FAQFAQ          Username: Password: Log me on automatically each visit

Misa untuk org katolik yg bunuh diri?    

 
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Ruang Pengetahuan Dasar Iman Katolik
View previous topic :: View next topic  
Author Message
paul2



Joined: 02 Nov 2006
Posts: 94
Location: Kepri

PostPosted: Wed, 19-06-2013 10:37 pm    Post subject: Misa untuk org katolik yg bunuh diri? Reply with quote

Ada umat di parokiku yang bunuh diri 2 hari yang lalu. Saya bertanya langsung ke Pastor dan beliau menjelaskan, "Bunuh diri merupakan dosa terhadap Roh Kudus sehingga orang tersebut sudah pasti masuk neraka, karena dia mengambil nyawa yang hanya boleh diambil oleh Tuhan."

Setelah itu, saya mencari di google dan mendapatkan artikel dari majalah Hidup.

m.hidupkatolik.com/index.php/2012/01/12/bolehkah-misa-requiem-untuk-orang-bunuh-diri

Saya berikan artikel tersebut ke pastor, dan beliau menjawab melalui SMS,

"Mat Malam, Paul2. Aku senang kamu bisa cari info soal pelayanan pemakaman bagi yang bunuh diri. Seingat saya, artikel jawaban itu mendapat teguran dari KWI dan Romonya tidak lagi dipakai untuk mengisi kolom itu. So jawaban dia hanya berdasarkan hukum gereja. Iman katolik masih berdasarkan Teologi, Biblis, Magisterium dan Tradisi Gereja. Panjang pengajarannya. Dan sampai saat ini, Gereja Katolik tidak pernah mengijinkan misa requiem dan bahkan ibadat sabda pemakaman bagi yang meninggal karna bunuh diri. hehehe..."

Pertanyaan saya, apa ajaran gereja yang benar mengenai hal ini?
Terima kasih semuanya.
Back to top
View user's profile Send private message
Benedetto



Joined: 11 Mar 2007
Posts: 92
Location: Depok

PostPosted: Thu, 20-06-2013 3:03 pm    Post subject: Reply with quote

Dari Kitab Hukum Kanonik tahun 1983 :

Kanon 1184
§ 1 Pemakaman gerejawi harus ditolak, kecuali sebelum meninggal menampakkan suatu tanda penyesalan, bagi :
1. mereka yang nyata-nyata murtad, menganut bidaah dan skisma;
2. mereka yang memilih kremasi jenazah mereka sendiri karena alasan yang bertentangan dengan iman kristiani;
3. pendosa-pendosa nyata (peccatores manifesti) lain yang tidak bisa diberi pemakaman gerejawi tanpa menimbulkan sandungan publik bagi kaum beriman.
§ 2 Jika ada suatu keraguan, hal itu hendaknya dikonsultasikan kepada ordinaris wilayah yang penilaiannya harus dituruti.

Kanon 1185
Bagi orang yang tidak boleh dimakamkan secara gerejawi, juga tidak boleh dipersembahkan misa pemakaman apapun.


Kalau pastor kepala paroki merasa ragu-ragu, maka keputusan akhir diserahkan kepada ordinaris wilayah. Kalau ordinaris wilayah ragu-ragu, maka keputusan akhir diserahkan kepada Takhta Suci.

Salah satu kasus bunuh diri seorang katolik yang jadi headline pada masanya adalah “Kecelakaan” Mayerling. Cerita ringkasnya kira-kira seperti ini :

Rudolf Franz Karl Joseph (Putra Mahkota Kekaisaran Austria, Kerajaan Hungaria, Bohemia, etc.) menikah dengan Stéphanie Clotilde Louise Herminie Marie Charlotte (Putri Belgia) pada tanggal 10 Mei 1880. Pernikahan mereka bukanlah pernikahan yang bahagia. Pada saat anak pertama mereka lahir, mereka sudah pisah ranjang. Rudolf Franz kemudian menjalin hubungan khusus dengan salah satu gundiknya, yaitu Marie Alexandrine (Baroness von Vetsera).

Karena pernikahannya yang tidak bahagia ini, Rudolf Franz bahkan sempat menulis surat kepada Paus Leo XIII supaya paus berkenan membatalkan pernikahannya (does it sounds familiar ?). Ayah Rudolf Franz, yaitu Franz Joseph Karl (Kaisar Austria, Raja Hungaria, Bohemia, etc.) sangat marah sekali dengan kelakuan anaknya sekaligus pewaris takhtanya. Franz Joseph memerintahkan anaknya itu untuk segera mengakhiri semua hubungan dengan para gundiknya dan kembali kepada keluarganya yang sah.

Stress dengan nasib pernikahannya, depresi dengan keinginan ayahnya, dan gila karena kemustahilan untuk bercerai maka pada akhirnya Rudolf Franz memutuskan untuk membunuh Marie Alexandrine dan membunuh dirinya sendiri pada tanggal 29 atau 30 Januari 1889 di sebuah rumah berburu milik kekaisaran di Mayerling.

Nah ... Sebenanya menurut ajaran dan hukum Ibu Gereja Katolik adalah mustahil seorang pelaku bunuh diri (apalagi ditambah dengan membunuh orang lain sesaat sebelum bunuh diri) bisa dimakamkan secara katolik dan mendapatkan misa requiem. Orang yang mati dalam keadaan berdosa melawan Roh Kudus otomatis pasti masuk neraka dan mendoakan jiwanya bukan hanya hal yang sia-sia tetapi juga melecehkan sabda Yesus Kristus sendiri.

Tetapi ... Hubungan baik antara Kekaisaran Austria-Hungaria dan Gereja Katolik ternyata bisa mengusahakan adanya celah hukum bagi “keselamatan jiwa” Rudolf Franz. Smile

Franz Josef membujuk Takhta Suci supaya anaknya itu bisa dimakamkan secara katolik dan mendapatkan misa requiem. Mengingat hubungan baik antara Kekaisaran Austria-Hungaria dan Gereja Katolik, maka Takhta Suci membuat pernyataan resmi bahwa Rudolf Franz melakukan pembunuhan dan bunuh diri dalam keadaan “ketidakseimbangan mental” (atau dalam bahasa sehari-hari : gila). Setelah pernyataan resmi dari Takhta Suci diumumkan, maka Rudolf Franz bisa dimakamkan secara katolik di Pemakaman Kekaisaran di bawah Gereja Santa Maria dari Para Malaikat di Vienna.

Setelah kejadian-kejadian ini, Franz Josef memerintahkan supaya rumah berburu milik kekaisaran di Mayerling diubah menjadi gereja biara. Gereja biara ini sekarang ditinggali oleh para biarawati Ordo Karmelit Tidak Berkasut. Para pengunjung di sini diwajibkan untuk memandang patung Santa Maria Bunda Allah dengan Hati Tidak Bernoda yang ditusuk belati. Wajah patung ini menggunakan wajah ibu Rudolf Franz (Elisabeth Amalie Eugenie, Kaisarina Austria, Ratu Hungaria, Bohemia, etc.) sebagai modelnya. Sampai hari ini pun, setiap hari para biarawati di situ selalu memanjatkan doa memohon belaskasih Allah bagi keselamatan jiwa Rudolf Franz.

Betapa beruntungnya lahir sebagai anak seorang kaisar. Ketawa Ngakak
Coba yang bunuh diri itu Tono dan Tini di sebuah gubuk sawah di tepi Sungai Cisangkuy. Nangis deh


Salam,
Smile
Back to top
View user's profile Send private message
paul2



Joined: 02 Nov 2006
Posts: 94
Location: Kepri

PostPosted: Sun, 23-06-2013 4:32 pm    Post subject: Reply with quote

dalam KHK 1985 yang sekarang berlaku, sebenarnya tidak ada peraturan yang eksplisit melarang pemakaman secara Katolik orang yang mati bunuh diri. Perlu diketahui bahwa dalam KHK 1917, memang ada larangan eksplisit untuk pemakaman gerejawi bagi mereka yang bunuh diri (KHK 1917 Kan 1240, #1, 3). Larangan eksplisit itu dihapuskan dalam KHK 1985 kita sekarang (KHK Kan 1184-1185). Penghapusan ini harus ditafsirkan sebagai kehendak Gereja untuk tidak serta-merta menilai orang yang bunuh diri sebagai orang yang dikategorikan tidak boleh menerima pemakaman gerejawi.

dan dari KGK 2283, tertulis jelas bahwa "Orang tidak boleh kehilangan harapan akan keselamatan abadi bagi mereka yang telah mengakhiri kehidupannya. Dengan cara yang diketahui Allah, Ia masih dapat memberi kesempatan kepada mereka untuk bertobat supaya diselamatkan. Gereja berdoa bagi mereka yang telah mengakhiri kehidupannya."

Di sini Gereja menyatakan bahwa kita harus tetap mempercayai Tuhan bisa memberikan kesempatan kepada orang yang bunuh diri untuk bertobat supaya diselamatkan. Jadi menurut saya, tidak boleh menghakimi seseorang sudah pasti masuk neraka.

Pendapat?
Back to top
View user's profile Send private message
DeusVult
Evangelos


Joined: 10 Feb 2004
Posts: 10848
Location: Orange County California

PostPosted: Sun, 23-06-2013 7:16 pm    Post subject: Reply with quote

paul2 wrote:
dalam KHK 1985 yang sekarang berlaku, sebenarnya tidak ada peraturan yang eksplisit melarang pemakaman secara Katolik orang yang mati bunuh diri. Perlu diketahui bahwa dalam KHK 1917, memang ada larangan eksplisit untuk pemakaman gerejawi bagi mereka yang bunuh diri (KHK 1917 Kan 1240, #1, 3). Larangan eksplisit itu dihapuskan dalam KHK 1985 kita sekarang (KHK Kan 1184-1185). Penghapusan ini harus ditafsirkan sebagai kehendak Gereja untuk tidak serta-merta menilai orang yang bunuh diri sebagai orang yang dikategorikan tidak boleh menerima pemakaman gerejawi.

dan dari KGK 2283, tertulis jelas bahwa "Orang tidak boleh kehilangan harapan akan keselamatan abadi bagi mereka yang telah mengakhiri kehidupannya. Dengan cara yang diketahui Allah, Ia masih dapat memberi kesempatan kepada mereka untuk bertobat supaya diselamatkan. Gereja berdoa bagi mereka yang telah mengakhiri kehidupannya."

Di sini Gereja menyatakan bahwa kita harus tetap mempercayai Tuhan bisa memberikan kesempatan kepada orang yang bunuh diri untuk bertobat supaya diselamatkan. Jadi menurut saya, tidak boleh menghakimi seseorang sudah pasti masuk neraka.

Pendapat?


Sikap yang terlalu permisif ini tidak baik.

Tidak memberikan seseorang pemakaman Gerejawi tidak berarti dia tidak bisa masuk surga.

Ketika kita memperlakukan orang yang benar sama dengan orang yang tidak benar, maka we're sending the wrong message kepada masyarakat.
_________________
Mohon doa saudara-saudari
Back to top
View user's profile Send private message
Stanley



Joined: 29 Sep 2008
Posts: 3739

PostPosted: Tue, 25-06-2013 9:14 am    Post subject: Reply with quote

Tapi tidak ada 'larangan' apabila keluarganya hendak meng-intensi misa kan yg bunuh diri itu kan?
_________________
This is Spartaaa!
Back to top
View user's profile Send private message
DeusVult
Evangelos


Joined: 10 Feb 2004
Posts: 10848
Location: Orange County California

PostPosted: Tue, 25-06-2013 5:49 pm    Post subject: Reply with quote

Setahu-ku tidak. Tapi namanya tidak boleh disebutkan oleh Romo.
_________________
Mohon doa saudara-saudari
Back to top
View user's profile Send private message
Benedetto



Joined: 11 Mar 2007
Posts: 92
Location: Depok

PostPosted: Wed, 26-06-2013 1:48 am    Post subject: Reply with quote

Mohon infonya apakah benar pemahaman saya selama ini :

Gereja memperbolehkan umatnya untuk mendoakan jiwa-jiwa semua orang yang telah meninggal dunia (termasuk orang yang bunuh diri, orang bukan katolik, orang bukan kristen, bahkan atheist) dan memperbolehkan para imam untuk mempersembahkan misa bagi jiwa-jiwa tersebut (termasuk orang yang bunuh diri, orang bukan katolik, orang bukan kristen, bahkan atheist).

Adalah ajaran Gereja, bahwa Gereja tidak pernah menghakimi seseorang pasti masuk neraka. Gereja hanya mengajarkan umatnya mengenali ciri-ciri jiwa-jiwa orang yang memiliki kemungkinan untuk binasa pada saat kematian tanpa pertobatan (heretik, pembunuh, etc.). Dan adalah prerogatif Tuhan untuk menghakimi seseorang pasti masuk neraka karena hanya Tuhan yang tepat tahu keadaan jiwa pada detik terakhir. Karena itu Gereja tidak memberangus harapan umatnya akan keselamatan jiwa orang yang pada saat hidup di dunia ini "kelihatannya" jauh dari surga.

Hanya saja, untuk menghindarkan skandal publik (bahwa seakan-akan Gereja toleran dengan bunuh diri, ajaran bukan katolik, ajaran bukan kristen, atau ajaran atheist) maka para imam dilarang menyebutkan nama orang yang didoakan tersebut dalam misa atau kanon misa.

Mohon infonya apakah benar pemahaman di atas.
Terimakasih untuk infonya.

Satu pertanyaan :
Apakah dalam misa tanpa umat (Missa Sine Populo / Missa Solitaria) imam boleh menyebutkan nama orang bukan katolik atau pendosa publik dalam misa atau kanon misa ? Mengingat ketidakhadiran umat tentunya menyingkirkan kemungkinan "skandal publik" di atas.


Salam,
Smile
Back to top
View user's profile Send private message
Stanley



Joined: 29 Sep 2008
Posts: 3739

PostPosted: Wed, 26-06-2013 11:56 am    Post subject: Reply with quote

DeusVult wrote:
Setahu-ku tidak. Tapi namanya tidak boleh disebutkan oleh Romo.


Err... what?
Sampai namanya juga tidak boleh disebutkan?
(imajinasiku mungkin terlalu liar, tp kalimat itu agak mengingatkanku akan Voldermort, "He-Who-Must-Not-Be-Named" )
_________________
This is Spartaaa!
Back to top
View user's profile Send private message
DeusVult
Evangelos


Joined: 10 Feb 2004
Posts: 10848
Location: Orange County California

PostPosted: Wed, 26-06-2013 7:12 pm    Post subject: Reply with quote

Benedetto, itu sudah benar.

Cuma, masalah "Gereja tidak pernah menghakimi orang masuk neraka" itu agak kompleks. Maksud pernyataan itu tentunya adalah "Gereja tidak pernya MENYATAKAN orang masuk neraka" (bukannya "MENGHAKIMI" karena yang bisa menghakimi hanya Tuhan). Nah, kalau maksudnya itu maka sebenarnya banyak sekali pernyataan Gereja yang mengindikasikan si A, si B masuk neraka. Kitab Suci sendiri menyatakan Yudas, Korah dll masuk neraka. Bapa Gereja, para Paus juga begitu. Katekismus dan liturgi Gereja juga ada yang menyatakan Yudas dan Arius masuk neraka.




Berkenaan dengan menyebut nama orang yang bunuh diri. Terus terang aku tidak tahu juga apakah dalam kasus misa tanpa umat (dimana ini maksudnya bisa misa publik yang kebetulan umatnya gak ada atau misa privat) nama orang yang bunuh diri bisa disebutkan. Sepertinya tidak ada provisi untuk menyebutkannya dalam kondisi seperti itu.



Stanley, nama tidak disebutkan untuk menghindari skandal dan supaya tidak menciptakan teladan yang buruk.
_________________
Mohon doa saudara-saudari
Back to top
View user's profile Send private message
shmily
Penghuni Ekaristi


Joined: 26 Oct 2005
Posts: 3786
Location: Ekaristi.org

PostPosted: Fri, 28-06-2013 6:53 am    Post subject: Reply with quote

Semoga Ini juga bisa membantu menjelaskan

Quote:

November 15, 2005 | 6849 hits

ROME, NOV. 15, 2005 (Zenit.org).- Answered by Father Edward McNamara, professor of liturgy at the Regina Apostolorum Pontifical University.


Q: What is the current stand of the Church regarding the possibility of funeral Masses \"in corpore presente\" of persons who are said to have committed suicide? Is it true that there already are mitigating circumstances, like the possibility of irrationality at the moment of taking one\'s life (even if there was no note), whereby it would be possible to suppose that the person was not in his right mind, and that therefore it is licit to let the funeral entourage to enter a church and a funeral Mass be said? -- E.C.M., Manila, Philippines

A: In earlier times a person who committed suicide would often be denied funeral rites and even burial in a Church cemetery. However, some consideration has always been taken into account of the person\'s mental state at the time.

In one famous case, when Rudolph, the heir to the throne of the Austrian-Hungarian Empire, committed suicide in 1889, the medical bulletin declared evidence of \"mental aberrations\" so that Pope Leo XIII would grant a religious funeral and burial in the imperial crypt. Other similar concessions were probably quietly made in less sonorous cases.

Canon law no longer specifically mentions suicide as an impediment to funeral rites or religious sepulture.

Canon 1184 mentions only three cases: a notorious apostate, heretic or schismatic; those who requested cremation for motives contrary to the Christian faith; and manifest sinners to whom a Church funeral cannot be granted without causing public scandal to the faithful. These restrictions apply only if there has been no sign of repentance before death.

The local bishop weighs any doubtful cases and in practice a prudent priest should always consult with the bishop before denying a funeral Mass.

A particular case of suicide might enter into the third case -- that of a manifest and unrepentant sinner -- especially if the suicide follows another grave crime such as murder.

In most cases, however, the progress made in the study of the underlying causes of self-destruction shows that the vast majority are consequences of an accumulation of psychological factors that impede making a free and deliberative act of the will.

Thus the general tendency is to see this extreme gesture as almost always resulting from the effects of an imbalanced mental state and, as a consequence, it is no longer forbidden to hold a funeral rite for a person who has committed this gesture although each case must still be studied on its merits.

Finally, it makes little difference, from the viewpoint of liturgical law, whether the body is present or not. If someone is denied a Church funeral, this applies to all public ceremonies although it does not impede the celebration of private Masses for the soul of the deceased.

The same principle applies to funeral Masses of those whose body is unavailable for burial due to loss or destruction. Certainly the rites are different when the body is present or absent, but the Church\'s public intercession for the deceased is equally manifest in both cases.

_________________
Salam dan doa
F A Q Belajar Bersama Kanon 7 Sakramen

Psalms 119:159 See how I love your precepts, LORD; in your kindness give me life.
Back to top
View user's profile Send private message
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Ruang Pengetahuan Dasar Iman Katolik All times are GMT + 6 Hours
Page 1 of 1

Log in
Username: Password: Log me on automatically each visit

 
Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum


© Copyright Ekaristi Dot Org 2001 Running on phpBB really fast 2001, 2002 phpBB Group. Keluaran (Exodus) 20:1-17