FAQFAQ          Username: Password: Log me on automatically each visit

Alat kontrasepsi yang diizinkan adakah    
Goto page: Previous

 
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Keluarga Katolik yg sehat dan sejahtera
View previous topic :: View next topic  
Author Message
biji sesawi



Joined: 23 Jun 2009
Posts: 66

PostPosted: Thu, 06-01-2011 11:44 am    Post subject: Reply with quote

Terimakasih atas penegasannya. Tetapi itu menimbulkan pertanyaan lebih lanjut, terutama mengenai kemampuan ekonomi, yg menurut saya relatif sifatnya, karena bisa dipengaruhi a.l. oleh rencana orang tua thdp masa depan anaknya. Misal orang tua A memiliki rencana yang ideal utk anak (pendidikan terbaik, fasilitas terbaik), yg berbeda dg idealisme org tua B ( pendidikan dan fasilitas cukup yg umum sj). Ini tentu berpengaruh pada jumlah anak yg ingin dimiliki, walaupun mungkin jumlah pendapatan A sama dengan B, katakanlah A dengan idealismenya merasa mampu membesarkan hanya satu anak sedangkan B merasa mampu 3 anak.

Lalu bagaimana dengan hubungan suami istri A? Apakah A dgn idealismenya boleh berhubungan dengan "avoid children" karena merasa tidak mampu membesarkan lebih dari satu anak? Salahkah A karena idealismenya terlalu tinggi sehingga mempengaruhi pandangannya tentang jumlah anak yang sanggup dia biayai?


Last edited by biji sesawi on Thu, 06-01-2011 11:48 am; edited 1 time in total
Back to top
View user's profile Send private message Send e-mail
DeusVult
Evangelos


Joined: 10 Feb 2004
Posts: 10848
Location: Orange County California

PostPosted: Thu, 06-01-2011 12:46 pm    Post subject: Reply with quote

biji sesawi wrote:
Terimakasih atas penegasannya. Tetapi itu menimbulkan pertanyaan lebih lanjut, terutama mengenai kemampuan ekonomi, yg menurut saya relatif sifatnya, karena bisa dipengaruhi a.l. oleh rencana orang tua thdp masa depan anaknya. Misal orang tua A memiliki rencana yang ideal utk anak (pendidikan terbaik, fasilitas terbaik), yg berbeda dg idealisme org tua B ( pendidikan dan fasilitas cukup yg umum sj). Ini tentu berpengaruh pada jumlah anak yg ingin dimiliki, walaupun mungkin jumlah pendapatan A sama dengan B, katakanlah A dengan idealismenya merasa mampu membesarkan hanya satu anak sedangkan B merasa mampu 3 anak.

Lalu bagaimana dengan hubungan suami istri A? Apakah A dgn idealismenya boleh berhubungan dengan "avoid children" karena merasa tidak mampu membesarkan lebih dari satu anak? Salahkah A karena idealismenya terlalu tinggi sehingga mempengaruhi pandangannya tentang jumlah anak yang sanggup dia biayai?


Memang bisa sangat relatif.

Hitung-hitungan si A dan B, sekalipun keduanya bergaji sama, bisa berbeda dan menghasilkan keputusan berbeda. Bisa saja si A memutuskan untuk punya 3 anak, si B punya 4 anak. Kalau hitung-hitungan itu dibuat dengan semangat kasih dan tidak dengan semangat ketamakan, maka keduanya tidak perlu berdosa sekalipun hasilnya beda.
_________________
Mohon doa saudara-saudari
Back to top
View user's profile Send private message
vero_bm



Joined: 08 Jun 2005
Posts: 319

PostPosted: Fri, 07-01-2011 4:15 pm    Post subject: Reply with quote

Ikutan nimbrung y, tapi aku cuma baca yg terakhir saja, mudah˛an tidak salah jawab.

Biji Sesawi wrote:
Terimakasih atas penegasannya. Tetapi itu menimbulkan pertanyaan lebih lanjut, terutama mengenai kemampuan ekonomi, yg menurut saya relatif sifatnya, karena bisa dipengaruhi a.l. oleh rencana orang tua thdp masa depan anaknya. Misal orang tua A memiliki rencana yang ideal utk anak (pendidikan terbaik, fasilitas terbaik), yg berbeda dg idealisme org tua B ( pendidikan dan fasilitas cukup yg umum sj). Ini tentu berpengaruh pada jumlah anak yg ingin dimiliki, walaupun mungkin jumlah pendapatan A sama dengan B, katakanlah A dengan idealismenya merasa mampu membesarkan hanya satu anak sedangkan B merasa mampu 3 anak.

Lalu bagaimana dengan hubungan suami istri A? Apakah A dgn idealismenya boleh berhubungan dengan "avoid children" karena merasa tidak mampu membesarkan lebih dari satu anak? Salahkah A karena idealismenya terlalu tinggi sehingga mempengaruhi pandangannya tentang jumlah anak yang sanggup dia biayai?


Dulu waktu kuliah, salah seorang sahabatku tercebur ke pergaulan bebas. Akhirnya "MBA". Membesarkan anak? suatu hal yg sangat tidak mungkin, karena orang tua temanku itu sudah tidak mau menganggap temanku itu sebagai anaknya lagi (malu karena perbuatan sang anak). Jangankan untuk membesarkan anak, mungkin biaya persalinan saja sudah suatu hal yang menakutkan. Tapi mereka menjalaninya. Istrinya melahirkan anaknya, dan mereka membesarkannya. Lucunya, temanku ini selalu saja mendapat kemudahan rejeki saat si anak memang membutuhkan dana, entah karena sakit, atau apalah. Aku sepertinya melihat Tuhan sendiri yang menjaga anak-anak tak berdaya ini.

Saat bekerja, aku juga melihat teman-temanku satu persatu mulai menikah, dalam kesederhanaan mereka juga bingung urusan dana anak˛ mereka. Tapi si anak tetap dapat mereka hidupi. Hingga timbul suatu pernyataan, Tuhan memang selalu memenuhi doa kita (doa kesayanganku. Bapa Kami, "Berilah kami rejeki pada hari ini...."), bahkan si "kecil" juga memperoleh rejeki harian mereka dari orang tua mereka (dalam arti orang tuanya mendapat rejeki tambahan, entah kenaikan gaji, bonus, etc). Mungkin ini yg sering kita kurang sadari. Maka ungkapan orang dulu, banyak anak banyak rejeki aku rasa tidak sepenuhnya salah. Ketawa It just my opinion y.
Back to top
View user's profile Send private message
biji sesawi



Joined: 23 Jun 2009
Posts: 66

PostPosted: Sat, 08-01-2011 5:39 am    Post subject: Reply with quote

Maaf agak lama menanggapi, DV, itu cukup memberi pemikiran tentang responsible parenthood, terutama tentang : masih bisakah saya membiayai lebih banyak anak lg.

Jika demikian, apakah kemampuan membiayai anak merupakan "batas" untuk menentukan jumlah anak yg "harus" dimiliki? Bagaimana jika seseorang menentukan ia akan memiliki sejumlah anak, padahal ia tahu bahwa ia mampu memiliki lebih banyak anak lagi, apakah ia dan istrinya harus membuat kesepakatan agar saling rela tdk berhubungan karena jika ia berhubungan dengan menghindari anak, walaupun dg KBA, maka hbgan itu mjd tdk lawful.

Utk vero_bm, terimakasih atas tanggapannya, tetapi bukan berarti kita buat anak sebanyak-banyaknya tanpa perencanaan, bukan? Jika demikian menurut saya kita kurang bertanggung jawab thd apa yg kita lakukan (yaitu membuat anak banyak-banyak dan membiarkan waktu yg menentukan akan jadi apa anak kita) Smile, walaupun kita memang harus menyerahkan segalanya dalam kemurahan Tuhan.
Back to top
View user's profile Send private message Send e-mail
vero_bm



Joined: 08 Jun 2005
Posts: 319

PostPosted: Sat, 08-01-2011 6:19 am    Post subject: Reply with quote

Yup, benar, bukan berarti kita membuat anak sebanyak-banyaknya. Di Katolik kita mengenal KBA, mungkin ini sepertinya yang Oom biji sesawi anggap sebagai anak yg ditolak. Sebenarnya, tidak juga. Setiap pasangan menikah resmi tentunya bisa melakukan hubungan badan setiap saat, bahkan tanpa KBA, dan belum tentu juga akan hamil. Campur tangan Tuhan juga ada. Banyak pasangan menikah selama lebih dari 2 tahun tetapi belum memiliki anak (padahal para dokter akan menyarankan untuk melakukan pemeriksaan intensif jika pasangan menikah 2 tahun tetapi belum mendapatkan keturunan). Hasil pemeriksaan? kedua belah pihak normal. Frekwensi berhubungan? Mungkin kalah kali minum obat (umumnya minum obat 3 x sehari). Ini terjadi pada orang tuaku, mereka menikah 5 tahun sebelum aku rela lahir Ketawa (*mulai maksa lagi* mode : on). Ada juga teman ibuku yang sudah memiliki anak, bahkan yang terkecil sudah kuliah, ternyata..... teman ibuku itu hamil lagi (umur sudah kepala 4, mungkin nyaris 5). Ada juga di berita yang nenek2 bisa melahirkan, padahal kita tau nenek2 tentunya sudah menopause (salah gag y tulisannya?). Koq bisa punya anak? cari sensasi? wahuallam.

Jika KBA dianggap penolakan anak, tentunya banyak wanita menikah akan merasa bersalah saat mereka mendapatkan menstruasi. Padahal menurutku KBA itu sangat tidak akurat, mengapa? aku saja tidak pernah hafal tgl merahku Ketawa gimana jika menikah nanti suamiku tanya ini masa suburmu? weleh.... wong tamuku datang aja seenak2nya dia aj. Malah ada temanku yang siklus menstruasinya mencapai 3 bulan sekali. Tidak subur? anaknya sudah 2 tuch Ketawa

Aku rasa untuk masalah anak dan pemeliharaan anak, kita harus sepenuhnya meminta pertolonganNya. Kita mungkin merencanakan yang terbaik bagi kita dan keturunan kita, tapi kita terbatasi oleh "usia". Berapa lama "usia" itu? Nach, untuk tahu jawaban ini, silakan kontak Tuhan langsung, karena hanya Dia yang tahu. Kita hanya dapat memberikan yang terbaik bagi keturunan kita semampu kita selama hayat kita, tetapi Dia pasti telah merencanakan untuk memberikan yang lebih baik dari yang telah kita berikan melebihi hayat kita. Anak adalah anugerah Tuhan. Bukti kepercayaan Tuhan kepada kita. Apakah tidak memiliki anak berarti Tuhan tidak percaya? bukan, tetapi ada hal lain yang Tuhan inginkan jika ada pasangan yang tidak memiliki anak, atau memiliki anak banyak berarti Tuhan sangat mempercayainya (walaupun anak2 itu sepertinya tidak terurus) bukan juga, karena kita tidak pernah tahu apa yang Dia rencanakan. Terus terang masalah anak menurutku adalah suatu misteri kehidupan. Hingga saat ini saja aku masih takjub melihat keponakan kecilku yg saat lahir saja lebih kecil dari sedekapan tanganku dan hanya bisa menggeliat tanpa bersuara saat lapar, tetapi saat ini dia sudah mulai bisa membantahku Smile
Back to top
View user's profile Send private message
DeusVult
Evangelos


Joined: 10 Feb 2004
Posts: 10848
Location: Orange County California

PostPosted: Sat, 08-01-2011 6:57 am    Post subject: Reply with quote

biji sesawi wrote:
Maaf agak lama menanggapi, DV, itu cukup memberi pemikiran tentang responsible parenthood, terutama tentang : masih bisakah saya membiayai lebih banyak anak lg.

Jika demikian, apakah kemampuan membiayai anak merupakan "batas" untuk menentukan jumlah anak yg "harus" dimiliki? Bagaimana jika seseorang menentukan ia akan memiliki sejumlah anak, padahal ia tahu bahwa ia mampu memiliki lebih banyak anak lagi, apakah ia dan istrinya harus membuat kesepakatan agar saling rela tdk berhubungan karena jika ia berhubungan dengan menghindari anak, walaupun dg KBA, maka hbgan itu mjd tdk lawful.


Bukannya faktor-faktor yang disebut di Humanae vitae tidak hanya ekonomi saja? Ada sosial, fisik dll.

Kalau mampu punya anak lagi tapi tidak mau mempunyai anak lagi, lalu berarti alasannya bukan ekonomi. Lalu apakah alasannya? Apakah alasan itu suatu grave reason untuk menunda kehamilan [bahkan sampai indeterminate time]?

Mungkin masalahnya kamu sukar mengungkapkan alasan sesungguhnya. Well, kalau memang masalahnya terlalu sensitif untuk dipost di forum, mau bagaimana lagi. Tapi tanpa diberitahu detailnya, maka nasehat juga tidak akan spesifik. Itu perlu diingat. Jadi yang bisa diberikan hanya saran-saran umum.
_________________
Mohon doa saudara-saudari
Back to top
View user's profile Send private message
whiterebel83



Joined: 30 Sep 2010
Posts: 567
Location: Una, sancta, catholica et apostolica ecclesia

PostPosted: Tue, 11-01-2011 3:15 am    Post subject: Reply with quote

DeusVult wrote:

Alasan kesehatan itu parah atau tidak? Kalu sekedar alsan kesehatan yang tidak parah tapi dijadikan pretext untuk menolak berhubungan suami-istri dengan pasangannya, maka itu adalah dosa berat.

Kalau memang alasan kesehatannya masuk akal, maka selibat tidak dosa.


DeusVult,
Kalau tidak merepotkan, mohon penerangan dari pertanyaanku sebelumnya. Apakah pernikahan seperti Yoseph dan Maria yang selibat itu bisa terjadi di pernikahan Katolik sekarang ini? Kita percaya bahwa Yoseph dan Maria tidak melakukan hubungan suami istri sampai meninggal. Nah apakah keadaan ini boleh dilakukan oleh keluarga Katolik zaman sekarang for religious reason?

Maaf saya menanyakan hal ini karena saya harus memberikan advice kepada salah satu teman Katolik yang perkawinannya terancam gagal karena masalah sex.
Yang aku advice pertama kali kepadanya ya itu, bahwa hub suami-istri bukan segalanya dalam perkawinan, sebagai contoh kehidupan keluarga kudus Maria dan Yoseph. Aku tidak tau apakah advice ku ini tepat dalam kondisi rumah tangganya.
Back to top
View user's profile Send private message MSN Messenger
DeusVult
Evangelos


Joined: 10 Feb 2004
Posts: 10848
Location: Orange County California

PostPosted: Fri, 14-01-2011 6:10 pm    Post subject: Reply with quote

whiterebel83 wrote:
DeusVult wrote:

Alasan kesehatan itu parah atau tidak? Kalu sekedar alsan kesehatan yang tidak parah tapi dijadikan pretext untuk menolak berhubungan suami-istri dengan pasangannya, maka itu adalah dosa berat.

Kalau memang alasan kesehatannya masuk akal, maka selibat tidak dosa.


DeusVult,
Kalau tidak merepotkan, mohon penerangan dari pertanyaanku sebelumnya. Apakah pernikahan seperti Yoseph dan Maria yang selibat itu bisa terjadi di pernikahan Katolik sekarang ini? Kita percaya bahwa Yoseph dan Maria tidak melakukan hubungan suami istri sampai meninggal. Nah apakah keadaan ini boleh dilakukan oleh keluarga Katolik zaman sekarang for religious reason?


Boleh. Tapi harus disetujui kedua belah pihak.

Quote:
Maaf saya menanyakan hal ini karena saya harus memberikan advice kepada salah satu teman Katolik yang perkawinannya terancam gagal karena masalah sex.
Yang aku advice pertama kali kepadanya ya itu, bahwa hub suami-istri bukan segalanya dalam perkawinan, sebagai contoh kehidupan keluarga kudus Maria dan Yoseph. Aku tidak tau apakah advice ku ini tepat dalam kondisi rumah tangganya.


Konsultasi ke Romo saja.
_________________
Mohon doa saudara-saudari
Back to top
View user's profile Send private message
kata_holos



Joined: 01 Nov 2011
Posts: 579

PostPosted: Mon, 11-06-2012 10:37 pm    Post subject: Reply with quote

Mungkin yang perlu dipikirkan adalah pola pikirnya.

Pola pikir yang terlihat sepertinya hanya masalah duniawi (daging) yaitu menghindari kelahiran karena kekhawatiran akan lebih menderita dan disisi lain keinginan kuat menyalurkan hasrat birahi.
menjadi seperti dilematis.

Dicoba kalau pola pikirnya berbeda
1. Bersyukur bahwa kita dianugrahi anak (lihat ada yang sangat mendambakan anak, tapi Tuhan mempunyai rencana lain)
2. Berpikir diarahkan kepada anak dan Allah.
Berpikir bagaimana membahagiakan anak dan sesuai dengan kehendak Allah, mempunyai pendidikan dan kesehatan jasmani dan rohani ( keimanan yang baik terhadap Allah).
Rencanakan berdua (suami dan istri, harus kesepakatan bersama) anak kita harus mendapatkan minimal pendidikan setinggi apa, sesehat apa, seberiman bagaimana.
biayanya berapa (retret dan pendalaman iman bukankah perlu biaya juga).? bagaimana mendapatkannya?
dan sepertinya waktu berpikir untuk berhubungan intim akan berkurang.
kalau ternyata masih jebol juga (Tuhan punya rencana lain), kembali ke no 1 dan 2.
bukankah akan semakin sibuk karena sekarang ada 2 anak? (sibuk yang terarah yah, bukan sibuk malah melupakan anak dan Allah).

Tidak gampang pastinya, tapi bisa yang penting pola pikirnya benar dan lakukan step by step.


Last edited by kata_holos on Mon, 11-06-2012 10:43 pm; edited 4 times in total
Back to top
View user's profile Send private message
Display posts from previous:   
Post new topic   Reply to topic    printer-friendly view    Akademi Kontra Indiferentisme Forum Index -> Keluarga Katolik yg sehat dan sejahtera All times are GMT + 6 Hours
Goto page: Previous
Page 4 of 4

Log in
Username: Password: Log me on automatically each visit

 
Jump to:  
You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot vote in polls in this forum


© Copyright Ekaristi Dot Org 2001 Running on phpBB really fast 2001, 2002 phpBB Group. Keluaran (Exodus) 20:1-17