I. Sumarya. SJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Homili dan Renungan Harian Mg Biasa XVIII

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


(Yes55:1-3 ; Rm8:3537-39 ; Mat14:13-21)

“Tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.”

Dalam perjalanan ke luar negeri sendirian, dari Jakarta ke Eropa, secara kebetulan dengan pesawat KLM. Di dalam pesawat saya memperoleh tempat duduk dekat gang sedangkan di samping saya adalah seorang anak kecil bersama dengan ibunya di dekat jendela. Kami sempat omong-omong sebentar, saling memberi salam dan ceritera kesana-kemari dengan sang ibu (kebetulan berkewarnegaraan Prancis dan dapat berbahasa Inggris). Di tengah perjalanan sang anak minta diambilkan tas yang berada di bagasi kabin, dan setelah tas dibuka ia mengeluarkan bungkunan potongan-potongan kue. Begitu bungkusan terbuka sang anak, yang kurang lebih usia 10 th tersebut, berkata kepada saya “Sir, please take one”. Saya sungguh tersentuh dan terharu menyaksikan anak ini dan dalam hati saya bertanya “anak ini pasti menerima pendidikan yang baik dari ibunya perihal kepekaan terhadap orang lain, kepedulian terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan”. Saya teringat akan pengalaman tersebut setelah merenungkan warta gembira hari ini dimana “Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.”. Maka baiklah kita yang beriman kepada Yesus Kristus meneladan semangat atau sikap mentalNya.

“Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.” (Mat14:14)

Pertama-tama marilah kita renungkan kata ‘mendarat’: mendarat antara lain berarti menyentuh tanah, menapakkan kakinya di atas tanah. Mendarat dapat berasal dari laut atau udara, yang berarti berasal dari suatu tempat yang monoton dan kurang variasi sebagaimana di daratan. Berjalan di atas air dengan perahu atau udara dengan pesawat terbang yang dilihat ya hanya itu-itu saja, sedangkan berjalan di daratan akan melihat aneka macam benda, orang, peristiwa dst.. Di dalam perahu atau pesawat terbang pada umumnya tidak akan ada orang yang menderita kelaparan atau kehausan, sementara itu di daratan dapat kita lihat dan temukan orang-orang yang menderita kelaparan, sakit atau miskin.

Marilah kita meneladan Yesus, yang mendarat dan berkeliling dari desa ke desa alias ‘turba’, turun ke bawah. Saya percaya jika kita sungguh turun ke bawah alias melihat ke bawah pasti akan melihat orang yang banyak jumlahnya, yang mengharapkan belas kasihan karena menderita, miskin atau kelaparan. Saya percaya jika kita sungguh beriman, maka hati kita akan tergerak untuk membantu mereka yang menderita, miskin, kelaparan atau berkekurangan. Marilah kita menjadi ‘man or woman with/for others’ serta buka hati kita terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan dalam berbagai hal di lingkungan hidup kita masing-masing atau di mana kita berada atau ke mana kita bepergian.

“Allah menghendaki, supaya bumi beserta segala isinya digunakan oleh semua orang dan sekalian bangsa, sehingga harta benda yang tercipta dengan cara yang wajar harus mencapai semua orang, berpedoman pada keadilan, diiringi dengan cintakasih” (Vatikan II: GS no 69). Aneka jenis harta benda pada dasarnya bersifat sosial, maka semakin kaya akan aneka harta benda seharusnya semakin sosial. Dengan rendah hati kami mengajak dan mengingatkan siapa saja yang kaya akan harta benda atau uang untuk hidup dan bertindak sosial. Tentu saja tidak hanya mereka yang berkelebihan atau kaya yang harus sosial, tetapi kita semua umat beriman diharapkan hidup dan bertindak sosial. Marilah kita bersikap mental memberi; memberi dari kekurangan atau keterbatasan kita. Ingat memberi dari kelebihan atau kelimpahan berarti membuang sampah, dengan kata lain menjadikan mereka yang menerima pemberian kita sebagai kotak sampah. Pemberian atau sumbangan sejati memang disertai oleh pengorbanan. Kami percaya jika kita semua hidup dan bertindak sosial, maka tidak akan ada lagi orang yang menderita, sakit, miskin dan berkekurangan. Selanjutnya marilah kita renungkan kesaksian iman Paulus di bawah ini.

“Aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm8:38-39)

Beriman kepada Yesus Kristus berarti mempersembahkan diri kepadaNya, sehingga mau tak mau cara hidup dan cara bertindak kita akan dijiwai atau dipengaruhiNya alias kita hidup dan bertindak dengan menghayati sabda-sabdaNya serta meneladan cara hidup dan cara bertindakNya. Itulah kiranya arti dari “ segala sesuatu tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”. Kasih senantiasa berarti saling mengasihi, maka kasih Allah kepada kita berarti relasi kita dengan Allah saling mengasihi, dan karena Allah Maha Kasih, maka mau tak mau kasih Allah akan menguasai dan menjiwai kita, sehingga tak ada bentuk kasih, sapaan, sentuhan atau perlakuan makhluk lain yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah.

Kasih hendaknya tidak berhenti dalam wacana atau omongan, melainkan menjadi nyata dalam perilaku atau tindakan. Bukti atau tanda bahwa kasih Allah menguasai kita berarti kita akan senantiasa hidup saling mengasihi. Karena kasih itu bebas dan tak terbatas, maka dalam hidup saling mengasihi kita juga tak mungkin dibatasi oleh SARA, usia, jabatan, kedudukan, fungsi dst.. Kasih akan sungguh menjadi nyata ketika kasih itu kita berikan kepada mereka yang miskin dan berkekurangan, apalagi dalam bentuk harta benda atau uang, karena mereka tak akan mungkin mengembalikan apa yang telah mereka terima tersebut. Sementara itu memberi kepada mereka yang kaya atau berlebihan sering diperlakukan secara bisnis, karena ada kemungkinan mereka yang menerima pemberian akan mengembalikan lagi dalam suatu kesempatan dalam jumlah yang lebih besar. Memberi dengan rela, iklas dan penuh kasih tanpa mengharapkan kembali itulah kasih sejati, sebagaimana sering kita dengar dalam lagu “Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”.

Tanda bermaksud merendahkan rekan-rekan laki-laki, kiranya rekan-rekan perempuan lebih mampu menghayati kasih daripada laki-laki, sebagaimana tercermin dalam lagu di atas. Rekan perempuan, khususnya para ibu memang telah memiliki pengalaman mendalam akan kasih yang penuh pengorbanan ketika mengandung, melahirkan dan mendampingi anaknya. Hal ini kiranya sesuai dengan jati diri perempuan yang memiliki rahim, dimana di dalam rahim tumbuh berkembang kehidupan, yang terkasih, dalam dan oleh kasih atau kerahiman. Karena memiliki rahim maka hemat kami rekan-rekan perempuan lebih mudah tergerak hatinya untuk mengasihi atau melakukan kerahiman alias belas kasih. Rekan-rekan perempuan lebih peka terhadap hal-hal kecil dan sederhana, apa-apa yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Para ibu kiranya juga dengan mudah melelehkan air mata ketika harus berpisah dengan anak, yang pernah dikandung dan dilahirkannya; seolah-olah kasih itu tak mungkin dipisahkan. Kami berharap rekan-rekan perempuan dapat menjadi teladan kasih, kerahiman, belas kasih atau kepekaan terhadap yang lain, terutama mereka yang miskin dan berkekurangan.

“Mata sekalian orang menantikan Engkau, dan Engkau pun memberi mereka makanan pada waktunya; Engkau yang membuka tangan-Mu dan yang berkenan mengenyangkan segala yang hidup.TUHAN itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya.TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan” (Mzm145:15-18)

Ign 31 Juli 2011
Tgl 29Jul2011 oleh Rm I.Sumarya, SJ

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda