I. Sumarya. SJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Homili dan Renungan Harian Minggu Paskah III

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


Mg Paskah III: Kis2:1422-33 ; 1Ptr1:17-21 ; Luk24:13-35

"Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”

Seorang bijak menasihatkan “Jika engkau sedih atau frustrasi, jangan putus asa, bacalah Kitab Suci atau sabda Tuhan, maka anda akan hidup bergairah kembali”. Memang dalam kenyataan para orang kudus atau tokoh hidup beragama, bermasyarakat dan berbangsa, pada umumnya berpegang teguh pada kata-kata mutiara, entah diambil dari Kitab Suci atau peribahasa-peribahasa yang diciptakan oleh orang bijak. Pengalaman iman ini juga terjadi dalam dua murid dari Emaus, yang dalam perjalanan mereka ‘pulang kampung’ karena frustrasi memperoleh penampakan Yesus yang telah bangkit dari mati. Maka baiklah saya mengajak anda sekalian sebagai umat beriman atau beragama untuk tidak melupakan membaca dan merenungkan sabda Tuhan sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci setiap hari, atau juga dapat menggunakan apa yang saya tulis dan kutipkan setiap hari, sebagai bahan permenungan atau refleksi.

"Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?” (Luk24:32)

Sebagai orang beriman atau beragama kita dibina dan dibentuk dengan atau oleh Sabda Tuhan, sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci oleh para penulis dalam ilham ilahi atau Roh Kudus. “Oleh sebab itu, karena segala sesuatu, yang dinyatakan para pengarang yang diilhami atau hagiograf (penulis suci), harus dipandang sebagai pernyataan Roh Kudus, maka harus diakui, bahwa buku-buku Alkitab mengajarkan dengan teguh dan setia serta tanpa kekeliruan kebenaran, yang oleh Allah dikehendaki supaya dicantumkan dalam kitab-kitab suci demi keselamatan kita. Oleh karena itu ‘seluruh Alkitab diilhami oleh Allah dan berguna untuk mengajar, meyakinkan, menegur dan mendidik dalam kebenaran: supaya manusia (hamba) Allah menjadi sempurna, siap sedia bagi segala pekerjaan baik’ (2Tim3:16-17)” (Vatikan II : Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi/’Dei Verbum’, no 11).

Dengan membaca dan merenungkan Sabda Tuhan kita diharapkan menjadi berkobar-kobar atau bergairah dalam kesiapsediaan ‘bagi segala pekerjaan baik’. Maka marilah hati kita senantiasa diisi oleh sabda Tuhan setiap hari dengan membaca dan merenungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci. Biarkanlah sabda Tuhan tertulis dan tertanam di dalam hati kita, sehingga kita senantiasa tergerak atau termotivasi untuk melaksanakan semua kehendak Tuhan alias selalu melakukan segala pekerjaan baik, yang menyelamatkan dan membahagiakan, terutama keselamatan atau kebahagiaan jiwa. "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja.” (Luk4:4), demikian jawaban Yesus terhadap godaan setan, ketika Ia lapar karena berpuasa. Apa yang dikatakan oleh Yesus ini kiranya dapat menjadi kata mutiara atau pegangan cara hidup dan cara bertindak kita.

Sebagai manusia kita tidak hanya butuh makanan dan minuman jasmani saja, tetapi juga butuh makanan dan minuman rohani, yaitu aneka tulisan yang ditulis dalam ilham Allah atau Roh Kudus. Untuk melatih atau membiasakan diri setia pada sabda Tuhan, hendaknya kita senantiasa berusaha mentaati atau melaksanakan aneka tata tertib atau aturan hidup bersama, entah yang tertulis maupun yang bersifat lisan. Kiranya sebagai manusia yang hidup dan bekerja kita menghadapi aneka tata tertib atau aturan yang harus kita laksanakan, maka hendaknya dilaksanakan dengan sekuat tenaga. Jika kita terbiasa untuk dengan gembira dan bergairah mentaati atau melaksanakan aneka tata tertib, yang terkait dengan hidup dan tugas pengutusan kita masing-masing, maka dengan mudah kita dapat membaca dan merenungkan sabda-sabda Tuhan sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Maka dampingilah pelaksanaan aneka tata tertib dan aturan dengan sabda-sabda Tuhan, artinya aneka tata tertib atau aturan dan sabda Tuhan bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan namun tak dapat dipisahkan. Semakin anda berusaha melaksanakan aneka tata tertib atau aturan, maka anda juga semakin bergairah untuk membaca dan merenungkan sabda-sabda Tuhan. Maka selanjutnya marilah kita refleksikan ajakan atau peringatan Petrus di bawah ini.

“Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah.” (1Ptr1:21)

Iman atau percaya adalah anugerah atau karya Allah, maka jika kita sungguh dapat beriman atau percaya merupakan kasih karunia atau anugerah Allah kepada diri kita yang lemah dan rapuh ini. “Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah”, demikian kata Petrus. Beriman kepada Allah berarti mengarahkan segala pengharapan, cita-cita atau dambaan kepada Allah. Kita semua kiranya memiliki aneka dambaan, cita-cita atau pengharapan, maka baiklah jika semuanya itu kita hayati sebagai anugerah Allah dan kita wujudkan dengan segenap hati dan kerja keras dengan bantuan atau rahmat Allah. Bohong kita anda tidak memiliki dambaan, cita-cita atau pengharapan.

Marilah kita hadapi, sikapi dan kerjakan segala sesuatu dalam iman atau dengan iman. Makan dan minum dalam dan dengan iman, tidur atau istirahat dengan dan dalam iman, belajar atau bekerja dengan dan dalam iman. Dengan kata lain marilah kita hayati hidup, kerja dan tugas pengutusan kita bagaikan ibadat kepada Allah, sehingga teman hidup atau bekerja bagaikan teman beribadat, aneka macam sarana-prasarana hidup dan kerja bagaikan sarana ibadat, suasana atau lingkungan hidup dan kerja bagaikan lingkungan ibadat. Bukankah ketika kita akan atau sedang beribadat kita merasa dalam keadaan bersih baik hati, jiwa, akal budi maupun tubuh kita? Maka kami berharap kepada anda semua: entah sedang hidup, belajar atau bekerja, entah sedang dalam perjalanan atau kesibukan apapun, hendaknya hati, jiwa, akal budi dan tubuh senantiasa dalam keadaan bersih alias baik dan suci.

“Aku senantiasa memandang kepada Tuhan, karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram, sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu” (Kis2:25-28), demikian kutipan kotbah Petrus mengutip kata-kata Daud. Baiklah jika kutipan di atas ini juga menjadi pegangan atau pedoman hidup dan kerja kita dimanapun dan kapanpun. “Aku senantiasa memandang kepada Tuhan”, mungkin kata-kata ini baik senantiasa kita pegang teguh dan hayati. Tuhan, Yesus yang telah bangkit dari mati, hadir dan berkarya dalam diri orang yang beriman kepadaNya, maka marilah kita pandang aneka karya saudara-saudari kita yang beriman kepada Yesus Kristus, sebagai karya Tuhan, sehingga kita sungguh merasa ditemani oleh saudara-saudari kita dan dengan demikian kita tak akan pernah merasa kesepian, frustrasi atau putus asa meskipun harus menghadapi aneka tantangan, hambatan serta masalah.

”Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku. Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram; sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.” (Mzm16:7-11)

Jakarta, 8 Mei 2011
Tgl 06May2011 oleh Rm. I. Sumarya .SJ.

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda