I. Sumarya. SJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Homili dan Renungan Harian HR PENTAKOSTA

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


HR PENTAKOSTA: Kis 2:1-11; 1Kor 12:3b-7,12-13; Yoh 20:19-23

"Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."

Hari ini kita memahkotai sembilan hari Novena Roh Kudus dengan perayaan Pentakosta, hari penganugerahan Roh Kudus kepada kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus. Roh Kudus yang dianugerahkan kepada kita memberi kuasa untuk ‘mengampuni dosa orang atau menyatakan dosa orang tetap ada’, dan kiranya yang selayaknya kita hayati dan sebarluaskan adalah mengampuni dosa orang, sebagaimana sering kita doakan dalam doa Bapa Kami ‘ampunilah kami seperti kamipun mengampuni mereka yang bersalah kepada kami’. Hari Raya Pentakosta sering disebut juga sebagai hari pendirian atau pemakluman Gereja Kristus, yang ditandai dengan peristiwa sebagaimana diwartakan dalam Kisah Para Rasul hari ini, maka pertama-tama saya mengajak anda sekalian untuk mawas diri dengan cermin peristiwa Pentakosta, penganugerahan Roh Kudus kepada segenap umat Allah.

“Kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.” (Kis 2:11)

Dalam peristiwa Pentakosta ini diberitakan bahwa di Yerusalem berkumpul aneka suku dan bangsa yang ada pada waktu itu. Para rasul, orang-orang Galilea, berbicara dengan bahasa mereka sendiri dan orang-orang lain dapat mendengarkan pembicaraan para rasul dalam bahasa mereka sendiri, padahal tidak ada penterjemah, sebagaimana sering dilakukan dalam masa kini dalam aneka pertemuan aneka bangsa di dunia ini. Sungguh merupakan muzijat besar pada peristiwa Pentakosta ini, dimana aneka suku dan bangsa yang berlainan satu sama lain dapat saling memahami dan mengerti dengan baik melalui bahasa. Bahasa memang menjadi sarana komunikasi, dan hemat saya bahasa komunikasi yang paling canggih dan mudah dimengerti adalah ‘bahasa tubuh’, maka marilah kita mawas diri perihal ‘bahasa tubuh’ yang mempersatukan kita semua.

Bahasa tubuh memang sungguh mempersatkan dan membahagiakan; untuk itu kiranya para suami-isteri atau bapak ibu dapat sharing pengalamannya perihal bahasa tubuh ini, yaitu (maaf kalau sedikit porno) pengalaman ketika sedang memadu kasih alias berhubungan seksual, dimana terjadi kesatuan tubuh dan mungkin tak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulut, melainkan perasaan hati dan jiwa bahagia yang sulit dibahasakan dalam kata-kata. Bahasa tubuh tidak lain adalah gerakan anggota tubuh sebagaimana juga dilakukan oleh saudara-saudari kita yang bisu tuli, misalnya dengan geleng kepala, mengangguk, kerlingan/lirikan mata, sentuhan dst.. Dalam berbahasa tubuh kiranya orang sungguh berkomunikasi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh. Dalam bahasa tubuh ini hemat saya rekan-rekan perempuan, khususnya para ibu juga memiliki pengalaman mendalam dalam berkomunikasi dengan anak kandungnya yang masih bayi.

Bahasa tubuh hemat saya sungguh merupakan komunikasi kasih, dengan kata lain berkomunikasi dijiwai oleh cintakasih. Cintakasih sebagai anugerah Allah itulah kiranya yang juga menjiwai mereka yang berkumpul pada hari raya Pentakosta di Yerusalem pada waktu itu, sehingga mereka saling memahami dan mengerti dan sungguh menjadi saudara-saudari sejati. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus untuk membangun dan memperdalam hidup persaudaraan atau persahabatan sejati, meskipun kita berbeda satu sama lain, beda usia, beda pengalaman, beda SARA, dst.. Marilah kita hayati apa yang sama di antara kita secara mendalam dan handal sehingga apa yang berbeda antar kita berfungsional memperteguh dan memperkuat persaudaraan atau persahabatan kita. Apa yang sama di antara kita antara lain sama-sama manusia ciptaan Allah, gambar atau citra Allah, sama-sama beriman, sama-sama mendambakan hidup damai sejahtera, selamat dan berbahagia lahir maupun batin, jasmani maupun rohani, phisik maupun spiritual. Hidup dalam persaudaraan atau persahabatan sejati pada masa kini hemat saya sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan, mengingat ancaman untuk perpecahan dan permusuhan marak disana-sini. Selanjutnya marilah kita renungkan sabda Yesus di bawah ini.

"Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." (Yoh 20:21)

Dengan anugerah Roh Kudus yang telah kita terima, kita diutus untuk mewartakan damai sejahtera dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun. Untuk itu dari diri kita sendiri hendaknya senantiasa dalam keadaan damai sejahtera dalam situasi atau kondisi apapun, karena Roh Kudus hidup dan berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. “There is no peace without justice, there is no justice without forgiveness” = “Tiada perdamaian tanpa keadilan, tiada keadilan tanpa kasih pengampunan”, demikian pesan perdamaian Paus Yohanes Paulus II memasuki Millenium Ketiga ini. Kasih pengampunan merupakan modal atau kekuatan untuk berbuat adil, yang pada gilirannya membuahkan perdamaian. Masing-masing dari kita telah menerima kasih pengampunan Allah secara melimpah ruah, maka marilah anugerah ini kita hayati dan sebarluaskan, agar terjadilah perdamaian sejati antar kita dalam kehidupan maupun kerja bersama.

Perihal hidup dalam perdamaian atau persaudaraan Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus mengingatkan kita semua, yaitu “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi maupun orang Yunani, baik budak maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan diberi minum dari satu Roh” (1Kor 12:12-13). Kebersamaan kita sebagai paguyuban orang beriman kepada Yesus Kristus ini sering disebut sebagai ‘Tubuh Kristus’; Gereja adalah Tubuh Kristus. Dengan sederhana dan indah sekali Paulus mengingatkan kita semua dengan contoh tubuh kita yang memiliki banyak anggota tetapi satu tubuh untuk mengajak kita semua agar kita hidup dalam kesatuan dan persaudaraan sejati.

Ada sekian banyak anggota tubuh, dan mungkin anggota tubuh yang kelihatan dengan mudah dapat dihitung, namun yang tidak kelihatan kiranya sulit untuk menghitung bagi kita semua yang awam dalam hal biologis atau ilmu kedokteran. Masing-masing anggota tubuh telah ditempatkan oleh Allah sedemikian rupa sehingga tubuh sungguh menawan, memikat dan menarik; masing-masing tubuh bangga dalam posisi masing-masing dan tiada irihati sedikitpun antar anggota tubuh; masing-masing berfungsi secara optimal sesuai dengan fungsinya sehingga tubuh segar-bugar dan sehat-wal’afiat. Dalam suratnya kepada umat di Korintus Paulus juga mengingatkan bahwa anggota tubuh yang nampak kurang terhormat dan lemah diberi penghormatan khusus. Menurut saya anggota tubuh yang sering kurang terhormat dan lemah tetapi diberi penghormatan khusus atau istimewa tidak lain adalah alat kelamin dan bagi rekan perempuan berarti vagina. Ingat ketika seorang perempuan atau gadis diperkosa oleh seorang lelaki sering dikatakan ‘direnggut kehormatannya’, yang berarti alat kelamin sungguh terhormat. Maka marilah kita beri penghormatan saudara-saudari kita yang kurang terhormat dan lemah.

Anggota tubuh yang kelihatan dan tak pernah menyakiti hemat saya adalah leher, dan leher berfungsi sebagai jalan makanan, minuman maupun udara segar dari mulut ke perut. Yang menarik adalah leher tidak pernah mengkorupsi apa yang lewat, apa yang diterima langsung atau segera diteruskan kepada yang berhak; ia sungguh jujur, disiplin, rendah hati dan tidak pernah mengeluh maupun menyakiti. Maka marilah kita juga meneladan leher sebagai umat Allah, sehingga kebersamaan hidup kita sungguh dalam damai sejahtera dan aman sentosa.

“Apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu. Apabila Engkau mengirim roh-Mu, mereka tercipta, dan Engkau membaharui muka bumi. Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!” (Mzm 104:29b-31)

Ign 12 Juni 2011

Tgl 15Jun2011 oleh Rm. I. Sumarya .SJ.

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda