FAQFAQ          Username: Password: Log me on automatically each visit

Mohon pencerahan    
Goto page: Next

 
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Keluarga Katolik yg sehat dan sejahtera
View previous topic :: View next topic  
Author Message
ajeng2374



Joined: 06 Mar 2013
Posts: 7

PostPosted: Wed, 06-03-2013 10:12 pm    Post subject: Mohon pencerahan Reply with quote

Maaf sebelumnya karena cerita saya panjang.

Suami sdh tidak memiliki ortu, sejak kecil dia diasuh oleh tantenya.
Saya menikah juni 2012, setelah menikah saya langsung diboyong ke kota tempat suami kerja. Suami kerja sama dengan tantenya dan tinggal di rumah tantenya. Setelah menikah saya juga tinggal di rumah tantenya karena suami sampai kapanpun tidak mau meninggalkan tantenya (merasa hutang budi). 2 minggu setelah menikah suami mengetahui saya sudah pernah bertunangan. Saya memang tidak jujur, berbohong jika sudah pernah bertunangan dikarenakan pada saat pertunangan saya, papa saya tiba2 anval karena kelakuan tunangan saya. Dan atas saran pemuka agama, saya disarankan untuk meninggalkan tunangan tsb demi kesehatan ortu. Memang susah bagi saya namun demi kesehatan ortu dan emang pada akhirnya kelakuan tunangan saya membuat saya setuju banget untuk melupakan bahkan berusaha untuk tidak terucap dari bibir saya. sampai calon saya ini pernah menanyakan apakah saya pernah bertunangan saya pun menjawab belum.
Entah dapat informasi dari siapa akhirnya H+14 setelah saya menikah suami saya marah besar bahkan ingin menceraikan saya.
Suami saya mendapat penjelasan dan permintaan maaf dari saya dan ortu saya, pada saat itu suami bisa menerima dan memaafkan. Namun setelah kami kembali ke rumah tantenya, suami kembali mempermasalahkan kebohongan saya dan menganggap itu masalah besar. Sehingga suami meminta imbalan atas kesalahan saya berupa rumah dan mobil. Sejak itu juga perlakuan ke saya bukan sebagai suami, tidak ada kasih sayang, tidak ada nafkah yang saya terima. Namun saya masih bersabar dan mencoba menyadarkan dengan balasan kasih sayang tulus.
2 bulan sejak saya menikah saya akhirnya "dipulangkan ke rumah ortu" dengan alasan supaya saya bisa kerja di kota kelahiran saya. Namun sejak itu hubungan kami renggang bahkan dingin, suami sudah tidak pernah mengunjungi saya. Sekalinya suami ingin mengajak saya pergi tapi cara menjemput saya sama sekali tidak ada sopan santunnya sampai saya tidak keluar rumah demi menghargai ortu saya, sejak ini "perang" makin dimulai. Akhirnya saya tidak jadi pergi dengan suami malahan ortu mengajak saya untuk ke sodara suami untuk menceritakan hal ini (sodara suami ini yang menjadi wali saat suami melakamr saya)
Saudaranya ini kaget dengan cerita ortu. Saya dan suami sama2 beragama katolik. Saodaranya tidak bisa bertindak apa2.
Papa saya orangnya keras, dengan kejadian saya dipulangkan papa saya langsung membenci suami dan menyarankan untuk cerai. Bahkan papa saya sempat terucap kata2 cerai di depan sodara suami, sampailah ke telinga suami kalau ada ucapan cerai dari papa saya. Makin gencarlah suami mendesak saya untuk mengurus cerai sesuai saran papa saya.
Di dalam keluarga sayapun, papa sudah antipati dengan suami saya, mama saya ragu apakah bisa suami kembali sopan seperti sebelum pernikahan terjadi, adik saya pun sudah antipati, jadi seolah2 saya harus berjalan sendiri dengan keyakinan saya bahwa suami masih cinta dan masih bisa hidup harmonis seperti impian saya, ini hati kecil saya berkata. Ortu saya sudah mendatangi romo paroki dan disarankan untuk mendamaikan saya karena secara hukum katolik tidak ada perceraian. Saya sudah menjelaskanke mama saya, meskipun saat ini saya jengkel dengan perlakuan suami tapi saya masih bisa mengampuni dia karena saya anggap ini batu sandungan di awal kehidupan rumah tangga saya, dan saya sudah bersumpah di depan altar saya akan menjalani suka duka.
Sebenernya saya ingin ada pihak dari pastoral yang bisa berbicara dengan suami dari hati ke hati. Kasihan suami saya ini, sejak kecil hatinya terluka, dia luka batin karena ortunya pisah dan akhirnya ibunya meninggal, ayahnya pergi entah kemana. Tidak ada acuan hidup berkeluarga yang harmonis karena tantenya inipun juga tidak menikah, hanya kerja yang dijalani sehari2.
Saat ini ortu sedang berunding dengan sodara suami supaya suami dan tantenya bersedia bertemu keluarga saya untuk duduk bersama membicarakan kondisi rumah tangga saya dan menanyakan apa mau suami saya terhadap rumah tangganya, namun ortu hopeless hal ini bisa terjadi. Saya pun hopeless hal ini bisa terjadi, karena suami orangnya keras, mungkin kalau saya sendiri yang bicara berdua dengan suami masih bisa terjadi.
Saat ini saya tidak mau berbicara dengan suami lewat telp agar suami datang dan bicara langsung dengan saya bukan lewat telp atau sms atau email. Jika percakapan terjadi lewat email, sms, atau telp, kapan saya bisa menyelesaikan secara langsung.
Saat ini saya dibilang sudah merepotkan keluarga sudah menjadi beban keluarga. Saya pribadi tidak ingin ini terjadi.

Memang simple bagi orang lain, dengan simple nya papa saya dan adik saya berkata "kamu sudah salah ya sudah tinggalkan saja kamu bisa cari gantinya lagi yang lebih baik"

Dengan rubrik ini saya ingin mencari ketenangan, apa saya salah jika masih menjunjung janji nikah saya di depan altar dan saya masih mengharapkan suami saya? Hati kecil saya berkata saya harus menjalani cobaan ini bukan membuang cobaan ini.

Bagaimana menurut saudara2 seiman mengenai kondisi saya ini.

Terima kasih, salam damai
Back to top
View user's profile Send private message
Tony
Evangelos


Joined: 20 Jan 2004
Posts: 4642
Location: Disini, ngga kelihatan apa?

PostPosted: Wed, 06-03-2013 11:36 pm    Post subject: Reply with quote

Sebenarnya masalahnya tidak rumit, mungkin untuk yg mengalaminya sepertinya dunia telah kiamat.

1. Suami dan juga istri seharusnya tidak memikirkan masa lalu karena jelas adalah hal yg lalu. Sepertinya manusia harus sepenuhnya suci yg tentu tidak mungkin. Pernikahan terjadi karena KASIH, kasih tidak memiliki syarat atau masa lampau. Bagaimana kita bertobat dan bagaimana yg bertobat dapat merasakan telah dimaafkan, bila yg sudah terjadi dan tidka dapat diubah ingin diubah dengan menghukum atau mendapatkan kompensasi?

2. Perkawinan adalah usaha untuk bersatu dan ini akan selalu mengalami kemelut. Tidak ada perkawinan yg sempurna, ideal ataupun seperti impian banyak orang. Perkawinan adalah sebuah proses sampai ada yg mati berarti ortu kamupun masih dalam proses ini.

3. Bila masalah sepele seperti kesalahan kamu untuk tidak menyatakan sejarah hidup kamu telah menjadi masalah yg sepertinya tidak dapat diperbaiki. Apakah setelah cerai atau anulisasi kamu akan berada diatas batu sempurna dan tanpa sejarah? Bahkan sekarang telah berlipat ganda untuk kalaupun nantinya kawin lagi.

4. Apa hubungan dan dari mana suami kamu dapat mengukur sejarah hidup kamu dengan menuntut penetensi dari pertobatan kamu dengan sebuah rumah dan mobil? Terkecuali dia menyadari sejak awal perkenalan bahwa kamu berasal dari keluarga yg mampu dan diapun telah memasang ancang2 untuk mendapatkan materi dari buah perkawinan. Dengan mengerti ini diapun telah tidak jujur karena memiliki rencana atau tombol materi yg beralasan yg berarti dia tidak menerima kamu seperti adanya. Berarti dalam hukum gereja diapun telah tidak tulus/jujur dan inipun dapat menjadi dasar anulisasi.

5. Perkawinan adalah sebuah sakramen dan juga sebuah PERNYATAAN kasih tanpa syarat dari kedua mempelai yg berjanji untuk saling percaya untuk membangun perkawinan dan keluarga. Menerima kamu seadanya dan juga sebaliknya titik! Bayangkan kasus yg lain misal kamu tidak pernah bertunangan, kemudian ternyata kamu tidak setuju dengan cara hubungan seksual suami-istri yg kasar, apakah dia nanti akan menyatakan bahwa kamu tidak seperti yg ia duga dan dengan itu juga menuntut rumah dan mobil?

Saya rasa sebaiknya dan secepatnya kamu bicarakan dengan romo dan jelaskan sedalamnya mengenai kondisi tunangan dan materialistis suami kamu dimana kamu perlu untuk dapat mendapatkan anulisasi, ini akan lebih mudah karena perkawinan yg masih amat muda/ baru terjadi.
Dari apa yg kamu katakan disini terlihat bahwa dia benar2 bukan tipe suami yg akan pernah dapat menghargai dan mencintai istrinya seperti adanya. Love has no boundries, love has no prerequisite, love is just love dan terlihat suami kamu belum mengerti apa itu cinta kasih.

Saya berdoa semoga kamu dan keluarga kamu kuat dan Tuhan memberikan jalan keluar untuk kamu dan kamu segera menemukan pria yg mencintai kamu untuk kamu dan bukan untuk sebuah ideal atau image. Kamu juga perlu terbuka dan tidak takut dengan sejarah hidup kamu, dan juga jangan berharap suami yg ideal kamu karena kamupun belum mengerti sosok lelaki yg jantan untuk mencintai kamu seadanya. But I'm sure he will come and you will know when that time comes, God Bless.
_________________
Salam dan doa
F A Q
It fails to show just how the world is divided. Evil stands for division against unity. In union with God and His miracles I see my self everyday in the mirror. I am a miracle that science still is at it's heels glancing up a vast yet unacceptable impossibility, a climb to faith. Science can't and will never explain God, for science is only capable in calculating the calculable. How is science to measure anything outside of time and space that started time and space, how is the created to measure the creator? Science is an apathy of one who seeks his heart and yet refuse to see it,
Tony B Mat 12:32 Jangan membohongi diri!
Indonesia Katolik -Terjemahan Baru   © Ekaristi dot Org
Matius  12:32Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak.
Back to top
View user's profile Send private message
fozzil



Joined: 13 Feb 2013
Posts: 112
Location: Kelapa Gading

PostPosted: Thu, 07-03-2013 8:29 pm    Post subject: Reply with quote

Turut prihatin untuk apa yang kamu alami...
Saya yakin seberapapun Saya mencoba menjadi apa yang kamu rasakan dan pikirkan saat ini pasti tidak sama,,,

Saran dari Saya mungkin tidak berdasarkan ayat2 kitab ataupun aturan gereja....

Saya tidak mulai dari awal critamu ya,
tpi Saya mulai dari cara yang menurut Saya critical point
ajeng wrote:

Dengan rubrik ini saya ingin mencari ketenangan, apa saya salah jika masih menjunjung janji nikah saya di depan altar dan saya masih mengharapkan suami saya? Hati kecil saya berkata saya harus menjalani cobaan ini bukan membuang cobaan ini.

Ini adalah intinya...
kamu sendiri masih berharap dan percaya bahwa ini adalah cobaan yang ada untuk mendewasakan dirimu dan pernikahanmu...
kalau Saya boleh mengutip sebuah kutipan yang Saya dengar dari sebuah film

A true King considers the advice of counsel but always listens to his heart.



ajeng wrote:

Saat ini saya tidak mau berbicara dengan suami lewat telp agar suami datang dan bicara langsung dengan saya bukan lewat telp atau sms atau email. Jika percakapan terjadi lewat email, sms, atau telp, kapan saya bisa menyelesaikan secara langsung.
Saat ini saya dibilang sudah merepotkan keluarga sudah menjadi beban keluarga. Saya pribadi tidak ingin ini terjadi.

Saran Saya bikin janji...
atau bila perlu kamu minta bantuan tantenya untuk bertemu dengan Suamimu..
Saya selalu yakin, bahwa disetiap hati manusia masih selalu ada bagian yang putih, namun bagaimana cara kita menemukannya...

karena kalau yang Saya tangkap dari ceritamu,
dia merasa dibohongi...
kamu pernah bertunangan dan tidak menceritakan hal yang sebesar itu,
(karena bagi beberapa orang hal tersebut cukup serius)...



itu Saran Saya sementara (hanya dari cerita awalmu) karena untuk hal2 lain butuh informasi yang lebih lanjut,
karena, maaf kalo boleh tau...
berapa lama kamu berpacaran dengan Suamimu ini,
bagaimana tingkahnya selama itu,
dan bagaimana sikap tantenya kepadamu saat pacaran dan 2 selama kamu 1 rumah dengan dia...
_________________
GOD doesn't require us TO BE THE BEST...
HE just require us TO DO OUR BEST...
Back to top
View user's profile Send private message Yahoo Messenger
m2us



Joined: 26 Jan 2008
Posts: 1734
Location: Roman Catholic Church

PostPosted: Fri, 08-03-2013 11:26 am    Post subject: Reply with quote

Ajeng, saran Tony sudah baik. Saya rasa kamu perlu merenung juga apakah selama ini suami kamu hanya berorientasi materi, karena aneh sekali syarat yang diberikan ke kamu dan kesalahan kamu itupun is not a big deal.


rgds,
m2us
_________________
JEZU, UFAM TOBIE
KS,KGK, KHK
ekklhsiai kaq olhv
Back to top
View user's profile Send private message
shmily
Penghuni Ekaristi


Joined: 26 Oct 2005
Posts: 3786
Location: Ekaristi.org

PostPosted: Fri, 15-03-2013 8:24 am    Post subject: Reply with quote

Ajeng..

Sungguh hatimu baik walaupun dilukai oleh suami, namun tetap memaafkan dan berusaha mempertahankan perkawinan. Kuatkanlah dirimu dalam doa-doa dan sakramen Ekaristi. Allah yang mencintai umat-Nya dan telah berjanji meringankan beban bagi mereka yang datang kepada-Nya pasti mendengarkan doamu dan memberikan jalan terbaik bagimu untuk keluar dari masalah ini.

1. Untuk sementara, keluarlah dulu dari kemelut yang ada saat ini. Mintalah keluarga untuk tidak membicarakan hal ini. Mintalah semua pihak untuk berhenti mengungkitnya. Hindari semua percakapan yang menjurus ke arah kemelut rumah tanggamu. termasuk meminta suamimu untuk tidak mendesak anda, katakan anda butuh ruang dan waktu untuk berpikir dengan jernih.

2. Kembalikan dirimu ke dalam kehidupanmu, sibukan dirimu dengan hal yang bermanfaat, bekerja, olah raga, rekreasi, berkumpul bersama teman-teman, kegiatan Gereja, lakukan hobi anda ..berusahalah untuk sebisa mungkin untuk tidak memikirkan terlalu dalam masalah berat ini untuk sementara waktu.

3. MEngapa saya meminta anda melakukannya ? karena anda membutuhkan kekuatan dan kesehatan extra yang mungkin belum pernah anda miliki sebelum anda mengalami masalah ini. Jadi anda harus mengumpulkan seluruh kekuatan anda untuk menjalani suatu perjalanan yang tidak mudah dan hasil yang belum tentu sesuai dengan harapan.
Jika anda terus memaksakan berada dalam atmosfir saat ini, maka anda akan kehabisan tenaga, pengaruh dan emosi keluarga anda justru bukan memberi kekuatan positif. saya khawatir kesehatan dan konsentrasi anda terganggu.

Kegiatan positif bisa membantu anda untuk mendapatkan kekuatan yang anda butuhkan, setidaknya membuat anda lebih segar.. dan itu yang saya sarankan.. buatlah diri anda lebih segar, lebih bersinar, keluarkan semangat hidup dalam diri anda.. biarkan orang-orang disekitar anda melihat hal ini.. jangan pikirkan perkataan atau pendapat orang lain yang mungkin mengira anda berusaha menipu diri sendiri atau orang lain atau lari dari masalah...jangan biarkan semua hal negatif mendekati anda.


setelah anda menemukan kembali hidup anda, mulailah untuk mengatur strategi menghadapi masalah anda.. ajak suami anda bertemu di tempat yang private.. tempat yang nyaman .. katakan saja anda ingin bertemu berdua saja.. dan tunjukkan ketenangan anda, rasa percaya diri anda... jika suami anda mengungkit masalah awal, mintalah untuk berhenti membicarakan hal itu.. bicarakan hal lain..

tentu saja hal di atas terlihat gampang untuk ditulis sulit untuk dilakukan, dan belum lagi ada skenario yang mungkin tidak kita kehendaki.. bagaimana bila suami yang mengajukan perceraian, atau ada pihak lain yang menambah rumit permasalahan.

Ingatlah bahwa apa yang kamu lakukan adalah usaha untuk mengikuti kehendak Allah. Jadi jangan takut..

Jika suami anda sulit di ajak bicara.. maka anda membutuhkan orang lain untuk membantu anda.. seseorang yang ia segani dan hormat. Seorang panutan dan tentu saja seiman.Sangat baik bila itu berasal dari keluarganya.
Carilah aliansi untuk membantu anda mengetuk hati suami anda berdialog. Tunjukkan ketulusan anda untuk mencari jalan keluar bersama-sama untuk masalah ini.
Seorang religius, seorang Imam misalnya, boleh juga jika tidak ada pilihan.
Tetapi kamu harus siap dengan jawaban2 yang tidak sesuai harapan, jawaban2 yang mengecewakan. Tetapi selama masih ada harapan untuk berkomunikasi dan berdialog, maka masih ada harapan untuk rekonsiliasi.

Terus terang, membaca cerita anda, saya sebenarnya tidak menemukan alasan suami anda harus berbuat sekonyol ini hanya karena masa lalu itu. Bahkan permintaan materi yang tidak layak dituntut dari seorang isteri untuk sebuah permintaan maaf. SAya tidak melihat ketulusan cinta yang mengikat suami dan isteri dalam satu ikatan perkawinan. Terlepas dari masa lalu suami anda, perbuatan suami anda bukanlah kasih yang harusnya diberikan kepada anda. Saya menyarankan anda tidak memberikan apa pun lagi kepadanya, tolaklah jika ia memintanya. Jika permintaan maaf yang ia kehendaki, maka ia harus menerima itu saja. Jika ia meminta materi lagi, maka sebenarnya ia mencari-cari alasan untuk memuaskan dirinya sendiri. Jadi tetaplah memintanya untuk kembali namun tidak untuk materi atau hal duniawi, tetapi untuk cinta yang mengikat perkawinan kalian.

Jadi saya berharap anda pun siap untuk segala konsekuensi-nya memilihnya menjadi suami anda, dan segala jawaban dari usaha anda untuk mempertahankan perkawinan anda termasuk hal terburuk sekalipun.
Jangan biarkan kesedihan, kekecewaan, penyesalan, emosi, amarah, menggerogoti semangat hidup anda.. bagaimana pun anda adalah seorang pribadi yang dicintai oleh Allah sejak anda dilahirkan ke dunia..
dan hidup anda sangat berharga karenanya.. jangan sia-siakan dan jangan biarkan direngut oleh masalah ini, dan jangan takut...

Jangan berhenti berdoa, untuk anda dan untuk diri-Nya. Allah pasti mendengarkan doa anda. Seperti halnya Santa Monika yang selalu berdoa dengan air mata memohon pertobatan untuk suami dan anaknya, dan Allah memberikannya.

"Allah yang berbelas kasih, hiburlah mereka yang menderita,
air mata Santa Monika menggerakkan belas kasih-Mu untuk menobatkan puteranya, Santo Agustinus, kepada iman akan Kristus.
Dengan bantuan doa mereka, bantulah kami berbalik dari dosa-dosa kami dan memperoleh pengampunan-Mu yang penuh belas kasih. Amin."

May God bless your steps..
_________________
Salam dan doa
F A Q Belajar Bersama Kanon 7 Sakramen

Psalms 119:159 See how I love your precepts, LORD; in your kindness give me life.
Back to top
View user's profile Send private message
shmily
Penghuni Ekaristi


Joined: 26 Oct 2005
Posts: 3786
Location: Ekaristi.org

PostPosted: Fri, 15-03-2013 8:37 am    Post subject: Reply with quote

hmm one more thing... meminta anulasi (pembatalan perkawinan) mungkin seperti jalan keluar terbaik... dan hal itu bisa kamu usahakan jika tidak ada lagi harapan untuk menemukan cinta dalam perkawinan kalian.. tetapi saya tidak melihat ada alasan kalian mendapatkannya walaupun usia perkawinan kalian masih muda sekalipun... kecuali memang ada kebohongan besar yang disembunyikan supaya perkawinan itu tetap terjadi...seperti masih terikat dalam perkawinan, memiliki penyakit berat, impotensi, hutang piutang, masalah harta, atau karena terpaksa atau dipaksa, seperti dijodohkan, dibawah ancaman.. semua itu merupakan alasan dimana tidak ada cinta yang tulus dalam perkawinan tersebut, itu semua bisa menjadi alasan untuk membatalkan sebuah perkawinan.

Jadi, jangan fokuskan diri anda untuk mendapatkan anulasi tersebut, karena jawabannya masih mungkin tidak sesuai dengan harapan...
_________________
Salam dan doa
F A Q Belajar Bersama Kanon 7 Sakramen

Psalms 119:159 See how I love your precepts, LORD; in your kindness give me life.
Back to top
View user's profile Send private message
April



Joined: 25 Jan 2004
Posts: 1805

PostPosted: Fri, 15-03-2013 1:13 pm    Post subject: Reply with quote

Turut prihatin dengan kondisi kamu.
Hati kamu baik.


Tambahan,

utk pasangan muda suami istri, dalm kondisi ini, bicaranya tidak tegang seperti menghadapi musuh besar.

Tidak perlu setiap kata-katanya ditanggapi secara serius dan sikap antipati. Atau emosional.

Anggap saja menghadapi seorang anak kecil yang sedang ngambek. Dan diri sendiri sedang berusaha utk membaik-baikan dia (yang sesuai sifatnya / kebiasaannya spy dia tidak malah tambah ngambek karena tidak ditanggapi).

Tidak perlu gengsi-gengsian, atau jaga pride, atau image. Kan sudah suami-istri. Suami istri kan teman seperjalanan utk survive di bumi yang sudah susah hidup ini. Kalo ada uneg-uneg katakan saja. Sudah sama-sama tau.


Intinya,
inisiatif baik, ajakan utk berbaikan, harus pertama-tama datang dari pihak diri kamu dulu.

Karena kamu lebih aware akan nilai kebaikan dibandingkan suami. Kamu yang pertama-tama melangkah dulu utk masuk ke dalam "dunia kebaikan" sambil mengajak suami ( yang masih ketinggalan kereta kebaikan Mr. Green )

Intinya gitu, jadi utk kelanjutan prosesnya kamu bisa menghitung-hitung.

Tentu, doa, devosi, puasa, dst pertama-tama adalah perlu, demi kelancaran usaha penyebaran kebaikan ini.



Misalnya.

- utk cerai, bukan urusan gampang.
Tunda-tunda saja. Kalo suami masih desak-desak utk cerai tidak perlu ditanggapi serius. Tidak perlu tandatangan surat cerai. Biarkan saja.

Alasannya, seperti penjelasan di atas.


- Saat ini kalian hidup pisah rumah. Jadi ajaklah jalan-jalan, makan2 seperti masa-masa pacaran dulu. Jangan cepet bosan dengan tanggapannya masih 'dingin'.

Alsannya, seperti penjelasan di atas.

Tidak perlu gengsi, pride, jaga image. Tapi tidak terlalu obral.

Misalnya, dulu-dulu suami masa pacaran sms / info kamu,
- dear, kamu sudah makan?
- i miss you
- nonton yuk?
sekarang gantian kamu yang melakukan, tidak ada salahnya.

Dan tidak menantang pride dirinya misalnya,
- surat cerai sudah selesai? Kapan dikirim??
- susah bikin yah? Atau mau aku buatkan?
- dst
just kidding.. contoh saja.


- kalo segala usaha berbaikan mencapai akhir gagal, apa boleh buat. Intinya, pertahankan terus sikap tidak mau cerai. Jelaskan kepadanya, 'kalo kamu mau cerai, kamu yang nanggung dosanya! Aku tidak ingin cerai! titik'.

Alasannya, seperti penjelasan di atas.

- dst dst



nb:
Nulis gampang praktek sulit.
Back to top
View user's profile Send private message
ajeng2374



Joined: 06 Mar 2013
Posts: 7

PostPosted: Thu, 21-03-2013 12:31 pm    Post subject: Reply with quote

Tq sodara seiman atas masukan2nya.
Untuk fozzil :
saya berpacaran hanya 10 bulan. Saat pacaran sikapnya begitu lembut bisa bertolak belakang sekali setelah sejak nikah.
Untuk saat ini tidak mungkin saya minta tolong dengan tantenya karena terkesan dari tantenya lepas tangan dengan mengstskan "biar DM (nama suami sy) yang selesaikan sendiri saya masih banyak urusan lain". Hal ini saya dengar dari sodara suami yang saya mintai tolong menjadi penghubung dengan saya dan suami.
Sikap tantenya saat2 pacaran ya tidak ada hal2 yang mencurigakan malah saya secara tidak sengaja mengorek info dari pegawai kantor suami bahwa tantenyalah yang menyarankan suami utk segera meminang saya.
Namun setelah saya nikah dan tinggal 1 atap dengan mereka seolah2 saya ini menjadi saingan bagi tantenya.

Jujur saya bingung saat ini, bagaimana saya harus bersikap sebagai seorang warga katolik.

Sekali lagi thx untuk saran2nya dan masukan2nya
Back to top
View user's profile Send private message
ajeng2374



Joined: 06 Mar 2013
Posts: 7

PostPosted: Thu, 21-03-2013 1:01 pm    Post subject: Reply with quote

[quote="shmily"]hmm one more thing... meminta anulasi (pembatalan perkawinan) mungkin seperti jalan keluar terbaik... dan hal itu bisa kamu usahakan jika tidak ada lagi harapan untuk menemukan cinta dalam perkawinan kalian.. tetapi saya tidak melihat ada alasan kalian mendapatkannya walaupun usia perkawinan kalian masih muda sekalipun... kecuali memang ada kebohongan besar yang disembunyikan supaya perkawinan itu tetap terjadi...seperti masih terikat dalam perkawinan, memiliki penyakit berat, impotensi, hutang piutang, masalah harta, atau karena terpaksa atau dipaksa, seperti dijodohkan, dibawah ancaman.. semua itu merupakan alasan dimana tidak ada cinta yang tulus dalam perkawinan tersebut, itu semua bisa menjadi alasan untuk membatalkan sebuah perkawinan.

Jadi, jangan fokuskan diri anda untuk mendapatkan anulasi tersebut, karena jawabannya masih mungkin tidak sesuai dengan harapan...[/quote]


Thx to shmily, bukan saya membuka kondisi keluarga saya namun justru papa saya yang begitu antusias memperkarakan hal ini (bahkan sudah ke kantor polisi untuk melaporkan kasus ini agar suami saya bisa ditahan) dan menginginkan saya bercerai. Sesungguhnya hal ini yang menambah penyebab situasi saya makin tegang. Benar salah apa yang keluar dari ucapan saya pasti selalu dibilang kalau saya menghambat proses penyelesaian masalah.

Bener yang anda sarankan, dan telah ada di benak saya bahwa saya akan bertidak dan bersikap positif untuk bangkit (bukan untuk menghindar) = namun papa saya tidak bisa sepaham dengan hal ini malah saya dibilang menyepelekan dan lebih mementingkan kegiatan lain.

Benar saya telah menjadikan doa Santa Monika sebagai doa novena saya, dan kebetulan nama baptis suami saya adalah Agustinus.

Sungguh saya bingung, saya berusaha sedapat mungkin berlaku sebagai seorang umat katolik.
Back to top
View user's profile Send private message
ajeng2374



Joined: 06 Mar 2013
Posts: 7

PostPosted: Thu, 21-03-2013 1:16 pm    Post subject: Reply with quote

[quote="April"]Turut prihatin dengan kondisi kamu.
Hati kamu baik.


Tambahan,

utk pasangan muda suami istri, dalm kondisi ini, bicaranya tidak tegang seperti menghadapi musuh besar.

Tidak perlu setiap kata-katanya ditanggapi secara serius dan sikap antipati. Atau emosional.

Anggap saja menghadapi seorang anak kecil yang sedang ngambek. Dan diri sendiri sedang berusaha utk membaik-baikan dia (yang sesuai sifatnya / kebiasaannya spy dia tidak malah tambah ngambek karena tidak ditanggapi).

Tidak perlu gengsi-gengsian, atau jaga pride, atau image. Kan sudah suami-istri. Suami istri kan teman seperjalanan utk survive di bumi yang sudah susah hidup ini. Kalo ada uneg-uneg katakan saja. Sudah sama-sama tau.


Intinya,
inisiatif baik, ajakan utk berbaikan, harus pertama-tama datang dari pihak diri kamu dulu.

Karena kamu lebih aware akan nilai kebaikan dibandingkan suami. Kamu yang pertama-tama melangkah dulu utk masuk ke dalam "dunia kebaikan" sambil mengajak suami ( yang masih ketinggalan kereta kebaikan :mrgreen: )

Intinya gitu, jadi utk kelanjutan prosesnya kamu bisa menghitung-hitung.

Tentu, doa, devosi, puasa, dst pertama-tama adalah perlu, demi kelancaran usaha penyebaran kebaikan ini.



Misalnya.

- utk cerai, bukan urusan gampang.
Tunda-tunda saja. Kalo suami masih desak-desak utk cerai tidak perlu ditanggapi serius. Tidak perlu tandatangan surat cerai. Biarkan saja.

Alasannya, seperti penjelasan di atas.


- Saat ini kalian hidup pisah rumah. Jadi ajaklah jalan-jalan, makan2 seperti masa-masa pacaran dulu. Jangan cepet bosan dengan tanggapannya masih 'dingin'.

Alsannya, seperti penjelasan di atas.

Tidak perlu gengsi, pride, jaga image. Tapi tidak terlalu obral.

Misalnya, dulu-dulu suami masa pacaran sms / info kamu,
- dear, kamu sudah makan?
- i miss you
- nonton yuk?
sekarang gantian kamu yang melakukan, tidak ada salahnya.

Dan tidak menantang pride dirinya misalnya,
- surat cerai sudah selesai? Kapan dikirim??
- susah bikin yah? Atau mau aku buatkan?
- dst
just kidding.. contoh saja.


- kalo segala usaha berbaikan mencapai akhir gagal, apa boleh buat. Intinya, pertahankan terus sikap tidak mau cerai. Jelaskan kepadanya, 'kalo kamu mau cerai, kamu yang nanggung dosanya! Aku tidak ingin cerai! titik'.

Alasannya, seperti penjelasan di atas.

- dst dst



nb:
Nulis gampang praktek sulit.[/quote]


Dear April,

saat ini saya terkendala oleh ortu saya, saya dilarang utk pergi menemui suami saya, papa saya bilang "sudah tidak menghargai mertua koq masih saja kamu pertahankan. Kamu sama sekali tidak menghargai ortu"

Sedih saya kalau dari keluarga sendiri saja saya sudah tidak mendapat pencerahan, kesannya tidak mengusahakan bagaimana bisa damai.

Sunggung bingung saya.
Back to top
View user's profile Send private message
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Keluarga Katolik yg sehat dan sejahtera All times are GMT + 6 Hours
Goto page: Next
Page 1 of 2

Log in
Username: Password: Log me on automatically each visit

 
Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum


© Copyright Ekaristi Dot Org 2001 Running on phpBB really fast 2001, 2002 phpBB Group. Keluaran (Exodus) 20:1-17