I. Sumarya. SJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Homili dan Renungan Harian Pesta St Ignatius Loyola

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


(Ul30:15-20 ; Fil3:8-14 ; Luk9:18-26)

"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku”

“Pendiri Serikat Yesus yang terkenal ini dilahirkan pada tahun 1491. Ia berasal dari keluarga bangsawan Spanyol. Ketika masih kanak-kanak, ia dikirim untuk menjadi abdi di istana raja. Di sana ia tinggal sambil berangan-angan bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi seorang laskar yang hebat dan menikah dengan seorang puteri yang cantik. Di kemudian hari, ia sungguh mendapat penghargaan karena kegagahannya dalam pertempuran di Pamplona. Tetapi, luka karena peluru meriam di tubuhnya membuat Ignatius terbaring tak berdaya selama berbulan-bulan di atas pembaringannya di Benteng Loyola. Ignatius meminta buku-buku bacaan untuk menghilangkan rasa bosannya. Ia menyukai cerita-cerita tentang kepahlawanan, tetapi di sana hanya tersedia kisah hidup Yesus dan para kudus. Karena tidak ada pilihan lain, ia membaca juga buku-buku itu. Perlahan-lahan, buku-buku itu mulai menarik hatinya. Hidupnya mulai berubah. Ia berkata kepada dirinya sendiri, “Mereka adalah orang-orang yang sama seperti aku, jadi mengapa aku tidak bisa melakukan seperti apa yang telah mereka lakukan?” Semua kemuliaan dan kehormatan yang sebelumnya sangat ia dambakan, tampak tak berarti lagi baginya sekarang. Ia mulai meneladani para kudus dalam doa, silih dan perbuatan-perbuatan baik.

St. Ignatius harus menderita banyak pencobaan dan penghinaan. Sebelum ia memulai karyanya yang hebat dengan membentuk Serikat Yesus, ia harus bersekolah. Ia belajar tata bahasa Latin. Sebagian besar murid dalam kelasnya adalah anak-anak, sementara Ignatius sudah berusia tiga puluh tiga tahun. Meskipun begitu, Ignatius pergi juga mengikuti pelajaran karena ia tahu bahwa ia memerlukan pengetahuan ini untuk membantunya kelak dalam pewartaannya. Dengan sabar dan tawa, ia menerima ejekan dan cemoohan dari teman-teman sekelasnya. Selama waktu itu, ia mulai mengajar dan mendorong orang lain untuk berdoa. Karena kegiatannya itu, ia dicurigai sebagai penyebar bidaah (=agama sesat) dan dipenjarakan untuk sementara waktu! Hal itu tidak menghentikan Ignatius. “Seluruh kota tidak akan cukup menampung begitu banyak rantai yang ingin aku kenakan karena cinta kepada Yesus,” katanya.

Ignatius berusia empat puluh tiga tahun ketika ia lulus dari Universitas Paris. Pada tahun 1534, bersama dengan enam orang sahabatnya, ia mengucapkan kaul rohani. Ignatius dan sahabat-sahabatnya, yang pada waktu itu masih belum menjadi imam, ditahbiskan pada tahun 1539. Mereka berikrar untuk melayani Tuhan dengan cara apa pun yang dianggap baik oleh Bapa Suci. Pada tahun 1540 Serikat Yesus secara resmi diakui oleh Paus. Sebelum Ignatius wafat, Serikat Yesus atau Yesuit telah beranggotakan seribu orang. Mereka banyak melakukan perbuatan baik dengan mengajar dan mewartakan Injil. Seringkali Ignatius berdoa, “Berilah aku hanya cinta dan rahmat-Mu, ya Tuhan. Dengan itu aku sudah menjadi kaya, dan aku tidak mengharapkan apa-apa lagi.” St. Ignatius wafat di Roma pada tanggal 31 Juli 1556. Ia dinyatakan kudus pada tahun 1622 oleh Paus Gregorius XV” (www.yesaya.indocell.net)

"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk9:23)

Menjadi murid-murid atau pengikut-pengikut Yesus memang akhirnya menjadi sahabat Yesus. Ignatius Loyola memiliki atau mengalami pengalaman rohani yang mendalam dalam permenungannya tentang riwayat hidup Yesus, sehingga Yesus sungguh menjadi Tuhan, Guru dan Sahabatnya. Ia mensharingkan pengalaman rohaninya ke dalam sebuah buku kecil, yang kita kenal sebagai “Latihan Rohani”, tuntutan bagi siapapun yang berkehendak untuk mengenal dan bersahabat dengan Yesus. Ia juga menamakan kelompok atau pengikut-pengikutya sebagai sahabat-sahabat Yesus, yang dikenal sebagai ‘Serikat Yesus’, bukan seperti para pendiri lainnya seperti Fransiskus Assisi atau Dominikus, dimana para pengikutnya disebut Fransiskan atau Dominikan. Ignatius Loyola memang juga belajar dari Fransiskus Assisi maupun Dominikus, namun sebagaimana gerakan baru pada umumnya, yaitu senantiasa memperbaharui yang sudah ada, demikian juga gerakan yang dimulai dan didirikan oleh Ignatius Loyola pada zamannya.

“Menyangkal dirinya” sebagai konsekwensi pengenalan akan Yesus, yang kemudian menjadi sahabatnya, merupakan salah satu pengalaman rohani yang mendalam dalam perjalanan iman Ignatius Loyola. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian yang beriman kepada Yesus Kristus untuk ‘menyangkal diri’, artinya hidup dan bertindak tidak mengikuti kehendak, kemauan atau keinginan diri sendiri/pribadi, melainkan sesuai dengan kehendak Tuhan atau janji-janji yang pernah diikrarkan, entah janji baptis, janji perkawinan, janji imamat, kaul, janji pelajar/pegawai, sumpah jabatan dst… Setiap hari hidup dan bertindak sesuai dengan janji yang telah diikrarkan. Memang setia atau taat pada janji tidak akan pernah terlepas dari aneka tantangan, hambatan atau masalah, dan untuk itu harus senantiasa siap sedia untuk berkorban dan berjuang.

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” (Luk9:25), demikian sabda Yesus. Seluruh ciptaan di dunia serta seluruh hasil jerih payah usaha manusia dimaksudkan untuk keuntungan manusia, kebahagiaan dan keselamatan jiwa manusia. “Keselamatan jiwa manusia” itulah yang diperjuangkan oleh Ignatius Loyola dan diharapkan menjadi tolok ukur para sahabat-sahabat Yesus dalam rangka menilai hasil kerja atau usahanya. Hendaknya keselamatan jiwa senantiasa menjadi barometer atau tolok ukur keberhasilan dan kesuksesan penghayatan panggilan maupun aneka pelaksanaan tugas pengutusan atau pekerjaan. Hendaknya dimana semakin banyak jiwa manusia diselamatkan menjadi pedoman pilihan jenis karya kerasulan maupun tempat berkarya.

“Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Fil3:8), demikian kesaksian iman Paulus kepada umat di Filipi. Kesaksian iman Paulus ini kiranya juga menjiwai semangat Ignatius Loyola, yang antara lain ia mengajarkan bahwa ‘keutamaan atau kaul kemiskinan adalah ibu dan benteng hidup beriman atau membiara’. Ingat dan sadari bahwa orang yang lupa terhadap ibu yang telah mengandung dan melahirkannya pasti akan kurang ajar atau tak bermoral hidupnya, demikian juga ketika benteng hidup keropos maka akan amburadullah cara hidup dan cara bertindak orang yang bersangkutan. Menghayati keutamaan atau kaul kemiskinan berarti ‘melepaskan semua milik dan harta kekayaan’ untuk dipersembahkan kepada Tuhan melalui pelayanan bagi sesama. Dengan kata lain cara hidup dan cara bertindak orang tidak ‘moto duiten’ alias bersikap mental materialistis, hidup dan bertindak berdasarkan untung dan rugi secara material. Memang kepada kita juga ditawarkan keberuntungan, namun dalam bentuk lain, sebagaimana dikatakan dalam kitab Ulangan dibawah ini, maka marilah kita renungkan.

“Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan, karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN, Allahmu” (Ul30:15-16)

“Kehidupan dan keberuntungan atau kematian dan kecelakaan” itulah yang ditawarkan kepada kita. Mau pilih mana? Orang beriman tentu akan memilih kehidupan dan keberuntungan serta berusaha seoptimal mungkin bersama dengan Tuhan dan sesamanya. Memang didalam hidup sehari-hari, dalam kesibukan pelaksanaan tugas dan penghayatan panggilan, kita menghadapi aneka pilihan. Pada umumnya orang cenderung untuk memilih yang mudah dan enak atau sesuai dengan selera pribadi; kalau hal itu membawa ke kehidupan dan keberuntungan tidak apa-apa, tetapi pada umumnya akan membawa ke kematian dan kecelakaan.

Marilah kita memilih kehidupan dan keberuntungan, dan untuk itu kita harus “hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturanNya”. Dengan kata lain marilah kita setia pada janji-janji yang pernah kita ikrarkan seperti janji baptis, janji imamat, kaul, janji perkawinan, janji pegawai, janji pelajar, sumpah jabatan dst.., maka baiklah secara sederhana saya sampaikan catatan-catatan terkait dengan masing-masing janji sebagai berikut:

1. Janji baptis. Ketika dibaptis kita berjanji ‘hanya mau mengabdi Tuhan saja serta menolak semua godaan setan’. Mengabdi Tuhan berarti menjadi abdi atau pelayan Tuhan. Tuhan hidup dan berkarya dimana-mana dan kapan saja, dalam seluruh ciptaanNya: dalam aneka tanaman, binatang dan manusia. Mengabdi atau melayani berarti dengan kerja keras dan rendah hati berusaha membahagiakan yang dilayani atau menyelamatkan yang dilayani, maka marilah kita selamatkan aneka macam tanaman dan binatang maupun manusia. Tuhan telah menganugerahkan keteraturan dinamika hidup seluruh ciptaanNya, dalam pertumbuhan dan perkembangan ciptaan-ciptaanNya. Marilah kita ikuti proses pertumbuhan dan perkembangan yang dianugerahkan Tuhan, dan hendaknya jangan diintervensi dengan aneka macam usaha mempercepat pertumbuhan dan perkembangannya antara lain dengan suntikan atau pemberian obat-obat tertentu. Segala usaha memperlambat atau mempercepat proses pertumbuhan dan perkembangan ciptaan merupakan godaan setan, yang harus kita tolak. Kami percaya jika kita setia mengikuti proses pertumbuhan dan perkembangan yang dianugerahkan Tuhan, maka kita akan hidup dan beruntung.

2. Janji imamat. Imam ketika ditabiskan antara lain berjanji untuk menyalurkan berkat atau rahmat Tuhan melalui aneka pelayanan bagi umat Allah dan masyarakat, demi kebahagiaan dan keselamatan mereka. Menjadi penyalur harus jujur dan disiplin, siap menderita dan tidak korupsi, bagaikan ‘leher’ dalam tubuh kita dimana semua makanan dari mulut setelah dikunyah langsung diteruskan ke usus/perut, yang selanjutnya berfungsi demi kesehatan dan keselamatan seluruh anggota tubuh kita. Maka kami berharap kepada rekan-rekan imam untuk dengan rendah hati, jujur, disiplin, siap menderita dan tidak korupsi apapun serta dalam bentuk apapun dalam melayani atau menggembalakan umat Allah serta masyarakat. Menjadi imam berarti berpatisipasi dalam imamat uskup maupun Yesus sendiri, yang datang untuk melayani dan bukan dilayani serta hidup ‘mendunia’.

3. Kaul. Para anggota lembaga hidup bakti berkaul triprasetia: keperawanan, kemiskinan dan ketaatan, berkehendak membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui pelayanan kepada sesama dengan berbagai bentuk pelayanan pastoral, antara lain kesehatan, pendidikan dan sosial. Maka dengan ini kami berharap kepada segenap anggota lembaga hidup bakti untuk setia pada kaulnya dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari. Penghayatan kaul yang mudah dilihat hemat saya adalah kaul kemiskinan, yang oleh Ignatius Loyola dihayati sebagai ‘ibu dan benteng hidup membiara’. Ketika orang tidak setia pada kaul kemiskinan pada umumnya kaul yang lain, keperawanan dan ketataan, juga sudah amburadul alias dilanggar jauh sebelumnya. Marilah kita wujudkan kaul-kaul kita dengan hidup dan bertindak sederhana serta bekerja keras sesuai dengan tugas pekerjaan dalam rangka memantapkan dan memperdalam kaul-kaul.

4. Janji perkawinan. Saling mengasihi baik dalam sehat maupun sakit, untung maupun malang sampai mati, itulah janji perkawinan antar suami-isteri. Saya berharap kepada para suami-isteri sudah beruntung, yaitu paling tidak dengan kelahiran anak-anak, yang berarti menikmati keberuntungan tambah manusia dan tentu saja juga tugas untuk mendidik dan membesarkan mereka. Karena dasar hidup bersama suami-isteri adalah kasih dan anak-anak yang dianugerahkan oleh Tuhan juga merupakan buah kasih, maka kami berharap agar seluruh anggota keluarga memilih ‘kehidupan dan keberuntungan’ dengan saling mengasihi satu sama lain. Ajaran Yesus perihal saling mengasihi hemat saya dengan mudah dicermati dan dilihat dalam relasi kasih antar suami-isteri, yang saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh, yang ditandai dengan persetubuhan atau hubungan seksual sebagai wujud kasih dan usaha memperdalam kasih.

5. Janji pegawai. Para pegawai berjanji atau bersumpah untuk bekerja sesuai dengan aturan dan tata tertib yang berlaku di tempat bekerja. Antara lain sesuai dengan UU Ketenagakerjaan para pegawai diharapkan bekerja secara efisien dan efektif selama kurang lebih 6 s/d 8 jam sehari, syukur juga afektif, yang berarti dengan bekerja anda semakin dikasihi oleh Tuhan dan sesama manusia. Maka kami berharap para pegawai sungguh bekerja keras dalam bekerja dan tidak korupsi jika mendambakan ‘kehidupan dan keberuntungan’. Tanda bahwa anda sungguh bekerja dengan baik antara lain anda semakin terampil bekerja sesuai dengan fungsinya dalam tempat kerja.

6. Janji pelajar. Pelajar atau mahasiswa berjanji untuk belajar sebaik-baiknya sehingga sukses dalam belajar demi kehidupan dan keberuntungan masa depan. Maka kami berharap kepada para pelajar dan mahasiswa sungguh mendengarkan dengan cintakasih apa yang diajarkan oleh guru atau dosen di ruang klas, dan kemudian apa yang diajarkan di ruang klas tersebut diperdalam dan diperkembangkan dalam belajar di rumah, entah sendirian atau belajar bersama dengan teman. Belajar bersama akan sangat membantu agar semakin memahami dan menguasai aneka ajaran yang telah didengarkan serta membangun kebersamaan sedini mungkin. Kebersamaan di tempat belajar akan sangat membantu dalam kebersamaan kelak dalam tugas pekerjaan di masyarakat maupun tempat kerja.

7. Sumpah jabatan. Para pejabat pada umumnya bersumpah untuk melayani rakyat, agar seluruh rakyat hidup dan beruntung alias hidup dalam damai sejahtera baik lahir maupun batin, jasmani maupun rohani. Maka kami berharap kepada para pejabat untuk melaksanakan fungsi dan jabatannya dengan semangat pelayanan.


Akhirnya kepada kita semua kami ajak untuk mendoakan, mencecap dalam-dalam serta meresapkan ke dalam hati doa dari St.Ignatius Loyola ini: “Ambillah Tuhan kemerdekaanku dan kehendak serta pikiranku. Trimalah Tuhan, yang ada padaku, gunakanlah menurut kehendakMu. Hanya rahmat dan kasihMu yang kumohon menjadi hartaku, cukup sudah itu bagiku”

Ign. 31 Juli 2011
Tgl 30Jul2011 oleh Rm I.Sumarya, SJ

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda