I. Sumarya. SJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Homili dan Renungan Harian Mg Prapaskah III

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


Mg Prapaskah III : Kel17:3-7 ; Rm5:1-25-8 ; Yoh4:5-42

"Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.”

Orang yang kawin-cerai berkali-kali memang tidak menjadi jelas siapa suami atau isteri yang sebenarnya, karena ada kemungkinan pasangan hidupnya hanya sekedar pemuas nafsu seksual belaka bukan panggilan atau rahmat Allah. Itulah yang terjadi dengan wanita Samaria yang berdialog dengan Yesus di pinggir sumur. Dengan susah payah wanita Samaria mengusahakan air demi kebutuhan hidupnya sehari-hari, dan ketika Yesus berkata kepadanya bahwa Ia dapat memberi air sejati yang tidak akan membuat haus selamanya, maka dengan bergairah sang wanita berkata: “Tuhan berikanlah kepada saya air itu!”. Menanggapi permintaan tersebut Yesus menjawab: “Panggillah suami untuk bersama-sama menerima air kehidupan”. “Saya, tidak bersuami”, begitulah jawaban sang wanita dengan cepat. : "Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar." (Yoh4:17-8), demikian tanggapan Yesus selanjutnya. Mendengar tanggapan Yesus tersebut sang wanita pun menjadi sadar dan kemudian mengimani bahwa Yesus adalah Mesias, Sang Penyelamat Dunia, yang telah datang dan dinantikan kedatanganNya oleh banyak orang. Baiklah di masa Prapaskah ini kita mawas diri dengan cermin dialog Yesus dengan wanita Samaria tersebut, siapa tahu bahwa kita pun tak terlalu jauh seperti wanita Samaria tersebut.

"Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini.” (Yoh4:16)

Perintah Yesus untuk pergi memanggil suami berarti perintah untuk mengurus atau mengelola ‘harta-milik’ pribadi, misalnya suami atau isterinya sendiri yang syah, panggilan, tugas pengutusan, pekerjaan, kewajiban dst.., dengan mengesampingkan aneka sambilan atau hobby yang mengganggu. Memang untuk mengurus atau mengelola apa-apa yang syah menjadi milik pribadi dapat membosankan dan melelahkan, karena setiap hari/saat yang diurus atau dikelola itu-itu saja, tak pernah berganti. Apalagi yang diurus adalah manusia, seperti suami atau isterinya sendiri, yang pada umumnya semakin lama semakin sering berkumpul berarti juga semakin rewel. Demikian juga tugas rutin setiap hari, entah di rumah atau di kantor/tempat kerja juga dapat membosankan. Sementara itu mengurus atau mengerjakan yang sambilan sungguh menghibur dan menyenangkan.

Mengapa mengurus atau mengerjakan yang sambilan terrasa lebih enak, nikmat dan menyenangkan? Karena tidak menuntut tanggungjawab, itulah jawabannya. Apalagi yang sambilan pelayanannya sungguh enak dan nikmat, misalnya pelayanan para perempuan pelacur kepada para lelaki hidung belang. Sabda Yesus di atas memang menuntut dan memanggil kita untuk menjadi pribadi manusia yang bertanggungjawab. “Bertanggung jawab adalah sikap perilaku yang berani menanggung segala akibat dari perbuatan atau tindakan yang telah dilakukannya” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 14).

Bertanggung jawab erat kaitannya dengan atau pasangannya adalah kebebasan, artinya kita dapat menuntut tanggung jawab seseorang jika kita juga memberi kebebasan kepadanya sepenuhnya, sebaliknya ketika kita diberi kebebasan hendaknya bertanggung jawab. Saya kira hidup terpanggil sebagai suam-isteri, imam, bruder, suster, pekerja dst.. dipilih dan ditanggapi dalam kebebasan. Bukankah anda dengan bebas memilih pacar? Bukankah anda dengan bebas mendaftarkan diri masuk ke seminari, novisiat dst.. Maka selayaknya selanjutnya kita sungguh bertanggung jawab atas pilihan atau tindakan yang telah kita ambil atau lakukan. Kami berharap keutamaan tanggung jawab dan kebebasan ini sedini mungkin dibiasakan atau dididikkan pada anak-anak di dalam keluarga dalam asuhan atau bimbingan orangtua/bapak – ibu. Berbagai kekhawatiran atau ketakutan orangtua atau bapak-ibu sering memenjarakan anak-anaknya. Anak-anak yang di dalam keluarga kurang dibina tanggung jawab dan kebebasannya hemat kami kelak kemudian hari ketika menjadi dewasa akan mudah menyeleweng atau berselingkuh. Mengapa? Karena ketika menjadi dewasa secara phisik dan umur tidak ada tekanan dari orangtua lagi alias dapat bebas seenaknya, dan dengan demikian akan bertindak seenaknya mengikuti selera atau keinginan pribadi tanpa tanggung jawab. Setia pada panggilan, tugas pengutusan, pekerjaan atau kewajiban memang harus menghadapi aneka tantangan, hambatan dan masalah, namun akan berbuahkan kebahagiaan sejati sampai mati. Hati dan jiwa kita akan selamat dan bahagia selamanya.

“Kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.” (Rm5:1-2)

Hidup berkeluarga sebagai suami-isteri, hidup sebagai imam, bruder atau suster, tugas bekerja atau belajar dst..hemat saya adalah kasih karunia Allah, maka marilah kita hayati ajakan Paulus kepada umat di Roma bahwa “Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah”. Pertama-tama marilah kita hayati suami atau isteri, panggilan, tugas atau pekerjaan sebagai kasih karunia Allah dan selanjutnya kita hayati atau lakukan/kerjakan dalam dan oleh kasih karunia Allah. Di dalam kasih karunia kita diharapkan tetap berdiri dan bermegah dalam pengharapan, artinya dengan sungguh-sungguh, kerja keras dan ceria serta bersemangat dalam menghayati panggilan atau melaksanakan tugas atau pekerjaan.

Di dalam kasih karunia Allah juga berarti hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak atau perintah Allah, dan hal ini secara konkret dapat kita hayati dengan setia dan melaksanakan aneka macam janji yang telah kita ikrarkan serta aneka macam tata tertib yang terkait dengan janji tersebut. Maka baiklah sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus dan telah dibaptis, kita mawas diri perihal janji baptis yang telah kita ikrarkan: sejauh mana kita sampai kini setia pada janji baptis? Sebelum menerima rahmat pembaptisan kita berjanji untuk hanya mau mengabdi Tuhan saja serta menolak aneka macam godaan setan di dalam hidup dan cara bertindak kita setiap hari. Godaan setan masa kini antara lain aneka macam sambilan di luar panggilan, tugas atau pekerjaan utama atau pokok. Para pegawai negeri, pejabat atau anggota lembaga legislatif sering lebih senang dan bergairah mengerjakan tugas sambilan seperti aneka macam proyek, karena berarti akan menerima imbal jasa atau penghasilan tambahan, dan pada umumnya penghasilan tambahan sering lebih besar daripada gaji pokok. Maka kami berharap kepada mereka untuk setia kepada tugas atau pekerjaan pokok, dan jika tugas atau pekerjaan pokok atau utama telah diselesaikan dengan baik, baru kemudian jika masih tersedia waktu dan tenaga baik-baik saja melakukan tugas atau pekerjaan sambilan.

“Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita. Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun, pada waktu nenek moyangmu mencobai Aku, menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku” (Mzm95:6-9)

Jakarta, 27 Maret 2011
Tgl 24Mar2011 oleh Rm. I. Sumarya .SJ.

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda