I. Sumarya. SJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Homili dan Renungan Harian Mg Biasa XVII

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


(1Raj3:57-12 ; Rm8:28-30 ; Mat13:44-52)

“ Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu”.

Dalam ceritera wayang kita kenal adanya “Pendowo Limo”, lima bersaudara yang jujur dan sakti. Dambaan mereka adalah hidup mulia dan bahagia sejati selama di dunia ini maupun kelak setelah meninggal dunia atau dipanggil Tuhan. Pada suatu hari mereka menerima informasi dari ‘sang guru’ mereka bahwa ‘air kehidupan sejati’, yang menjamin hidup mulia dan bahagia berada di kedalaman Laut Selatan (‘ing telenging samodra Kidul’). Untuk menuju laut orang harus melintasi hutan belantara yang penuh ancaman, demikian juga menemukan ‘air kehidupan’ di kedalaman laut. Mereka merasa apa yang ditawarkan sungguh berat dan harus menghadapi ancaman kematian di perjalanan dalam mengusahakan ‘air kehidupan’ tersebut. Namun salah satu dari mereka yaitu “Werkudoro” merasa tergerak untuk menemukan ‘air kehidupan’ tersebut, serta berniat untuk mengucahakannya. Dengan keras dan berat hati saudara-saudaranya melarang, namun Werkudoro tetap nekad untuk mengusahakannya, dan akhirnya ia meninggalkan saudara-saudaranya untuk mengusahakan ‘air kehidupan’ tersebut. “Ada tantangan dan kesulitan, tabrak atau hadapi saja”, begitulah kiranya motto Werkudoro. Dan memang dalam perjalanan ia harus berperang melawan raksasa-raksasa, demikian pula ketika ia terjun di laut harus melawan ular naga raksasa. Akhirnya Werkudoro menemukan ‘air kehidupan’ , bertemu dengan ‘Dewaruci’, Hyang Tersuci. Werkudoro adalah seorang ksatria sejati yang suci. Warta Gembira hari mengajak dan mengingatkan kita semua agar kita senantiasa mengusahakan apa yang sungguh membahagiakan atau menyelamatkan jiwa kita pada saat ini sampai mati.

“Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” (Mat13:46)

Apa yang menjadi ‘mutiara’ atau ‘air kehidupan’ kita sebagai orang beriman atau beragama, sebagai yang telah dibaptis, sebagai imam, sebagai bruder atau suster, sebagai suami-isteri, sebagai pekerja atau pelajar ? Apa yang paling berharga di dalam kehidupan kita masing-masing? Sebagai orang beriman yang paling berharga adalah iman kita, sebagai yang telah dibaptis yang paling berharga adalah rahmat pembaptisan/janji baptis, sebagai imam yang paling berharga adalah janji imamat, sebagai biarawan-biarawati yang paling berharga adalah trikaul, sebagai suami-isteri yang paling berharga adalah janji perkawinan, sebagai pelajar atau pekerja yang paling berharga adalah janji pelajar atau janji pekerja, dst.. Maka baiklah kita persembahkan seluruh hidup kita guna menghayati janji tersebut di dalam hidup sehari-hari dimanapun dan kapanpun.

“Ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu”, inilah yang hendaknya kita renungkan atau refleksikan. Yang menjadi milik kita pertama-tama adalah tubuh kita sendiri dengan segala keterampilan, bakat, kemampuan, bakat/hobby, harapan dan cita-citanya, sedangkan milik yang lain antara lain aneka jenis harta benda, uang, jabatan, fungsi dan kedudukan. Marilah dengan rendah hati dan sepenuh hati, jiwa, akal budi dan tenaga kita fungsikan semua milik kita untuk menghayati janji-janji yang telah kita ikrarkan atau ucapkan demi keselamatan dan kebahagiaan jiwa kita sendiri maupun saudara-saudari kita. Semuanya adalah anugerah Tuhan, maka selayaknya kita fungsikan agar kita semakin berbakti kepada Tuhan sebagai ucapan syukur dan terima kasih kita kepada Tuhan melalui sesama atau saudara-saudari kita.

Kita semua dipanggil untuk menjadi orang yang benar, bukan jahat. Apa yang disebut benar senantiasa berlaku secara universal, kapan saja dan dimana saja. Orang benar juga berarti orang suci, orang yang berbudi pekerti luhur, sehingga dimana dan kapan saja akan fungsional bagi keselamatan jiwa dirinya sendiri maupun saudara-saudarinya. Kami berharap kepada para orangtua, guru/pendidik, pemimpin, atasan atau petinggi dalam kehidupan bersama dapat menjadi teladan dalam ‘menjual milik lalu membeli mutiara’, mempersembahkan diri seutuhnya demi keselamatan jiwa umat manusia. Keselamatan jiwa manusia hendaknya senantiasa menjadi tolok ukur atau barometer keberhasilan atau kesuksesan hidup dan kerja, pelaksanaan aneka tugas pekerjaan dan kewajiban. Jauhkan semangat atau sikap mental materialistis dalam hidup maupun kerja sehari-hari.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara” (Rm8:28-29)

Baiklah apa yang dikatakan oleh Paulus kepada umat di Roma di atas ini juga kita jadikan keyakinan iman kepercayaan kita. “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia”, inilah yang hendaknya kita hayati. Allah bekerja dalam aneka tumbuh-tumbuhan/tanaman, binatang, dan manusia serta dalam situasi dan kondisi atau lingkungan hidup manapun demi kebaikan seluruh umat manusia di bumi ini. Marilah kita temukan dan hayati kehadiran dan kerjaNya dalam seluruh ciptaanNya agar kita semakin menyerupai Yesus atau layak disebut sebagai gambar atau citra Allah.

Sebagai orang yang beriman kepada Yesus kita dipanggil untuk menyerupai Dia, dengan menghayati sabda-sabdaNya serta meneladan cara hidup dan cara bertindakNya, sehingga kita juga layak disebut sebagai sahabat-sahabat Yesus. Maka marilah dengan rendah hati dan keterbukaan kita baca, renungkan dan hayati sabda-sabdaNya sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci; marilah meneladan cara hidup dan cara bertindakNya sebagaimana diwartakan oleh para penulis Kitab Suci: bagaimana ketika Ia haus atau lapar, ketika ia menghadapi pendosa, anak-anak kecil, orang munafik, perempuan, orang sakit, orang miskin dst…

Sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah atau orang beriman, entah agamanya apapun, kita dipanggil untuk menjadi gambar atau citra Allah, sehingga siapapun yang bertemu atau bergaul dengan kita terpanggil dan tergerak untuk semakin beriman kepada Allah serta menjiwai cara hidup dan cara bertindaknya setiap hari dengan imannya. Iman tanpa dilakukan atau dilaksanakan bagaikan gong yang berbunyi nyaring saja, terdengar sebentar dan segera menghilang, tak berbekas; iman harus menjadi nyata dalam tindakan atau perilaku. Hendaknya sebagai orang beriman dalam doa-doa atau dambaan kita meneladan Salomo, raja bijaksana, yang berdoa “Berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?” (1Raj3:9). Hendaknya senantiasa mendambakan ‘hati yang faham menimbang perkara’, bukan kekayaan, umur panjang maupun nyawa musuh. Kerajaan Allah atau kerajaan orang beriman adalah kerajaan hati, maka marilah kita usahakan agar hati kita cerdas, sehingga mampu membedakan apa yang baik dan jahat serta kemudian memilih dan mengusahakan apa yang baik dalam aneka perkara atau masalah dalam kehidupan bersama pada masa kini.

“Itulah sebabnya aku mencintai perintah-perintah-Mu lebih dari pada emas, bahkan dari pada emas tua. Itulah sebabnya aku hidup jujur sesuai dengan segala titah-Mu; segala jalan dusta aku benci. Peringatan-peringatan-Mu ajaib, itulah sebabnya jiwaku memegangnya. Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh.” (Mzm119:127-130)

Ign 24 Juli 2011b
Tgl 23Jul2011 oleh Rm I.Sumarya, SJ

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda