I. Sumarya. SJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Homili dan Renungan Harian Mg Biasa XXX/Hari Minggu Evangelisasi

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


(Sir35:12-1416-18 ; 2Tim4:6-816-18 ; Luk18:9-14)

“Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini”

Di dalam setiap kampanye pemilu, entah pemilihan umum atau pilkada, pada umumnya para kontestan atau juru bicara kampanye dengan lantang dan tegas menyombongkan diri, antara lain dengan mengatakan aneka macam janji-janji yang begitu indah, menarik, memikat dan mempesona. Hampir semuanya mengatakan bahwa mereka akan melayani rakyat, berjuang demi kesejahteraan dan kebahagiaan rakyat, sehingga tiada kemiskinan lagi di negeri atau daerah ini. Kiranya tidak ada seorang tokohpun di dalam kampanye menampilkan atau menghadirkan diri dengan rendah hati, menyadari dan mengakui kelemahan serta kekurangannya. Maka cukup menarik jika dicermati bahwa ketika mereka terpilih, entah sebagai anggota DPR/DPRD, kepala daerah atau pejabat pemerintahan, apa yang mereka janjikan omong kosong melompong karena sebagian dari mereka melakukan korupsi serta hanya mencari keuntungan atau kenikmatan diri sendiri. Beberapa penegak hukum seperti polisi dan hakim atau jaksa ikut melakukan korupsi. Mereka bukan menjadi pewarta gembira melainkan menjadi pewarta sedih dan celaka. Pada hari Minggu Evangelisasi ini kita diingatkan panggilan dan tugas pengutusan kita untuk ‘berevangelisasi’, artinya mewartakan kabar gembira atau kabar baik, apa-apa yang baik dan menyelamatkan, terutama dan pertama-tama keselamatan jiwa, maka marilah kita renungkan sabda Yesus hari ini.

“Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." (Luk18:14)

Kerendahan hati merupakan keutamaan dasar dan utama, kebalikan dari kesombongan. “Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). “Tua-tua keladi/bulir padi semakin berisi semakin menunduk”, demikian kata sebuah pepatah, yang meningatkan kita semua bahwa semakin pandai, kaya, tambah usia/pengalaman, cerdas, tinggi jabatan/kedudukan/fungsi dst.. hendaknya semakin rendah hati. Sebagai contoh: coba perhatikan di dunia pendidikan dimana guru besar matematika di perguruan tinggi tidak sedia atau merasa tak layak mengajar sejarah atau bahasa, sedangkan guru sekolah dasar atau taman kanak-kanak mengajar apa saja. Bukankah hal itu menunjukkan bahwa semakin pandai alias semakin memiliki banyak pengetahuan berarti juga semakin banyak yang tak diketahui, dan dengan demikian harus rendah hati?

Kami berharap kepada mereka atau siapapun yang berpengaruh di dalam kehidupan bersama, entah di dalam masyarakat, tempat kerja atau pemerintahan, hendaknya menjadi teladan penghayatan kerendahan hati dalam hidup dan pelayanannya atau pelaksanaan tugasnya. Ingatlah dan hayatilah bahwa hidup kita serta segala sesuatu yang kita miliki, kita kuasai atau nikmati sampai saat ini adalah anugerah atau rahmat Allah yang kita terima melalui mereka/saudara-saudari kita yang baik hati dan mengasihi kita, dengan kata lain semuanya adalah anugerah (‘everything is given’) dan selayaknya kita hidup dan bertindak dengan rendah hati. Tidak rendah hati berarti tidak beriman, tidak percaya kepada Allah. Marilah kita belajar dari pemungut cukai yang berdoa “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini”. Kita adalah orang-orang berdosa yang dipanggil Allah untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatan-Nya. Jika kita kuat, sehat, cerdas, kaya, berkedudukan dst.. hendaknya dengan rendah hati semuanya itu dihayati guna keselamatan jiwa kita sendiri maupun jiwa sesama atau saudara-saudari kita.

Pada hari Minggu Evangelisasi ini kita diingatkan perihal tugas pengutusan kita sebagai pewarta-pewarta kabar baik dan gembira. Hemat saya ketika kita dapat hidup dan bertindak dengan rendah hati secara otomatis kita menghayati dimensi missioner atau tugas pengutusan kita tersebut. Hendaknya kita tidak malu mengakui dan menghayati diri sebagai yang berdosa, lemah dan rapuh; kita adalah sama-sama manusia pendosa yang mendambakan keselamatan atau kebahagiaan sejati.

“Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya. Dengan demikian aku lepas dari mulut singa. Dan Tuhan akan melepaskan aku dari setiap usaha yang jahat. Dia akan menyelamatkan aku, sehingga aku masuk ke dalam Kerajaan-Nya di sorga. Bagi-Nyalah kemuliaan selama-lamanya!” (2Tim4:17-18)

Pengalaman iman Paulus di atas ini hendaknya juga menjadi pengalaman kita semua umat beriman, yaitu bahwa “Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaranku warta gembira/baik, apa-apa yang baik dan menggembirakan diberitakan dengan sepenunya dan semua orang dapat mendengarkannya”, dan dengan demikian kemuliaan Tuhan dihayati dimana-mana dan oleh siapa saja selama-lamanya. “AMGD” = Ad Maiorem Dei Gloriam , Demi bertambahnya kemuliaan Tuhan, demikian motto St.Ignatius Loyola. Karena Tuhan itu mahasegalanya, maka ketika didampingi oleh Tuhan mau tak mau akan taat kepadaNya, dengan rendah hati melaksanakan sabda-sabda atau kehendakNya. Kerendahan hati memang erat kaitannya dengan ketaatan, maka baiklah di bawah ini saya mengajak anda sekalian untuk mawas diri perihal ketaatan.

Keataatan kita pertama-tama adalah kepada Tuhan, dan karena Tuhan hidup dan berkarya dalam ciptaan-ciptaanNya, lebih-lebih atau terutama dalam diri manusia, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citraNya, maka taat kepada Tuhan berarti juga taat kepada sesama manusia, dan dengan demikian kita dipanggil untuk saling mentaati, saling memuliakan dan menjunjung tinggi atau menghormati. Jangan sampai terjadi kita saling merendahkan atau melecehkan alias menginjak-injak hak-hak azasi manusia, harkat martabat manusia. Saling menghormati dan menjunjung tinggi harkat martabat manusia sungguh merupakan kabar baik atau kabar gembira. Ingat sila kedua dari Pancasila “Peri kemanusiaan yang adil dan beradab”, suatu visi yang mengajak dan menjiwai kita agar menjunjung tinggi harkat martaba manusia sebagai tanda bahwa kita adalah bangsa yang beradab.

Kebiadaban manusia masih terjadi disana-sini, termasuk di Indonesia, antara lain nampak dalam aneka peristiwa saling membunuh dan menyerang dalam tawuran antat kelompok atau desa, suku, dst.. Kebiadaban manusia juga terjadi dalam bentuk kekerasan-kekerasan yang terjadi di dalam keluarga, entah kekerasan phisik atau spiritual atau sosial, yang menandakan bahwa Tuhan tidak hidup dan berkarya di dalam keluarga tersebut. Maka sekali lagi kami mengingatkan kita semua perihal hidup berkeluarga. Hendaknya para anggota keluarga saling memuliakan, menghormati dan menjujung tinggi, termasuk kepada para pembantu atau pelayan rumah tangga. Semoga juga tidak terjadi kekerasan seksual antar suami-isteri alias suami atau isteri menjadi budak nafsu seksual. Tak kalah penting adalah hendaknya tidak terjadi kekerasan terhadap anak-anak. Marilah kita hayati bahwa Tuhan sungguh hidup dan berkarya dalam keluarga, melalui semua anggota keluarga, dan dengan demikian hidup berkeluarga sungguh menjadi sarana atau wahana pewartaan kabar gembira atau kabar baik alias gerakan evangelisasi.

“Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita…, wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi. Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya.” (Mzm34:2-317-18)

Jakarta, 24 Oktober 2010
Tgl 23Oct2010 oleh Rm I.Sumarya, SJ

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda