I. Sumarya. SJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Homili dan Renungan Harian Mg Biasa XXII

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


(Yer20:7-9 ; Rm12:1-2 ; Mat16:21-27)

“Engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang
dipikirkan manusia." Menjelang ditahbiskan menjadi imam, kami, para frater yang akan
ditahbiskan, dipanggil satu persatu oleh Provinsial, pembesar kami,
untuk diberi tahu perihal tugas yang harus kami emban setelah
ditahbiskan. Waktu itu saya menerima tugas untuk menjadi Direktur
Perkumpulan Strada dan pater Unit di Jakarta. Mendengar penugasan
tersebut saya dengan rendah hati bertanya kepada Provinsial
sbb.”Tugas-tugasnya apa saja Romo”. “Tugasnya…, ya nanti lihat saja”,
demikian jawaban Provinsial. Mendengar jawaban tersebut saya tak
berani bertanya lagi, karena sedikit banyak saya tahu apa arti atau
makna ‘melihat’. Perihal ‘melihat’ telah kami renungkan dan dalami
ketika sedang berkontemplasi, dimana kami diajak untuk melihat karya
penciptaan Allah dengan mata hati, jiwa dan akal budi, tidak hanya
mata phisik saja. Ketika saya dapat sungguh melihat maka memang di
hadapan saya terbentang di satu sisi keindahan yang luar biasa dan di
sisi lain adalah perkara atau masalah yang besar juga. Ada rasa kagum
sekaligus takut. Kiranya pengalaman macam itulah yang terjadi dalam
diri para rasul, ketika Yesus mengajak mereka untuk pergi ke
Yerusalem, kota suci, kota idaman, untuk “ menanggung banyak
penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat,
lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga” (Mat 16:21), sehingga
Petrus menegorNya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu
sekali-kali takkan menimpa Engkau."(Mat16:22). Menanggapi tegoran
tersebut Yesus bersabda : "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan
bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah,
melainkan apa yang dipikirkan manusia.”(Mat16:23). Sabda Yesus kepada
Petrus ini kiranya juga terarah kepada kita semua yang beriman
kepadaNya, maka marilah kita renungkan atau refleksikan.
"Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau
bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang
dipikirkan manusia.” (Mat16:23)

Sikap mental materialistis pada masa kini menjiwai banyak orang,
sehingga mereka lebih memikirkan apa yang dipikirkan manusia daripada
yang dipikirkan Allah. Yang dipikirkan manusia pada umumnya hanya cari
enak atau kenikmatan duniawi atau manusiawi, seperti kenikmatan
seksual, makan, minum dan tidur, tidak sampai pada kenikmatan ilahi
atau spiritual. Dalam psikologi agama mereka boleh dikatakan hidup dan
bertindak pada taraf psikofisik atau psikososial dan belum sampai pada
psiko-spiritual. Sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk
hidup dan bertindak sampai dengan taraf spiritual-rational.
“Dalam taraf ini (=spiritual-rational) nampak ciri khas manusia yang
mampu berpikir, menggunakan penalaran untuk mempertimbangkan, menilai
dan melangkah lebih dari apa yang dapat dirasa oleh pancaindera,
misalnya berkhayal, membuat abstraksi, merumus konsep-konsep abstrak
tentang hal-hal konkret…., maka taraf spiritual-rational ini
memungkinkan kita sampai pada pemahaman arti baru dan lebih mendalam,
bahkan corak adikodrati” (Sr.Joyce Ridick SSC.Ph D: KAUL, Harta
Melimpah dalam bejana tanah liat, Penerbit Kanisius 1987, hal 36-37).
Dalam Warta Gembira hari ini kita diajak untuk memahami arti baru dan
lebih mendalam tentang ‘penderitaan’. Orang sering menilai penderitaan
sebagai hukuman dari Allah karena dosa-dosa atau kejahatannya. Memang
penderitaan memiliki dua arti: penderitaan yang muncul karena dosa
atau kelalaian/kesambalewaan kita boleh dikatakan sebagai hukuman
Allah, namun penderitaan yang muncul atau lahir dari ketaatan dan
kesetiaan pada panggilan dan tugas pengutusan adalah jalan keselamatan
atau kebahagiaan sejati.

“Pergi ke Yerusalem” bagi Yesus berarti untuk memenuhi panggilan dan
tugas pengutusan sebagai Penyelamat Dunia dengan menderita sengsara
dan wafat di kayu salib, sedangkan bagi kita semua dapat berarti
pemenuhan harapan, dambaan, cita-cita atau panggilan dan tugas
pengutusan kita masing-masing, dan untuk itu memang tak akan terlepas
dari aneka macam bentuk penderitaan. Marilah kita hadapi dan sikapi
aneka bentuk penderitaan yang lahir dari kesetiaan dan ketaatan kita
pada panggilan dan tugas pengutusan sebagai jalan keselamatan dan
kebahagiaan kita sendiri maupun saudara-saudari kita, maka hendaknya
jangan dihindari atau disingkiri, melainkan hadapi bersama dengan
bantuan rahmat Allah, yang menjadi nyata dalam aneka bantuan dan
kebaikan saudara-saudari kita. Selanjutnya marilah kita renungkan
peringatan Paulus kepada umat di Roma, di bawah ini.

“Saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya
kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang
kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh
pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak
Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”
(Rm12:1-2) “Persembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup,
yang kudus dan yang berkenan kepada Allah”, inilah yang hendaknya kita renungkan atau
refleksikan serta kemudian kita hayati. Pertama-tama marilah kita jaga
dan rawat seluruh anggota tubuh kita dalam keadaan kudus alias tak
tercela. Untuk itu fungsikan pancaindera guna melakukan apa yang baik
dan bermoral atau berbudi pekerti luhur, bukan untuk berbuat jahat;
demikian juga fungsikan semua anggota tubuh untuk melakukan apa yang
baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Hendaknya dengan anggota
tubuh anda jangan menyakiti atau melecehkan orang lain, apalagi
menjual diri dengan melacurkan diri demi kenikmatan seksual atau uang.

Tubuh kita adalah bait Roh Kudus, maka semua gerak tubuh hendaknya
sesuai dengan dorongan atau bisikan Roh Kudus, antara lain untuk
memuji, menghormati, memuliakan dan mengabdi Allah melalui
ciptaan-ciptaanNya, terutama manusia, sebagai ciptaan terluhur dan
termulia di dunia ini, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra
Allah. “Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati serta mengabdi Tuhan
kita dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas
permukaan bumi diciptakan bagi manusia untuk menolongnya dalam
mengejar tujuan ia diciptakan” (St.Ignatius Loyola, LR no 23).
Ciptaan-ciptaan lain di bumi ini selain tergantung pada Tuhan juga
tergantung pada manusia. Oleh Tuhan semuanya diciptakan baik adanya,
maka jika terjadi kerusakan berarti hal itu karena perilaku manusia.
Menjaga dan merawat anggota tubuh tetap kudus dan baik berarti
memfungikannya untuk menjaga dan merawat ciptaan-ciptaan lain tetap
baik adanya, sebagai mana telah diciptakan oleh Tuhan. Namun kita
semuanya tahu bahwa karena keserakahan sementara orang maka
ciptaan-ciptaan Tuhan di bumi ini, termasuk manusia, telah rusak, yang
kemudian berdampak pada pencemaran tubuh manusia sendiri.

“Kemiskinan yang semakin meluas, rusaknya lingkungan hidup serta
memudarnya persaudaraan sejati karena radikalisme” itulah kiranya yang
menjadi keprihatinan kita masa kini, sebagaimana telah didalami oleh
rekan-rekan Yesuit di Indonesia selama pembelajaran bersama sepajang
tahun 2010 yang lalu. Salah satu dampak kemiskinan antara lain orang
menjual diri menjadi pelacur alias mencemarkan tubuhnya, kerusakan
lingkungan hidup juga mencemarkan tubuh manusia, yaitu dengan
munculnya aneka penyakit, demikian juga memudarnya persaudaraan sejati
menimbulkan tawuran atau perkelahaian, yang pada gilirannya sungguh
merusak anggota tubuh manusia. Maka marilah kita perangi atau berantas
kemiskinan, kita jaga dan rawat lingkungan hidup sehingga nikmat dan
enak ditempati, serta kita bangun dan perdalam persaudaraan sejati.

“Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus
kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan
tandus, tiada berair. Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat
kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu. Sebab kasih
setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan
Engkau.Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan
tanganku demi nama-Mu. Seperti dengan lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan,
dan dengan bibir yang bersorak-sorai mulutku memuji-muji” (Mzm63:2-6)

Ign 28 Agustus 2011
Tgl 27Aug2011 oleh Rm I.Sumarya, SJ

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda