I. Sumarya. SJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Homili dan Renungan Harian Mg Biasa XIX

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


(1Raj19:9a11-13a ; Rm9:1-5 ; Mat14:22-33)

"Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”

“Besi batanganpun jika digosok terus menerus pasti akan menjadi sebatang jarum yang tajam”, demikian salah satu motto Bapak Andrie Wongso, promotor Indonesia. Memang ada syaratnya yaitu keteguhan hati alias tidak bimbang dan ragu selama menggosok besi batangan tersebut. Hidup dan bekerja pada masa kini memang harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan kesulitan berat, sehingga dengan mudah orang menjadi bimbang, ragu-ragu, cemas atau bahkan mengundurkan diri dan kemudian mencari jalan pintas yang mudah. Tumbuh berkembang untuk menjadi pribadi yang baik, cerdas secara spiritual butuh perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit, sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang siap sedia untuk mengarunginya. Tanda atau gejala bahwa orang enggan atau malas berjuang dan berkorban antara lain dengan masih maraknya korupsi yang terus terjadi, dan mereka yang berwenang dan bertugas untuk memberantas korupsi pun takut bertindak. Saat ini ada kesan dari banyak orang bahwa presiden kita, SBY, takut melakukan sesuatu dalam pemberantasan korupsi dan nampaknya hanya cari aman sendiri, maka protes dan kritikan muncul di sana-sini. Aneka protes, saran dan kritikan dari para pengamat dan pemerhati hidup bermasyakat, berbangsa dan bernegara ditanggapi dengan kata-kata “Saya prihatin…”. Sabda Yesus hari ini menghentak dan mengajak kita untuk mawas diri: sejauh mana penghayatan iman kita menjadi nyata dalam cara hidup dan cara bertindak?

"Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” (Mat14:31)

Percaya kiranya sama dengan beriman, yang berarti ‘mempersembahkan diri seutuhnya kepada sesuatu, entah yang kelihatan maupun yang tak kelihatan, terutama kepada yang tak kelihatan’. Sebenarnya masing-masing dari kita telah memiliki pengalaman percaya yang cukup banyak dan mendalam, yaitu dalam hal-hal biasa dan sederhana setiap hari, misalnya dalam hal makan dan minum. Bukankah, entah di rumah atau rumah makan atau di dalam pesta/perjamuan bersama, kita tidak pernah bimbang dan ragu perihal makanan dan minuman yang disajikan untuk kita santap atau nikmati? Bukankah kita percaya bahwa penyanji makanan dan minuman tidak akan mencelakakan kita, melainkan membahagiakan kita? Kiranya masih banyak pengalaman lain yang pernah kita alami dalam hidup sehari-hari bahwa dengan mudah kita percaya pada sesuatu.

Tuhan hidup dan berkarya kapan saja dan dimana saja, tidak terikat waktu dan tempat, dan Ia juga hidup dan berkarya dalam hal-hal biasa dan sederhana setiap hari dalam kehidupan dan kerja kita. Marilah kita lihat, imani dan hayati karyaNya dalam hidup kita sehari-hari KaryaNya antara lain menjadi nyata dalam diri orang-orang yang berkehendak baik; dan kami percaya bahwa orang-orang yang berkehendak baik lebih banyak jumlahnya daripada orang-orang yang berbuat jahat, sedangkan kesan berkehendak jahat sering terjadi karena kesalahfahaman yang disebabkan oleh keterbatasan kita masing-masing

Perjalanan penghayatan hidup dan panggilan kita pada masa kini memang bagaikan sedang berada di dalam perahu di tengah-tengah lautan yang bergelombang, sehingga kita diombang-ambingkan oleh ombak. Ombak itu pada masa kini dapat berupa aneka godaan, tantangan dan hambatan yang memang akan membuat kita mudah ragu-ragu untuk meneruskan perjalanan atau bahkan ada yang tegerak untuk bunuh diri. Hendaknya aneka ‘ombak’ yang mengombang-ambingkan tersebut dihadapi dengan iman atau kepercayaan penuh bahwa Tuhan senantiasa menyertai atau mendampingi perjalanan kita. Godaan-godaan untuk berbuat jahat atau ragu-ragu berasal dari setan atau roh jahat; Tuhan senantiasa dapat mengatasi atau mengalahkan roh jahat, maka bersama dan bersatu dengan Tuhan pasti akan selamat. Kita dapat belajar dari para rasul, yaitu menghadapi godaan dengan berdoa “Tuhan, tolonglah aku”. Berdoalah dengan sepenuh hati dengan kata-kata itu, artinya saya sungguh mengandalkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Bersama dan bersatu dengan Tuhan dalam menghadapi godaan, tantangan atau masalah berarti menjadikan godaan, tantangan atau masalah tersebut sebagai wahana pendewasaan kepribadian, keimanan dan kepercayaan kita. Iman dan kepercayaan kita memang selayaknya sering dicobai agar semakin mantap, handal dan kuat.

“Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus, bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani.” (Rm9:1-3)

Kutipan dari surat Paulus kepada umat di Roma di atas ini kiranya baik menjadi bahan permenungan atau refleksi kita perihal ‘kebenaran’. “Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdosa”, inilah kata-kata yang hendaknya juga menjadi acuan atau pedoman kita di dalam hidup dan kerja kita setiap hari. Hendaknya kita senantiasa tidak berdusta, melainkan jujur dalam kesibukan, kerja dan pelayanan kita.

“Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 17). Bertindak jujur dan rela membela kebenaran bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan namun tak dapat dipisahkan, dan keutamaan ini kiranya mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan pada masa kini, mengingat dan memperhatikan kejujuran maupun kebenaran semakin menjadi langka, bahkan orang jujur menjadi korban kekerasan masyarakat yang tidak suka kejujuran. Dengan kata lain nampaknya masyarakat kita memang sedang menderita sakit kedustaan dan kebohongan.

Pertama-tama dan terutama hendaknya masing-masing dari kita berusaha dengan rendah hati dan bantuan rahmat Tuhan untuk jujur terhadap diri sendiri serta tidak mendustai diri sendiri. Jika kita terhadap diri sendiri senantiasa jujur dan tidak berdusa atau tidak berbohong, maka dengan mudah kita jujur dan tidak berdusta terhadap lingkungan dan masyarakat maupun Tuhan. Tuhan memang tak mungkin kita dustai atau bohongi karena Ia Maha Tahu atau Maha Segalanya. Jujur dan tidak mendustai atau membohongi diri memang tak mudah. Kita sendirian di dalam kamar atau di perjalanan akan tergoda untuk hidup seenaknya sendiri sampai melakukan hal-hal yang tidak baik atau tak berkenan di hati Tuhan misalnya berbuat porno atau amoral, seperti mabuk-mabukan atau pemuasan gairah seksual yang tak wajar.

Kejujuran dan tidak berdusta terhadap masyarakat dan lingkungan yang mudah atau sulit, tergantung dari kita masing-masing, adalah dalam hal masalah harta benda atau uang. Jika terhadap yang kelihatan seperti harta benda atau uang saja kita tak dapat jujur serta berdusta, maka kita tak mungkin dapat jujur dan tidak berdusta dalam hal-hal lainnya, yang tak kelihatan. Pengahayatan kejujuran dan tidak berdusta alias kebenaran dalam hal harta benda atau uang hemat saya merupakan ‘ibu dan benteng hidup beriman atau beragama’. Ingat bahwa orang yang tak mengasihi dan berterima kasih kepada ibu yang telah mengandung, melahirkan, menyusui serta berkorban bagi anaknya, yaitu kita semua, berarti orang yang bersangkutan berdusta alias tak bermoral, tak berbudi pekerti luhur. Jika benteng mulai keropos maka ada bahaya besar apa yang ada di dalam benteng akan hancur berantakan. Maka jika orang sungguh jujur dan benar dalam pengelolaan harta benda atau uang, orang yang bersangkutan boleh atau dapat dikatakan jujur terhadap diri sendiri, lingkungan hidup/masyarakat maupun Tuhan. Kami berharap kejujuran dan kebenaran ini sedini mungkin dibiasakan atau dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga dengan teladan konkret dari bapak-ibu atau orangtua.

“Aku mau mendengar apa yang hendak difirmankan Allah, TUHAN. Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya, supaya jangan mereka kembali kepada kebodohan? Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita. Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan.”(Mzm85:9-1013-14)

Ign 7 Agustus 2011
Tgl 05Aug2011 oleh Rm I.Sumarya, SJ

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda