Select messages from #  through #      FAQ

saya harus bagaimana.. saya jahat

Akademi Kontra Indiferentisme -> Keluarga Katolik yg sehat dan sejahtera

#1  saya harus bagaimana.. saya jahat  Author: ASCA    Post Posted: Sun, 29-09-2013 10:27 am

saya cowok, sebelum mengenal katolik lebih dalam, hidup saya penuh kebejatan.
saya menjalani free sex dengan pacar saya, saya adalah orang pertama yang berhubungan sex dengannya. dengan sadar, dia memberikan semuanya untuk saya. pacar saya tidak beragama, dan tidak percaya adanya Tuhan. atheis yang bahkan sering berkata pada saya bahwa saya bodoh dan nggak rasional karena mau ditipu oleh ajaran kristen.
akibat pengaruh kata katanya, perasaan cinta dan mungkin ketergantungan melakukan sex, saya perlahan berubah menjadi seperti dia. kami terus melakukan hubungan sex dengan menggunakan kondom untuk mencegah kehamilan.

sampai akhirnya, suatu hari saya menyadari ada yang salah dalam diri saya, saya semakin jauh dari Tuhan, tapi kadang kalau saya mau ke Gereja, pacar saya tidak senang, bahkan berulang kali menolak menemani saya ke Gereja, dia terang terangan berharap saya tidak perlu percaya Tuhan lagi. setahun lebih saya telah bersama dia.
kerinduan pada Tuhan suatu hari membawa saya untuk ber instropeksi, saya selalu sendirian ke Gereja, tanpa pernah berani menerima komuni selama 1 tahun lebih.
akhirnya, saya putuskan untuk kembali jadi katolik yang baik. saya mau berubah, setiap kali melakukan sex, yang ada hanya rasa bersalah yang membuat saya semakin lama semakin tidak terkontrol. saya kembali rajin ke misa, mengambil sakramen tobat, berdoa dan berpantang daging.
saya utarakan ini pada cewek saya, dia cuma bilang : lihat, seberapa lama kamu akan tahan.
sayangnya, dia keliru. saya bertahan dan menolak semua hal tidak sehat dalam hubungan kami.
saya menolak berciuman terlalu lama, dan kontak tubuh yang bisa merangsang saya. lama kelamaan dia merasa saya tidak sayang padanya lagi. dia menangis berkali kali dihadapan saya. dulu saya biasa tidak tega, lalu menuruti keinginan dia. tapi sekarang, saya benar benar mau hidup normal, membentuk pacaran yang katolik, menikah secara katolik, dan membangun keluarga katolik.
setiap ketemu saya coba jelaskan pergumulan saya. berulang kali saya jelaskan, bahwa saya masih sayang padanya, bahwa sex bukanlah kebutuhan fisik seperti yang dia percaya. bahwa saya bisa tetap melanjutkan pacaran dengan dia tanpa sex sampai kami menikah nanti.
tapi dia selalu merasa, saya tidak sayang padanya lagi. hubungan kami memburuk, dia mengatakan saya telah berubah, saya egois karena telah berhubungan sex dengan dia lalu berubah.
sudah berkali kali saya berusaha menjelaskan, dia pikir sekarang saya jijik dengannya, saya tidak mau menyentuhnya lagi, bosan dengannya. dia bilang saya munafik, munafik terbesar dalam hidupnya. dulu, setiap kali dia berkata saya mengutarakan keinginan saya untuk berbalik pada iman saya, dia selalu berkata saya tidak perlu munafik, saya merasa kata katanya benar, lalu biasanya merasa tidak pantas lagi ke Gereja, akhirnya saya mengurungkan niat saya. bahkan saya pernah berkata bahwa saya mungkin ditakdirkan masuk neraka.

saya sering berusaha mengenalkan iman katolik padanya, dia cukup terpelajar, tapi dia bilang bahwa dia ignorant. tahu bahwa dia ignorant.

akhir akhir ini saya merasa sangat lelah, saya terus berusaha memperjuangkan hubungan kami. walau saya merasa dia tidak pernah berusaha berjuang untuk mengenal saya, mengenal sedikit saja iman saya, bukan untuk memaksa dia jadi katolik, tetapi agar dia belajar memahami dan menghargai prinsip saya, agar hubungan kami bisa terus berlanjut dengan rasa saling menghargai keyakinan masing masing.

saya bilang, saya akan melanjutkan ini, saya menyayangi dia dan tidak akan jahat padanya, apalagi saya sudah berhubungan sex dengannya.
saya jahat sekali, sungguh jahat.

ada kalanya saya menangis, dosa saya terlalu banyak. saya memimpikan bisa menikah, mendidik anak anak secara katolik. tapi cewe saya yang sekarang bahkan tidak percaya Tuhan itu ada.
saya tanggung semua ini sebagai silih dan salib.

hubungan kami sangat buruk sebulan terakhir. dia menganggap kami sudah putus. tapi dia masih mencari saja jika butuh apa apa... memeluk saya jika ketemu...kadang menciumi leher dan pipi saya..

saya sedih sekali...
saya merasa jahat karena tindakan ceroboh saya yang mengakibatkan dia kehilangan keperawanan...
kemarin saya pulang dari misa, malamnya saya diajak berantem.
dia bilang sambil menangis, bahwa pikiran kami mengapa begitu berbeda...

apa yang harus saya lakukan...

ya Tuhan tolonglah saya...


Last edited by ASCA on Sun, 29-09-2013 10:44 am; edited 1 time in total

#2    Author: DeusVult  Location: Orange County California  Post Posted: Sun, 29-09-2013 10:47 am

Kalo dia tidak berubah, sebaiknya ditinggalkan saja.

Dan jangan pikir melakukan yang benar itu pasti menghasilkan sesuatu yang enak. Mungkin hidup malah tambah sengsara.

#3    Author: ASCA    Post Posted: Sun, 29-09-2013 11:31 am

apakah harus melakukan yang salah agar hidup tidak sengsara ?

apakah : mari kita lakukan hal yang salah agar yang baik timbul dari padanya ?

#4    Author: DeusVult  Location: Orange County California  Post Posted: Mon, 30-09-2013 4:38 am

ASCA wrote:
apakah harus melakukan yang salah agar hidup tidak sengsara ?


Tidak juga.

Rasanya meninggalkan si wanita karena dia membawa pengaruh yang sangat buruk justru tidak akan membuat hidup sengsara.

Quote:
apakah : mari kita lakukan hal yang salah agar yang baik timbul dari padanya ?


Kalau baca Rom 3:5, jangan lupa diteruskan ke Rom 3:6.

Kalau baca Rom 3:7, jangan lupa diteruskan ke Rom 3:8.

Kalau baca Rom 6:1, jangan lupa diteruskan ke Rom 6:2.

Kalau baca Rom 6:15, jangan lupa diteruskan ke Rom 6:16.

#5    Author: MoanawiK    Post Posted: Mon, 30-09-2013 7:46 am

DeusVult wrote:
ASCA wrote:
apakah harus melakukan yang salah agar hidup tidak sengsara ?


Tidak juga.

Rasanya meninggalkan si wanita karena dia membawa pengaruh yang sangat buruk justru tidak akan membuat hidup sengsara.

Quote:
apakah : mari kita lakukan hal yang salah agar yang baik timbul dari padanya ?


Kalau baca Rom 3:5, jangan lupa diteruskan ke Rom 3:6.

Kalau baca Rom 3:7, jangan lupa diteruskan ke Rom 3:8.

Kalau baca Rom 6:1, jangan lupa diteruskan ke Rom 6:2.

Kalau baca Rom 6:15, jangan lupa diteruskan ke Rom 6:16.


Quote:
saya sedih sekali...
saya merasa jahat karena tindakan ceroboh saya yang mengakibatkan dia kehilangan keperawanan...


DV, bagaimana caranya 'berdamai' dengan rasa bersalahnya seperti yang di atas itu?

#6    Author: DeusVult  Location: Orange County California  Post Posted: Mon, 30-09-2013 1:02 pm

MoanawiK wrote:

DV, bagaimana caranya 'berdamai' dengan rasa bersalahnya seperti yang di atas itu?


Di-analisa dengan rasio. Bila setelah di-analisa dengan rasio maka keputusan yang ditempuh adalah benar, maka rasa bersalah itu seharusnya berkurang karena tahu bahwa tindakan yang dilakukan benar.


Rasa bersalahnya, kalau menurut yang aku baca, timbul karena dia merasa telah memperawani si wanita. Dia ingin bertanggungjawab dengan menikahinya tapi si wanita adalah seorang atheist, dimana ini akan sangat membahayakan masa depan perkawinan.

Well, yang membuat suatu perkawinan itu valid, bukan-lah hubungan seksual. Kalau memang "hubungan seksual = kawin" maka semua pemerkosa harus diwajibkan utuk mengawini yang diperkosa. Jadi sekalipun seorang laki-laki dan perempuan berhubungan seksual, itu tidak mengharuskan suatu pernikahan.

Tentu saja ini tidak berarti orang yang melakukan hubungan pra-nikah lepas dari tanggung jawab. Tentu saja dia harus bertanggungjawab. Misalnya kalau dari hubungan itu lahir anak, maka kedua belah pihak wajib mengupayakan kesejahteraan si anak. Bentuk tanggung jawab lainnya antara lain adalah mengakui perbuatan, mengakui dosa ke Romo, bahkan menyerahkan diri kepada polisi karena telah melakukan perbuatan zina yang merupakan pelanggaran hukum (kalau hubungan itu dilakukan atas suka sama suka, ya kedua belah pihak menyerahkan diri ke polisi supaya di proses secara hukum bersama).

#7    Author: ASCA    Post Posted: Tue, 01-10-2013 12:14 pm

terima kasih atas saran nya.

setelah 2 hari ber-rosario, berpikir dan mengkomunikasikan ini dengan dia,
saya memilih untuk tetap bertahan bersama dia dalam teladan hidup pacaran katolik selama 1 tahun. disamping saya sayang padanya, saya kira itu juga perlu untuk pemeriksaan batin, rasio dan discernment sebelum memutuskan untuk berpisah atau menikah. agar semuanya seperti yang Allah mau.

rasa bersalah karena telah memperawani dia tentu adalah satu dari banyak faktor, tetapi bukan faktor utama.
rasa bersalah ini adalah bagian dari rasa sayang saya padanya, dan lebih berat dirasakan ketika menyadari apa yang telah saya lakukan adalah dosa berat dan mematikan.

ada satu kabar baik, dia kemarin tiba tiba meminta katekismus katolik yang bisa dia baca. dalam bahasa inggris. agak pusing juga karena dia tidak punya komputer atau laptop.


mohon doa dari kalian semua.


Last edited by ASCA on Tue, 01-10-2013 12:23 pm; edited 1 time in total

#8    Author: DeusVult  Location: Orange County California  Post Posted: Tue, 01-10-2013 1:40 pm

Ingat, keselamatan jiwa lebih penting.

Kalau jiwa-mu dalam bahaya karena berhubungan dengan dia, kamu punya kewajban kepada dirimu sendiri dan Allah-mu untuk tidak menempuh resiko yang tidak perlu (nekat masuk ke dalam hubungan yang membahayakan keselamatan jiwa).

Tentu saja kita bisa berdoa sekuat-kuatnya untuk happy ending.

#9    Author: MoanawiK    Post Posted: Tue, 01-10-2013 2:37 pm

DeusVult wrote:
Ingat, keselamatan jiwa lebih penting.

Kalau jiwa-mu dalam bahaya karena berhubungan dengan dia, kamu punya kewajban kepada dirimu sendiri dan Allah-mu untuk tidak menempuh resiko yang tidak perlu (nekat masuk ke dalam hubungan yang membahayakan keselamatan jiwa).

Tentu saja kita bisa berdoa sekuat-kuatnya untuk happy ending.


amien...

#10    Author: sam    Post Posted: Tue, 01-10-2013 9:55 pm

ASCA wrote:
terima kasih atas saran nya.

setelah 2 hari ber-rosario, berpikir dan mengkomunikasikan ini dengan dia,
saya memilih untuk tetap bertahan bersama dia dalam teladan hidup pacaran katolik selama 1 tahun. disamping saya sayang padanya, saya kira itu juga perlu untuk pemeriksaan batin, rasio dan discernment sebelum memutuskan untuk berpisah atau menikah. agar semuanya seperti yang Allah mau.

rasa bersalah karena telah memperawani dia tentu adalah satu dari banyak faktor, tetapi bukan faktor utama.
rasa bersalah ini adalah bagian dari rasa sayang saya padanya, dan lebih berat dirasakan ketika menyadari apa yang telah saya lakukan adalah dosa berat dan mematikan.

ada satu kabar baik, dia kemarin tiba tiba meminta katekismus katolik yang bisa dia baca. dalam bahasa inggris. agak pusing juga karena dia tidak punya komputer atau laptop.


mohon doa dari kalian semua.

setuju sekali, mnrt saya lbh baik meneruskan hubungan karena:
1. untuk bertanggung jawab thd perbuatan anda
2. membimbing dia ke jalan yang benar, Gereja Katolik
3. memperbaiki kesalahan2 anda dlm hubungan dengan dia..
4. dll

semoga sukses... GBU


Last edited by sam on Tue, 01-10-2013 9:58 pm; edited 1 time in total

#11    Author: shmily  Location: Ekaristi.org  Post Posted: Thu, 03-10-2013 2:38 pm

Tidak ada yang salah dan benar.. mengikuti saran DV atau bertahan dengannya.. itu semua adalah hakmu. Sebelum kamu terikat dalam ikatan pernikahan yang sah, maka kamu bebas memilih. Selama pilihan kamu tidak melukai imanmu. Berhubungan seksual di luar perkawinan adalah dosa, sehingga ini perlu dibereskan terlebih dahulu. Selanjutnya adalah bagaimana menjadi seorang Katolik di mana pasangan adalah seorang Atheis. Membawanya ke jalan Kebenaran adalah tujuan yang mulia. Tetapi jika kelak teman wanitamu akhirnya meninggalkanmu, maka ingatlah bahwa ia pun memiliki hak untuk memilih seperti halnya dirimu yang memilih untuk tinggal untuk mengenalkan Allah kepadanya.
Lewat perbuatan dan tekad yang mulia saya percaya usahamu tidak akan sia-sia, setidaknya itu membangun iman Katolik-mu.

May God bless your steps..

#12    Author: ASCA    Post Posted: Thu, 03-10-2013 11:29 pm

aku harap tidak ada yang salah tangkap, actually, ini bukan langkah yang lebih baik, justru aku sadar ini langkah yang secara rasio kurang baik dan sangat beresiko dan resikonya luar biasa mengerikan, ini tidak seperti aku akan kehilangan seluruh hartaku, dan hidup miskin sampai mati, resikonya lebih parah sejuta kali lipat daripada itu, dan lagi, DV tidak sedang dan tidak pernah menyarankan aku untuk meninggalkan dia. saran DV adalah "jika dia tidak berubah dan membahayakan keselamatan jiwaku dan kewajiban terhadap Allahku, maka meninggalkan dia adalah sebuah pilihan yang bisa dipertanggungjawabkan secara iman dan tentunya juga harus mempertimbangkan faktor faktor objektif yang mungkin tidak terceritakan disini oleh bias terhadap egoku"

justru aku sekarang sedang mengikuti saran DV dengan merenungkan konsekuensi dan batas batas kekuatanku dalam memenuhi kewajibanku terhadap Allahku.
DV membuat saran yang cukup telak dan tepat sasaran, kadang punya pacar protestan saja sudah menimbulkan banyak perbedaan pola pikir, apalagi atheis, apalagi atheis yang kurang mau mengerti kepercayaan pasangan. selain itu, saran DV membuatku sadar akan banyak hal. Pernikahan adalah sesuatu yang sangat serius dan kudus, dimana Allah juga berkarya melalui persatuan dua manusia, dan jika Allah berkehendak, Allah akan menitipkan kita hasil karyaNya : makhluk makhluk mungil yang sedang menanti untuk menjadi ada. Dimana mereka pun diinginkan Allah untuk selamat dan bersinar demi kemuliaanNya.
ini bukan tanggung jawab perkawinan belaka, ini adalah sesuatu yang normal yang sudah sewajarnya dilakukan oleh orang katolik.

salah satu contoh perbedaan pikiran kami yang paling sederhana adalah :
kadang dia tanya apa visi dan misi saya menjalani pernikahan, saya berkata padanya bahwa saya memasrahkan itu pada Allah saya, saya juga tidak mau berkontrasepsi bahkan bermental kontrasepsi jika menikah nanti, ini adalah prinsip saya. namun dia tidak merasa itu masuk akal, lalu dia akan lari ke masalah ekonomi dan populasi penduduk untuk meyakinkan saya betapa tidak masuk akalnya kontrasepsi, padahal untuk menjelaskan dan menjawab masalah ini, yang paling dasar dan paling sedikit adalah harus percaya Tuhan itu ada. Sesuatu yang bahkan dia tidak punyai.
dia hanya menginginkan 1 anak, dan setelah itu berkontrasepsi. saya bilang, 1 anak juga ok, tapi saya tidak mau berkontrasepsi.
dan bahkan saya kurang suka membicarakan hal tentang mau berapa anak setelah perkawinan, saya percaya divine providence Allah akan hidup perkawinan. Saya juga percaya seharusnya manusia tidak boleh membatasi karya Allah. saya tidak mau menikah dalam bayang bayang mental kontraseptif. kalau Allah kasih saya 4 anak, siapa tahu 1 atau 2 anak saya nanti bisa jadi romo. Saya kenal dekat seorang pembantu yang punya 4 anak, dan mereka bisa tetap hidup bahagia. anaknya juga nggak jadi preman atau penjahat karena masalah ekonomi. mereka orang orang yang baik. saya tidak takut.

dari permenungan saya, zaman dan segala kecongkakannya lah yang membuat manusia terhipotis oleh pola pikir materialistis, takut dihina dan diremehkan tetangga dll.
contoh lagi adalah, saya lebih menyukai istri menitikberatkan anak, saya tidak melarang istri bekerja, tetapi fokus terhadap iman anak adalah yang paling utama. fokus ini harus total, dan jika pekerjaan diluar memang dirasa mengganggu fokus ini, adalah lebih baik istri tidak usah bekerja. dan konsekuensinya adalah saya harus lebih rajin bekerja, dan ini adalah salib saya.

dalam hal hal diatas saya sering mendapat keberatan dari orang orang. tapi inilah prinsip dan iman saya, jika toh saya tidak bisa menemukan seorang wanita untuk hidup bersama saya secara katolik. saya tidak takut hidup selibat.

1 tahun yang akan kujalani, seperti yang telah aku tuliskan, adalah waktu maksimal, dan minimalnya adalah 1 detik.
jadi misalnya 2 detik setelah aku menulis posting ini dan aku merasa bahwa keadaan memang tidak bisa lagi sejalan dengan kewajibanku pada Allahku, aku akan meninggalkannya.

sekali lagi, terima kasih saran dan doa doanya.

nb :
@shmily
dosa itu sudah Allah bereskan melalui sakramen tobat dan silih. semoga Allah mengampuni aku.


Last edited by ASCA on Thu, 03-10-2013 11:42 pm; edited 4 times in total

#13    Author: ASCA    Post Posted: Fri, 04-10-2013 12:03 am

sudah cukup sampai disini saya berdosa kepada Allah, saya mau berubah. saya harus berubah. sekarang biar Allah yang bekerja dalam diri saya secara total. saya sudah jadi jahat sedemikian lama, berdosa bertahun tahun, selama hidup apakah pernah saya menyenangkan Tuhan ? akankah saya menyenangkan hatiNya sedikit saja. orang seperti apakah saya jika tidak mau hidup lebih lurus demi Dia yang sejati mengasihi saya.

situs ini membantu saya mengenal iman saya lebih dalam, lebih indah. terimakasih dan mungkin terimakasih saja belum cukup.
para modie dan pemilik ekaristi.org, semoga kalian tahu, yang kalian perjuangkan disini tidak pernah sia sia.
teruslah berjuang...

#14    Author: Cyrillo  Location: Kota 7  Post Posted: Tue, 08-10-2013 3:47 pm

Hai ASCA,

maaf kalau saya OOT, tapi saya penasaran saja, kalo pacarmu itu minta katekismus bahasa inggris dan dia juga berpendidikan tinggi, kenapa nggak ada laptop atau komputer ?

good Job maaf bener-bener penasaran saja soalnya
makasih

#15    Author: ASCA    Post Posted: Wed, 09-10-2013 10:49 pm

hi pak cyril,

dia minta katekismus bahasa inggris karena tidak bisa bahasa indo

tidak punya laptop karena dia bilang tidak punya uang dan belum butuh sekali. tapi menurutku faktor kekurang bisaan dia menabung dan kekurang niatan dalam mengontrol pengeluaran adalah faktor utamanya.

3 hari yang lalu kami sempat bicara banyak dan intinya
syarat dari dia adalah :

1. uang harus cukup untuk menyediakan makanan berdaging setiap hari, biaya ini itu, dan traveling.
2. anak 1 dan berkontrasepsi.
3. pro-choice, aborsi jika kebobolan dalam keadaan ekonomi yang tidak mendukung.
4. divorce jika terjadi ketidakcocokan atau timbulnya keadaan tertentu yang memungkinkan terjadinya divorce.
5. perselingkuhan fisik dan hati diperbolehkan. menurutnya, dia kadang ingin menikmati masa mudanya dengan mencicipi rasanya "begitu" dengan orang lain, dia juga bilang akan memperbolehkan suami pergi ke lokalisasi karena seks adalah kebutuhan fisik seperti halnya rekreasi, makan enak dll.

UNBELIEVABLE!
mendengar itu semua saya langsung mau pingsan ditempat.

sebenarnya, saya bukan tipe yang suka berkoar koar masalah iman saya pada orang lain, apalagi saya tergolong introvert. masalah kontrasepsi pun terpaksa saya angkat ketika kami bertengkar hebat masalah dukungan dia terhadap aborsi yang dilakukan kakak dan pacar kakaknya, dan berkali kali mengatakan, begitulah akibatnya jika tidak memakai kontrasepsi....
kadang bahkan dia bilang rasul yesus mungkin adalah penipu, yesus juga. dan waktu itu, saya diam saja karena mengalah dan tidak mau ribut.
tapi aku punya batas. aku mungkin masih bisa memahami orang yang belum tahu siapa Yesus lalu menghujat Yesus, atau memahami keberatan orang tentang kontrasepsi mengingat materinya yang memang susah dimengerti bahkan oleh orang katolik sendiri, namun aborsi ?

aku ketika belum tahu katolikpun, dan masih belum tahu Tuhan itu ternyata ada, dengan segala kebutaan dan kebodohanku masih bisa meraba betapa tidak bermoral dan kejamnya aborsi. mengapa dia malah mendukung aborsi yang dilakukan si kakak? mending kalau bersikap netral....

kemarin malam kami memutuskan untuk berpisah. dan keputusan ini sulit sekali, dan sangat sedih karena tentu perasaan sayang masih ada.

tapi aku harap ini yang terbaik bagi kami berdua.

saya masih merasa sangat berdosa, sekalipun sudah sakramen tobat 3 kali. sampai si romo sepertinya agak bete denganku. atau mungkin perasaanku saja. pernah terpikir tidak akan menikah karena merasa diri saya kotor, kasihan istri saya nanti...

mungkin ini pelajaran berharga bagi saya, dan bagi kalian agar tidak melakukan sex pranikah dengan pasangan kalian.

Tuhan kasihanilah aku orang berdosa.

terimakasih saran kalian. saya pamit dari topik ini. saya ingin memulai lembaran baru hidup saya hanya didalam Tuhan. amin.

#16    Author: DeusVult  Location: Orange County California  Post Posted: Thu, 10-10-2013 12:18 pm

Orangnya parah sekali.

Membahayakan keselamatan sekali kalau hidup bersama dengan orang seperti itu (bukan hanya keselamatan, tapi juga kehidupan di dunia [bisa stress]).

#17    Author: ASCA    Post Posted: Thu, 10-10-2013 4:39 pm

terimakasih DV.

aku juga sangat parah.

banyak hal baik juga dalam dirinya, mungkin karena beda pola pikir saja.

#18    Author: curiosa  Location: bandung  Post Posted: Wed, 16-10-2013 5:16 pm

Ingat, Bunda Maria adalah Bunda Pengantara Segala Rahmat dan Bunda Pengurai Simpul Masalah. Maka mintalah pertolongan kepada Bunda Maria.

Saranku adalah:

Berdoalah Rosario lengkap(15 peristiwa) setiap hari dengan ujud pertobatan dan keselamatan dirimu dan pacarmu selama setahun kedepan, dan kalo bisa seterusnya.

Para kudus sudah memberi kesaksian bahwa melalui Rosario banyak orang berdosa bertobat termasuk yang ateis.


Untuk memperoleh hasil(rahmat) yang besar
diperlukan pengorbanan yang besar dan ketekunan.


Pray, Hope, and Don't Worry.
*JMJ*

#19    Author: Flamen    Post Posted: Mon, 18-11-2013 3:32 pm

oh hal yang serupa terjadi pada saya dan teman baik saya

momentnya tdk sama, saya 2009, dia 2011

intinya begini, melihat hasilnya skrg, saya hidupnya jauh lbh baik dari dia, dia sih udah ga jelas, udah punya anak, menikah gitu2 aja, dan ga jelas pernikahannya.

menurut saya, jangan bermain main di lumpur.

Tuhan tidak berkesan dengan kemampuanmu untuk bertahan dari dosa. tapi Tuhan lebih berkesan dengan kemampuanmu untuk MENJAUH DARI SUMBER DOSA.

#20    Author: dropbolt    Post Posted: Tue, 05-08-2014 1:07 pm

ternyata si perempuan bukan orang indonesia ya? karena dia tidak bisa berbahasa indonesia. menurut saya ini akibat dari salah didik dimana orang tuanya tidak mengajarkan agama ke si perempuan sedari kecil.

banyak orang yang sudah punya pola pikir "barat", dimana free sex adalah ok, sex hanyalah kebutuhan fisik seperti makan dan minum, sehingga sah-sah saja melakukan sex dengan siapa pun. bahkan banyak club "swingers" dimana pasangan2 suami istri saling bertukar pasangan melakukan hubungan sex.

kalau dilihat dari kacamata kita sebagai orang indonesia, dan dari agama, parah bukan? tapi bagi mereka yang melakukannya, menurut mereka itu adalah hal yang benar. sama seperti teroris yang melakukan aksi teror karena menurut keyakinan mereka, apa yang mereka lakukan itu benar.

nah, menurut saya sebaiknya kita tidak usah dekat atau bahkan jangan bergaul dengan orang2 yang tidak sepaham dengan kita karena bisa membahayakan diri kita sendiri. biarkan saja mereka melakukan paham mereka selama tidak merugikan diri kita, tapi sebisa mungkin, kalau bisa, bimbing mereka ke jalan yang benar (menurut kita)

#21    Author: shmily  Location: Ekaristi.org  Post Posted: Wed, 06-08-2014 6:46 am

dropbolt wrote:

nah, menurut saya sebaiknya kita tidak usah dekat atau bahkan jangan bergaul dengan orang2 yang tidak sepaham dengan kita karena bisa membahayakan diri kita sendiri. biarkan saja mereka melakukan paham mereka selama tidak merugikan diri kita, tapi sebisa mungkin, kalau bisa, bimbing mereka ke jalan yang benar (menurut kita)


bagaimana kita bisa membimbing seseorang ke jalan yang benar ketika disatu sisi kita tidak mau dekat atau tidak bergaul dengannya ?

#22    Author: dropbolt    Post Posted: Fri, 08-08-2014 11:33 am

shmily wrote:
bagaimana kita bisa membimbing seseorang ke jalan yang benar ketika disatu sisi kita tidak mau dekat atau tidak bergaul dengannya ?


kalau memutuskan untuk membimbingnya, mau tidak mau kita harus dekat dan bergaul dengannya

#23    Author: Stanley    Post Posted: Thu, 25-09-2014 11:54 am

dropbolt wrote:
shmily wrote:
bagaimana kita bisa membimbing seseorang ke jalan yang benar ketika disatu sisi kita tidak mau dekat atau tidak bergaul dengannya ?


kalau memutuskan untuk membimbingnya, mau tidak mau kita harus dekat dan bergaul dengannya


Come to think about it.

Yesus bergaul dengan para pendosa karena KasihNya untuk menawarkan kepada mereka pertobatan. Yang benar-benar masuk dalam 'lingkaran dalam' pergaulannya Yesus pun juga banyak yang pendosa. Saya berpikir, pastilah selama prosesnya pewartaan Yesus ini, tentu saja Yesus banyak 'dicobai' oleh mereka juga.

Apalagi klo dosa nya seperti dosa sexual, dimana bisa jadi sangat mengikat. Dan kelemahan manusiawi dari mereka yang ada di sekeliling Yesus mungkin menjadikan sesekali mereka juga kembali mempertimbangkan nikmatnya kehidupan lamanya didalam dosa itu.

Yang saya renungkan... fiuh... betapa beratnya posisi Yesus saat itu. Bergaul bersama mereka, serasa seperti salib itu sudah datang terlebih dahulu bagiNya.

Cuma pemikiranku saja, mungkin juga salah.

#24    Author: immortale_eterno  Location: diantara partitur  Post Posted: Tue, 18-11-2014 2:57 pm

Quote:
Yesus bergaul dengan para pendosa karena KasihNya untuk menawarkan kepada mereka pertobatan. Yang benar-benar masuk dalam 'lingkaran dalam' pergaulannya Yesus pun juga banyak yang pendosa.


betul sekali, karena bukan orang sehat yang membutuhkan tabib.


Akademi Kontra Indiferentisme -> Keluarga Katolik yg sehat dan sejahtera All times are GMT + 6 Hours