I. Sumarya. SJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Homili dan Renungan Harian Mg Biasa XXXIII

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


(Mal4:1-2a ; 2Tes3:7-12 ; Luk21:5-19)

“Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu."

Berbagai bencana alam seperti banjir bandang, badai/angin puting beliung, gempa bumi, dst.. yang mengakibatkan kehancuran berbagai sarana-prasarana maupun korban meninggal manusia, terjadi di sana-sini. Ada orang yang berpikir apakah hal itu menjadi tanda-tanda awal kehancuran bumi seisinya, dimana lahan untuk hidup semakin berkurang, hidup semakin sulit, berbagai jenis macam penyakit yang mematikan semakin mengancam jiwa umat manusia, dst.. Gaya hidup berbagai orang yang hanya mengikuti selera pribadi dalam hal makan dan minum kiranya juga semakin mempercepat kamatiannya alias tak akan berumur panjang. Tekanan atau beban sosial dan ekonomi mendorong beberapa orang untuk bunuh diri. Apa yang terjadi kiranya sebagaimana tertulis dalam Warta Gembira hari ini, yaitu "Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan,dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit. Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku” (Luk21:10-12). Menanggapi semuanya itu Yesus berpesan: “Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi….Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Luk21:1319), maka marilah kita renungkan pesan Yesus ini.

“Kalau kamu bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Luk21:19)

Apa yang dimaksudkan dengan bertahan disini adalah bertahan dalam iman artinya tetap setia menghayati iman dalam situasi dan kondisi apapun. Beriman antara lain juga berarti menghayati nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup yang menyelamatkan. Nilai atau keutamaan tak akan hancur dan tak akan musnah karena bencana alam atau musibah apapun, sebagaimana pernah dihayati oleh salah seorang anggota Dewan Paroki Situbondo ketika terjadi pembakaran gedung gereja dan sekolah katolik beberapa tahun lalu, yang berkata “gedung gereja, sekolah dibakar tidak apa-apa dan hatiku pun juga terbakar untuk mencinta”. Gempa bumi, bencana alam dst.. memang pada umumnya membakar hati, jiwa orang yang beriman dan berbudi pekerti luhur untuk berbuat baik, mengorbankan sebagian milik atua harta kekayaannya untuk membantu para korban gempa bumi atau bencana alam.

Marilah kita memperkuat dan memperdalam iman kita, antara dengan senantiasa berbuat baik kepada orang lain dimanapun dan kapanpun serta tidak melupakan hidup doa setiap hari. Hari-hari ini kita memasuki akhir tahun liturgy, yang akan dimahkotai minggu depan pada ‘Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam’, maka baiklah kita mawas diri sejauh mana setelah mengarungi satu tahun liturgy iman kita semakin diperdalam, diperkuat dan diteguhkan, sehingga kita semakin tahan, tegar dan handal dalam menghadapi aneka tantangan, hambatan maupun masalah yang muncul dari berbagai musibah atau bencana alam maupun kemerosotan moral saudara-saudari kita. Kami harapkan masing-masing dari kita juga semakin teguh dalam menghayati panggilan hidup maupun melaksanakan tugas pengutusan atau pekerjaan: para suami-isteri semakin saling mengasihi, para imam, bruder atau suster semakin membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui aneka pelayanan, para pekerja semakin terampil bekerja, para pelajar/mahasiswa semakin terampil belajar, dst…

Kepada siapapun yang semakin setia pada panggilan dan tugas pengutusan akan memperoleh hidup, artinya semakin bergairah, gembira dan ceria serta dinamis dalam menghayati panggilan atau melaksanakan tugas pengutusan. Para pengusaha akan semakin sukses dalam usahanya, para pelajar semakin percaya diri akan sukses dalam belajar, para pekerja semakin menghasilkan buah-buah yang baik, dst.. Pendek kata jika kita tetap setia pada iman berarti kita semakin segar bugar, sehat wal’afiat baik secara jasmani maupun rohani, phisik maupun spiritual.

“Kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri.” (2Tes3:11-12)

Kutipan dari surat Paulus kepada umat di Tesalonika di atas ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi bagi kita semua. Paulus berani mengatakan hal tersebut, karena ia sendiri sebagai pewarta kabar gembira tidak menjadi beban bagi orang lain dalam hal kebutuhan hidup sehari-hari, tetapi mampu mencukupinya dengan bekerja sebagai tukang tenda. Paulus sungguh tertib dalam hidup maupun bekerja, maka marilah kita mawas diri apakah kita semakin tertib dalam hidup dan bekerja sehingga tidak menjadi beban bagi orang lain, ‘melakukan pekerjaan dengan baik dan dengan demikian makan makanannya sendiri, yang diusahakan dengan bekerja’.

“Sikap tertib adalah sikap dan perilaku yang teratur, taat asas, konsisten, dan mempunyai sistematika merupakan cermin seorang yang berdisiplin” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal. 25). Menertibkan atau mendisiplinkan diri sendiri kiranya lebih sulit daripada menertibkan atau mendisiplinkan orang lain, namun jika kita mampu menertibkan dan mendisiplinkan diri maka dengan mudah kita menertibkan dan mendisiplinkan orang lain, dan caranya juga disertai dengan kerendahan hati dan lemah lembut. Sebaliknya orang yang tidak dapat menertibkan dan mendisiplinkan diri ketika menertibkan dan mendisiplinkan orang lain pasti dengan kekerasan dan paksaan, sehingga menimbulkan korban-korban yang sungguh merugikan. Marilah kita berusaha hidup tertib dan disiplin, misalnya dalam hal-hal yang sederhana seperti makan, minum, istirahat, tidur, rekreasi, dst… Jika dalam hal-hal sederhana yang menjadi kebutuhan hidup kita sehari-hari tersebut kita dapat tertib dan disiplin, maka kita akan memperoleh kemudahan untuk tertib dan disiplin dalam hal-hal yang sulit, berat dan berbelit-belit.

Kami berharap kita tidak menjadi ‘benalu’ dalam kehidupan sehari-hari, yang mencuri makanan atau hak orang lain dengan tidak wajar/tidak benar. Yang bersikap mental benalu pada masa kini hemat saya adalah para koruptor; korupsi sekecil apapun hemat saya merugikan orang lain. Dengan ini kami mengingatkan para koruptor untuk bertobat, meninggalkan sikap mental benalu, yang merusak dan merampok hak orang lain tersebut. Memberantas korupsi secara preventif dapat dilakukan dalam dunia pendidikan, di sekolah-sekolah atau perguruan tinggi, antara lain diberlakukan ‘dilarang menyontek’ dalam ulangan maupun ujian. Para koruptor silahkan merenungkan sapaan nabi Maleakhi ini: “Bahwa sesungguhnya hari itu datang, menyala seperti perapian, maka semua orang gegabah dan setiap orang yang berbuat fasik menjadi seperti jerami dan akan terbakar oleh hari yang datang itu, firman TUHAN semesta alam, sampai tidak ditinggalkannya akar dan cabang mereka.Tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya” (Mal4:1-2a). Hari yang dimaksudkan di sini adalah suatu saat tindakan korupsi anda ketahuan dan anda akan diadili, sehingga segala sesuatu yang telah anda peroleh dihabisi.

“Bermazmurlah bagi TUHAN dengan kecapi, dengan kecapi dan lagu yang nyaring, dengan nafiri dan sangkakala yang nyaring bersorak-soraklah di hadapan Raja, yakni TUHAN! Biarlah gemuruh laut serta isinya, dunia serta yang diam di dalamnya! Biarlah sungai-sungai bertepuk tangan, dan gunung-gunung bersorak-sorai bersama-sama di hadapan TUHAN, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kebenaran” (Mzm98:5-9).

Jakarta, 14 November 2010

Tgl 12Nov2010 oleh Rm I.Sumarya, SJ

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda