Sekilas Berita Gereja Katolik

 

Berita Katolik Film seri The Bible gagal dan tidak alkitabiah

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


Setelah menunggu lama untuk edarnya DVD film The Bible.

Aku KUCIWA eh Kecewa dengan bohongnya!

Setelah selesai 10 episode seri pendek The Bible, saya amat dan teramat kecewa. Akan saya coba jelaskan film ini agar kita dapat mengerti maksud dari produksi ini yg hanya dapat kita asumsikan dari berbagai sudut logika.

Dari sudut sinematografi film tidak berbeda dengan tradisi film TV dan tidak terlihat kualitas fotografi dan sunting film yg baik, lemahnya dari sudut penggunaan angle dan lensa lebar (wide angle) dan shot2 yg dinamis dengan steadicam, areal dan circular membuat 4 episode awal film ini terasa hambar dan miskin efek lensa dan sudut pandang untuk mengajak penonton kedalam film. Ternyata karena seri ini menggunakan 2 sutradara yg berbeda untuk bagian perjanjian lama dan sutradara lain dalam perjanjian baru, efek dari ini amat terlihat dan menjadikan film yg terasa terbelah dalam produksi dan kontinuitas dalam akting, sound, sinematografi dan alur seluruh film.

Casting dalam film terasa amat dan teramat MISS cast, terlalu banyak aktor dengan logat skotlandia dan inggris yg amat merugikan casting, setting, kontinuitas dan realm film (realistis kejadian dalam akting). Roma tidak mampu casting sebagai Maria, Diogo tidak terlihat adanya kualitas mandiri atau ciri khas akting sebagai Yesus, Nuh, Musa, Daud, Daniel, Paulus, Maria Magdalena, Johanes Pembaptis (tidak mengenakan baju yg terbuat dari binatang/kulit unta seperti dalam KS), Pontius Pilatus bahkan pemeran iblispun tidak dapat menunjukan pribadi yg mereka mainkan, alias semua missed cast. Saya tidak mengerti kenapa kesalahan fatal dalam casting dapat sedemikian besarnya hanya satu asumsi saya. Produser ingin membedakan produksi ini dengan film2 klasik seperti 10 Perintah Allah, Passion, Samson dan Exodus. Ternyata pilihan mereka untuk memisahkan diri dari tradisi filmografi adalah fatal dan menjadikan film ini super hambar bahkan special FX dan sound tidak dapat membantu kesalahan produksi ini.

Jiplakan karya dan gaya Mel Gibson dalam The Passion tidak luput mereka lakukan. Klaim Diogo bahwa dia tidak menonton film lain untuk inspirasi aktingnya adalah sepenuhnya bohong. Dari gerakan, facial (ekspresi), suara bahkan gaya James Cavitzel tidak dapat ia sembunyikan. Bagi sutradara dan seni fotografipun mereka tidak dapat menyembunyikan jiplakan scene, setting, lensa, angle, camera movement, suntingan bahkan adegan dan property yg sama dengan The Passion, arh .......! (Barfing-mode on)

Bagi yg pernah menonton Exodus mau itu film kuno akan merasa hambarnya film ini pada 4 episode awal. Bagi yg pernah menonton The Passion of The Christ Mel Gibson akan ketawa dan prihatin kepada produksi ini dengan belas kasihan dan sama sekali tidak adanya daya tarik masuk adegan manapun.

Enough said untuk bagian produksi yg menurut saya A Total Waste of money karena dengan budget dan sumber produksi mereka dapat dengan sangat mudah menghasilkan sebuah film berkualitas ala The Matrix, but their choice has dooooooomed their resources to this.

Now the best part, The Bible!
Mari kita nilai dan cari maksud dan maknanya produksi ini. Hm .... where do I start. Okay from the first and most penting deh, teologi.

100% tidak memberikan masukan atau ajaran teologis, titik!
Kekosongan nilai teologis dari pihak Ibrani maupun Kristiani, nol besar, mungkin in memang yg ingin disajikan tetapi menurut Roma sendiri adalah kontradiktif dimana ia mengatakan misi film adalah untuk membawa dan mengajak penonton untuk lebih mendalami dan untuk mengenal Kitab Suci. Jadi apa maksudnya? Hidangan cerita dan konsepnya saja tidak dapat dikatakan atau membuktikan dari sudut historis. Bagi saya film ini hanya mengisahkan potongan kisah yg tidak dapat atau mampu mendukung kisah sebelumnya atau yg akan datang. Jadi kronologi untuk menceritakan dari sesi historispun amat lemah. Jadi apa maksud dan gunanya Kitab Suci hilang tanpa kesan, lebih lagi untuk apa Yesus datang dan mati sama sekali tidak diceritakan. Tanpa teologi tanpa adanya jalur dan benang siratan dari satu kisah ke yg lain menjadikan sepertinya Kitab Suci benar2 adalah tidak konkret dalam kisahnya sendiri. Wow! How can they miss this. Jadi sebagai hiburanpun bisa dikatakan tidak adanya logika, kronologi, sinkronositas, dan misi atau maksud dari produksinya. Bingung? Hahahah .... me 2!

Setidaknya dari sudut liberal, sekulerpun film tidak nyambung misalkan, mengisahkan sejarah orang dan bukan umat Yahudi. Inipun tidak mapan bahkan tidak nyambung.

Lompat ke episode 5 dst, sinematografi jauh lebih baik dengan adanya shot areal, lensa lebar dan kendali kamera yg dinamis. Akting masih tetap hambar. Sepertinya mereka lebih konsentrasi mengenai kisah Yesus, ooooooo I got it! Protestan lho ...... oops tunggu dulu dengan komentar itu Ton, film blon selesai. Ternyata secara historis dan kronologis saja mereka gagal besar. Adegan st. Gabriel amat menyedihkan sekali bahkan setting yg amat salah ect .... ect ... hitungan waktu dari Yesus lahir dan kembalinya keluarga Suci dari Mesir dengan narasi yg mengatakan seabad kemudian teks yg menyatakan 25th kemudian ....  halo ..... halo ..... halo Yesus umur 10 th bukannya antara 1 dan  2th kemudian 10 + 25 = 35 Yesus mati umur 33 halo ..... stopppppppppppppppp filming CUTTTTTTTTTTTTTTTTTT .... who came up with this? Hingga adegan Passion yg juga salah menyatakan 3 days later ...... haloooo .... halooooo ..... Injil menyatkan "On the third day' 3 hari kemudian dan hari ketiga amat berbeda kronologi waktu, jadi menurut mereka Yesus wafat dan bangkit 3 hari kemudian, ini berarti Yesus bangkit hari senin ...... haloooooo .....
Coba kita hitung yg baik. Yesus wafat pd hari pertama = Jumat dan bangkit pd hari ketiga = Minggu bandingkan dengan Yesus wafat hari Jumat dan bangkit tiga hari kemudian = Jumat + 3 = Senin wuahahahahahah ....... a what a stupid mistake or is it a mistake? Sepertinya sulit untuk menyatakan ini adalah kesalahan, lebih menunjukan kesengajaan. Juga seperti Yesus kembali ke Galilea umur 10 th dibanding dengan umur antara 1-2 th bahkan menurut Lukas adalah umur 8 hari Yesus dipersembahkan diBait Allah di Yerusalem. Kacau sekali! Siapa konsultan dan penasehat teologis, historis dan naratif Kitab Suci untuk film ini? Nanti saya jelaskan siapa mereka.

Belum lagi kesalahan-kesalahan fatal lainnya seperti pembangkitan Lasarus, dimana Yesus memanggilnya dari luar kuburan dibanding dengan Yesus yg masuk kedalam kuburan, mencium jasad Lasarus yg notebene tidak dibungkus kafan seperti tradisi dan hukum Yahudi. Sama seperti jasad Yesus dalam film yg tidak dibungkus kain kafan dan hanya diselimuti tanpa menutupi muka, amat kacau sekali betapa EX Scriptura-nya film ini. Berbagai kesalahan fatal yg faktual kita bisa menyatakan film ini sebagai atau sekedar novel fiksi Kitab Suci.
Bagi yg ingin melihat mujizat di Kana jangan berharap, gone with the wind. Kronologi mujizat, khotbah dan peradilan Yesus yg kacau, kronologi setting, lokasi, peran/karakter dan waktu yg amat kacau .... wow, bagaimana mungkin ini tidak sengaja, tidak mungkin produser sebodoh ini. Apa maksudnya?

Dalam adegan doa di gethsamane sejak kapan adanya Maria Magdalena menjaga Yesus saat berdoa? Bukannya dalam Injil cuma Petrus, Johanes dan Yakobus yg kemudian tertidur? Sejak kapan Maria Magdalena ada diperahu saat Yesus berjalan diatas air dimana Petrus mengikutinya? Ini adalah dari tulisan gnostis dan injil magdalena, kacau super kacau. Penghakiman Yesus yg adalah pagi hari dibahwa terang matahari LOL. Kemudian Pontius Pilatus debat dengan Kaifas mengenai apa yg AKAN ditulis dan bukan apa yg sudah ditulis. Dikaki salib hanya terdapat Bunda Maria, Johanes dan Maria Magdalena sedangkan Maria istrinya Klopas menghilang dari perederan. Kemudian setelah Yesus di makamkan Bunda Maria lansung pulang ke galilea kontras dengan perkataan Wanita, ini anakmu dimana sejak itu mereka tinggal bersama. Maria Magdalena bertemu Yesus di kuburan dan bukan maliakat, Asensi Yesus bukan seperti asensi yg terlihat kenaikan Yesus ke surga tetapi Yesus menghilang secara misterius. Saat di ruang atas di Yerusalem novena (9 hari) para rasul berdoa bersama Bunda Maria dan memilih pengganti Yudas dan 120 orang lainnya juga menghilang dari adegan. Yg lebih seru lagi adalah Petrus yg menanyakan kepada Maria Magdalena bahwa ia adalah murid yg paling tahu Yesus dan minta dia untuk menceritakan ajaran Yesus <----- injil Maria (gnostis) yg digunakan dalam film ini, kacau dan super kacau. Lebih lagi hari Pentakosta dimana 120 orang, Bunda Maria dan 12 rasul diganti dengan 8 rasul termasuk Maria Magdalena dan ya ......... KARISMATIK PENTAKOSTALISME, coba terka apa yg terjadi? Kesembilan mereka tiba2 berbasa yunani, latin, arab dan aram, lho bukannya sebaliknya dari 120 yg ada mereka berbicara dalam bahasanya masing-masing akan tetapi dapat dimengerti oleh semua dan bukan seperti film Petrus berbasa Yunani, Maria Magdalena berbahasa Latin dan Yohanes berbasa Aram berikut Yakobus berbahasa arab .......  KONYOL sekali!

Kemudian lompat kekisah Paulus dimana Paulus yg memerintahkan agar Stefanus dirajam batu kontras dengan KS bahwa Paulus hanya menyaksikan pembunuhan Stefanus. Lebih lucu lagi Paulus naik kuda .... dimana adanya Paulus naik kuda ke Damaskus dan terjatuh dari kuda dalam KS? Lagi2 saya dibingungkan LOL.

Pendapat saya pribadi mengenai film ini adalah

Betapa Konyolnya film ini!

10 jam waktu saya terbuang, o no tidak, tidak terbuang karena saya bisa menulis komentar ini.

Roma and Mark it would seem you did it for the MONEY and the protestant market, sorry the evidence speaks for this conclusion.

MONEY! Gw kena tipu ...... 30 dollar dan 10 jam hilang untuk a stupid fictional and fake bible movie. Not worth it, do not buy, do not watch, do not BELIEVE!

Sekarang saya mengerti mengapa mereka mendapatkan tanggapan baik dari media. Karena karya mereka kontras dengan karya Mel Gibson yg tidak gegabah mengenai produksi dan yg setia kepada Injil, teologi dan pesan Injil.

Tgl 05Apr2013 oleh Tony

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda