Select messages from #  through #      FAQ

saya harus bagaimana.. saya jahat
Goto page: Next
 FULL PAGE

Akademi Kontra Indiferentisme -> Keluarga Katolik yg sehat dan sejahtera

#1  saya harus bagaimana.. saya jahat  Author: ASCA    Post Posted: Sun, 29-09-2013 10:27 am

saya cowok, sebelum mengenal katolik lebih dalam, hidup saya penuh kebejatan.
saya menjalani free sex dengan pacar saya, saya adalah orang pertama yang berhubungan sex dengannya. dengan sadar, dia memberikan semuanya untuk saya. pacar saya tidak beragama, dan tidak percaya adanya Tuhan. atheis yang bahkan sering berkata pada saya bahwa saya bodoh dan nggak rasional karena mau ditipu oleh ajaran kristen.
akibat pengaruh kata katanya, perasaan cinta dan mungkin ketergantungan melakukan sex, saya perlahan berubah menjadi seperti dia. kami terus melakukan hubungan sex dengan menggunakan kondom untuk mencegah kehamilan.

sampai akhirnya, suatu hari saya menyadari ada yang salah dalam diri saya, saya semakin jauh dari Tuhan, tapi kadang kalau saya mau ke Gereja, pacar saya tidak senang, bahkan berulang kali menolak menemani saya ke Gereja, dia terang terangan berharap saya tidak perlu percaya Tuhan lagi. setahun lebih saya telah bersama dia.
kerinduan pada Tuhan suatu hari membawa saya untuk ber instropeksi, saya selalu sendirian ke Gereja, tanpa pernah berani menerima komuni selama 1 tahun lebih.
akhirnya, saya putuskan untuk kembali jadi katolik yang baik. saya mau berubah, setiap kali melakukan sex, yang ada hanya rasa bersalah yang membuat saya semakin lama semakin tidak terkontrol. saya kembali rajin ke misa, mengambil sakramen tobat, berdoa dan berpantang daging.
saya utarakan ini pada cewek saya, dia cuma bilang : lihat, seberapa lama kamu akan tahan.
sayangnya, dia keliru. saya bertahan dan menolak semua hal tidak sehat dalam hubungan kami.
saya menolak berciuman terlalu lama, dan kontak tubuh yang bisa merangsang saya. lama kelamaan dia merasa saya tidak sayang padanya lagi. dia menangis berkali kali dihadapan saya. dulu saya biasa tidak tega, lalu menuruti keinginan dia. tapi sekarang, saya benar benar mau hidup normal, membentuk pacaran yang katolik, menikah secara katolik, dan membangun keluarga katolik.
setiap ketemu saya coba jelaskan pergumulan saya. berulang kali saya jelaskan, bahwa saya masih sayang padanya, bahwa sex bukanlah kebutuhan fisik seperti yang dia percaya. bahwa saya bisa tetap melanjutkan pacaran dengan dia tanpa sex sampai kami menikah nanti.
tapi dia selalu merasa, saya tidak sayang padanya lagi. hubungan kami memburuk, dia mengatakan saya telah berubah, saya egois karena telah berhubungan sex dengan dia lalu berubah.
sudah berkali kali saya berusaha menjelaskan, dia pikir sekarang saya jijik dengannya, saya tidak mau menyentuhnya lagi, bosan dengannya. dia bilang saya munafik, munafik terbesar dalam hidupnya. dulu, setiap kali dia berkata saya mengutarakan keinginan saya untuk berbalik pada iman saya, dia selalu berkata saya tidak perlu munafik, saya merasa kata katanya benar, lalu biasanya merasa tidak pantas lagi ke Gereja, akhirnya saya mengurungkan niat saya. bahkan saya pernah berkata bahwa saya mungkin ditakdirkan masuk neraka.

saya sering berusaha mengenalkan iman katolik padanya, dia cukup terpelajar, tapi dia bilang bahwa dia ignorant. tahu bahwa dia ignorant.

akhir akhir ini saya merasa sangat lelah, saya terus berusaha memperjuangkan hubungan kami. walau saya merasa dia tidak pernah berusaha berjuang untuk mengenal saya, mengenal sedikit saja iman saya, bukan untuk memaksa dia jadi katolik, tetapi agar dia belajar memahami dan menghargai prinsip saya, agar hubungan kami bisa terus berlanjut dengan rasa saling menghargai keyakinan masing masing.

saya bilang, saya akan melanjutkan ini, saya menyayangi dia dan tidak akan jahat padanya, apalagi saya sudah berhubungan sex dengannya.
saya jahat sekali, sungguh jahat.

ada kalanya saya menangis, dosa saya terlalu banyak. saya memimpikan bisa menikah, mendidik anak anak secara katolik. tapi cewe saya yang sekarang bahkan tidak percaya Tuhan itu ada.
saya tanggung semua ini sebagai silih dan salib.

hubungan kami sangat buruk sebulan terakhir. dia menganggap kami sudah putus. tapi dia masih mencari saja jika butuh apa apa... memeluk saya jika ketemu...kadang menciumi leher dan pipi saya..

saya sedih sekali...
saya merasa jahat karena tindakan ceroboh saya yang mengakibatkan dia kehilangan keperawanan...
kemarin saya pulang dari misa, malamnya saya diajak berantem.
dia bilang sambil menangis, bahwa pikiran kami mengapa begitu berbeda...

apa yang harus saya lakukan...

ya Tuhan tolonglah saya...


Last edited by ASCA on Sun, 29-09-2013 10:44 am; edited 1 time in total

#2    Author: DeusVult  Location: Orange County California  Post Posted: Sun, 29-09-2013 10:47 am

Kalo dia tidak berubah, sebaiknya ditinggalkan saja.

Dan jangan pikir melakukan yang benar itu pasti menghasilkan sesuatu yang enak. Mungkin hidup malah tambah sengsara.

#3    Author: ASCA    Post Posted: Sun, 29-09-2013 11:31 am

apakah harus melakukan yang salah agar hidup tidak sengsara ?

apakah : mari kita lakukan hal yang salah agar yang baik timbul dari padanya ?

#4    Author: DeusVult  Location: Orange County California  Post Posted: Mon, 30-09-2013 4:38 am

ASCA wrote:
apakah harus melakukan yang salah agar hidup tidak sengsara ?


Tidak juga.

Rasanya meninggalkan si wanita karena dia membawa pengaruh yang sangat buruk justru tidak akan membuat hidup sengsara.

Quote:
apakah : mari kita lakukan hal yang salah agar yang baik timbul dari padanya ?


Kalau baca Rom 3:5, jangan lupa diteruskan ke Rom 3:6.

Kalau baca Rom 3:7, jangan lupa diteruskan ke Rom 3:8.

Kalau baca Rom 6:1, jangan lupa diteruskan ke Rom 6:2.

Kalau baca Rom 6:15, jangan lupa diteruskan ke Rom 6:16.

#5    Author: MoanawiK    Post Posted: Mon, 30-09-2013 7:46 am

DeusVult wrote:
ASCA wrote:
apakah harus melakukan yang salah agar hidup tidak sengsara ?


Tidak juga.

Rasanya meninggalkan si wanita karena dia membawa pengaruh yang sangat buruk justru tidak akan membuat hidup sengsara.

Quote:
apakah : mari kita lakukan hal yang salah agar yang baik timbul dari padanya ?


Kalau baca Rom 3:5, jangan lupa diteruskan ke Rom 3:6.

Kalau baca Rom 3:7, jangan lupa diteruskan ke Rom 3:8.

Kalau baca Rom 6:1, jangan lupa diteruskan ke Rom 6:2.

Kalau baca Rom 6:15, jangan lupa diteruskan ke Rom 6:16.


Quote:
saya sedih sekali...
saya merasa jahat karena tindakan ceroboh saya yang mengakibatkan dia kehilangan keperawanan...


DV, bagaimana caranya 'berdamai' dengan rasa bersalahnya seperti yang di atas itu?

#6    Author: DeusVult  Location: Orange County California  Post Posted: Mon, 30-09-2013 1:02 pm

MoanawiK wrote:

DV, bagaimana caranya 'berdamai' dengan rasa bersalahnya seperti yang di atas itu?


Di-analisa dengan rasio. Bila setelah di-analisa dengan rasio maka keputusan yang ditempuh adalah benar, maka rasa bersalah itu seharusnya berkurang karena tahu bahwa tindakan yang dilakukan benar.


Rasa bersalahnya, kalau menurut yang aku baca, timbul karena dia merasa telah memperawani si wanita. Dia ingin bertanggungjawab dengan menikahinya tapi si wanita adalah seorang atheist, dimana ini akan sangat membahayakan masa depan perkawinan.

Well, yang membuat suatu perkawinan itu valid, bukan-lah hubungan seksual. Kalau memang "hubungan seksual = kawin" maka semua pemerkosa harus diwajibkan utuk mengawini yang diperkosa. Jadi sekalipun seorang laki-laki dan perempuan berhubungan seksual, itu tidak mengharuskan suatu pernikahan.

Tentu saja ini tidak berarti orang yang melakukan hubungan pra-nikah lepas dari tanggung jawab. Tentu saja dia harus bertanggungjawab. Misalnya kalau dari hubungan itu lahir anak, maka kedua belah pihak wajib mengupayakan kesejahteraan si anak. Bentuk tanggung jawab lainnya antara lain adalah mengakui perbuatan, mengakui dosa ke Romo, bahkan menyerahkan diri kepada polisi karena telah melakukan perbuatan zina yang merupakan pelanggaran hukum (kalau hubungan itu dilakukan atas suka sama suka, ya kedua belah pihak menyerahkan diri ke polisi supaya di proses secara hukum bersama).

#7    Author: ASCA    Post Posted: Tue, 01-10-2013 12:14 pm

terima kasih atas saran nya.

setelah 2 hari ber-rosario, berpikir dan mengkomunikasikan ini dengan dia,
saya memilih untuk tetap bertahan bersama dia dalam teladan hidup pacaran katolik selama 1 tahun. disamping saya sayang padanya, saya kira itu juga perlu untuk pemeriksaan batin, rasio dan discernment sebelum memutuskan untuk berpisah atau menikah. agar semuanya seperti yang Allah mau.

rasa bersalah karena telah memperawani dia tentu adalah satu dari banyak faktor, tetapi bukan faktor utama.
rasa bersalah ini adalah bagian dari rasa sayang saya padanya, dan lebih berat dirasakan ketika menyadari apa yang telah saya lakukan adalah dosa berat dan mematikan.

ada satu kabar baik, dia kemarin tiba tiba meminta katekismus katolik yang bisa dia baca. dalam bahasa inggris. agak pusing juga karena dia tidak punya komputer atau laptop.


mohon doa dari kalian semua.


Last edited by ASCA on Tue, 01-10-2013 12:23 pm; edited 1 time in total

#8    Author: DeusVult  Location: Orange County California  Post Posted: Tue, 01-10-2013 1:40 pm

Ingat, keselamatan jiwa lebih penting.

Kalau jiwa-mu dalam bahaya karena berhubungan dengan dia, kamu punya kewajban kepada dirimu sendiri dan Allah-mu untuk tidak menempuh resiko yang tidak perlu (nekat masuk ke dalam hubungan yang membahayakan keselamatan jiwa).

Tentu saja kita bisa berdoa sekuat-kuatnya untuk happy ending.

#9    Author: MoanawiK    Post Posted: Tue, 01-10-2013 2:37 pm

DeusVult wrote:
Ingat, keselamatan jiwa lebih penting.

Kalau jiwa-mu dalam bahaya karena berhubungan dengan dia, kamu punya kewajban kepada dirimu sendiri dan Allah-mu untuk tidak menempuh resiko yang tidak perlu (nekat masuk ke dalam hubungan yang membahayakan keselamatan jiwa).

Tentu saja kita bisa berdoa sekuat-kuatnya untuk happy ending.


amien...

#10    Author: sam    Post Posted: Tue, 01-10-2013 9:55 pm

ASCA wrote:
terima kasih atas saran nya.

setelah 2 hari ber-rosario, berpikir dan mengkomunikasikan ini dengan dia,
saya memilih untuk tetap bertahan bersama dia dalam teladan hidup pacaran katolik selama 1 tahun. disamping saya sayang padanya, saya kira itu juga perlu untuk pemeriksaan batin, rasio dan discernment sebelum memutuskan untuk berpisah atau menikah. agar semuanya seperti yang Allah mau.

rasa bersalah karena telah memperawani dia tentu adalah satu dari banyak faktor, tetapi bukan faktor utama.
rasa bersalah ini adalah bagian dari rasa sayang saya padanya, dan lebih berat dirasakan ketika menyadari apa yang telah saya lakukan adalah dosa berat dan mematikan.

ada satu kabar baik, dia kemarin tiba tiba meminta katekismus katolik yang bisa dia baca. dalam bahasa inggris. agak pusing juga karena dia tidak punya komputer atau laptop.


mohon doa dari kalian semua.

setuju sekali, mnrt saya lbh baik meneruskan hubungan karena:
1. untuk bertanggung jawab thd perbuatan anda
2. membimbing dia ke jalan yang benar, Gereja Katolik
3. memperbaiki kesalahan2 anda dlm hubungan dengan dia..
4. dll

semoga sukses... GBU


Last edited by sam on Tue, 01-10-2013 9:58 pm; edited 1 time in total


Akademi Kontra Indiferentisme -> Keluarga Katolik yg sehat dan sejahtera All times are GMT + 6 Hours
Goto page: Next
 FULL PAGE