Mat 16:13-19 ... you are Peter and on this rock I build my church ... (kefas, petra-petros)

Dokumen

 

Mat 16:19 Keys  to the Kingdom of God PESAN SIDANG KWI

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


PESAN SIDANG KWI
22-26 NOVEMBER 2005
 

PANCASILA
Dasar Tata Budaya Berbangsa dan Bernegara

Saudara saudari yang terkasih,

1. Sidang Tahunan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) 22-26 November 2005 sudah usai.
 

Kebersamaan dalam sidang akan kami lanjutkan dengan semangat dan roh pengabdian yang sama.

2. Dalam kenangan akan kebersamaan di dalam Sidang Agung Gereja katolik Indonesia (SAGKI) 2005
 

dan dalam suasana syukur kepada Tuhan serta terima kasih kepada Anda semua, dari kedalaman lubuk hati, kami berharap semoga hasil SAGKI 2005 ini benar-benar membawa kebaikan, tidak hanya bagi Anda sendiri secara pribadi, atau bagi kita komunitas kristiani, tetapi juga bagi masyarakat luas. Besarnya tantangan yang kita hadapi, menyadarkan kita akan perlunya dua hal pokok. Pertama, pembatinan habitus baru ke dalam hidup pribadi kita masing-masing. Kedua, sosialisasi secara cerdas ke dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga di dalam masyarakat tumbuh tata budaya baru dan dengan demikian juga tata budaya bernegara yang baru pula.

   
3. Dalam pembicaraan selama Sidang KWI, masih ada satu hal penting yang muncul sebagai
 

keprihatinan. Di balik masalah-masalah mendesak yang kita renungkan dan bicarakan dalam SAGKI 2005, ada satu hal yang mendasar yaitu mengenai Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Pengamatan sepintas membuat kita merasa bahwa nilai-nilai luhur Pancasila sudah menjadi kabur atau bahkan mungkin sengaja dikaburkan. Akibatnya keadaban publik tidak terbangun dan banyak orang disengsarakan.

   
4.

Kami ingin mengajak Anda mengingat kembali apa yang selama ini telah kami sampaikan mengenai

 

Pancasila di dalam Surat-Surat Gembala, khususnya surat Gembala yang kami sampaikan selama masa krisis.

 
4.1. Pada tahun 1997, kita sadari bersama bahwa Pancasila adalah landasan dan sekaligus acuan
 

yang aman dan kuat untuk memecahkan permasalahan bangsa. Dalam Surat Gembala berjudul "Keprihatinan Dan Harapan", kami menulis :
" .... kita yakin bahwa Pancasila merupakan landasan maupun acuan yang kuat dan aman untuk memecahkan dan mengembangkan seluruh kehidupan dan pembangunan bangsa. Maka Pancasila tidak boleh tinggal slogan, melainkan betul-betul diwujudkan dalam kenyataan kehidupan kita"

   
4.2. Pada tahun 2001, kami mengajak Anda semua untuk tetap menjunjung tinggi nilai-nilai luhur
 

Pancasila, meskipun Pancasila telah diselewengkan untuk kepentingan politik kekuasaan. Dalam Surat Gembala "Tekun Dan Bertahan Dalam Pengharapan, Menata Moralitas Bangsa", kami menulis :
"Dalam hubungan ini kami ingatkan kembali mengenai pentingnya Pancasila. Kenyataan bahwa Pancasila di bawah Pemerintah Orde Baru telah disalahgunakan sebagai ideologi penunjang Pemerintahan yang tidak mau mencari legitimasi rakyat, tidak boleh menjadi alasan untuk meremehkan Pancasila. Hanya atas dasar Pancasila pluralitas etnik, budaya, religius dan sosial masyarakat seluruh Nusantara bersepakat mau bersatu dalam satu negara. Demi persatuan dan kesatuan bangsa komitmen bangsa Indonesia pada Pancasila sebagai falsafah dasar negara perlu senantiasa ditegaskan kembali."

   
   
5. Mari kita hayati kembali Pancasila sebagai daya untuk melayani rakyat banyak menuju
 

kesejahteraan yang merata. Mari kita bangkit dan Pancasila kita jadikan daya sosial, kekuatan untuk integrasi, misalnya integrasi antara mereka yang datang sebagai transmigran dan penduduk asli. Mari kita jadikan Pancasila sebagai kekuatan untuk terbinanya solidaritas sosial antara yang memiliki lebih dan mereka yang berkekurangan, antara mereka yang lebih terpelajar dan mereka yang masih terbelakang. Dengan demikian politik yang dikembangkan adalah untuk kesejahteraan bersama. Dengan demikian subur kembalilah persaudaraan dan solidaritas nasional secara nyata.

   
Saudara-saudari yang terkasih,
   
6. Semoga dalam usaha Anda menangani, mengolah dan mencari jalan keluar bagi masalah-masalah
 

mendesak yang menimpa kita semua, Anda menemukan Pancasila sebagai kerangka dasar yang semakin teguh. Dalam mencari jalan keluar bagi masalah-masalah hidup bersama, marilah kita menghayati kembali nilai-nilai luhur Pancasila. Nilai luhur itu haruslah mempengaruhi tata hubungan kita dengan sesama, dengan alam dan dengan Tuhan. Dengan demikian terbangunlah tata hidup berbudaya dan bernegara yang baru.

   
7.

Sebagai manusia beriman, mengamalkan Pancasila berarti juga menghayati iman. Sebagai makluk

 

sosial, dalam Pancasila kita dapat menemukan dasar untuk mengembangkan persaudaraan sejati dengan siapa saja, termasuk mereka yang memusuhi kita. Bila keadaan diwarnai pertentangan, semoga Pancasila dapat menjadi yang menghubungkan; bila keadaan tertutup, Pancasila dapat menjadi pembukanya; bila tercerai berai, Pancasila dapat menjadi pemersatunya. Semoga Pancasila dapat menjadi sarana untuk mengembangkan sikap terbuka bagi setiap warga bangsa ini. Semoga nilai-nilai luhur Pancasila dan nilai luhur agama dapat saling melengkapi dan dengan demikian memperluas wawasan keagamaan kita. Agama sebagai lembaga saja dengan mudah dapat jatuh ke dalam ketertutupan, dalam kesempitan dan jalan buntu bagi masalah-masalah majemuk yang kita temui di dalam kehidupan ini. Agama tidak dapat berdiri sendiri dan tidak boleh semua hal diagamakan.

   
Saudara-saudari,
   
8. Semoga dalam perjuangan mengamalkan kebaikan di dalam masyarakat, Anda mengalami
 

panggilan luhur dari Tuhan sendiri, sehingga Anda juga dapat menata hidup. Semoga dengan demikian kehadiran Anda dan komunitas Anda tidak hanya menjadi rahmat bagi diri dan kelompok sendiri, tetapi juga masyarakat seluas-luasnya.

   
   




Teriring doa dan berkat kami,

Para Waligereja Seluruh Indonesia,