FAQFAQ          Username: Password: Log me on automatically each visit

Pembatalan pernikahan    

 
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Keluarga Katolik yg sehat dan sejahtera
View previous topic :: View next topic  
Author Message
Guest
== BANNED ==







PostPosted: Sat, 02-06-2018 10:14 pm    Post subject: Pembatalan pernikahan Reply with quote

saya telah menikah secara katolik selama 19 tahun dan di karuniai dua anak perempuan, 19 tahun dan 8 tahun. Dalam 10 tahun terakhir ini kami berpisah, saya bekerja di luar negeri dan pulang 1 tahun sekali, tetapi 3 tahun terakhir saya pulang 6-8 bulan sekali. Terakhir pulang ini saya mendapatkan istri selingkuh dan itu dilakukan saat saya lagi cuti (dirumah). Istri pergi tidak pamit dan pulang keesokan harinya. Saat itu dia tidak mengakui dan baru setelah saya melihat SMS istri dia mengakui malam itu di ketemu "cowoknya". Dan ternyata mereka sudah punya janji janji(menikah), istri ngomong ke si cowok mau menceraikan saya dan punya rencana mau menghabisi nyawa saya supaya bisa menikah ( mereka sama sama katolik)
Dan pada saat saya balik keluar negeri istri baru mengakui kalu mereka telah berbuat zinah ( dimobil). Sebagai tambahan, istri selama ini tidak pernah jujur dengan keuangan ( pakai uang, utang keman@, jual perhiasan, jual motor) tidak pernah ngomong. Dan waktu malam pertama dulu ternyata istri sudah tidak perawan (ngakunya masih). Saya tidak ingin menceraikan, tetapi kalau istri menceraikan monggo?
Rencan saya, saya ingin kembalikan istri ke orang tuanya dan saya ingin mengajukan masalah ini ke Tribunal gereja.
Apakah dengan data tersebut cukup untuk dibawa ke Tribunal?
apakah mengembalikan istri ke orangtuanya diperbolehkan dalam agama katolik?
Rencana saya juga mau saya tuntut secara pidana, karena istri tidak ada niat baik dan menjelekan keluarga saya. Terima kasih
Back to top
maruko_lien
Penghuni Ekaristi


Joined: 21 Sep 2005
Posts: 1386
Location: somewhere over the rainbow

PostPosted: Wed, 06-06-2018 6:42 am    Post subject: Reply with quote

Quote:
Rencan saya, saya ingin kembalikan istri ke orang tuanya dan saya ingin mengajukan masalah ini ke Tribunal gereja.
Apakah dengan data tersebut cukup untuk dibawa ke Tribunal?


Pembatalan Pernikahan =/= Perceraian.

Pembatalan pernikahan hanya bisa diajukan jika ada syarat2 yang tidak terpenuhi dalam melakukan pernikahan...misalnya nikah akibat hutang/terpaksa, tdak terbuka pada keturunan, tidak ada janji pernikahan dalam pemberkatan (pemberkatan cacat) dll.

Quote:
apakah mengembalikan istri ke orangtuanya diperbolehkan dalam agama katolik?

Gereja Katolik memperbolehkan status 'berpisah' untuk sementara untuk mengevaluasi sikap masing2 pasangan dengan tujuan untuk rujuk kembali setelah semua masalah diselesaikan. Jadi, jawabannya adalah "BOLEH"..dengan syarat untuk sementara dan sebagai usaha untuk memperbaiki masalah yang ada.

Quote:
Rencana saya juga mau saya tuntut secara pidana, karena istri tidak ada niat baik dan menjelekan keluarga saya. Terima kasih
Sebaiknya semuanya dibicarakan baik2 dahulu antara Bapak dan istri..bila masalahnya memang berat, tuntutan secara pidana tidak dilarang dalam agama katolik--bila untuk kebaikan.

Semoga membantu.
_________________
Salam dan doa
Pendatang Baru Belajar Bersama Kanon 7 Sakramen
Back to top
View user's profile Send private message
Guest
== BANNED ==







PostPosted: Tue, 12-06-2018 2:13 pm    Post subject: Re: Pembatalan pernikahan Reply with quote

francis XS wrote:
Apakah dengan data tersebut cukup untuk dibawa ke Tribunal?
apakah mengembalikan istri ke orangtuanya diperbolehkan dalam agama katolik?
Rencana saya juga mau saya tuntut secara pidana, karena istri tidak ada niat baik dan menjelekan keluarga saya. Terima kasih


cb sebelum posting masalah untuk bawa ke tribunal di cari di forum ini.
banyak yg hasilnya nihil. ini pun sempat saya pikirkan tetapi saya cari tau dulu dan tidak ada yang bisa membatalkan pernikahan kami. karena dibenak sekarang yang terpendam di diri saya pembatalan pernikahan tidak bisa dilakukan karena sudah menerima sakramen perkawinan. soal untuk istri anda gak perawan dan dia berbohong itu hanya sebagian kecil untuk membuat keputusan pembatalan perkawinan masih banyak pertimbangan yang diperlukan untuk pembatalan perkawinan. jd jgn sia2 kan waktu km ke sana.

untuk apa tuntut pidana? jika hanya sekedar menjelek2an ya. karena saya ga tau menjelek2kannya seperti apa. asumsi saya cm sekedar menghina aj.

sedikit cerita masalah saya.
saya juga mengalami masalah di keluarga saya yg baru berumur 5 tahun dan pacaran 7 tahun dan sudah punya anak berumur 4 tahun. sampai sekarang

bahkan saya juga sudah jahat sama istri sy yang sudah selingkuh ke beberapa x tetapi masih gt jg. dan ujung nya saya usir dari rumah dan penyesalan saya smp sekarang. ini adalah kesalahan besar ke 2 saya ke istri saya (yang pertama saya mukul dia karena masalah selingkuh dan dia menantang saya untuk dipukul akhirnya saya pukul dan akhirnya masalah selingkuh yang ke 3 ini selesai dan saya pun minta maaf). bahkan ibarat kata istri sya mungkin sudah nyaman dengan tempat barunya ini. saking nyamannya di depan saya, istri saya berani chatingan dengan selingkuhannya. dan terkadang istri saya pun jarang pulang dan menginap di apartemen sewaanya.

Sempat saya mau ceraikan istri saya secara sipil karena saya makin naik pitam ketika melihat foto berduaan di hp nya. untung Tuhan menegur saya melalui teman saya. saya dikasih curahan yang benar dan akhirnya saya urungkan padahal posisi saya sudah di pengadilan agama.

dan smp sekarang perselingkuhan istri saya masih berlanjut. karena selingkuhan istri saya adalah rekan kerjanya apalagi atasannya.

sedikit rollback ke belakang. saya sempat tanya istri saya kenapa km selingkuh? dia hanya jawab itu kelemahan saya. apa ada yg kurang dari saya, dia jawab tidak ada. bingung ga tuh. akhirnya saya ceritakan masalah ini ke ko2 dan ci2 nya. karena istri saya sudah tidak ada orang tua. ko2nya pun naik pitam ke istri saya dan akhirnya pergi dan marah sama istri saya. karena istri saya sudah tau salah dan mengakui salah tp tidak mau berubah. alasannya karena perasaan. sampai sekarang pun orang tua saya belum tahu.

dan apa yang sekarang saya harus lakukan? berserah kepada Tuhan dan menyakini yang sudah dipersatukan Allah tidak bisa dipisahkan oleh manusia. Banyak berdoa, perbanyak dan perdalam sakramen ekaristi, dan berusaha mendidik anak yang takut akan Tuhan Allah, Tuhan Yesus dan dosa. terkadang saya suka kasih firman ke istri saya entah dibaca atau tidak saya tidak tahu. setidaknya ini bentuk usaha nyata saya ke istri saya.

walaupun terkadang saya kepikiran perbuatan istri saya, kesal diginiin terus apa yg harus saya lakukan ya ke teman saya itu yang pertama lalu berdoa dan banyak baca2 mujizat Tuhan. ini cukup menengkan saya. ya setelah itu ya dengan SABAR dan MEMAAFKAN atas perbuatannya.
kenapa SABAR? karena menikmat mujizat Tuhan itu tidak seperti makan cabe yang langsung berasa pedasnya itu yang disampaikan teman saya ke saya.
kenapa MEMAAFKAN? ini yang paling berat termasuk saya dl karena ini bukan ke 1 2 atau 3 sudah ke 4. tp saya harus terima dan memaafkan istri saya. karena kekurangannya. karena sejelek-jeleknya sifat istri saya. dia lah yg saya pilih di hadapan Tuhan.


mungkin ini yang bisa saya sampaikan. saya masih banyak kekurangannya kok dan saya disini cuma berbagi dengan masalah yang hampir sama. semoga ini bisa membantu km. Tuhan memberkati mu.


Last edited by Guest on Tue, 12-06-2018 2:21 pm; edited 1 time in total
Back to top
maruko_lien
Penghuni Ekaristi


Joined: 21 Sep 2005
Posts: 1386
Location: somewhere over the rainbow

PostPosted: Wed, 13-06-2018 1:03 pm    Post subject: Reply with quote

bondol wrote:
bahkan saya juga sudah jahat sama istri sy yang sudah selingkuh ke beberapa x tetapi masih gt jg. dan ujung nya saya usir dari rumah dan penyesalan saya smp sekarang. ini adalah kesalahan besar ke 2 saya ke istri saya (yang pertama saya mukul dia karena masalah selingkuh dan dia menantang saya untuk dipukul akhirnya saya pukul dan akhirnya masalah selingkuh yang ke 3 ini selesai dan saya pun minta maaf). bahkan ibarat kata istri sya mungkin sudah nyaman dengan tempat barunya ini. saking nyamannya di depan saya, istri saya berani chatingan dengan selingkuhannya. dan terkadang istri saya pun jarang pulang dan menginap di apartemen sewaanya.

Haduh..Sedih..yang tabah ya...Sedih(....

bondol wrote:
dan smp sekarang perselingkuhan istri saya masih berlanjut. karena selingkuhan istri saya adalah rekan kerjanya apalagi atasannya.

sedikit rollback ke belakang. saya sempat tanya istri saya kenapa km selingkuh? dia hanya jawab itu kelemahan saya. apa ada yg kurang dari saya, dia jawab tidak ada. bingung ga tuh. akhirnya saya ceritakan masalah ini ke ko2 dan ci2 nya. karena istri saya sudah tidak ada orang tua. ko2nya pun naik pitam ke istri saya dan akhirnya pergi dan marah sama istri saya. karena istri saya sudah tau salah dan mengakui salah tp tidak mau berubah. alasannya karena perasaan. sampai sekarang pun orang tua saya belum tahu.

agak sulit mengubah kalau istri tidak mau 'bertobat'..apakah sudah dicoba untuk menemui selingkuhannya dan bicara baik2?

bondol wrote:
walaupun terkadang saya kepikiran perbuatan istri saya, kesal diginiin terus apa yg harus saya lakukan ya ke teman saya itu yang pertama lalu berdoa dan banyak baca2 mujizat Tuhan. ini cukup menengkan saya. ya setelah itu ya dengan SABAR dan MEMAAFKAN atas perbuatannya.
kenapa SABAR? karena menikmat mujizat Tuhan itu tidak seperti makan cabe yang langsung berasa pedasnya itu yang disampaikan teman saya ke saya.
kenapa MEMAAFKAN? ini yang paling berat termasuk saya dl karena ini bukan ke 1 2 atau 3 sudah ke 4. tp saya harus terima dan memaafkan istri saya. karena kekurangannya. karena sejelek-jeleknya sifat istri saya. dia lah yg saya pilih di hadapan Tuhan.

coba dibawa dalam doa dengan perantaraan St Yoseph...dan Santo Yudas Tadeus...semoga ada solusi yang baik dari masalah rumah tangga Bapak dari doa dan usaha...

GBU.
_________________
Salam dan doa
Pendatang Baru Belajar Bersama Kanon 7 Sakramen
Back to top
View user's profile Send private message
Guest
== BANNED ==







PostPosted: Tue, 19-06-2018 9:26 am    Post subject: Reply with quote

maruko_lien wrote:

Haduh..Sedih..yang tabah ya...Sedih(....

agak sulit mengubah kalau istri tidak mau 'bertobat'..apakah sudah dicoba untuk menemui selingkuhannya dan bicara baik2?

coba dibawa dalam doa dengan perantaraan St Yoseph...dan Santo Yudas Tadeus...semoga ada solusi yang baik dari masalah rumah tangga Bapak dari doa dan usaha...

GBU.


iya harus tabah dan kuat.

ya Tuhan yang akan mengubahnya. bukan saya mengharapkan istri atau selingkuhannya di sentil Tuhan. tetapi secara manusianya kami sudah berusaha untuk memberitahukan dengan benar dan kembali lagi ke manusianya bukan kah seperti itu.

untuk menemuinya sudah pernah. saya pribadi sendiri bahkan bersama dengan ko2 ipar saya dengan baik2. tetap dengan kekeuh tidak mau melepaskan istri saya. karena hanya istri saya yang harus melepaskannya. padahal selingkuhannya sudah punya istri tetapi memang bermasalah hubungannya juga. sedangkan saya dan istri saya tidak ada masalah hubungannya.

ya saya sudah bawa ke dalam novena St. Yudas Tadeus. dan semua saya harus serahkan ke dalam tangan Tuhan. dan tetap harus menyakinkan Matius 19 : 6 Smile

bantu doa untuk keluarga saya dan saya agar selalu kuat menghadapi cobaan ini ya om.

GBU too.
Back to top
Benedictus XVI



Joined: 30 Nov 2010
Posts: 423

PostPosted: Fri, 29-06-2018 10:06 am    Post subject: Reply with quote

Macam-macam halangan perkawinan adalah bagian dari pembatalan perkawinan


Apakah yang Membatalkan Perkawinan menurut Hukum Kanonik?

Pertama-tama perlu diketahui, bahwa istilahnya “membatalkan” tetapi maksudnya adalah “menyatakan bahwa suatu perkawinan tidak sah untuk disebut sebagai perkawinan”. Secara umum Gereja Katolik selalu memandang perkawinan sebagai perkawinan yang sah, kecuali dapat dibuktikan kebalikannya. Menurut Gereja Katolik, ada tiga hal yang “membatalkan” perkawinan: I) halangan menikah; II) cacat konsensus; dan III) cacat forma kanonika. Jika ada satu atau lebih halangan/ cacat ini, yang terjadi sebelum perkawinan atau pada saat perkawinan diteguhkan, maka sebenarnya perkawinan tersebut sudah tidak memenuhi syarat untuk dapat disebut sebagai perkawinan yang sah sejak awal mula, sehingga jika yang bersangkutan memohon kepada pihak Tribunal Keuskupan, maka setelah melakukan penyelidikan seksama, atas dasar kesaksian para saksi dan bukti- bukti yang diajukan, pihak Tribunal dapat mengabulkan permohonan pembatalan perkawinan yang diajukan oleh pasangan tersebut. Sebaliknya, jika perkawinan tersebut sudah sah, maka perkawinan itu tidak dapat dibatalkan ataupun diceraikan, sebab demikianlah yang diajarkan oleh Sabda Tuhan (lih. Mat 19:5-6).


Berikut ini adalah penjabaran ketiga hal yang membatalkan perkawinan menurut hukum kanonik Gereja Katolik:


I. Macam- macam halangan menikah adalah (lih. Kitab Hukum Kanonik kann. 1083-1094): 1) kurangnya umur, 2) impotensi, 3) adanya ikatan perkawinan terdahulu, 4) disparitas cultus/ beda agama tanpa dispensasi, 5) tahbisan suci, 6) kaul kemurnian dalam tarekat religius, 7) penculikan dan penahanan, 8) kejahatan pembunuhan, 9) hubungan persaudaraan konsanguinitas, 10) hubungan semenda, 11) halangan kelayakan publik seperti konkubinat, 12) ada hubungan adopsi.
Selanjutnya tentang penjelasan tentang macam- macam halangan menikah, silakan klik di sini.


II. Cacat konsensus adalah (lih. Kitab Hukum Kanonik kann. kann 1095-1107): 1) Kekurangan kemampuan menggunakan akal sehat, 2) Cacat yang parah dalam hal pertimbangan (grave defect of discretion of judgement), 3) Ketidakmampuan mengambil kewajiban esensial perkawinan, 4) Ketidaktahuan (ignorance) akan hakekat perkawinan, 5) Salah orang, 6) Salah dalam hal kualitas pasangan, yang menjadi syarat utama, 7) Penipuan/ dolus, 8) Simulasi total/ hanya sandiwara untuk keperluan tertentu seperti untuk mendapat ijin tinggal/ kewarganegaraan tertentu, 9) Simulasi sebagian, seperti: Contra bonum polis: dengan maksud dari awal untuk tidak mau mempunyai keturunan; Contra bonum fidei: tidak bersedia setia/ mempertahankan hubungan perkawinan yang eksklusif hanya untuk pasangan; Contra bonum sacramenti: tidak menghendaki hubungan yang permanen/ selamanya; Contra bonum coniugum: tidak menginginkan kebaikan pasangan, contoh menikahi agar pasangan dijadikan pelacur, dst, 10) Menikah dengan syarat kondisi tertentu, 11) Menikah karena paksaan, 12) Menikah karena ketakutan yang sangat akan ancaman tertentu.


III. Cacat forma kanonika adalah (lih. Kann 1108-1123): Pada dasarnya pernikahan diadakan berdasarkan cara kanonik Katolik, di depan otoritas Gereja Katolik dan dua orang saksi. Maka Pernikahan antara dua pihak yang dibaptis, yaitu satu pihak Katolik dan yang lain Kristen non- Katolik, memerlukan izin dari pihak Ordinaris Gereja Katolik (pihak keuskupan di mana perkawinan akan diteguhkan). Sedangkan pernikahan antara pihak yang dibaptis Katolik dengan pihak yang tidak dibaptis (non Katolik dan non- Kristen) memerlukan dispensasi dari pihak Ordinaris.
Lebih lanjut tentang topik Kasus-kasus Pembatalan Perkawinan Kanonik, silakan klik di sini.

Jika terdapat satu hal atau lebih dari hal-hal yang membatalkan perkawinan ini, maka salah satu pihak pasangan tersebut dapat mengajukan surat permohonan pembatalan perkawinan kepada pihak Tribunal Keuskupan. Pihak Tribunal Keuskupan akan memeriksa kasus tersebut, dan jika ditemukan bukti-bukti yang kuat dan para saksi, maka Tribunal dapat meluluskan permohonan tersebut. Baru jika sudah dikeluarkan surat persetujuan Tribunal, maka perkawinan tersebut dapat dinyatakan resmi tidak sah, dan dengan demikian kedua belah pihak berstatus bebas/ tidak lagi terikat perkawinan tersebut.


Link sumber : http://www.katolisitas.org/apakah-yang- ..ut-hukum-kanonik/




Macam-macam Halangan yang menggagalkan perkawinan

(Relevansi kann. 1083-1094)

Ada bermacam-macam halangan yang menggagalkan perkawinan



Kurangnya umur (bdk. kan 1083):

Syarat umur yang dituntut oleh kodeks 1983 adalah laki-laki berumur 16 tahun dan perempuan berumur 14 tahun dan bukan kematangan badaniah. Tetapi hukum kodrati menuntut kemampuan menggunakan akalbudi dan mengadakan penilaian secukupnya dan “corpus suo tempore habile ad matrimonium”. Hukum sipil sering mempunyai tuntutan umur lebih tinggi untuk perkawinan dari pada yang dituntut hukum Gereja. Jika salah satu pihak belum mencapai umur yang ditentukan hukum sipil, Ordinaris wilayah harus diminta nasehatnya dan izinnya diperlukan sebelum perkawinan itu bisa dilaksanakan secara sah (bdk kan. 1071, §1, no.3). Izin semacam itu juga harus diperoleh dari Ordinaris wilayah dalam kasus di mana orang tua calon mempelai yang belum cukup umur itu tidak mengetahui atau secara masuk akal tidak menyetujui perkawinan itu (bdk. kan 1071, §1, no.6).



Impotensi (bdk kan. 1084):

Impotensi itu adalah halangan yang menggagalkan, demi hukum kodrati, dalam perkawinan. Sebab impotensi itu mencegah suami dan istri mewujudkan kepenuhan persatuan hetero seksual dari seluruh hidup, badan dan jiwa yang menjadi ciri khas perkawinan. Yang membuat khas persatuan hidup suami istri adalah penyempurnaan hubungan itu lewat tindakan mengadakan hubungan seksual dalam cara yang wajar. Impotensi yang menggagalkan perkawinan, haruslah sudah ada sebelum perkawinan dan bersifat tetap. Pada waktu perkawinan sudah ada, bersifat tetap maksudnya impotensi itu terus menerus dan bukan berkala, serta tidak dapat diobati kecuali dengan operasi tidak berbahaya. Impotensi ada dua jenis: bersifat absolut dan relatif. Impotensi absolut jika laki-laki atau perempuan sama sekali impotens. Impotensi relatif jika laki-laki atau perempuan tertentu ini tidak dapat melaksanakan hubungan seksual. Dalam hal absolut orang itu tidak dapat menikah sama sekali, dalam impotensi relatif pasangan tertentu juga tidak dapat menikah secara sah.



Adanya ikatan perkawinan (bdk. kan 1085):

Ikatan perkawinan terdahulu menjadi halangan yang menggagalkan karena hukum ilahi. Kan 1085, §1: menghilangkan ungkapan “kecuali dalam hal privilegi iman” (Jika dibandingkan dengan kodeks 1917). Ungkapan ini berarti jika seorang yang dibaptis menggunakan privilegi iman walau masih terikat oleh ikatan perkawinan terdahulu, dia bisa melaksanakan perkawinan secara sah dan ketika perkawinan baru itu dilaksanakan ikatan perkawinan lama diputuskan.



Disparitas cultus (bdk. kan 1086):

Perkawinan antara dua orang yang diantaranya satu telah dibaptis dalam Gereja Katolik atau diterima di dalamnya dan tidak meninggalkannya dengan tindakan formal, sedangkan yang lain tidak dibaptis, adalah tidak sah. Perlu dicermati ungkapan “meninggalkan Gereja secara formal” berarti melakukan suatu tindakan yang jelas menunjukkan etikat untuk tidak menjadi anggota Gereja lagi. Tindakan itu seperti menjadi warga Gereja bukan Katolik atau agama Kristen, membuat suatu pernyataan di hadapan negara bahwa dia bukan lagi Katolik. Namun demikian janganlah disamakan tindakan itu dengan orang yang tidak pergi ke Gereja Katolik lagi tidak berarti meninggalkan Gereja. Ada dua alasan tentang norma ini: pertama karena tujuan halangan ini adalah untuk menjaga iman katolik, tidak ada alasan mengapa orang yang sudah meninggalkan Gereja harus diikat dengan halangan itu. Kedua, Gereja tidak mau membatasi hak orang untuk menikah.
Perkawinan yang melibatkan disparitas cultus (beda agama) ini, sesungguhnya tetap dapat dianggap sah, asalkan: 1) sebelumnya pasangan memohon dispensasi kepada pihak Ordinaris wilayah/ keuskupan di mana perkawinan akan diteguhkan. Dengan dispensasi ini, maka perkawinan pasangan yang satu Katolik dan yang lainnya bukan Katolik dan bukan Kristen tersebut tetap dapat dikatakan sah dan tak terceraikan; setelah pihak yang Katolik berjanji untuk tetap setia dalam iman Katolik dan mendidik anak-anak secara Katolik; dan janji ini harus diketahui oleh pihak yang non- Katolik (lih. kan 1125). 2) Atau, jika pada saat sebelum menikah pasangan tidak mengetahui bahwa harus memohon dispensasi ke pihak Ordinaris, maka sesudah menikah, pasangan dapat melakukan Convalidatio (lih. kann. 1156-1160) di hadapan imam, agar kemudian perkawinan menjadi sah di mata Gereja Katolik.



Tahbisan suci (bdk. kan. 1087):

Adalah tidak sahlah perkawinan yang dicoba dilangsungkan oleh mereka yang telah menerima tahbisan suci.
Kaul kemurnian dalam suatu tarekat religius (bdk. kan. 1088):
Kaul kekal kemurnian secara publik yang dilaksanakan dalam suatu tarekat religius dapat menggagalkan perkawinan yang mereka lakukan.


Penculikan dan penahanan (bdk. kan. 1089):

Antara laki-laki dan perempuan yang diculik atau sekurang-kurangnya ditahan dengan maksud untuk dinikahi, tidak dapat ada perkawinan, kecuali bila kemudian setelah perempuan itu dipisahkan dari penculiknya serta berada di tempat yang aman dan merdeka, dengan kemauannya sendiri memilih perkawinan itu. Bahkan jika perempuan sepakat menikah, perkawinan itu tetap tidak sah, bukan karena kesepakatannya tetapi karena keadaannya yakni diculik dan tidak dipisahkan dari si penculik atau ditahan bertentangan dengan kehendaknya.


Kejahatan (bdk. kan. 1090):

Tidak sahlah perkawinan yang dicoba dilangsungkan oleh orang yang dengan maksud untuk menikahi orang tertentu melakukan pembunuhan terhadap pasangan orang itu atau terhadap pasangannya sendiri.


Persaudaraan (konsanguinitas (bdk. kan. 1091):

Alasan untuk halangan ini adalah bahwa perkawinan antara mereka yang berhubungan dalam tingkat ke satu garis lurus bertentangan dengan hukum kodrati. Hukum Gereja merang perkawinan di tingkat lain dalam garis menyamping, sebab melakukan perkawinan di antara mereka yang mempunyai hubungan darah itu bertentangan dengan kebahagiaan sosial dan moral suami-isteri itu sendiri dan kesehatan fisik dan mental anak-anak mereka.


Hubungan semenda (bdk. kan. 1092):

Hubungan semenda dalam garis lurus menggagalkan perkawinan dalam tingkat manapun. Kesemendaan adalah hubungan yang timbul akibat dari perkawinan sah entah hanya ratum atau ratum consummatum. Kesemendaan yang timbul dari perkawinan sah antara dia orang tidak dibaptis akan menjadi halangan pada hukum Gereja bagi pihak yang mempunyai hubungan kesemendaan setelah pembaptisan dari salah satu atau kedua orang itu. Menurut hukum Gereja hubungan kesemendaan muncul hanya antara suami dengan saudara-saaudari dari isteri dan antara isteri dengan saudara-saaudara suami. Saudara-saudara suami tidak mempunyai kesemendaan dengan saudara-saudara isteri dan sebaliknya. Menurut kodeks baru 1983 hubungan kesemendaan yang membuat perkawinan tidak sah hanya dalam garis lurus dalam semua tingkat.


Halangan kelayakan publik (bdk. kan. 1093):

Halangan ini muncul dari perkawinan tidak sah yakni perkawinan yang dilaksanakan menurut tata peneguhan yang dituntut hukum, tetapi menjadi tidak sah karena alasan tertentu, misalanya cacat dalam tata peneguhan. Halangan ini muncul juga dari konkubinat yang diketahui publik. Konkubinat adalah seorang laki-laki dan perempuan hidup bersama tanpa perkawinan atau sekurang-kurangnya memiliki hubungan tetap untuk melakukan persetubuhan kendati tidak hidup bersama dalam satu rumah. Konkubinat dikatakan publik kalau dengan mudah diketahui banyak orang.


Adopsi (bdk. kan. 1094):
Tidak dapat menikah satu sam
a lain dengan sah mereka yang mempunyai pertalian hukum yang timbul dari adopsi dalam garis lurus atau garis menyamping tingkat kedua. Menurut norma ini pihak yang mengadopsi dihalangi untuk menikah dengan anak yang diadopsi, dan anak yang diadopsi dihalangi untuk menikah dengan anak-anak yang dilahirkan dari orang tua yang mengadopsi dia. Alasannya karena adopsi mereka menjadi saudara-saudari se keturunan.


Link sumber : http://www.katolisitas.org/macam-macam- ..alkan-perkawinan/
Back to top
View user's profile Send private message
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Keluarga Katolik yg sehat dan sejahtera All times are GMT + 6 Hours
Page 1 of 1

Log in
Username: Password: Log me on automatically each visit

 
Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum


© Copyright Ekaristi Dot Org 2001 Running on phpBB really fast 2001, 2002 phpBB Group. Keluaran (Exodus) 20:1-17