FAQFAQ          Username: Password: Log me on automatically each visit

Romo: Musa = Martin Luther (Musa Jerman)    
Goto page: Previous Next

 
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Forum Terbuka
View previous topic :: View next topic  
Author Message
stuzi



Joined: 27 May 2015
Posts: 121

PostPosted: Fri, 23-06-2017 11:55 pm    Post subject: Reply with quote

TeSul wrote:
Stanley wrote:


Bagaimana? Kurang jelas tentang apa salahnya God-less State?



Jadi kalo NKRI ini God State versi Islam anda setuju ?

Think


Tidak setuju........... God State untuk agama apapun tidak akan ada manfaatnya ....

Stanley wrote:

Saya ambil satu contoh saja. Satu saja.

Undang-undang mengenai aborsi. Ketika seorang wanita memutuskan untuk tidak mau menerima kehamilannya, maka dia berhak untuk memutuskan aborsi, lalu tidak perlu di persulit untuk masalah itu (selain pembayaran biaya aborsi semata).

Undang-undang itu timbul dari negara (tentu saja), dan pejabat negara itu semua menganut agama (apapun agama nya), dan mayoritas agama nya memiliki dasar bahwa aborsi itu adalah dosa... namun... sayangnya... karena peraturan bahwa agama tidak boleh mengatur hukum positif di negara tersebut, maka undang-undang itu di setujui.

Bagaimana? Kurang jelas tentang apa salahnya God-less State?

MGBU


Lalu apa salahnya God Less State .. contoh yang diberikan tidak relevan, agama adalah hubungan yang sangat pribadi antara tiap insan dengan Tuhan sesuai keyakinannya, kalau dia aborsi dan itu berdosa maka itu adalah tanggung jawab pribadi kepada Tuhan yang dia yakini sesuai imannya, diluar itu negara bisa membuat Undang Undang tentang aborsi namun berdasarkan azas manfaat bukan berlandaskan pada dosa atau tidaknya.

Bukan tempatnya negara mengurus masalah dosa.
Back to top
View user's profile Send private message
gigikuning



Joined: 15 May 2016
Posts: 177

PostPosted: Sat, 24-06-2017 9:37 pm    Post subject: Reply with quote

Friend wrote:
Pada tanggal 12,13 dan 14 Juni 2017 di Paroki St. Yakobus Kelapa Gading saya mendapat brosur dan mengitu kursus tematik berjudul: mengapa tetap bergeming "antara Katolik dan Protestan.
pembicara Romo Prof.Dr. A. Eddy Kristiyanto OFM.
ternyata yang dibahas adalah buku Romo tersebut dan penjualan buku beliau berjudul "Musa Jerman" penerbit Obor.
sepanjang ceramah romo memuji (pro) Martin Luther tidak sedikit pun beliau mengutuk atau menyalahkan Martin Luther atas perpecahan yang dilakukan oleh Martin Luther, malah beliau menyalahkan Gereja Katolik, banyak ucapan beliau yang justru malah menyudutkan Gereja Katolik mungkin karena kagumnya beliau terhadap Martin Luther sehingga menyamakannya dengan Nabi Musa.
berikut ceramah beliau yang saya tidak setuju:

- indulgensi; penjualan indulgensi yang diprotes Martin Luther. Romo Eddy sependapat dengan martin Luther dengan menyalahkan Gereja/Paus karena menjual indulgensi untuk mengampunan dosa, malah beliau mengatakan bagaimana mungkin dosa bisa diampuni dengan mengaku dosa. intinya tidak ada gunanya kita mengaku dosa (sakramen pengakuan dosa), dan menyalahkan Paus krn indulgensi dijual hanya untuk pembangunan Gereja St. petrus.
Tidak sedikitpun beliau membela gereja padahal imam diberi kusa untuk melepas dosa/mengampuni dosa (Matius 16: 18-19), saya malah bersyukur uang hasil indulgensi bila digunakan untuk pembangunan basilika St. Petrus (saya juga menyayangkan Romo Eddy tidak menjelaskan bahwa uang tersebut digunakan untuk membiayai perang salib).

- Mengenai ajaran Martin Luther: sola fide, sola scriptura, sola gratia.
beliau mengutip injil Roma 3:21-26; 4:25).
saya menyangkan beliau tidak membela iman Katolik misalnya membandingkan dengan injil Yakobus 2:14-26 dan beliau tidak menjelaskan tentang bahwa iman Katolik berdasarkan kitab suci, tradisi suci dan magisterium.

- memuji Protestan meyambut tubuh dan darah dengan makan roti dan minum anggur. beliau berkelakar bahwa katolik tidak ada minum anggur karena akan menambah biaya beli anggur dan di gereja Katolik Hosti bila tidak habis akan disimpan untuk dipanasi supaya tidak basi.

- sewaktu perang salib, Gereja Timur (kontantinopel) diserang oleh islam. lalu gereja Timur meminta bantuan kepada Paus (Gereja Katolik Roma), paus setuju mengirim bantuan tetapi pasukan gereja Katolik Roma juga melakukan pemerkosaan terhadap wanita-wanita dari Gereja Timur yang meminda bantuan. kalau mengenai kejadian ini saya tidak paham sejarah apakah benar ucapan Romo tsb.

seharusnya Romo Prof. Dr. A Eddy Kristiyanto OFM sebagai Imam Katolik membela iman Katolik dan menguatkan iman Katolik umatnya tapi yang terjadi sebaliknya malah membuat umat ragu dan menjauh dari GerejaNya.



Hi Friend,

Romo tersebut sangat mengerikan. Menurut saya beliau bagaikan duri dalam daging di dalam gereja. Mengapa pula OBOR yang notabenenya penerbit katolik menerbitkan buku semacam itu? Apakah pihak obor sendiri tidak membaca isinya atau OBOR ini terlalu sekuler sehingga dia menerbitkan pendapat yang kontroversional?


Just my two cents:
Mengenai EENS, banyak sekali orang katolik yang susah menerima doktrin tersebut karena sejak kecil sudah diajari bahwa katolik tidak fanatik. Plus, banyak sekali romo-romo yang mendukung ajaran "super toleran" tersebut. Ketika suatu kepercayaan ditanamkan sejak kecil dan diinstitusionalkan, maka kepercayaan itu akan menjadi bagian dari orang tersebut. Tidak heran bahwa umat katolik akan sangat sulit menerima EENS meskipun kamu bisa menunjukkan ber ton-ton dokumen gereja sebagai bukti. Fenomena ini disebut Cognitive Dissonance. Rasanya kira-kira begini: Coba diandaikan jika ada orang yang mengatakan bahwa Yesus bukan Tuhan dan tidak wafat di salib. Bagaimana reaksi kebanyakan orang nasrani? Kira2 begitulah rasanya diberi tahu EENS Malaikat ... *true story*

Dan yang tidak kalah penting (Anies' Style Malaikat ), sebagian umat katolik sesungguhnya BANGGA karena katolik tidak fanatik. Tono berkata: "Duh gue bangga nih jadi katolik. Agama kita engga nge-judge orang!"
Coba bayangkan gimana rasanya jika kebanggaan tersebut "dirampas"..


stuzi wrote:
TeSul wrote:
Stanley wrote:


Bagaimana? Kurang jelas tentang apa salahnya God-less State?



Jadi kalo NKRI ini God State versi Islam anda setuju ?

Think


Tidak setuju........... God State untuk agama apapun tidak akan ada manfaatnya ....

Stanley wrote:

Saya ambil satu contoh saja. Satu saja.

Undang-undang mengenai aborsi. Ketika seorang wanita memutuskan untuk tidak mau menerima kehamilannya, maka dia berhak untuk memutuskan aborsi, lalu tidak perlu di persulit untuk masalah itu (selain pembayaran biaya aborsi semata).

Undang-undang itu timbul dari negara (tentu saja), dan pejabat negara itu semua menganut agama (apapun agama nya), dan mayoritas agama nya memiliki dasar bahwa aborsi itu adalah dosa... namun... sayangnya... karena peraturan bahwa agama tidak boleh mengatur hukum positif di negara tersebut, maka undang-undang itu di setujui.

Bagaimana? Kurang jelas tentang apa salahnya God-less State?

MGBU


Lalu apa salahnya God Less State .. contoh yang diberikan tidak relevan, agama adalah hubungan yang sangat pribadi antara tiap insan dengan Tuhan sesuai keyakinannya, kalau dia aborsi dan itu berdosa maka itu adalah tanggung jawab pribadi kepada Tuhan yang dia yakini sesuai imannya, diluar itu negara bisa membuat Undang Undang tentang aborsi namun berdasarkan azas manfaat bukan berlandaskan pada dosa atau tidaknya.

Bukan tempatnya negara mengurus masalah dosa.


What a nice topic to discuss about! Pengen banget gue nimbrung.. Tp gue dilarang posting topik beginian. Izin nyimak ya Ketawa
Back to top
View user's profile Send private message
TeSul



Joined: 27 Apr 2016
Posts: 165

PostPosted: Sun, 25-06-2017 11:03 am    Post subject: Reply with quote

gigikuning wrote:


Just my two cents:
Mengenai EENS, banyak sekali orang katolik yang susah menerima doktrin tersebut karena sejak kecil sudah diajari bahwa katolik tidak fanatik. Plus, banyak sekali romo-romo yang mendukung ajaran "super toleran" tersebut. Ketika suatu kepercayaan ditanamkan sejak kecil dan diinstitusionalkan, maka kepercayaan itu akan menjadi bagian dari orang tersebut. Tidak heran bahwa umat katolik akan sangat sulit menerima EENS meskipun kamu bisa menunjukkan ber ton-ton dokumen gereja sebagai bukti. Fenomena ini disebut Cognitive Dissonance.


ada yang bisa menerima, tidak semuanya bebal, contohnya saya sendiri.

Quote:
Rasanya kira-kira begini: Coba diandaikan jika ada orang yang mengatakan bahwa Yesus bukan Tuhan dan tidak wafat di salib. Bagaimana reaksi kebanyakan orang nasrani? Kira2 begitulah rasanya diberi tahu EENS Malaikat ... *true story*


Jadi orang Nasarani yang tetap percaya terkena fenomena Cognitive Dissonance ?
Jika sebaliknya bagaimana ? siapa ygn terkena fenomena itu ?


Last edited by TeSul on Sun, 25-06-2017 11:04 am; edited 1 time in total
Back to top
View user's profile Send private message
gigikuning



Joined: 15 May 2016
Posts: 177

PostPosted: Sun, 25-06-2017 2:45 pm    Post subject: Reply with quote

Tesul wrote:
ada yang bisa menerima, tidak semuanya bebal, contohnya saya sendiri.


Tentu saja tidak semuanya.. Ada sebagian orang yang benar-benar terbuka fikirannya dan bisa menerima dengan mudah asalkan masuk akal.. Ada sebagian lain yang butuh struggle dulu baru bisa menerima. Kalau kamu suka membaca, coba baca bukunya Scott Hahn-Rome Sweet Home. Buku ini menceritakan kisah di mana Scott dan istrinya pindah dari protestan ke katolik. Disitu kamu bisa melihat bagaimana cognitive dissonance terjadi..


TeSul wrote:
Jadi orang Nasarani yang tetap percaya terkena fenomena Cognitive Dissonance ?
Jika sebaliknya bagaimana ? siapa ygn terkena fenomena itu ?


Nope.. belum tentu juga.. Contoh yang saya berikan itu hanya pengandaian saja. Diandaikan bahwa ada bukti kuat bahwa Yesus tidak wafat di salib etc..

Cognitive dissonance itu ada unsur subjektif. Syaratnya adalah sang korban harus mengetahui dalam hati kecil nya bahwa evidence yang berseberangan dengan kepercayaannya cukup valid. Aku rasa seorang muslim yang diberi bukti bahwa Muhammad adalah wanita tidak akan terkena congnitive dissonance (karena buktinya pasti sangat lemah dan hati kecil orang tersebut tidak terpengaruh).

Tapi bagaimana kalau sang Muslim diberi bukti bahwa Muhammad mengizinkan pasukannya merampas & memperkosa tawanan perang berdasarkan Hadith sahih dan Quran? Apa yang akan terjadi? Tentu saja sang muslim akan terus-terusan membela Muhammad...tetapi di dalam lubuk hatinya dia merasa tidak nyaman. Di saat inilah fenomena cognitive dissonance mulai menunjukkan reaksinya. Sang muslim akan mulai mencari-cari celah pembenaran, sehingga perkataannya menjadi kontradiktif, tidak masuk akal dan sering kali marah-marah. Mereka akan mulai menuduh bahwa Hadith tersebut palsu, etc. Di saat itu lah biasanya kamu mulai mencium banyak kontradiksi. Misalnya, kalau hadith sekaliber sahih al-bukhari palsu, lalu bagaimana nasib hadith yang level nya lebih rendah? Bagaimana kamu bisa tau tata cara sholat kalau kamu tidak percya hadith? Cherry picking? Semakin kamu push, maka akan semakin ngawur dan illogical jawabannya. Ini terjadi karena sang Muslim mengutamakan pembelaan terhadap Mohammad ketimbang akal sehat..

Anyway, setiap orang kemungkinan besar pernah mengalami cognitive dissonance dalam hidupnya. Hal ini tidak terbatas dalam hal keagamaan saja. Contoh lain yang sering terjadi adalah misalnya dulu banyak yang mendukung SBY (korban pencitraan).. Sekalipun banyak terbongkar borok nya, orang-orang tetap denial. Tapi pada suatu titik orang tersebut akan menerima fakta dan kenyataan... karena terkena cognitive dissonance itu rasanya tidak enak...stress...denial...menipu diri sendiri...ga bisa tidur...etc......Coba bandingkan dengan tingkah laku seseorang sebelum dia pindah agama.
Back to top
View user's profile Send private message
TeSul



Joined: 27 Apr 2016
Posts: 165

PostPosted: Wed, 28-06-2017 8:52 am    Post subject: Reply with quote

gigikuning wrote:

Tapi bagaimana kalau sang Muslim diberi bukti bahwa Muhammad mengizinkan pasukannya merampas & memperkosa tawanan perang berdasarkan Hadith sahih dan Quran? Apa yang akan terjadi? Tentu saja sang muslim akan terus-terusan membela Muhammad...tetapi di dalam lubuk hatinya dia merasa tidak nyaman. Di saat inilah fenomena cognitive dissonance mulai menunjukkan reaksinya. Sang muslim akan mulai mencari-cari celah pembenaran, sehingga perkataannya menjadi kontradiktif, tidak masuk akal dan sering kali marah-marah. Mereka akan mulai menuduh bahwa Hadith tersebut palsu, etc. Di saat itu lah biasanya kamu mulai mencium banyak kontradiksi. Misalnya, kalau hadith sekaliber sahih al-bukhari palsu, lalu bagaimana nasib hadith yang level nya lebih rendah? Bagaimana kamu bisa tau tata cara sholat kalau kamu tidak percya hadith? Cherry picking? Semakin kamu push, maka akan semakin ngawur dan illogical jawabannya. Ini terjadi karena sang Muslim mengutamakan pembelaan terhadap Mohammad ketimbang akal sehat..

Anyway, setiap orang kemungkinan besar pernah mengalami cognitive dissonance dalam hidupnya. Hal ini tidak terbatas dalam hal keagamaan saja. Contoh lain yang sering terjadi adalah misalnya dulu banyak yang mendukung SBY (korban pencitraan).. Sekalipun banyak terbongkar borok nya, orang-orang tetap denial. Tapi pada suatu titik orang tersebut akan menerima fakta dan kenyataan... karena terkena cognitive dissonance itu rasanya tidak enak...stress...denial...menipu diri sendiri...ga bisa tidur...etc......Coba bandingkan dengan tingkah laku seseorang sebelum dia pindah agama.


Tidak semua orang lubuk hatinya tidak nyaman, banyak orang yang menikmati kebohongan, kekerasan dan kejahatan, (gejala sadomasochism?)

Apa yang harus dilakukan menghadapi orang yang terkena gejala cognitive dissonance ?


Last edited by TeSul on Wed, 28-06-2017 8:54 am; edited 1 time in total
Back to top
View user's profile Send private message
gigikuning



Joined: 15 May 2016
Posts: 177

PostPosted: Wed, 28-06-2017 12:13 pm    Post subject: Reply with quote

Tesul wrote:
Tidak semua orang lubuk hatinya tidak nyaman, banyak orang yang menikmati kebohongan, kekerasan dan kejahatan, (gejala sadomasochism?)


Itu beda cerita.. Orang-orang yang anda sebutkan itu tahu percis bahwa mereka bohong, tahu percis bahwa mereka suka kasar etc.. Ini berbeda dengan cognitive dissonance. Coba bandingkan dua narasi ini:

1. Tono tahu bahwa ustad andalannya mesum. Dia membela ustadnya di depan umum dengan cara menipu karena dia tidak mau kehilangan pendukung fanatik untuk pilpres.

2. Tini merasa bahwa ustad andalannya berkepribadian luhur. Akan tetapi pada suatu hari muncul suatu video dan foto skandal sang ustad. Hasil penyelidikan para ahli pun menyatakan keasliannya. Meskipun demikian, Tini tetap merasa bahwa ustad tersebut berbudi luhur dan Tini menolak mempercayai semua bukti-bukti yang disodorkan.

Spot the differences? Mengapa tono tetap pada pendiriannya vs mengapa tini tetap pada pendiriannya? Ketawa
Ilustrasi di atas sengaja kubuat mirip dengan kasus viral di Indonesia. Bagi pembaca lain yang tidak nyaman dengan sebutan "ustad" silahkan ganti dengan pastor, pendeta atau biksu..

Tesul wrote:

Apa yang harus dilakukan menghadapi orang yang terkena gejala cognitive dissonance ?


Hmmm, aku tidak tahu.
Mungkin cognitive dissonance hanya dapat diobati dari dalam (i.e. sang korban mengakui ke-bias-an nya dan mencoba untuk jujur pada diri sendiri). The truth will set you free Malaikat
Back to top
View user's profile Send private message
Stanley



Joined: 29 Sep 2008
Posts: 3698

PostPosted: Wed, 28-06-2017 5:48 pm    Post subject: Reply with quote

stuzi wrote:
TeSul wrote:
Stanley wrote:


Bagaimana? Kurang jelas tentang apa salahnya God-less State?



Jadi kalo NKRI ini God State versi Islam anda setuju ?

Think


Tidak setuju........... God State untuk agama apapun tidak akan ada manfaatnya ....


Dan saya harus mengingatkan, bahwa kita sebagai umat Katolik tetap harus merindukan hadirnya Kerajaan Allah.... dan... kerajaan itu juga suatu bentuk 'state', benar?

Ataukah, saudara tipe orang katolik yang tidak merindukan kerajaan Allah?

Apa yang hendak saya katakan adalah, semakin jauh suatu negara dari Tuhan, maka kebijakan, undang-undang, dan hukum nya, makin jauh dari moral, kebenaran dan keadilan.


Stanley wrote:

Saya ambil satu contoh saja. Satu saja.

Undang-undang mengenai aborsi. Ketika seorang wanita memutuskan untuk tidak mau menerima kehamilannya, maka dia berhak untuk memutuskan aborsi, lalu tidak perlu di persulit untuk masalah itu (selain pembayaran biaya aborsi semata).

Undang-undang itu timbul dari negara (tentu saja), dan pejabat negara itu semua menganut agama (apapun agama nya), dan mayoritas agama nya memiliki dasar bahwa aborsi itu adalah dosa... namun... sayangnya... karena peraturan bahwa agama tidak boleh mengatur hukum positif di negara tersebut, maka undang-undang itu di setujui.

Bagaimana? Kurang jelas tentang apa salahnya God-less State?

MGBU


Lalu apa salahnya God Less State .. contoh yang diberikan tidak relevan, agama adalah hubungan yang sangat pribadi antara tiap insan dengan Tuhan sesuai keyakinannya, kalau dia aborsi dan itu berdosa maka itu adalah tanggung jawab pribadi kepada Tuhan yang dia yakini sesuai imannya, diluar itu negara bisa membuat Undang Undang tentang aborsi namun berdasarkan azas manfaat bukan berlandaskan pada dosa atau tidaknya.

Bukan tempatnya negara mengurus masalah dosa.[/quote]

Sudah saya perjelas maksud saya barusan di atas, bahwa God Less State membuka opsi-opsi bagi negara untuk mengeluarkan hukum/kebijakan/undang2 yang bertentangan dengan moral, kebenaran dan keadilan.

Bukan tempatnya negara mengurus masalah dosa? Negara adalah perpanjangan tangan Tuhan yang harusnya bisa membimbing warganya untuk menemukan kebenaran dan keadilan. Beri celah bagi kejahatan untuk masuk dalam hati warganegara, maka rusaklah negara tersebut.

Saya setuju, bahwa orang-orang (pejabat, anggota parlemen, negarawan, dll) yg mempertimbangkan opsi-opsi yang melawan moral sebenarnya berusaha untuk berbuat yang terbaik (versi mereka) bagi bangsa dan negara. Namun ingat, siapa kah yang paling ingin untuk menentang hukum-hukum Allah? Iblis. Dan dengan menentang moral, maka, mereka (orang-orang yg saya bahas di awal kalimat ini) telah secara tanpa disadari menjadi agen-agen iblis.

Ini lah bahaya nya God-less State.
_________________
This is Spartaaa!
Back to top
View user's profile Send private message
stuzi



Joined: 27 May 2015
Posts: 121

PostPosted: Fri, 14-07-2017 1:17 am    Post subject: Reply with quote

Quote:
Bukan tempatnya negara mengurus masalah dosa? Negara adalah perpanjangan tangan Tuhan yang harusnya bisa membimbing warganya untuk menemukan kebenaran dan keadilan. Beri celah bagi kejahatan untuk masuk dalam hati warganegara, maka rusaklah negara tersebut.

Saya setuju, bahwa orang-orang (pejabat, anggota parlemen, negarawan, dll) yg mempertimbangkan opsi-opsi yang melawan moral sebenarnya berusaha untuk berbuat yang terbaik (versi mereka) bagi bangsa dan negara. Namun ingat, siapa kah yang paling ingin untuk menentang hukum-hukum Allah? Iblis. Dan dengan menentang moral, maka, mereka (orang-orang yg saya bahas di awal kalimat ini) telah secara tanpa disadari menjadi agen-agen iblis.

Ini lah bahaya nya God-less State.


Satu pertanyaan dulu : bila harus memilih (sebagai warga negara), menjalankan tugas namun bertentangan dengan hukum agama, mana yang akan dipilih ?

mana yang lebih penting ? hukum negara atau hukum agama ?
Back to top
View user's profile Send private message
TeSul



Joined: 27 Apr 2016
Posts: 165

PostPosted: Sun, 16-07-2017 6:42 am    Post subject: Reply with quote

stuzi wrote:
Quote:
Bukan tempatnya negara mengurus masalah dosa? Negara adalah perpanjangan tangan Tuhan yang harusnya bisa membimbing warganya untuk menemukan kebenaran dan keadilan. Beri celah bagi kejahatan untuk masuk dalam hati warganegara, maka rusaklah negara tersebut.

Saya setuju, bahwa orang-orang (pejabat, anggota parlemen, negarawan, dll) yg mempertimbangkan opsi-opsi yang melawan moral sebenarnya berusaha untuk berbuat yang terbaik (versi mereka) bagi bangsa dan negara. Namun ingat, siapa kah yang paling ingin untuk menentang hukum-hukum Allah? Iblis. Dan dengan menentang moral, maka, mereka (orang-orang yg saya bahas di awal kalimat ini) telah secara tanpa disadari menjadi agen-agen iblis.

Ini lah bahaya nya God-less State.


Satu pertanyaan dulu : bila harus memilih (sebagai warga negara), menjalankan tugas namun bertentangan dengan hukum agama, mana yang akan dipilih ?

mana yang lebih penting ? hukum negara atau hukum agama ?


coba diberikan contohnya seperti apa tugas itu
Back to top
View user's profile Send private message
maruko_lien
Penghuni Ekaristi


Joined: 21 Sep 2005
Posts: 1365
Location: somewhere over the rainbow

PostPosted: Mon, 17-07-2017 10:53 am    Post subject: Reply with quote

sebelum diskusinya melebar kemana2 dan jadi gak jelas juntrungannya, saya sampaikan dulu point2 penting ajaran Gereja Katolik tentang HUBUNGAN AGAMA DAN NEGARA--tanpa menyajikan dokumen resminya (lagi ga sempet ubek2)...intinya:

1. GEREJA menolak PEMISAHAN AGAMA DAN NEGARA.
2. GEREJA juga menolak Campur tangan urusan NEGARA.

aplikasinya seperti apa?

Negara yang ideal adalah negara yang berketuhanan alias menempatkan Hukum Allah lebih tinggi dari hukum negara...dalam arti, Hukum Negara TIDAK bertentangan dengan Hukum Allah.

sebagai contoh:

Negara Indonesia yang berketuhanan tidak akan membuat UU pro Aborsi, bahkan UU menyatakan aborsi adalah tindakan kriminal (--bukan dosa)

Negara Indonesia yang berketuhanan tidak akan melegalisasi pernikahan Gay, karena selain bertentangan dengan hukum moral --pernikahan Gay yang diakui negara meresikokan peradaban dan berbahaya terhadap keberlangsungan negara (bisa didiskusikan belakangan).

--

Negara Indonesia yang God-less....akan memuluskan UU pro Aborsi, Pro LGBT, dll dst yang melanggar hukum moral dan akhirnya akan merusak peradaban dan keberlangsungan negara itu sendiri.

___

Ini untuk dibaca pelan2 kalau ada waktu supaya lebih jelas...jadi diskusinya gak mutar2 gak tentu tanpa standar yang jelas.

http://www.newadvent.org/cathen/14250c.htm
_________________
Salam dan doa
Pendatang Baru Belajar Bersama Kanon 7 Sakramen
Back to top
View user's profile Send private message
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Forum Terbuka All times are GMT + 6 Hours
Goto page: Previous Next
Page 3 of 4

Log in
Username: Password: Log me on automatically each visit

 
Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum


© Copyright Ekaristi Dot Org 2001 Running on phpBB really fast 2001, 2002 phpBB Group. Keluaran (Exodus) 20:1-17