I. Sumarya. SJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Homili dan Renungan Harian Mg Biasa VIII

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


(Yes49:14-15 ; 1Kor4:1-5 ; Mat6:24-34)

"Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Beberapa tahun lalu Indonesia pernah diberitakan akan mengalami krisis pangan. Maka tidak sedikit orang kaya atau berduit tergoda untuk memborong aneka bahan makanan dan minum di supermarket-supermarket atau di mall-mall. Waktu itu kebetulan saya menjadi Pater Unit, salah satu komunitas para frater SJ, yang sedang tugas belajar di STF Driyarkara – Jakarta. Beberpa frater mengusulkan sesuatu kepada saya, yaitu mohon izin dan dukungan untuk berbelanja bahan mentah makanan yang dapat disimpan cukup lama untuk jangka waktu tiga atau empat bulan, entah itu beras, gula, mie instant dst… Mereka khawatir kalau sungguh terjadi krisis pangan dan tidak dapat makan selayaknya seperti biasa. Mendengarkan usulan tersebut dengan tegas saya tolak: "Kalau anda menumpuk makanan, maka kasihan mereka yang miskin dan berkekurangan". Memang orang-orang kaya atau berduit pada umumnya memiliki kecenderungan untuk menumpuk atau mengumpulkan kekayaan untuk `tujuh turunan', sehingga cukup banyak orang menderita kekurangan. Begitulah sikap hidup materialistis yang masih menjiwai cara hidup dan cara bertindak banyak orang. Maka baiklah kita renungkan sabda Yesus hari ini.

"Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?"(Mat6:25)

Hidup memang butuh makanan secukupnya dan memadai, yang kami maksudkan adalah makanan yang sehat dan bergizi sesuai dengan kebutuhan hidup. Namun dalam kenyataan sering orang begitu menekankan makanan enak, yang sebenarnya tidak atau kurang sehat, sehingga mengganggu hidup. Agar kita dapat hidup sehat, segar bugar dan tak pernah jatuh sakit dibutuhkan selain makanan bergizi yang memadai juga butuh olahraga dan istirahat atau rekreasi secukupnya. Hendaknya anak-anak sedini mungkin dibiasakan makan sesuai dengan pedoman `empat sehat lima sempurna' serta berolahraga. Olahraga yang baik adalah `jogging' yaitu: berjalan cepat, lari atau renang. Yang murah meriah dan dapat dilakukan siapa saja hemat saya adalah berjalan cepat atau lari. Kami berharap anda semua menikmati makanan yang sehat dan bergizi, makan dan minum berpedoman pada sehat dan tidak sehat, bukan enak dan tidak enak.

Yang mungkin menarik juga untuk kita bicarakan adalah relasi antara tubuh dan pakaian. Kita diingatkan bahwa tubuh lebih penting daripada pakaian. Fungsi utama pakaian adalah melindungi tubuh agar tetap sehat wal'afiat dan tahan atau tabah terhadap aneka ancaman penyakit atau virus. Namun jika dicermati apa yang terjadi masa kini adalah bahwa pakaian berfungsi untuk pamer kekayaan atau gengsi. Maaf, pada umumnya yang suka akan pamer pakaian, assesori atau perhiasan berlebihan adalah rekan-rekan perempuan, termasuk juga jenis parfum yang menusuk hidung, dst.. Baiklah kami ingatkan pada kita semua: marilah kita berpakaian dengan sederhana saja, yang penting sehat bagi tubuh dan jauhkan cara berpakaian atau menggunakan aneka perhiasan yang merangsang orang lain untuk berbuat dosa, entah tergerak untuk mencopet, menodong atau merampok dan `ngrasani' yang pada umumnya berbicara yang jelek dan kurang sopan.

Hidup kita masing-masing adalah anugerah Tuhan, maka kita tidak dapat hidup seenaknya melainkan harus sesuai dengan kehendak atau perintah Tuhan. Karena hidup adalah anugerah Tuhan, maka segala sesuatu yang menyertai kita, yang kita miliki dan kuasai sampai saat ini adalah anugerah Tuhan, yang kita terima melalui sekian banyak orang yang telah berbuat baik kepada kita. Dengan demikian selayaknya kita hidup penuh syukur dan terima kasih, dan kemudian memfungsikan syukur dan terima kasih tersebut dengan berbuat baik kepada saudara-saudari atau sesama kita dimanapun dan kapanpun. Marilah kita fungsikan semua anggota tubuh kita sesuai kita diciptakan sebagai gambar atau citra Allah, sehingga gerak dan derap langkah anggota-anggota tubuh kita mendorong orang lain untuk semakin berbakti kepada Allah, semakin beriman. Maka baiklah kita renungkan ajakan atau kesaksian Paulus di bawah ini.

"Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah.Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai." (1Kor4:1-2).

Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, kita kiranya boleh disebut `sebagai hamba-hamba Kristus'. Seorang hamba yang baik senantiasa setia dan taat kepada `tuan'nya, ia melaksanakan segala sesuatu yang diperintahkan oleh tuannya, ia dapat dipercaya oleh tuannya. Maka sebagai hamba Kristus berarti dengan rendah hati dan bantuan rahmat Allah kita senantiasa berusaha untuk melaksanakan kehendak atau ajaran Yesus Kristus. Seluruh ajaran atau kehendak Yesus Kristus hemat saya dapat diringkas atau dipadatkan dalam kehendak atau perintah untuk `saling mengasihi' sebagaimana Allah telah mengasihi. Kita dipanggil untuk mengasihi Allah dan sesama manusia dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan atau tenaga.

Saling mengasihi yang demikian itu kiranya pernah dialami atau dihayati oleh suami dan isteri yang saling mengasihi, yang antara lain ditandai dengan hubungan seks, yang memungkinkan berbuahkan kasih, yaitu anak manusia. Bukankah anda sebagai suami isteri ketika melakukan hubungan seks merupakan perwujudan saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh/kekuatan? Maka kami berharap anda bersama-sama dapat menjadi teladan sebagai `hamba-hamba Kristus', dan dengan demikian juga layak disebut sebagai sahabat-sahabat Yesus Kristus.

Menjadi orang yang dapat dipercaya dan saling percaya satu sama lain pada masa kini kiranya sungguh merupakan tantangan atau masalah. Ada gejala yang sungguh menarik: ketika belum ada HP kiranya anda jarang menghubungi/menilpon suami, isteri, anak, sahabat atau rekan anda, namun ketika masing-masing memiliki HP mungkin begitu sering berkomunikasi atau menilpon, yang antara lain menanyakan keberadaan masing-masing. Suatu pertanyaan: kalau saya sering menilpon suami, isteri atau anak saya itu merupakan tanda kasih atau curiga? Jika jujur menjawab pertanyaan ini kiranya kebanyakan dari kita akan menjawab bahwa karena curiga alias kurang percaya. Dengan kata lain hemat saya HP dapat merongrong atau mengurangi saling percaya antar kita. Jika kita mudah curiga dan kurang percaya kepada saudara-saudari atau sahabat-sahabat kita, kiranya kita juga kurang percaya kepada Allah dan kita sendiri sebenarnya juga sulit untuk dipercaya. Maka baiklah saya mengingatkan kita semua: hendaknya memfungsikan HP untuk lebih saling memperdalam kepercayaan antar kita, dengan kata lain ketika anda merasa curiga pada suami, isrteri atau anak anda, hendaknya segera berdoa saja: persembahkan suami, isteri atau anak anda kepada Allah.

"Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah. Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah. Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita."(Mzm62:6-9)

Jakarta, 27 Februari 2011
Tgl 26Feb2011 oleh Rm I.Sumarya, SJ

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda