FAQFAQ          Username: Password: Log me on automatically each visit

Give me Advices...    

 
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Keluarga Katolik yg sehat dan sejahtera
View previous topic :: View next topic  
Author Message
ASCA



Joined: 11 Oct 2008
Posts: 24

PostPosted: Fri, 10-08-2012 12:38 am    Post subject: Give me Advices... Reply with quote

Salam sejahtera,

sebenarnya agak malu kalau harus menceritakan sifat sendiri kepada orang lain. Tetapi saat ini saya pikir saya perlu bantuan anda semua.

Saya memiliki kepribadian yang posesif.
Kepribadian ini sudah saya kenali sejak saya masih duduk di bangku SMU.
Sewaktu SMU saya berpacaran dengan seorang siswi, saya sangat menyayangi dia, tetapi ada satu cacat dalam diri saya, yaitu sifat posesif saya. Diapun mengakui betapa saya sangat menyayangi dia. Namun Saya begitu mudah cemburu begitu melihat dia, bahkan hanya sekedar ngobrol dengan laki-laki lain, apalagi pergi dengan teman lelakinya.
Sifat posesif itu membuat saya kecewa pada diri sendiri, rasa cemburu, pikiran aneh-aneh itu timbul dengan sendirinya, otomatis, REFLEKS. Sekejab membutakan mata saya. ( tetapi saya tidak sampai pernah memukul ). Saya memulai pertengkaran dengan menuduh dia, mengucapkan kata kasar...
tetapi segera setelah itu saya sadar. Namun terlanjur sudah ada hati yang terluka, hubungan yang tersakiti...
begitu mudah menyeka air mata, tetapi tidak mudah menyembuhkan luka yang ada di hati seorang wanita.
Saya sadar sepenuhnya hal itu salah, saya sedemikian sedih karena itu berarti menyakiti dan membatasi pasangan saya. Kesedihan yang luar biasa... setiap hari saya menyesali sifat saya. Saya berusaha membicarakan hal itu dengan pacar saya waktu itu. Saya minta maaf, tetapi dikali lain, secara refleks dan otomatis, sifat itu timbul lagi.
saya seakan-akan menjadi seorang penipu. Setiap kali berjanji, setiap kali meminta maaf...tetapi hanya untuk mengulanginya lagi.
Akhirnya suatu hari, saya memergoki dia dengan lelaki lain dengan mata kepala saya sendiri.
tetapi herannya saat itu, saya memaafkan dia. Dan berkata, bahwa itu pantas, mengingat sifat saya yang demikian. Dia pantas bersama orang yang lebih mengerti dia dan membuat dia bahagia. Saya mengajaknya untuk kembali dengan saya.
Tetapi Dia memilih pergi dari hidup saya. Dia berkata, sekalipun saya sangat setia, sangat memuja dia, tetapi dia tidak ingin hidup dalam ketakutan dan kekhawatiran. Dia tidak ingin menyakiti saya.
saya memahami itu. Dan membiarkan dia pergi... walau hati saya sangat luar biasa sakit.
bertahun tahun saya menyalahkan diri saya sendiri. Tidak berani membina hubungan baru dengan wanita lain. Ketakutan bahwa cinta dan sifat saya ini akan menyakiti dan membunuh orang yang saya cintai.
ketakutan ini berkembang menjadi depresi, saya tidak pernah menyalahkan dia sekalipun dia selingkuh didepan mata saya sendiri...
itu karena saya. Bukan salah dia.

bertahun-tahun selepas itu...
saya mencoba membina hubungan lagi dengan wanita. Mengingat umur saya yang terus merangkak naik.
dan coba tebak apa yang terjadi....

......

benar.


sifat itu tidak sepenuhnya hilang. Walau tidak sampai separah dulu.
pacar saya saat ini, memiliki kegemaran memegang lengan atau pundak laki-laki ketika sedang berbicara dengan mereka.

apakah ini wajar ? saya tidak tahu.
saya merasa tidak nyaman. tetapi dilain sisi, saya berjuang keras untuk tidak terlalu posesif. Saya takut bahwa pikiran itu adalah hasil pikiran posesif saya.

saya menyampaikan kepadanya keberatan saya. Karena menurut pikiran saya, itu kurang baik. Bukan kurang baik terhadap saya, tetapi saya takut jika ada lawan jenisnya yang akan menanggapinya secara salah.
Dia bersikeras bahwa itu adalah kebiasaannya. Dan bahwa saya terlalu banyak mikir.

pernah suatu kali saya sedang pergi ke suatu acara dengan dia.
saya coba perkenalkan dia dengan salah satu teman laki-laki saya.
tetapi dia menolak. Dia tidak mau katanya.
Lalu saya minta diri sebentar karena diminta tampil di panggung, ternyata waktunya belum tiba, masih lama sebelum giliran saya, saya langsung balik ke tempat kita duduk. Tetapi yang membuat saya risih, ketika saya kembali saya menjumpai posisi duduk dia sudah disebelah teman laki-laki saya ( sebelumnya sela 1 kursi tempat saya sebelumnya duduk ), dan tangannya sedang memegang lengan teman saya tersebut.
Sepertinya dia agak terkejut saya sudah kembali sedemikian cepat. Dia langsung melepas pegangannya dan menonton acara dipanggung. Saya diam saja, saya tidak nyaman tetapi saya takut bahwa rasa tidak nyaman itu adalah hasil dari sifat posesif saya.


ada kala lainnya, saya mengajak dia pergi makan bersama teman,
tetapi dia membandingkan saya dengan teman saya itu secara fisik. Secara langsung di depan teman saya.
saya tidak nyaman. tetapi tidak tahu apakah yang dia lakukan itu wajar atau tidak.
saya tidak mau berpikir aneh-aneh karena saya takut itu adalah hasil dari pemikiran posesif saya.

dia bahkan langsung mengirim sms pada teman laki-laki saya, padahal baru pertama kali bertemu.
tetapi saya simpan kekhawatiran saya karena saya takut itu adalah hasil dari sifat posesif saya.

saya bingung, bingung sekali.
saya tidak nyaman dan khawatir. Tetapi saya juga takut pada diri saya sendiri.
saya tidak mau menyakiti dia, menghalangi kebebasan dia.
tetapi saya merasa sakit.
saya tidak nyaman dengan hubungan ini.

saya menyayangi dia, sangat.
tetapi saya merasa dia tidak menyayangi saya.

saya merasa kosong.

saya merasa takut sekali dia akan selingkuh suatu hari nanti...
saya mulai curiga dengan dia...
saya mulai merasakan sifat posesif saya kembali muncul...

saya mulai membatasi dia...
tetapi dilain sisi saya tidak mau melakukan hal itu...

dia sampai sering merasa saya aneh, seakan berkepribadian ganda.

ada sesuatu dalam diri saya yang menginginkan kebahagiaan dan kebebasannya.
tetapi ada dalam diri saya ketakutan kehilangan dia, setelah kejadian-kejadian itu... saya takut sekali.
takut dengan dia, takut dengan diri saya sendiri.


apakah benar saya yang terlalu banyak mikir...

saya ingin sekali sembuh dari sifat ini, tetapi berat sekali buat saya untuk sembuh. Saya merasa sendirian.
Saya tahu itu salah, ingin berubah, tetapi seakan tidak ada seorangpun yang mendukung saya.
bahkan orang yang seharusnya mendukung saya...

saya terkadang ingin dicintai apa adanya saya...
tetapi saya tahu itu tidak mungkin.
terkadang saya ingin ada yang memahami sifat saya ini...
tetapi saya tahu itu tidak mungkin.

saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan...

tolong saya...


Last edited by ASCA on Fri, 10-08-2012 12:48 am; edited 2 times in total
Back to top
View user's profile Send private message
jimanjiman



Joined: 16 May 2009
Posts: 65

PostPosted: Fri, 10-08-2012 5:13 pm    Post subject: Reply with quote

salam, damai besertamu,

anda sudah tahu sendiri, posesif.
hilangkan dulu sifat begitu.

cinta itu memberi dan memberi lebih lagi, nothing to lose
nafsu itu meminta dan meminta lebih lagi, egois mengharapkan semua untuk diri sendiri

maaf, tapi dari tulisanmu, sepertinya masih dalam nafsu.


ambil sikap dan tegas. kalau memang hubungan tidak akan berhasil ya hentikan saja.


cobalah cari yang punya kehidupan rohani yang baik, dan perbaiki juga kehidupan rohanimu.


kalau sudah menikah, adakan waktu doa bersama ya
Back to top
View user's profile Send private message
sam



Joined: 23 Jul 2007
Posts: 354

PostPosted: Thu, 13-09-2012 10:13 pm    Post subject: Reply with quote

konsultasi dgn pastor terdekat...
Back to top
View user's profile Send private message
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Keluarga Katolik yg sehat dan sejahtera All times are GMT + 6 Hours
Page 1 of 1

Log in
Username: Password: Log me on automatically each visit

 
Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum


© Copyright Ekaristi Dot Org 2001 Running on phpBB really fast 2001, 2002 phpBB Group. Keluaran (Exodus) 20:1-17