Sekilas Berita Gereja Katolik

 

Berita Katolik AKU MEMBERITAKAN KEPADAMU KESUKAAN BESAR UNTUK SELURUH BANGSA

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


AKU MEMBERITAKAN KEPADAMU KESUKAAN BESAR UNTUK SELURUH BANGSA 

Pada suatu hari, Sabtu pagi, saya berkunjung ke Panti Asuhan Mekarlestari, Bumi Serpong Damai. Begitu membuka pintu gerbang halaman seorang pembantu langsung menyambut : Selamat pagi Romo. Selamat pagi, tanggapan saya. Di teras ada seorang gadis sedang menggendong anak kecil sambil membelai dan menciuminya, dan mungkin mendengar sapaan pembantu terhadap saya, sang gadis itupun juga langsung memberi salam: Selamat pagi Romo. Selamat pagi, tanggapan saya. Romo ini anak saya, berumur kurang lebih satu setengah tahun. Ini anak saya karena pergaulan bebas dengan pacar saya, dan pacar saya tersebut telah pergi entah kemana. Bulan depan anak saya akan saya bawa ke Madiun, ke kakek-neneknya untuk dirawat. Terima kasih ya Romo. Sama-sama, jawaban saya singkat. Saya sungguh terharu dan kagum akan pengakuan gadis tersebut, entah karena saya pastor atau…, ia dengan tulus dan gembira menceriterakan pengalamannya atas kelahiran anaknya di luar nikah. Entah berapa ribu atau juta gadis yang hamil di luar nikah karena pergaulan seks bebas lalu menggugurkan kandungannya, kiranya tidak ada data yang akurat, sedangkan gadis yang dengan rela dan perngorbanan terus mengandung dan melahirkan anaknya rasanya hanya sebagian kecil saja. Ia nampak damai dan bahagia dan tidak lagi nampak kemurungan atau kesedihan atas peristiwa yang telah dialaminya. Seorang anak yang dianugerahkan kepadanya, dengan cara yang mungkin kurang/tidak terpuji oleh masyarakat pada umumnya, diterimanya dengan damai dan gembira. Kiranya sang gadis tersebut sungguh telah bertobat dan menyesali serta berkehendak untuk menempuh hidup baru yang damai sejahtera, yang berkenan kepadaNya.

Kelahiran seorang anak, karena alasan apapun  anak tersebut ada dan dilahirkan, hemat saya memang harus disambut dengan damai sejahtera dan bahagia, sebagaimana disabdakan oleh Yesus: “Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia (Yoh16:21).

(1) "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa (Luk2:10-11)

Di tengah malam gelap gulita di padang rumput beratapkan langit, tiba-tiba ada suara gemuruh, kiranya banyak orang menjadi ketakutan. Demikianlah kiranya yang dialami oleh “gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan (Luk2:8-9).  Para gembala adalah orang-orang yang tersingkir atau terpinggirkan dalam percaturan hidup di masyarakat; masyarakat tidak peduli terhadap mereka, tidak atau kurang ada perhatian dari masyarakat terhadap para gembala. Maka mereka tidak memiliki harapan pada para anggota masyarakat, dan dengan demikian percaya pada Penyelenggaraan Ilahi. Merekalah, para gembala yang pertama-tama menerima Warta Gembira, bahwa Juruselamat/Penyelamat Dunia telah lahir di dunia.

Jangan takut, begitulah sapaan pertama malaikat kepada para gembala yang sangat ketakutan. Baiklah sapaan malaikat kepada para gembala ini kita renungkan dan refleksikan. Dalam hidup sehari-hari mungkin kita tiba-tiba menerima ajakan, sapaan atau sentuhan yang tak terduga dari orang lain atau suara yang menggema dalam hati kita. Hendaknya ajakan, sapaan atau sentuhan tersebut kita sambut dan tanggapi dengan hati, jiwa, akal budi dan tubuh yang terbuka, karena hal itu merupakan pewujudan kasih dari orang lain yang memperhatikan dan mengasihi kita, yang berkehendak baik untuk membahagiakan dan mensejahterakan kita. Jika kita takut alias menutup diri, maka kita akan semakin sepi, menyendiri serta semakin tiada arti. Sebaliknya jika kita tidak takut maka kita semakin hidup, bergairah dan bergembira, dan dengan demikian juga tergerak untuk menanggapi secara positif ajakan, sapaan dan sentuhan tersebut, sebagaimana para gembala bergairah dan ramai-ramai gembira ria melangkah bersama sambil berkata: Marilah kita pergi ke Bertlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti diberitahukan Tuhan kepada kita.

(2) "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita. (Luk2:15)

Betlehem adalah tempat kelahiran Penyelamat Dunia, Allah yang menjadi Manusia seperti kita kecuali dalam hal dosa, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Fil2:6-7). Dalam diri para gembala, yang miskin, polos dan sederhana, kiranya dapat diindrai atau dilihat kesejatian manusia; dalam dirinya tiada sandiwara atau kepalsuan sebagaimana terjadi pada kebanyakan orang kaya/berada yang memoles/merias diri sehingga kurang terlihat keaslian atau kesejatiannya. Orang-orang macam itulah yang akhirnya pertama kali menyaksikan dan menerima Sang Penyelamat Dunia, Pembawa Damai Sejahtera di Betlehem.

Betlehem kita masing-masing adalah tempat kita dilahirkan dan dibesarkan, yaitu keluarga kita serta desa/kota/daerah kita. Marilah meneladan para gembala pergi ke keluarga/desa/kota/daerah kita masing-masing untuk melihat apa yang terjadi, seperti diberitahukan Tuhan kepada kita’ bahwa Damai Sejahtera ada di dalam keluarga/desa/kota atau daerah kita. Dengan kata lain marilah kita wujudkan damai sejatera di dalam keluarga/desa/kota atau daerah tempat kita dilahirkan dan dibesarkan. Untuk itu kita masing-masing harus berani mengosongkan diri dan menjadi sama dengan sesama manusia: ingat bahwa kita sama-sama manusia, sama-sama beriman, sama-sama mendambakan damai sejatera di bumi ini, di dalam hidup kita sehari-hari, dalam keluarga, masyarakat maupun tempat kerja. Solidaritas dan empati kepada sesama dan saudara itulah yang harus kita hayati dan sebarluaskan agar damai sejahtera menjadi nyata atau terwujud dalam kebersamaan hidup dan kerja kita.

Solider dan empati antara lain berarti mendatangi, sebagaimana Allah mendatangi kita dengan menjadi Manusia sama seperti kita atau para gembala yang bergairah dan gembira melangkah untuk mendatangi tempat kelahiran Penyelamat Dunia. Mengawali pemenuhan janji untuk menyelamatkan dunia atau mengawali karyaNya, Allah memulai dengan solider dan empati terhadap manusia. Kiranya cara inilah, mendatangi dengan solider dan empati, merupakan cara utama dalam bersaudara, berkarya atau berpastoral, bukan menunggu atau disowani. Maka secara konkret kami berharap agar kita memiliki cara bertindak mendatangi dengan solider dan empati ini, lebih-lebih solider dan empati terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan seperti pada gembala. Turba, turun kebawah itulah cara kerja atau berpastoral yang dijiwai oleh Inkarnasi, Emmanuel, Allah beserta kita. Dengan ini kami juga berharap dan mendesak mereka yang kaya atau berada (kaya akan harta/uang, ilmu/kepandaian/ kecerdasan, pengalaman dst..) untuk membagikan kekayaannya kepada mereka yang miskin dan berkekurangan dengan mendatangi mereka, bukan menunggu atau memanggil mereka untuk sowan/ menghadap anda. Maka baiklah kita renungkan atau refleksikan lebih lanjut kutipan surat Paulus kepada  Titus di bawah ini.

(3) Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini (Tit2:12)

Penyelamat Dunia, Emmanuel yang tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini. Maka baiklah dalam mengenangkan Kelahiran Penyelamat Dunia atau merayakan Natal kita tinggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan bertindak bijaksana, adil serta beribadah kepada Tuhan dalam hidup sehari-hari di dunia sekarang ini.

· Meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi. Kefasikan atau kejahatan dan keinginan-keinginan duniawi telah meracuni hidup bersama, perdamaian dan persahabatan, baik di dalam keluarga, masyarakat maupun tempat kerja. Sang Peyelamat Dunia hadir/lahir di tengah-tengah kita dalam kesederhanaan atau bahkan kemiskinan, sehingga orang-orang yang bermental duniawi atau materialistis, seperti orang-orang Betlehem, tidak mampu memahami dan menerima kelahiranNya.  Ia lahir di kandang domba-domba di tengah malam gelap gulita dan kedinginan, tiada saudara yang menemaniNya, kecuali Yusup dan Maria, yang suci hatinya penuh dengan Roh Kudus. Maka baiklah dalam rangka mengenangkan atau merayakan kelahiran Penyelamat Dunia hari ini, kita tinggalkan aneka kefasikan/kejahatan dan keinginan-keinginan duniawi, dengan hidup sederhana serta memperhatikan mereka yang miskin dan berkekurangan di sekitar kita. Hendaknya perayaan-perayaan Natal juga diselenggarakan secara sederhana, tidak berfoya-foya, mabuk-mabukan dst… Ingatlah bahwa masih banyak orang miskin dan berkekurangan di sekitar kita serta membutuhkan uluran kasih dan bantuan dari sesamanya.

Kepada rekan-rekan yang merayakan Natal, marilah kita rayakan dengan sederhana, antara lain dalam hal kebutuhan konsumsi/makan dan minum untuk keperluan pesta kita libatkan para pedagang kaki lima atau penjaja makanan sederhana (soto, bakmi, sate, es puter dst..), bukan pengusaha makanan atau catering yang sudah kaya. Biarlah kita berpartisipasi dalam peristiwa kelahiranNya,  dimana orang-orang miskin dan sederhana, para gembala, yang pertama-tama menerima dan menikmati kegembiraan itu. Hendaknya juga diperhatikan para pembantu rumah tangga kita atau pekerja/buruh untuk diajak berpesta bersama kita 

·  Bertindak bijaksana, adil dan beribadah. Bertindak adil berarti menghormati dan menjunjung tinggi harkat martabat manusia atau hak azasi manusia. Jika harkat martabat manusia atau hak azasi manusia dihormati dan dijunjung tinggi, kiranya dengan mudah kita bertindak bijaksana dan beribadah kepada Tuhan. Maka marilah kita berantas aneka macam bentuk kekerasan, pelecehan terhadap sesama manusia, seperti pengguguran kandungan, kekerasan atau kekejaman suami terhadap isteri atau orangtua terhadap anak-anaknya, pelecehan terhadap perempuan dengan mengekspos atau mengeksploitasi tubuh perempuan entah untuk iklan atau kenikmatan seksual dst… Bertindak adil kiranya juga harus menjadi nyata dalam memberi perhatian mereka yang kecil, miskin dan kurang beruntung, dan bagi kita mereka itu antara lain anak-anak kita maupun para peserta didik.

(4) Memberitakan kesukaan kepada anak-anak dan para peserta didik maupun yang miskin dan berkekurangan.

Berpihak pada seluruh bangsa atau semua orang berarti lebih memperhatikan mayoritas. Bagi kita, para orangtua atau guru/pendidik, yang menjadi mayoritas adalah anak-anak dan peserta didik. Maka marilah kita mawas diri sejauh mana cara hidup dan cara bertindak kita sungguh ‘memberitakan kesukaan besar’ bagi anak-anak dan peserta didik. Tanda bahwa kita memberitakan kesukaan besar kepada mereka adalah mereka semakin berprestasi atau berhasil dalam tugas belajar mereka. Maka baiklah di bawah ini saya kutipkan 12 HUKUM TENTANG PRESTASI (Dr.Sylvia Rimm), sebagai berikut:

  1. Anak-anak lebih cenderung berprestasi jika para orangtua mereka bekerja sama dalam memberi pesan yang jelas dan positif yang seragam tentang bagaimana seharusnya mereka belajar dan apa harapan-harapan orangtuanya terhadap mereka.
  2. Anak-anak dapat mempelajari perilaku yang baik dan pantas dengan lebih mudah jika mereka memiliki teladan-teladan efektif untuk ditiru
  3. Pendapat yang dikatakan oleh orang-orang dewasa kepada satu sama lain tentang seorang anak yang didengar oleh anak itu, sangat berdampak pada perilaku dan cara anak itu memandang dirinya
  4. Jika orangtua memberi reaksi berlebihan terhadap keberhasilan dan kegagalan anak-anaknya, anak-anak itu akan cenderung mengalami tekanan batin yang kuat karena mereka berusaha mati-matian untuk berhasil. Mereka juga akan mengalami keputusasaan dan kekecewaan jika mengalami kegagalan
  5. Anak-anak merasakan lebih banyak ketegangan sewaktu mereka mengkhawatirkan pekerjaan daripada saat mereka melakukan pekerjaan itu.
  6. Anak-anak mengembangkan rasa percaya diri melalui suatu proses
  7. Kekurangan dan kelebihan sering menunjukkan gejala-gejala yang sama
  8. Anak-anak mengembangkan rasa percaya diri dan rasa penguasaan diri internal jika mereka diberi wewenang dalam porsi yang lambat laun semakin besar, selama mereka menunjukkan kedewasaan dan tanggungjawab
  9. Anak-anak akan menjadi pemberontak jika satu orang dewasa bergabung dengan mereka melawan seorang orangtua atau guru, karena hal itu membuat mereka merasa lebih berkuasa dari orang dewasa
  10. Orang-orang dewasa seharusnya menghindari konfrontasi dengan anak-anak kecuali jika mereka cukup yakin dapat menguasai akibatnya
  11. Anak-anak akan berprestasi hanya jika mereka mau ikut serta dalam kompetisi
  12. Biasanya anak-anak akan terus berprestasi jika mereka melihat hubungan antara proses belajar dan hasil-hasilnya

(Dr.Sylvia Rimm: Why Bright Kids Get Poor Grades /Mengapa Anak Pintar Memperoleh Nilai Buruk Grasindo  Jakarta 1997)

Sebagai warga masyarakat kita dipanggil untuk memberikan kesukaan kepada semua orang, tentu saja khususnya bagi mereka yang miskin dan berkekurangan. Maka marilah pertama-tama kita perhatikan mereka yang lebih dekat dengan kita dan setiap hari bersama dengan kita, misalnya para pembantu rumah tangga, para buruh/pekerja. Ingatlah bahwa para pembantu rumah tangga maupun para pekerja/ buruh telah berjasa begitu banyak bagi kehidupan dan kerja atau usaha kita, maka selayaknya di hari gembira Natal ini mereka kita ajak bersukaria, entah diajak makan bersama atau diberi kenangan yang berguna bagi hidup mereka. Orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu. (Mat26:11), demikian sabda Yesus di perjamuan terakhir bersama para rasul. Orang-orang miskin berada di sekitar kita, di kampung kita, di kota kita, marilah mereka kita ajak bersukaria juga dengan menyisihkan sebagian kekayaan atau harta benda/uang kita dan kemudian kita berikan kepada mereka. Biarlah mereka yang miskin dan berkekurangan ikut serta dalam kegembiraan para gembala di malam Natal ini.

Jakarta, Desember 2009. 

Selamat Natal 2009 dan Tahun Baru 2010

Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya

Tgl 27Dec2009 oleh Tony

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda