. Itulah sebabnya ada yang disebut alam bawah sadar, mimpi, ngelindur, dsb. Mungkin yang mempelajari psikologi bisa menjelaskan lebih lanjut, saya merasa tidak berhak membahas masalah ini lebih mendalam karena saya hanya belajar psikologi secara otodidak.
3. Mengenai buku yang ditulis seorang muslim tersebut, sebaiknya anda membaca sendiri sehingga bisa menilai sendiri. Hanya saja, pendapat saya pribadi, itu sama saja mengajak manusia kembali ke peradaban zaman batu.

Nah, jika mau membahas mengenai "jumlah populasi", saya sangat setuju dengan Sdr Karunia bahwa ITU SAMA SEKALI TIDAK BISA DIGUNAKAN. Masalahnya:
1. Mereka mengakui bahwa ada planet2 lain selain bumi yang memiliki kehidupan seperti di bumi.
2. Dalam teori reinkarnasi, manusia bisa jadi hewan, atau dewa, naik turun naik turun berdasarkan kebaikan dan keburukan yang mereka lakukan selama hidup.
3. Kalau mau berbantah soal jumlah, saya juga pernah dihina lo mengenai kapasitas Surganya Kristen yang luar biasa besar sampai semua kehidupan di bumi dari awal penciptaan sampai akhir kiamat nanti bisa muat (oke lah kita bisa membantah hal tersebut, tapi mereka nggak bakal mau menerima alasan2 kita sebagaimana kalau kita ngotot pakai sanggahan jumlah populasi yang disampaikan sdr Andy)

Ini sama seperti kalau kita biasa makan sup ayam dan nggak pernah makan rawon. Begitu melihat rawon, kita bakal bicara: hih, kuahnya hitam gitu, kuahnya banyak lemaknya gitu, namanya masakan berkuah harusnya pakai ayam bukan pakai sapi, mana enak masakan berkuah dikasih serai? (dsb dsb) Bakal menjadi debat kusir yang tidak ada putusnya. Jika mau tau, silahkan cicipi rawonnya, baru komentar. Jangan kuatir mencicipi, sampai saat ini saya berkecimpung masuk blusukan, iman saya masih tetap kokoh kok, nggak goyah.

Yang paling membuat saya cinta dengan Katolik itu adalah Kasih yang diajarkan, yang tidak bisa ditandingi oleh agama2 lain (apapun sanggahan mereka, saya tetap merasakan bahwa Kasih di Katolik adalah yang paling besar). Maaf, tapi kok saya kurang merasakan semangat kasih tersebut di forum ini, setelah saya membaca2 thread2 yang ada Smile Saya tidak kecewa, malah saya gunakan hal ini sebagai "rem" bagi pribadi saya.
Back to top
View user's profile Send private message
DeusVult
Evangelos


Joined: 10 Feb 2004
Posts: 10848
Location: Orange County California

PostPosted: Wed, 18-12-2013 3:29 pm    Post subject: Reply with quote

okkisafire wrote:
@DeusVeus: semoga bisa memberi saya pengetahuan mengenai cara pemilihan kitab2 kanon Katolik. Mungkin jika saya menerima informasi dari sumber2 yang salah, saya berharap dapat segera diluruskan.


Kalo ada yang mau ditanyakan, silahkan.

Quote:
Tapi untuk masalah lain2, saya denganj terpaksa tidak menyetujui.
1. Galileo Galilei sebenarnya bukanlah pencetus paling mula2 mengenai teori heliosentris, dan apapun itu perhitungan matematika yang ia buat sebenarnya sudah mendekati. Tapi saya tidak mau memperdebatkan masalah ini, karena selain sudah keluar dari topik, juga sudah jelas sekarang bahwa memang bumi memutari matahari.


Yang pertama mencetuskan teori Heliosentris adalah Nicolaus Copernicus. Copernicus adalah seorang pengacara hukum kanon Gereja.

Nah, kenapa Copernicus tidak dihukum tapi Galileo dihukum? Kalau memang Gereja jaman dulu anti terhadap teori Heliosentris mestinya kedua-duanya dihukum bukan?

Yang membedakan adalah, Copernicus tahu bahwa teorinya itu tidak didukung bukti matematis yang kuat. Dia pun tidak meng-klaim kebenaran teorinya sambil meremehkan otoritas Gereja. Galileo bertindak sebaliknya. Maka dia dihukum.

Jaman sekarang kita dengan mudah berkata bahwa bumi itu mengelilingi matahari. Tapi pada jaman dulu, saat teloskop belum canggih, saat ilmu matematika masih belum berkembang, maka menurut segala pengamatan yang ilmiah, Matahari-lah yang mengelilingi Bumi, bukan sebaliknya.

Sebagai ilmuwan Copernicus paham akan keterbatasan seorang ilmuwan. Makanya dia tidak melakukan conjecture (berkesimpulan melebihi dari data yang ada). Sementara Galileo yang juga seorang ilmuwan, tidak mengindahkan metode ilmiah meski teorinya tidak didukung data dan perhitungan. Galileo mengkhianati jiwa ilmiah seorang ilmuwan.

Ada fakta menarik. Dasar matematika yang digunakan dalam perhitungan pengorbitan satelit Apollo, masih menggunakan dasar matematis yang berpatokan bahwa bumi adalah pusat semesta.

Quote:
2. Yang dimaksud dengan 1% itu adalah "kemampuan otak"nya, bukan otaknya secara fisik sendiri. Itulah sebabnya ada yang disebut alam bawah sadar, mimpi, ngelindur, dsb. Mungkin yang mempelajari psikologi bisa menjelaskan lebih lanjut, saya merasa tidak berhak membahas masalah ini lebih mendalam karena saya hanya belajar psikologi secara otodidak.


Di wikipedia ada entry yang membahas tentang mitos bahwa manusia hanya menggunakan 10% kemampuan otaknya:

http://en.wikipedia.org/wiki/Ten_percent_of_brain_myth

Memang wikipedia adalah ensiklopedi umum yang bisa di-edit setiap orang. Tapi kita bisa memverifikasi kebenarannya dengan merujuk kepada catatan kaki yang disediakan para penulisnya. Kita juga bisa melihat sumber-sumber eksternal yang link-nya disediakan di entry tersebut.

Quote:
3. Mengenai buku yang ditulis seorang muslim tersebut, sebaiknya anda membaca sendiri sehingga bisa menilai sendiri. Hanya saja, pendapat saya pribadi, itu sama saja mengajak manusia kembali ke peradaban zaman batu.


Aku tidak tahu buku yang mana yang dimaksud.

Dewasa ini banyak buku yang mengandung tulisan aneh-aneh yang kelihatannya masuk akal. Sebaiknya berhati-hati.

Quote:
Nah, jika mau membahas mengenai "jumlah populasi", saya sangat setuju dengan Sdr Karunia bahwa ITU SAMA SEKALI TIDAK BISA DIGUNAKAN. Masalahnya:
1. Mereka mengakui bahwa ada planet2 lain selain bumi yang memiliki kehidupan seperti di bumi.
2. Dalam teori reinkarnasi, manusia bisa jadi hewan, atau dewa, naik turun naik turun berdasarkan kebaikan dan keburukan yang mereka lakukan selama hidup.
3. Kalau mau berbantah soal jumlah, saya juga pernah dihina lo mengenai kapasitas Surganya Kristen yang luar biasa besar sampai semua kehidupan di bumi dari awal penciptaan sampai akhir kiamat nanti bisa muat (oke lah kita bisa membantah hal tersebut, tapi mereka nggak bakal mau menerima alasan2 kita sebagaimana kalau kita ngotot pakai sanggahan jumlah populasi yang disampaikan sdr Andy)


1. Planet lainnya itu dimana? Dimana ada planet lain yang punya kehidupan sejumlah 7 milliar lebih? Kalo ada planet seperti itu, pasti planet itu mirip bumi dan akan sangat mencolok. Tapi nyatanya sejak jaman eksplorasi luar angkasa sampai sekarang yang sudah puluhan tahun, belum pernah ditemukan planet yang bahkan ada kehidupannya, apalagi kehidupan mirip bumi. Bisa saja kita ngotot bilang "oh ada" tapi kengototan ini bertentangan dengan observasi ilmiah dan cuma sekedar ngotot tanpa didasari bukti.

2. Pada jaman dhulu kala, saat bumi masih dingin, SAMA SEKALI TIDAK ADA KEHIDUPAN. Manusia tidak ada, hewan tidak ada, tumbuhan tidak ada, bahkan kuman dan bakteri tidak ada. Tapi sekarang ini jumlah manusia saja sudah mencampai 7 milliar lebih belum termasuk hewan, tumbuhan, virus dan bakteri. Lalu ini semua datang dari mana?

Belum lagi kalau kita mengingat yang namanya atomic winter yaitu periode dimana ada meteor besar yang menabrak bumi yang mengakibatkan debu hasil tabrakan itu menutupi bumi sehingga matajari tidak bisa menyinari permukaan bumi selama bertahun-tahun. Pada periode ini semua makhluk (manusia belum ada) termasuk bakteri dan virus mati semua karena tiadanya sinar matahari yang membuat bumi dingin sekali. Lalu jiwa makhluk yang mati ini kemana?

3. Mengenai kapasitas surga. Surga adalah sebuah tempat yang bukan suatu ruangan. Jadi memang tidak ada batas di Surga.

Quote:
Ini sama seperti kalau kita biasa makan sup ayam dan nggak pernah makan rawon. Begitu melihat rawon, kita bakal bicara: hih, kuahnya hitam gitu, kuahnya banyak lemaknya gitu, namanya masakan berkuah harusnya pakai ayam bukan pakai sapi, mana enak masakan berkuah dikasih serai? (dsb dsb) Bakal menjadi debat kusir yang tidak ada putusnya. Jika mau tau, silahkan cicipi rawonnya, baru komentar. Jangan kuatir mencicipi, sampai saat ini saya berkecimpung masuk blusukan, iman saya masih tetap kokoh kok, nggak goyah.


Ini adalah perbandingan yang keliru. Rawon dan sup ayam adalah masalah selera yang subyektif. Sementara kebenaran ilmiah (contohnya, bahwa manusia tidak menggunakan 10% saja dari kapasitas otaknya)), sejarah (contohnya, bahwa Galileo memaksakan pendapatnya meski kesimpulannya tidak didukung data matematis) dan logika (contoh, jumlah kehidupan di bumi yang terus bertambah) adalah kebenaran yang sifatnya obyektif.

Quote:
Yang paling membuat saya cinta dengan Katolik itu adalah Kasih yang diajarkan, yang tidak bisa ditandingi oleh agama2 lain (apapun sanggahan mereka, saya tetap merasakan bahwa Kasih di Katolik adalah yang paling besar). Maaf, tapi kok saya kurang merasakan semangat kasih tersebut di forum ini, setelah saya membaca2 thread2 yang ada Smile Saya tidak kecewa, malah saya gunakan hal ini sebagai "rem" bagi pribadi saya.


Sudah membaca ensiklik Paus Benediktus XVI yang berjudul "Kasih dalam kebenaran" atau "Caritas in veritate?"

Tema dari ensiklik itu adalah bahwa kasih sejati itu selaras dengan kebenaran. Kasih yang tidak selaras dengan kebenaran adalah ilusi atau khayalan.

Nah, kebenaran itu kadang menyakitkan. Maka dari itu, kasih itu kadang menyakitkan. Bagaikan ibu yang dengan kasih memegang si anak yang meronta-ronta karena sedang disuntik vaksin oleh dokter.

Pemikiran bahwa "kasih" itu adalah "yang enak-enak saja" merupakan pemikiran salah jaman ini yang sebaiknya tidak dianut.


Edit:

Berikut satu kutipan dari ensiklik Caritas in Veritate oleh Paus Benedictus XVI:

    3. Through this close link with truth, charity can be recognized as an authentic expression of humanity and as an element of fundamental importance in human relations, including those of a public nature. Only in truth does charity shine forth, only in truth can charity be authentically lived. Truth is the light that gives meaning and value to charity. That light is both the light of reason and the light of faith, through which the intellect attains to the natural and supernatural truth of charity: it grasps its meaning as gift, acceptance, and communion. Without truth, charity degenerates into sentimentality. Love becomes an empty shell, to be filled in an arbitrary way. In a culture without truth, this is the fatal risk facing love. It falls prey to contingent subjective emotions and opinions, the word “love” is abused and distorted, to the point where it comes to mean the opposite. Truth frees charity from the constraints of an emotionalism that deprives it of relational and social content, and of a fideism that deprives it of human and universal breathing-space. In the truth, charity reflects the personal yet public dimension of faith in the God of the Bible, who is both Agápe and Lógos: Charity and Truth, Love and Word.


    3. Melalui hubungan dekat ini kasih dapat dikenali sebagai sebuah ekspresi otentik dari kemanusiaan dan sebagai sebuah unsur yang sangat penting secara fundamental dalam hubungan manusia, termasuk yang bersifat publik. Hanya dalam kebenaran-lah kasih bersinar terang, hanya dalam kebenaran kasih dapat dihidupi secara otentik. Kebenaran adalah terang yang memberi makna dan nilai kepada kasih. Terang itu adalah terang rasio dan terang iman, yang melaluinya intelek mendapatkan kebenaran kodrati dan adikodrati dari kasih: [intelek] menggapai makna [kasih] sebagai karunia, penerimaan dan persekutuan. Tanpa kebenaran, kasih merosot kepada sentimentalitas. Cinta menjadi sebuah cangkang kosong, yang akan diisi secara asal-asalan. Dalam sebuah budaya tanpa kebenaran, inilah resiko fatal yang dihadapi cinta. Cinta menjadi mangsa dari emosi-emosi dan opini-opini subyektif yang kontingen, kata "cinta" dilecehkan dan didistorsi, sampai pada titik dimana [kata itu] bermakna sebaliknya. Kebenaran membebaskan kasih dari kekang sebauh emosionalisme yang mereduksinya dari kandungan relasional dan sosial, dan [juga membebaskan dari] sebuah fideisme yang mereduksinya dari jeda napas manusia dan universal. Dalam kebenaran, kasih merefleksikan iman, yang personal tapi [juga] memiliki dimensi publik, atas Allah dari Kitab Suci yang adalah Agápe dan Lógos: Kasih dan Kebenaran, Cinta dan Firman.

_________________
Mohon doa saudara-saudari
Back to top
View user's profile Send private message
okkisafire



Joined: 04 Dec 2013
Posts: 14

PostPosted: Thu, 19-12-2013 2:21 pm    Post subject: Reply with quote

DeusVult wrote:

Nah, kenapa Copernicus tidak dihukum tapi Galileo dihukum? Kalau memang Gereja jaman dulu anti terhadap teori Heliosentris mestinya kedua-duanya dihukum bukan?


Pertanyaannya keliru: dasar apa yg digunakan Gereja Katolik untuk menghukum? Untuk menjadi lbh baik, bukan dg cara melihat kesalahn org lain, tp melihat ke dalam, ke diri sendiri.

Quote:

Sebagai ilmuwan Copernicus paham akan keterbatasan seorang ilmuwan. Makanya dia tidak melakukan conjecture (berkesimpulan melebihi dari data yang ada). Sementara Galileo yang juga seorang ilmuwan, tidak mengindahkan metode ilmiah meski teorinya tidak didukung data dan perhitungan. Galileo mengkhianati jiwa ilmiah seorang ilmuwan.


Pernyataan di atas termasuk pendapat atau data? Soalnya, menilik dr pembahasan yg anda lakukan selama ini, anda termasuk org yg tidak menyukai pendapat rasional yg tdk didukung data.

Quote:

Ada fakta menarik. Dasar matematika yang digunakan dalam perhitungan pengorbitan satelit Apollo, masih menggunakan dasar matematis yang berpatokan bahwa bumi adalah pusat semesta.


Lah saya sama sekali tidak heran, itu yg disebut perhitungan berlandaskan relativitas! Lah Apollo berangkatnya dari bumi kok, bukan matahari. Itu yg disebut perhitungan geosentris, dan saya pernah melihat pola relatif pergerakan planet-planet jika dipandang dr sudut bumi.

Quote:

Di wikipedia ada entry yang membahas tentang mitos bahwa manusia hanya menggunakan 10% kemampuan otaknya:

http://en.wikipedia.org/wiki/Ten_percent_of_brain_myth


Kalau begitu saya termasuk salah satu yang termakan "urban legend". Seseorang tidak mungkin bisa merasakan suatu kejadian jika tidak mengalaminya sendiri. Dan para ilmuwan bukanlah para biarawan yg mengalami sendiri. Bisa jadi sudut pandang yang diambil juga berbeda. Saya boleh to berandai-andai demikian? Yang ditulis ilmuwan Berry Berry itu kan juga teori. Jujur, saya suka wikipedia.

Quote:

1. Planet lainnya itu dimana? Dimana ada planet lain yang punya kehidupan sejumlah 7 milliar lebih? Kalo ada planet seperti itu, pasti planet itu mirip bumi dan akan sangat mencolok. Tapi nyatanya sejak jaman eksplorasi luar angkasa sampai sekarang yang sudah puluhan tahun, belum pernah ditemukan planet yang bahkan ada kehidupannya, apalagi kehidupan mirip bumi. Bisa saja kita ngotot bilang "oh ada" tapi kengototan ini bertentangan dengan observasi ilmiah dan cuma sekedar ngotot tanpa didasari bukti.


Butuh berapa ratus (eh salah, harusnya berapa RATUS RIBU tahun) bagi manusia utk tahu bahwa bumi itu mengelilingi matahari? Ya ini yg saya maksud dengan kejadian Galileo Galilei. Selama ga ada info baru, Gereja Katolik angkat kaki santai-santai menikmati keadaan yg sudah dibentuk, disusun rapi, teratur, oleh diri sendiri. Tapi kalau sudah kepentok, bingung berubah dan mengatur supaya pengetahuan selaras dengan isi Alkitab. Malu lah!

Quote:

2. Pada jaman dhulu kala, saat bumi masih dingin, SAMA SEKALI TIDAK ADA KEHIDUPAN. Manusia tidak ada, hewan tidak ada, tumbuhan tidak ada, bahkan kuman dan bakteri tidak ada. Tapi sekarang ini jumlah manusia saja sudah mencampai 7 milliar lebih belum termasuk hewan, tumbuhan, virus dan bakteri. Lalu ini semua datang dari mana?


Maaf, zaman dahulu bumi itu LUAR BIASA PANAS sampai uap air sebagian terlempar ke luar angkasa karena tdk mampu ditahan gravitasi bumi. Justru pertanyaan anda itu yg digunakan teman non Katolik utk menanyai saya: "Surgamu muat ya menampung sebegitu banyak". Lah, memang scr Katolik jawabannya semua itu dr Bapa kok. Kalo mrk ya enak, bilang kalo kesadaran itu berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Quote:

Belum lagi kalau kita mengingat yang namanya atomic winter yaitu periode dimana ada meteor besar yang menabrak bumi yang mengakibatkan debu hasil tabrakan itu menutupi bumi sehingga matajari tidak bisa menyinari permukaan bumi selama bertahun-tahun. Pada periode ini semua makhluk (manusia belum ada) termasuk bakteri dan virus mati semua karena tiadanya sinar matahari yang membuat bumi dingin sekali. Lalu jiwa makhluk yang mati ini kemana?

Anda dari kemarin mati-matian menolak yang namanya teori, termasuk teori ada kehidupan di luar bumi. Lah skrg kok pake "teori meteor". Itu lo termasuk salah satu teori kemusnahan dinosaurus selain tanaman beracun, lahirnya mamalia, pertumbuhan terlalu besar, dsb. Hanya saja skrg jadi yg paling banyak diterima oleh ilmuwan. Jiwa yg mati ke mana? Itu jawabannya sudah diberikan di quote atas. Masalahnya, anda salah juga ngasih teori ini di sini, memangnya Kristiani percaya bahwa manusia bisa jadi hewan dan sebaliknya? Harusnya anda memasukkan peristiwa bottle neck 72ribu tahun sblm Masehi.

Quote:

3. Mengenai kapasitas surga. Surga adalah sebuah tempat yang bukan suatu ruangan. Jadi memang tidak ada batas di Surga.

Nah, saya akan memaksa anda utk menjelaskan lebih jauh: apa itu "sebuah tempat yang bukan suatu ruangan"? Itu tidak masuk akal lo scr ilmiah. Ini akibatnya kalau bicara ke spiritual, tp mencoba dibarengi rasio. Ke arah rasio, tp juga ditentang. Akhirnya separuh-separuh, bingung sendiri.

Quote:
Quote:
Ini sama seperti kalau kita biasa makan sup ayam dan nggak pernah makan rawon. Begitu melihat rawon, kita bakal bicara: hih, kuahnya hitam gitu, kuahnya banyak lemaknya gitu, namanya masakan berkuah harusnya pakai ayam bukan pakai sapi, mana enak masakan berkuah dikasih serai? (dsb dsb) Bakal menjadi debat kusir yang tidak ada putusnya. Jika mau tau, silahkan cicipi rawonnya, baru komentar. Jangan kuatir mencicipi, sampai saat ini saya berkecimpung masuk blusukan, iman saya masih tetap kokoh kok, nggak goyah.


Ini adalah perbandingan yang keliru. Rawon dan sup ayam adalah masalah selera yang subyektif. Sementara kebenaran ilmiah (contohnya, bahwa manusia tidak menggunakan 10% saja dari kapasitas otaknya)), sejarah (contohnya, bahwa Galileo memaksakan pendapatnya meski kesimpulannya tidak didukung data matematis) dan logika (contoh, jumlah kehidupan di bumi yang terus bertambah) adalah kebenaran yang sifatnya obyektif.


Bagaimana bisa keliru? Maksud perumpamaan saya: kalau kamu tidak tahu sendiri mengenai sesuatui, hanya mendengar saja tentang sesuatu itu, jangan kamu berani-berani mengambil kesimpulan atau ikut-ikutan pendapat yg kamu dengar tentang sesuatu itu. Buktikan sendiri dengan matamu, lidahmu, kulitmu, hidungmu, barulah berkomentar. Dari tadi soalnya yg dibahas itu membingungkan, mau dibawa ke arah ilmiah, tapi mentok ga berani kejauhan. Mau dibawa ke spiritual, eh masih bersinggungan sama ilmiah. Kebenaran obyektif apa? Bahkan manusia sampai sekarang tidak benar2 paham apa penyebab timbulnya jerawat. Makanya, saya sudah ngasih peringatan utk tidak berkenan membahas masalah2 yg OOT, tp tetap saja dibahas. Saya takutnya ya kayak begini ini akhirnya, malah bikin malu jika ada org non Katolik yg ikutan baca, kesannya kok Katolik itu picik. Yg berani dibaca apa yg ada di alkitab ato hasil keputusan Vatican saja, yg lain2 langsung saja dipukul sama rata dianggap takhyul mengada-ada.

Quote:

Sudah membaca ensiklik Paus Benediktus XVI yang berjudul "Kasih dalam kebenaran" atau "Caritas in veritate?"

Tema dari ensiklik itu adalah bahwa kasih sejati itu selaras dengan kebenaran. Kasih yang tidak selaras dengan kebenaran adalah ilusi atau khayalan.

Nah, kebenaran itu kadang menyakitkan. Maka dari itu, kasih itu kadang menyakitkan. Bagaikan ibu yang dengan kasih memegang si anak yang meronta-ronta karena sedang disuntik vaksin oleh dokter.

Pemikiran bahwa "kasih" itu adalah "yang enak-enak saja" merupakan pemikiran salah jaman ini yang sebaiknya tidak dianut.


Nah, berarti tindakan Kasih yang saya lakukan dg membuka threat ini adalah selaras dg tulisan Paus Benedictus XVI. Kalau saja saudara-saudari bisa melihat apa yang ada di luar, meskipun itu menyakitkan. Saya sudah mengalami sakit berkali-kali karena melihat ke luar, ditampar berkali2 di wajah saya, dr org non Katolik dan dari Katolik sendiri. Hingga saya sampai pada kesimpulan bahwa saya bisa merasakan Kasih paling besar itu dari Katolik, bukan dr tempat lain. Hanya karena saya berserah diri di bawah bimbingan Yesus sebagai Guru dan Tuhan, saya baru bisa melewati "badai" itu. Hanya saja, saya melihat kok dalam Gereja Katolik ada kesan harap2 cemas, semoga iptek tidak menemukan hal2 yg bertentangan dg iman Katolik. Kenapa Katolik tidak bisa dengan dada terbuka menyambut hal2 baru dengan penuh harapan? Saya sedih melihat hal ini terjadi di Katolik. Pihak Gereja begitu takut dg adanya penemuan2 baru. Jujur saja, saya juga takut dg penemuan "Makam Yesus" dan berharap itu SALAH.

Jadi, bisakah kita tidak keluar dari topik? Berbantahan spt ini tidak akan selesai. Saya mengambil istilah teman saya: kucing dan anjing yang bertengkar tdk akan menemukan titik temu. Saya mohon maaf karena saat menulis semua di atas, saya sedikit termakan emosi. Tp saya tidak akan menghilangkan tulisan saya yg sudah saya tulis sebelumnya Smile
Back to top
View user's profile Send private message
Tony
Evangelos


Joined: 20 Jan 2004
Posts: 4642
Location: Disini, ngga kelihatan apa?

PostPosted: Thu, 19-12-2013 2:50 pm    Post subject: Reply with quote

Weleh, konyol sekali argumentasinya, Lord please grant me patience.
_________________
Salam dan doa
F A Q
It fails to show just how the world is divided. Evil stands for division against unity. In union with God and His miracles I see my self everyday in the mirror. I am a miracle that science still is at it's heels glancing up a vast yet unacceptable impossibility, a climb to faith. Science can't and will never explain God, for science is only capable in calculating the calculable. How is science to measure anything outside of time and space that started time and space, how is the created to measure the creator? Science is an apathy of one who seeks his heart and yet refuse to see it,
Tony B Mat 12:32 Jangan membohongi diri!
Indonesia Katolik -Terjemahan Baru   © Ekaristi dot Org
Matius  12:32Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak.
Back to top
View user's profile Send private message
okkisafire



Joined: 04 Dec 2013
Posts: 14

PostPosted: Thu, 19-12-2013 3:03 pm    Post subject: Reply with quote

@DeusVeus: Semoga perbedaan kita bisa diselesaikan skrg juga Smile Jujur saja, saya merasa harus segera menyelesaikan perbedaan cara pandang ini skrg, drpd saya tidak bisa tidur nanti malam Ketawa Dan saya benar2 berharap spy pembicaraan selanjutnya bisa menjadi kondusif.

Soalnya saya kekurangan info mengenai ayat2 Alkitab. Saya sangat berharap bisa menemukannya melalui forum ini. Selama ini saya lbh banyak terlibat kegiatan pelayanan dan jujur, sangat kurang informasi biblis. Saya melihat bagaimana St Fransiskus Asisi yg semangat kasihnya begitu luar biasa (semoga tdk ada yang menganggap beliau gila karena memberikan ceramah kepada hewan), dan Paus Yohanes Paulus 2, serta Bunda Theresa yg bahkan dicintai oleh umat non Katolik.

Hingga SMP, saya spt kebanyakan Katolik, sll berpatokan pada St (waduh, kok tiba2 lupa namanya) yg berusaha mengetahui rahasia Tritunggal Mahakudus. Sampai SMA hingga skrg, saya memutuskan utk lbh aktif dlm tindakan nyata, berani melihat apa yg selama ini saya takut utk melihat, dan mendengar apa yg slama ini saya takut utk mendengar, krn saya takut iman saya mjd guncang. Dan memang, banyak yg guncang dan akhirnya meninggalkan Katolik krn mrk menemukan informasi yg tdk dapat disediakan oleh Gereja. Tp melalui doa, adorasi, dsb, saya tidak kehilangan iman saya, dan saya beranggapan bahwa slm ini Gereja hanya "belum tahu" saja. Utk itu, saya benar2 membutuhkan dasar biblis utk semakin menguatkan iman saya, dan saling menguatkan diantara rekan2 lain yg masih beriman kuat terhadap Katolik.

Saya akan memberi perumpamaan (bukan contoh nyata, krn saya anggap tabu utk ditulis di sini), mengenai apa yg kami temui. Seperti kami ini dihadapkan pada sebuah papan persegi yg ditopang 4 kaki pendek setinggi 50 cm. Krn tingginya seperti kursi yg biasa kita pakai, kami sebut saja itu "kursi". Saat org lain bilang itu "meja", kami tdk bisa terima. Tapi setelah melihat org lain benar2 menggunakannya sebagai meja, kami bisa ngomong apa lagi? Lah kenyataannya papan kayu berkaki 4 itu memang digunakan sbg meja kok. Shg kami menyadari bahwa kami tidak bisa memaksakan cara pandang kami kpd org lain, justru belajar utk melihat melalui sudut pandang org lain.

Pembahasan saya di forum ini akan saya pakai utk diskusi pribadi kami, utk saling menguatkan, dan lbh berpegang teguh dengan ajaran murni (atau resmi) Katolik. Jadi saya benar2 memohon spy diskusi di sini jangan sampai keluar dr topik, krn akan menyulitkan saya serta teman2 saya. Saya berharap agar diskusi di sini suasanya kondusif. Terima kasih dan mohon pengertiannya m(_._)m

Saat dlm pelayanan, saat dalam doa bersama, saat adorasi, kami merasakan kebahagiaan luar biasa. Kami anggap itu adalah cara Tuhan utk meningkatkan kasih dalam diri kami. Spt ucapan salah seorang anggota PMI: saat butuh darah, apa kita masih akan bertanya dulu itu darahnya Katolik apa bukan? Itu juga menjadi patokan bagi kami dalam melakukan pelayanan.
Back to top
View user's profile Send private message
okkisafire



Joined: 04 Dec 2013
Posts: 14

PostPosted: Thu, 19-12-2013 3:13 pm    Post subject: Reply with quote

Tapi jika tulisan-tulisan saya di sini dianggap terlalu "kasar", saya bisa menerima. Saya akan menarik diri dan menjadi penikmat secara pasif saja. Saya sering kok bertemu dengan orang-orang semacam saudara Tony di dunia nyata Smile , tapi lebih sering orang2 tersebut beragama Kristen sih, bukan Katolik. Jarang ada Katolik yang seperti itu.

Mohon segera diberi tanggapannya saja secara jujur. Jika memang "kasar" dan ditakutkan dapat merobohkan iman Katolik bagi yang membaca, saya lebih baik diam. Tidak banyak umat Katolik yang kuat, saya melihat sendiri hal tersebut. Menyakitkan melihat teman2 yang akhirnya keluar dan berpindah agama (karena mampu memberikan jawaban yang lebih memuaskan daripada Katolik).
Back to top
View user's profile Send private message
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Ruang Pengetahuan Dasar Iman Katolik All times are GMT + 6 Hours
Goto page: Previous Next
Page 2 of 3

Log in
Username: Password: Log me on automatically each visit

 
Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum


© Copyright Ekaristi Dot Org 2001 Running on phpBB really fast 2001, 2002 phpBB Group. Keluaran (Exodus) 20:1-17