Sekilas Berita Gereja Katolik

 

Berita Katolik REFLEKSI PERJALANAN IMAN HIDUP BERKELUARGA

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


REFLEKSI PERJALANAN IMAN HIDUP BERKELUARGA

 

“Karena seturut Rencana Allah keluarga telah ditetapkan sebagai ‘persekutuan mesra  kehidupan dan cintakasih’, maka keluarga mengemban misi untuk makin mencapai jatidirinya; yakni: suatu persekutuan kehidupan dan cintakasih, melalui usaha seperti segala sesuatu yang diciptakan dan ditebus akan mencapai pemenuhannya dalam Kerajaan Allah. Sambil merefleksikan itu hingga pada urat-akarnya, kita harus mengatakan, bahwa hakekat dan peranan keluarga pada intinya dikonkretkan oleh cinta kasih. Oleh karena itu keluarga mengemban misi untuk menjaga, mengungkapkan serta menyalurkan cintakasih. Dan cintakasih itu merupakan pantulan hidup serta partisipasi nyata dalam cintakasih Allah terhadap umat manusia, begitu pula cintakasih Kristus Tuhan terhadap Gereja MempelaiNya.

Setiap tugas khusus keluarga menjadi ungkapan dan realisasi konkret perutusan yang mendasar itu. Maka kita wajib menggali kekayaan istimewa misi keluarga serta mendalami isinya, yang beraneka- ragam dan sekaligus terpadu.

Begitulah bertolak pada cintakasih dan dengan selalu merujuk kepadanya, Sinode terakhir menekankan empat tugas umum bagi keluarga:

1)      membentuk persekutuan pribadi-pribadi

2)      mengabdi kepada kehidupan

3)      ikut serta dalam pengembangan masyarakat

4)      berperanserta dalam kehidupan dan misi Gereja”

(Paus Yohanes Paulus II:Anjuran Apostolik “Familiaris Consortio”/Keluarga, 22 November 1981 no 17)

 

1. Membentuk persekutuan pribadi-pribadi

 

1.1.Cintakasih sebagai prinsip dan kekuatan persekutuan suami-isteri yang tak terceraikan

 

Dasar persekutuan hidup bersama suami-isteri adalah cintakasih, bukan harta atau tubuh, pangkat, kedudukan, jabatan atau hobby dst.. Maka persekutuan suami-isteri antara lain ditandai dengan saling mengenakan cincin pernikahan; cincin bulat, tiada ujung pangkal, awal dan akhir, melambangkan cintakasih yang tak terbatas dan seutuhnya. Maka suami-isteri berjanji setia untuk saling mengasihi baik dalam untung maupun malang sampai mati alias tidak akan bercerai. Cintakasih juga tidak diketahui awalnya karena cintakasih itu berasal dari Allah, dengan kata lain yang mempertemukan atau menyatukan suami-isteri adalah Allah sendiri, maka Yesus bersabda : “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." (Mat 19:6).

 

Perbedaan antara laki-laki dan perempuan, suami dan isteri menjadi daya tarik untuk saling bersatu dan mengasihi. Hendaknya perbedaan ini tidak hanya dipahami secara phisik melulu: alat kelamin, wajah, dst., tetapi juga aneka perbedaan yang lain seperti hati, jiwa dan akal budi juga menjadi daya tarik untuk semakin bersatu dan mengasihi. Perbedaan yang ada di antara kita merupakan karya ciptaan Allah alias anugerah Allah. Bukankah jutaan atau milyardan manusia di dunia ini tidak ada yang sama persis atau identik, meskipun mereka kembar? Bahkan anggota tubuh kita yang berpasangan juga tidak sama persis , misalnya: daun telinga, mata, lobang hidung, buah dada dan buah pelir (kalau tidak percaya coba ukur sendiri!?). Maka ketika muncul perbedaan kata, cara bertindak, selera dst..hendaknya tidak menjadi awal perpecahan melainkan awal membangun persekutuan atau kebersamaan. Memang apa yang berbeda dapat menjadi masalah, tetapi ingatlah bahwa apa yang disebut dengan masalah merupakan sesuatu yang menggerakkan atau menghidupkan kita untuk bertindak atau melakukan sesuatu pula.

 

Masalah-masalah yang muncul dalam hidup bersama/berdua merupakan kesempatan untuk semakin mengasihi atau memperdalam kasih. Apa itu kasih? “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu  Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. ” (1Kor 13:4-8)      

 

1.2.Persekutuan suami-isteri” yang melahirkan kehidupan

 

Cincin yang bulat melambangkan cintakasih yang bulat alias seutuhnya dan diharapkan suami-isteri sungguh saling mengasihi seutuhnya “dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.”(Mrk 10:13), sehingga suami isteri menjadi sehati, sejiwa, seakal budi dan sekekuatan atau setubuh (bersetubuh). Persetubuhan merupakan bahasa kasih alias perwujudan saling mengasihi tanpa batas (dalam saling ketelanjangan). “Keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu”(Kej 2:25)  Bukankah saling telanjang berdua menunjukkan bahwa relasih kasih suami-isteri sungguh bebas, terbuka dan seutuhnya?  Dari persetubuhan suami-isteri sebagai perwujudan saling mengasihi atau kasih bertemu kasih ada kemungkinan tumbuh manusia baru atau anak yang tidak lain adalah buah kasih, kehidupan baru yang membahagiakan, menjanjikan penuh harapan, maka disambut dengan ceria, bahagia. Karena kasih atau kehidupan baru tersebut merupakan anugerah Allah alais hadiah/anugerah atau kado dari Allah, maka selayaknya ia kita layani atau abdi sebaik mungkin. 

 

2. Mengabdi kepada kehidupan

 

2.1.Partisipasi dalam karya penciptaan Allah

 

Dengan hubungan seksual sebagai perwujudan kasih yang memungkinkan kelahiran seorang anak,  suami-isteri berarti berpartisipasi dalam karya penciptaan Allah. "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (Kej 1:28). Menciptakan berarti bergairah dan penuh harapan, maka hendaknya suami-isteri senantiasa dalam keadaan sehat wal’afiat, bergairah, gembira dan penuh harapan. Bukankah jika kita dalam keadaan stress atau tertekan, lebih-lebih bagi perempuan kemungkinan untuk hamil kecil atau dapat terjadi keguguran kandungan? Kita adalah murid-murid atau pengikut Yesus Kristus, Pewarta Gembira, maka selayaknya kita senantiasa bergembira.

 

Pada masa kini partisipasi dalam karya penciptaan Allah merupakan bentuk “Pro Life Movement” (Gerakan Penyayang Kehidupan) alias anti aneka macam bentuk pengguguran kandungan atau aborsi maupun aneka bentuk penghalang kehamilan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Bagi suami-isteri hal ini antara lain berarti: (1) hubungan seksual sungguh merupakan perwujudan kasih bukan sekedar mengikuti gairah seksual belaka, dan (2) terbuka kemungkinan terjadi pembuahan dalam hubungan seksual, yang melahirkan seorang anak. Dengan kata lain suami-isteri Katolik selain menghayati diri anti aborsi, juga dipanggil untuk mewartakan Gerakan Penyayang Kehidupan atau memberantas gerakan dan tindakan aborsi.    

2.2.Pendidikan anak

 

Anak sebagai anugerah Tuhan harus dididik, dikembangkan atau dirawat/dipelihara sesuai dengan kehendak Tuhan. Anak diciptakan, diadakan, dilahirkan dan dibesarkan dalam dan oleh kasih, dan hanya dalam dan oleh kasih juga anak dapat tumbuh berkembang sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan. Cintakasih itu bebas alias tidak terbatas, sebaliknya kebebasan dibatasi oleh cintakasih, dengan kata lain kita dapat bertindak apapun asal tidak berlawanan dengan atau melanggar cintakasih. Cintakasih yang benar antara lain senantiasa menghormati dan menjunjung tinggi harkat martabat manusia, maka segala bentuk pelecehan atau perendahan harkat martabat manusia berlawanan dengan cinta kasih dan tidak bebas lagi. Karena masing-masing dari kita diadakan, diciptakan, dilahirkan dan dibesarkan dalam dan oleh kasih dan karena kita adalah warta gembira yang selalu gembira, demikian pula dalam mendidik dan mendampingi anak juga harus dalam kegembiraan, itulah cintakasih dan kebebasan, bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan.

 

Dalam mendidik anak agar menjadi cerdas atau berprestasi, berikut saya kutipkan duabelas hukum Rimm, kiranya dapat menjadi bantuan untuk mawas diri:

 

Hukum Rimm tentang Prestasi:

  1. Anak-anak lebih cenderung berprestasi jika para orangtua mereka bekerja sama dalam memberi pesan yang jelas dan positif yang seragam tentang bagaimana seharusnya mereka belajar dan apa harapan-harapan orangtuanya terhadap mereka.
  2. Anak-anak dapat mempelajari perilaku yang baik dan pantas dengan lebih mudah jika mereka memiliki teladan-teladan efektif untuk ditiru
  3. Pendapat yang dikatakan oleh orang-orang dewasa kepada satu sama lain tentang seorang anak yang didengar oleh anak itu, sangat berdampak pada perilaku dan cara anak itu memandang dirinya.
  4. Jika orangtua memberi reaksi berlebihan terhadap keberhasilan dan kegagalan anak-anaknya, anak-anak itu akan cenderung mengalami tekanan batian yang kuat karena mereka berusaha mati-matian untuk berhasil. Mereka juga akan mengalami keputusasaan dan kekecewaan jika mengalami kegagalan.
  5. Anak-anak merasakan lebih banyak ketegangan sewaktu mereka mengkhawatirkan pekerjaan daripada saat mereka melakukan pekerjaan itu.
  6. Anak-anak mengembangkan rasa percaya diri melalui suatu proses
  7. Kekurangan dan kelebihan sering menunjukkan gejala-gejala yang sama
  8. Anak-anak mengembangkan rasa percaya diri dan rasa penguasaan diri internal jika mereka diberi wewenang, dalam porsi yang lambat laun semakin besar, selama mereka menunjukkan kedewasaan dan tanggungjawab.
  9. Anak-anak akan menjadi pemberontak jika satu orang dewasa bergabung dengan mereka melawan seorang orang tua atau guru, karena hal itu membuat mereka merasa lebih berkuasa dari orang dewasa.
  10. Orang-orang dewasa seharusnya menghindari konfrontasi dengan anak-anak kecuali jika mereka cukup yakin dapat menguasai akibatnya.
  11. Anak-anak akan berprestasi hanya jika mereka mau ikut serta dalam kompetisi.
  12. Biasanya anak-anak akan terus berprestasi jika mereka melihat hubungan antara proses belajar dan hasil-hasilnya” (Dr.Sylvia Rimm, Mengapa Anak Pintar Memperoleh Nilai Buruk, PT Grasindo Jakarta 1997, hal xxi-xxii).

 

3. Ikut serta dalam pengembangan masyarakat

 

3.1.Keluarga sebagai sel pertama dan vital bagi masyarakat

Keluarga sungguh menjadi sel pertama atau basis bagi kehidupan bersama di tingkat yang lebih luas dan besar seperti masyarakat. Pengalaman hidup dalam keluarga atau apa yang diperoleh di dalam keluarga akan menjadi bekal perjalanan hidup di masyarakat: relasi orangtua dan anak, relasi kakak dan adik, relasi anggota keluarga dan pembantu rumah tangga dan relasi dengan teman-teman sepermainan. Bagaimana pengalaman anak berrelasi dengan orangtua akan menentukan atau mempengaruhi relasi mereka dengan atasan, relasi dengan kakak/adik akan mempengaruhi relasi dengan rekan kerja senior/yunior, relasi dengan para pembantu akan mempengaruhi relasi dengan mereka yang miskin, berkekurangan atau kurang dari pada kita, sedangkan relasi dengan teman sepermainan akan mempengaruhi hidup bersama atau kerjasama di manapun. Maka untuk itu penting diperhatikan bagaimana komunikasi yang hidup dan terjadi di dalam keluarga.

 

Sarana-prasarana komunikasi berkembang pesat pada saat ini, tetapi rasanya komunikasi antar pribadi yang saling mengasihi dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan tubuh/kekuatan semakin pudar. Suasana atau mental bisnis, efisiensi, telah mempengaruhi hidup bersama termasuk hidup berkeluarga. Komunikasi yang terjadi memang efisien tetapi tidak efektif. Komunikasi antar kita hendaknya efisien dan efektif, artinya berkualitas mempengaruhi yang berkomunikasi untuk tumbuh berkembang sebagai pribadi yang cerdas beriman. Komunikasi yang demikian memang membutuhkan waktu dan tenaga alias kehadiran secara phisik, maka baiklah di dalam keluarga disediakan waktu khusus untuk saling bertemu, berrekreasi, makan bersama, doa bersama dst..    

 

3.2. Keluarga sebagai ‘pewarta Kabar Gembira”

 

Suami-isteri katolik ketika mengawali hidup berkeluarga antara lain berjanji untuk “menjadi ayah atau ibu yang baik bagi anak-anak yang dipercayakan kepada kita, dan mendidik mereka menjadi murid Yesus Kristus yang setia”, dengan kata lain ingin menjadi keluarga sebagai ‘pewarta Kabar Gembira’. Maka bina iman di dalam keluarga, entah bagi suami-isteri sendiri maupun anak-anak perlu memperoleh perhatian yang memadai. Tanda bahwa keluarga dapat menjadi ‘pewarta Kabar Gembira’ antara lain apa yang terdengar atau tersiarkan dari keluarga adalah apa-apa yang baik; dan apa yang disebut baik senantiasa berlaku umum atau universal. Anak-anak diharapkan juga tumbuh berkembang lebih baik daripada orangtuanya.

 

Salah satu buah keluarga yang baik antara lain anak-anak tumbuh berkembang menjadi kader-kader dalam hidup bersama, bermasyarakat maupun menggereja. Seorang kader berarti orang yang fungsional menyelamatkan bagi lingkungan hidupnya dan yang bersangkutan senantiasa ‘survival’ dalam segala cuaca dan keadaan. Seorang kader berfungsi bagi lingkungan hidupnya bukan karena dukungan orang lain atau rekomendasi orang yang berpengaruh, melainkan karena dirinya sungguh bermutu sebagai pribadi atau ciptaan Tuhan alias cerdas beriman. Jika ia tidak difungsikan maka ia akan ‘merebut’ fungsi dengan kehadiran dan cara hidup atau cara bertindaknya.  Maka baiklah anak-anak sedini mungkin difungsikan dalam kehidupan bersama di dalam keluarga: diberi peran dalam kehidupan dan demi kebahagiaan/kesejahteraan keluarga sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuannya. Keluarga sungguh menjadi ‘pewarta Kabar Gembira’ ketika anggota keluarga sungguh fungsional bagi keselamatan lingkungannya, anak-anak tumbuh berkembang menjadi kader hidup bersama, dan kiranya juga ada yang terpanggil secara khusus untuk menjadi imam, bruder atau suster.    

 

4. Berperansetra dalam kehidupan dan misi Gereja

 

4.1.Selain menjadi sel pertama dan vital bagi masyarakat, keluarga juga menjadi sel pertama dan vital dalam kehidupan Gereja, maka keluarga sering disebut sebagai “Gereja mini” atau ‘miniatur Gereja’, apalagi jika seluruh anggota keluarga sama-sama beragama katolik. Maka baiklah disadari dan dihayati bahwa relasi atau komunikasi antar anggota keluarga merupakan komunikasi iman dan kiranya di dalam keluarga perlu juga diselenggarakan kegiatan doa atau pendalaman iman bersama. Saya sendiri sangat terkesan ketika diminta memberkati rumah baru, ternyata pemilik rumah juga membangun kamar atau ruang khusus untuk berdoa, dimana di kamar tersebut ada altar/meja kecil, salib, patung Bunda Maria dan Hati Yesus Yang Mahakudus. Tanpa saya bertanya si pemilik rumah sendiri berceritera bahwa sengaja membangun kamar khusus yang dapat digunakan untuk doa pribadi/meditasi atau doa bersama dalam keluarga. Tentu saja doa bersama juga dapat dilakukan dalam tempat biasa seperti kamar makan, misalnya sehari/seminggu sekali diadakan acara makan bersama dan selesai makan kemudian disusul doa bersama; doa sebelum dan sesudah makan dipimpin secara bergantian oleh anggota-anggota keluarga. Di samping kegiatan liturgis ini kiranya juga penting di dalam keluarga sering diselenggarakan pendalaman iman antara lain sharing pengalaman hidup atau pembacaan kitab suci bersama.

 

4.2. Keluarga juga diharapkan berpartisipasi dalam kegiatan misi atau tugas perutusan Gereja, yang melanjutkan tugas perutusan para rasul dari Yesus :”Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:18-20)

4.2.1.Jadikanlah semua bangsa muridKu”. Menjadi murid Yesus berarti menjadi sahabat-sahabat Yesus alias menghayati sabda-sabdaNya serta meneladan cara bertindakNya. Salah satu cara bertindak yang mungkin baik menjadi teladan kita masa kini antara lain: “memberi makan yang kelaparan, memberi minum yang kehausan, memberi  tumpangan pada orang asing, memberi  pakaian yang telanjang, melawat atau mengunjungi yang sakit, mengunjungi yang berada dalam penjara” (lihat Mat 25:35-36)

4.2.2.“Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”

Dibaptis berarti dibersihkan atau disisihkan seutuhnya bagi Tuhan, maka membaptis berarti menyisihkan seutuhnya kepada Tuhan. Kita semua diciptakan dan dikasihi oleh Tuhan, dan karena dosa dan kelemahan kita menjauh dari Tuhan. Menyisihkan diri kita dan sesama serta ciptaan lainnya bagi Tuhan antara: mengelola atau mengurus hal-ikhwal atau seluk-beluk dunia ini dijiwai oleh iman kita pada Yesus Kristus, menyehatkan aneka aturan, kebijakan, struktur hidup bersama yang merangsang ke perilaku dosa dst.. sehingga kita sendiri dan sesama kita memiliki budaya Tuhan Yesus: cara melihat, cara berpikir, cara merasa, cara bersikap dan cara bertindak sesuai dengan cara Yesus.             

4.2.3.“Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu”

Perintah utama dan pertama dari Yesus adalah ‘saling mengasihi’, maka kita semua dipanggil untuk senantiasa hidup saling mengasihi serta mengingatkan orang lain atau sesama kita untuk menyadari dan menghayati diri sebagai ‘yang terkasih’ dan kemudian saling mengasihi satu sama lain. “Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku” (1Kor 13:3)      

 

5.      Sekelumit perihal komunikasi.

 

Sarana-prasarana komunikasi berkembang pesat: HP, internet, TV, dll, yang memudahkan orang untuk saling berkomunikasi secara efisien dan efektif. Namun sayang bahwa komunikasi tersebut lebih bersifat dangkal, dalam arti terjadi pada tingkat phisik dan belum sampai ke tingkat spiritual atau bahkan hanya sebatas tingkat phisik saja seperti bisnis dll.. Komunikasi pada tingkat spiritual mengalami erosi terus menerus.

 

Cintakasih yang menyatukan laki-laki dan perempuan menjadi suami-isteri yang saling mengasihi sangat dipengaruhi oleh kwalitas komunikasi antar pasangan yang bersangkutan. Ingat bahwa Yesus mengajarkan kepada kita agar mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tenaga atau tubuh, dengan kata lain komunikasi antar suami-isteri yang saling mengasihi harus melibatkan hati, jiwa, akal budi dan tubuh/tenaga sepenuhnya atau seutuhnya. Empat unsur tersebut, hati, jiwa, akal budi dan tubuh/tenaga tidak dapat dipisah-pisahkan dan hanya dapat dibedakan dalam rangka saling mengasihi. Jika orang memisah-misahkan unsur tersebut atau tidak tidak menghayati sepenuhnya keempat unsur tersebut, maka sebenarnya yang bersangkutan tidak dapat mengasihi. Tidak sepenuh hati berarti sakit hati, tidak sepenuh jiwa berarti sakit jiwa, tidak sepenuh akal budi berarti ‘bodoh’ dan tidak sepenuh tenaga/tubuh berarti ‘sakit’ atau lemas.

 

Kata komunikasi berasal dari kata bahasa Latin communicare yang antara lain berarti membagi sesuatu dengan seseorang, memberikan sebagian kepada seseorang, bertukaran/tukar-menukar, memiliki bersama, mempunyai sesuatu yang sama dengan seseorang, ikut mempunyai bagian dalam sesuatu dengan seseorang. Dari berbagai arti di atas kiranya dapat kita pahami bahwa dalam berkomunikasi terjadi saling memberi dan menerima; berkomunikasi dalam kasih berarti saling memberi dan menerima (isi)hati, jiwa, akal budi dan tubuh/tenaga. Karena laki-laki dan perempuan diciptakan oleh Allah sebagai yang sepadan (lihat Kej 2:20), dan dengan demikian laki-laki dapat berkata kepada perempuan (suami kepada isteri):”Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku”(Kej 2;23), maka laki-laki dan perempuan, lebih-lebih yang menjadi suami-isteri, “berdiri sama tinggi, duduk sama rendah”, tidak ada yang di atas dan tidak ada yang di bawah. Begitulah hendaknya yang terjadi dalam berkomunikasi atau dalam saling mengasihi antar suami-isteri.

 

Secara secara praksis sosial kemasyarakatan kita kenal adanya ‘kepala keluarga’, entah patriarchal atau matriarchal, sehingga terjadi perbedaan. Namun hendaknya perbedaan yang ada dihayati sebagai yang fungsional, artinya berfungsi untuk semakin saling mengasihi. Ingat laki-laki dan perempuan berbeda satu sama lain (tubuh, sifat dst..) dan karena berbeda maka saling tertarik, mendekat dan saling mengasihi. Perbedaan memang dapat menjadi masalah, tetapi ingat bahwa apa yang disebut masalah adalah sesuatu yang menggerakkan atau memotivasi kita untuk bertindak atau mengerjakan sesuatu. Maka baiklah ketika ada perbedaan antar suami-isteri, entah dalam hal hati, jiwa, akal budi atau tubuh, hendaknya dihayati sebagai ‘jalan’ atau ‘wahana’ untuk saling berkomunikasi, saling mendekat dan saling mengasihi dengan saling memberi dan menerima hati, jiwa, akal budi dan tubuh secara lebih penuh atau utuh. Karena ‘dia, tulang dari tulangku dan dagin dari dagingku’, maka laki-laki dan perempuan atau suami-isteri, yang sungguh berbeda satu sama lain, yang saling mengasihi lambat laun laki-laki dan perempuan yang berbeda tersebut tumbuh berkembang bagaikan ‘manusia kembar’. (catatan: silahkan anda bercermin bersama dalam satu cermin dan pandanglah wajah anda berdua..jika semakin nampak bagaikan manusia kembar berarti anda sungguh saling mengasihi dan berkomukasi dengan benar dan baik).          

        
Ign.Sumarya SJ 

Tgl 09Jul2007 oleh maruko_lien

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda