I. Sumarya. SJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Homili dan Renungan Harian Mg Paskah IV (Mg Panggilan)

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


Mg Paskah IV (Mg Panggilan) : Kis2:1436-41 ; 1Ptr2:20-25 ; Yoh10:1-10

“Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.”

Cukup banyak umat, entah laki-laki atau perempuan, orangtua, generasi muda atau anak-anak merasa aman dan enak ketika sedang bersama seorang imam. Mereka merasa damai dan tentram serta tenang bersama sang imam atau dekat dengan seorang imam, dan tentu saja tidak hanya dengan imam, tetapi juga bersama dengan bruder atau suster. Entah apa yang membuat mereka merasa aman, damai dan tenteram; memang pernah ada yang mengungkapkan bahwa bersama dengan imam, bruder atau suster tidak akan mudah dicurigai atau merasa ada ‘malaikat’ yang mengawal dan mendampinginya sehingga tak akan mudah melakukan yang aneh-aneh atau yang jahat. Ketika seorang imam sedang memimpin ibadat, entah ibadat sabda atau Perayaan Ekaristi, maka sekian banyak umat pun perhatiannya tercurah kepada sang imam, apalagi ketika dalam kotbah sang imam dapat berkotbah dengan menarik serta menyentuh pengalaman iman umat yang mendengarkannya. Dengan kata lain umat boleh dikatakan sedang ‘menemukan padang rumput’. Maka baiklah pada hari Minggu Panggilan hari ini kami mengajak anda sekalian entah para imam, bruder atau suster maupun rekan awam untuk memperhatikan panggilan khusus di dalam Gereja, yaitu panggilan untuk menjadi imam, bruder atau suster.

“Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yoh10:8-10)

Yesus adalah Imam Sejati, yang datang ke dunia, dan mereka yang siap sedia didatangi akan ‘mempunyai hidup dan mempunyai dalam segala kelimpahan’. KedatanganNya memang membawa aneka rahmat atau kasih karunia Allah bagi semua umat beriman. Ia juga menjadi ‘pintu’ bagi siapapun yang beriman kepadaNya untuk ‘mempunyai hidup sejati yang berkelimpahan’. Imamat Yesus diteruskan kepada para rasul/uskup. Kita para imam berpartisipasi dalam imamat uskup serta dipanggil untuk meneladan Sang Imam Sejati dengan menjadi ‘pintu’ bagi siapapun yang mendambakan hidup sejati, berbagia dan damai sejahtera.

Dalam tubuh kita ada anggota tubuh yang menurut hemat saya sama dengan ‘pintu ‘, yaitu leher, melalui mana aneka kebutuhan seluruh anggota tubuh harus melalui leher. Marilah kita perhatikan dan cermati bahwa leher merupakan anggota tubuh yang tidak mungkin atau tidak pernah menyakiti serta senantiasa siap sedia dilewati meskipun tak dapat menikmati apalagi korupsi. Semua jenis makanan, minuman, obat-obatan, udara, dst masuk ke seluruh tubuh melalui leher, sehingga seluruh anggota tubuh hidup dalam segala kelimpahan. ‘Leher’ kiranya juga tidak pernah merasa sakit, mengeluh atau menggerutu ketika dilewati aneka kebutuhan seluruh anggota tubuh. Kami berharap para rekan imam dapat menjadi ‘pintu’ atau ‘leher’ bagi umat Allah maupun Allah dalam rangka membantu hubungan mesra antara umat Allah dan Allah. Karena kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus juga memiliki dimensi imamat umum kaum beriman, maka kami berharap kepada kita semua yang beriman kepadaNya jug dapat menjadi ‘pintu’ atau ‘leher’ bagi sesamanya dimanapun dan kapanpun.

Sebagai yang dilewati, yang berfungi pintu atau leher, seorang imam diharapkan senantiasa bersikap rendah hati serta siap sedia melayani tanpa kenal lelah maupun memiliki sikap lepas bebas. “Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Seorang imam diharapkan menghayati nasihat Paulus ini, yaitu: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Fil2:5-7) . Selanjutnya marilah kita renungkan ajakan Petrus di bawah ini.

“Jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah. Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya” (1Ptr2:20b-21)

Dalam berbuat baik atau melakukan apa yang baik pada umumnya tak akan terlepas dari perjuangan dan penderitaan, apalagi untuk mewujudkan hidup bahagia atau mulia sejati, sebagaimana dikatakan dalam pepatah Jawa “jer basuki mowo beyo”. Kami berharap kepada para orangtua atau bapak-ibu untuk tidak memanjakan anak-anaknya dan hendaknya sedini mungkin dididik dan dibina untuk bersikap sosial, peka terhadap kebutuhan orang lain, lebih-lebih yang miskin dan menderita kekurangan. Kepada anak-anak sedini mungkin diperkenalkan pribadi Yesus, Penyelamat Dunia, yang lahir dalam kesederhanaan atau kemiskinan, dan selama tinggal di dalam keluarga Kudus di Nazareth Ia membantu kerja orangtuaNya, Yusuf, sebagai tukang kayu.

“Compassion” = kepedulian terhadap yang lain, terutama yang miskin dan berkekurangan merupakan embriyo promosi panggilan. Dengan rendah hati saya sharingkan pengalaman pribadi saya: saya sungguh bersyukur dan berterima kasih kepada orangtua atau bapak-ibu saya yang memberi teladan kepedulian terhadap sesama, yang sungguh membutuhkan pertolongan tanpa pandang bulu. Masa kecil saya selama tinggal di dalam keluarga, sampai lulus SMP, saya senantiasa dilibatkan dalam kerja orangtua saya, yang bekerja sebagai buruh/tukang batu, maupun mengelola sebidang sawah yang tak begitu luas. Pengalaman itulah yang mendorong dan memotivasi saya untuk menjadi imam, yang juga menjiwai cara hidup dan cara kerja saya sampai sekarang.

Sebagai orang yang beriman atau percaya kepada Yesus Kristus, marilah kita mengikuti jejakNya, yang datang untuk melayani bukan dilayani, yang menyerahkan Diri seutuhnya demi keselamatan atau kebahagiaan jiwa semua orang. Kami berharap rekan-rekan imam, bruder atau suster sungguh berpromosi panggilan, antara lain dengan keteladanan hidup sebagai yang terpanggil. Teladan atau kesaksian hidup sebagai yang terpanggil merupakan cara utama dan pertama dalam promosi panggilan, yang tak dapat digantikan dengan cara apapun. Marilah kita hayati motto bapak pendidikan kita Ki Hajar Dewantoro, yaitu “ing arso asung tulodho, ing madyo ambangun karso, tut wuri handayani” = keteladanan , pemberdayaan, motivasi dalam cara hidup dan cara bertindak kita sebagai yang terpanggil khusus sebagai imam, bruder atau suster. Kepada para orangtua kami berharap ketika ada anaknya yang terpanggil untuk menjadi imam, bruder atau suster, dengan rela dan besar hati mendukung dan mengizinkannya.

“ TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.” (Mzm23:1-5)

Jakarta, 15 Mei 2011
Tgl 21May2011 oleh Rm. I. Sumarya .SJ.

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda