I. Sumarya. SJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Homili dan Renungan Harian HR TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


(2Sam5:1-3 ; Kol1:12-20 ; Luk23:35-43)

"Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.”

Evaluasi suatu pekerjaan, usaha atau perjalanan hidup sangat penting untuk dilakukan. Fungsi evaluasi antara lain untuk mengetahui setepat dan secermat mungkin hasil pekerjaan, usaha atau perjalanan hidup kita, yang kemudian dijadikan titik pangkal/tolak untuk melangkah lebih lanjut. Jika kita dapat mengadakan evaluasi dengan baik dan benar, maka kita tahu persis ‘jati diri’ kita yang sebenarnya. Hari ini kita merayakan pesta “Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam”, dimana kita memasuki minggu terakhir tahun Liturgy, dan minggu depan kita memasuki tahun baru Liturgy, Minggu Adven I. Maka kami mengajak di akhir tahun Liturgy ini untuk mawas diri perihal perjalanan hidup iman dan keagamaan kita selama kurang lebih satu tahun yang telah kita lewati. Semoga kita dapat berkata atau menyatakan diri seperti salah satu penjahat yang disalibkan bersama Yesus di akhir hidupnya “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” (Luk23:42)

"Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” (Luk23:42)

Salib merupakan hukuman terberat bagi para penjahat menurut tradisi orang-orang Yahudi, maka cukup menarik untuk menjadi bahan refleksi perihal ‘penjahat’ yang bertobat di detik-detik akhir hidupnya. Dari penjahat yang bertobat ini saya temukan dua hal untuk direfleksikan, yaitu pandangan perihal ‘penjahat’ dan hidup mulia kembali di sorga untuk selama-lamanya sebagai anugerah Tuhan:

1) ‘Hidup mulia di sorga adalah anugerah Tuhan’ : “Baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.” (Rm14:8), demikian kesaksian Paulus kepada umat di Roma. Apa yang dikatakan oleh Paulus ini hemat saya merupakan kebenaran iman bagi semua umat beriman, entah agamanya apapun. Jika orang sungguh beriman pasti akan mengahayati baik hidup atau mati adalah anugerah Tuhan, sehingga selama hidup di dunia ini senantiasa rendah hati, tidak sombong. Hidup adalah anugerah Tuhan, maka segala sesuatu yang menyertai hidup kita, yang kita miliki dan kuasai sampai saat ini adalah anugerah Tuhan, yang kita terima melalui orang-orang yang telah berbuat baik kepada kita atau mengasihi kita. Mati juga anugerah Tuhan, bukankah sebagai orang beriman kita tidak tahu kapan akan mati atau dipanggil Tuhan, karena kematian berada di ‘tangan’ Tuhan, milik Tuhan. Maka bagi orang beriman ketika saudaranya dipanggil Tuhan tidak akan sedih berkepanjangan.

Hidup atau mati adalah anugerah Tuhan, maka hidup mulia kembali di sorga setelah mati atau meninggal dunia juga anugerah Tuhan. Inspirasi bagi kita yang beriman kepada Yesus adalah sabdaNya kepada penjahat yang bertobat "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk23:43). Maka baiklah kita imani saudara-saudari kita, orangtua kita atau sahabat dan kenalan kita, yang ketika dipanggil Tuhan ‘tidak melawan’ alias tidak begitu gelisah, kita imani telah hidup mulia kembali di sorga bersama Tuhan untuk selama-lamanya. Yang saya maksudkan ‘tidak melawan’ adalah pada detik-detik terakhir hidupnya yang bersangkutan nampak tenang, tanpa ada gerakan yang berarti, dan bahkan wajah atau ruman mukanya nampak gembira. Kita imani mereka telah hidup mulia kembali bersama Yesus Raja Semesta Alam.

2) ‘Penjahat’: Kebanyakan dari kita sering melihat dan memperlakukan para pencopet, penodong atau pencuri sebagai penjahat dan sampah masyarakat, serta menghormati dan menjujung tinggi para pejabat tinggi maupun tokoh politik atau masyarakat. Begitulah pandangan umum yang terjadi, namun hemat saya pandangan umum ini tidak tepat. Tahun lalu dalam suatu pertemuan para Yesuit dengan tema perihal persaudaraan sejati, antara lain dihadirkan Gus Mus, intelektual muda dari NU dan alumni pesantren di Madura, sebagai pembicara/nara sumber. Di tengah-tengah omongan atau arahannya ia menyampaikan rumor sebagai berikut: Pada suatu hari ia menilpon temannya di Madura perihal berita orang-orang Madura yang ditangkap polisi dan dipenjara karena mencuri batangan besi dan sekrup-sekrup (bahan bangunan jembatan Suramadu). Dengan hp-nya ia menyapa temannya di Madura;’memalukan hanya karena besi batangan dan sekrup jembatan , orang-orang Madura dikenal jahat, dan diberitakan kemana-mana melalui aneka media cetak dan elektronik’. Menanggapi sapaan tersebut temannya di Madura menjawab :’ya, teman-teman kita disini mencuri besi dan sekrup yang harganya hanya ratusan ribu rupiah, ditangkap polisi, dipenjarakan dan diberitakan kemana-mana; coba perhatikan orang-orang Jakarta korupsi jutaan atau milyardan rupiah dibiarkan saja’.

Dialog diatas sungguh inspiratif dan bermakna, dan kiranya juga nyata. Perhatikan saja seorang ibu tua yang dituduh mencuri ‘tiga buah kakao’ ditangkap polisi dan diadili: berapa harga tiga buah kakao dan berapa beaya penangkapan dan pengadilan? Saya merasa orang-orang kecil dan miskin yang terpaksa ‘berbuat jahat’ (menurut pandangan umum),hemat saya mereka tidak sejahat yang kita pikirkan. Mereka melakukan sesuatu, yang menurut pandangan umum jahat, seperti mengambil milik orang lain, hemat saya demi mempertahankan hidup, anugerah Tuhan, bukan untuk memperkaya diri. Dengan kata lain mereka terpaksa berbuat jahat karena kejahatan orang lain yang lebih besar, yaitu para koruptor atau penindas. Pengalaman saya pribadi dalam mengajak bertobat orang miskin dan tersingkir tersebut lebih mudah dari pada mereka yang terpandang di masyarakat. Orang miskin dan tersingkir ketika memperoleh bantuan rasa syukur dan terima kasihnya luar biasa, sedangkan orang kaya biasa-biasa saja atau bahkan minta tambah alias serakah.

“Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus” (Kol1:17-20)

Apa yang dikatakan Paulus kepada umat di Kolese di atas ini bahwa Yesus Raja Semesta Alam adalah pendamai, dan Ia telah mendamaikan segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah dengan wafat di kayu salib. Ia bertahta di kayu salib, maka marilah kita bersembah sujud kepada Yang Tersalib. Bersembah sujud kepada Yang Tersalib berarti kita hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah atau meneladan cara hidup dan cara bertindak serta menghayati sabda-sabda Yesus. Dengan demikian kita sungguh dirajai atau dikuasai oleh Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam.

Kami berharap di akhir tahun liturgy, perjalanan hidup beriman dan beragama kita setahun yang telah kita lalui, kita semua semakin suci atau semakin beriman, semakin dirajai oleh Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Kita semakin hidup berdamai dengan seluruh ciptaan Allah di dunia ini, dengan sesama manusia, binatang maupun tumbuh-tumbuhan serta lingkungan hidup kita. Semoga kita semua selalu hidup dan bertindak dengan motto “AMDG” (Ad Maiorem Dei Gloriam= semakin bertambahnya kemuliaan Tuhan) dalam pelayanan dan kesibukan kita setiap hari.

“Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN." Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem… ke mana suku-suku berziarah, yakni suku-suku TUHAN, untuk bersyukur kepada nama TUHAN sesuai dengan peraturan bagi Israel. Sebab di sanalah ditaruh kursi-kursi pengadilan, kursi-kursi milik keluarga raja Daud.” (Mzm122:1-24-5)

Jakarta, 21 November 2010
Tgl 20Nov2010 oleh Rm I.Sumarya, SJ

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda