I. Sumarya. SJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Homili dan Renungan Harian Mg Biasa XXIX

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


(Kel17:8-13 ; 2Tim3:14-4:2 ; Luk18:1-8)

“Mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu”.

Izin untuk mendirikan tempat ibadat (gereja/kapel, masjid/surau dst.) konon bagi kelompok minoritas di daerah yang bersangkutan dipersulit oleh kelompok mayoritas. Di beberapa daerah beribadat bersama di rumah/tempat tinggal juga dilarang, dengan alasan tidak sesuai dengan IMB. Kasus yang menimpa umat HKBP di Bekasi beberapa waktu yang lalu kiranya terkait dengan masalah IMB, dimana mereka beribadat di tempat tinggal/rumah. Aneh dan nyata jika mencermati yang terjadi di Jabotabek ini: izin mendirikan tempat ibadat dipersulit, demikian juga beribadat bersama di rumah/tempat tinggal dilarang, tetapi ada ruko-ruko yang difungsikan untuk panti pijat terselubung alias pelacuran dibiarkan saja. Apakah hal ini menunjukkan bahwa kebanyakan dari kita tidak atau kurang memahami apa itu ‘ibadat’, ‘berdoa’ atau sikap mental materialistis begitu menjiwai. Sila pertama dari Pancasila berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”, dengan kata lain cara hidup dan cara bertindak bangsa Indonesia diharapkan didasari oleh keimanannya kepada Tuhan, dan dengan demikian senantiasa sering berkomunikasi secara khusus dengan Tuhan, seperti beribadat, seluruh cara hidup dan cara bertindak bagaikan sedang beribadat atau berdoa kepada Tuhan.

“Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu” (Luk18:1)

Dalam kesempatan mengantarkan beberapa bruder dan suster, para provinsial, untuk berkunjung di pertapaan Trapistine Gedono-Salatiga, Jawa Tengah beberapa tahun lalu ada dialog yang cukup menarik dan mengesan bagi saya pribadi. Salah satu dari suster provinsial bertanya kepada pemimpin Biara Trapistine tersebut :”Kapan atau jam berapa saja acara berdoa bagi para suster/rahib di sini?”. “Oh, kami berdoa sepanjang hari, karena bagi kami bekerja juga merupakan doa, persembahan diri kepada Tuhan”, demikian jawaban sang pemimpin biara. “Ora et labora” = berdoa dan bekerja, demikian kata sebuah motto. Maksud dari motto ini adalah bahwa berdoa dan bekerja tak dapat dipisahkan dan hanya dapat dibedakan, maka sabda Yesus bahwa ‘harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu’ kiranya dapat berarti menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dengan doa-doa kita atau doa hendaknya jangan terpisahkan dari hidup dan cara bertindak sehari-hari.

Dalam Warta Gembira hari ini berdoa dengan tak jemu-jemu digambarkan dengan seorang janda yang dengan rendah hati mohon keadilan kepada sang hakim. Yesus mengakhiri perumpamaanya dengan bersabda “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Luk18:7-8). Dengan ini kami mengingatkan kita semua sebagai orang beriman dan beragama untuk menyadari dan menghayati diri sebagai ‘orang-orang pilihan Allah’, sehingga sungguh menjadi milik Allah. Sebagai milik Allah selayaknya hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah dalam situasi atau kondisi apapun, kapanpun dan dimanapun. Hendaknya kita juga merefleksikan sabdaNya “adakah Ia mendapati iman di bumi?”.

Pertanyaan ‘adakah Ia mendapati iman di bumi’ kiranya merupakan peringatan atau ajakan bagi kita semua umat beriman untuk dengan semangat iman hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dengan kata lain semakin berpartisipasi dalam hal-ikhwal atau seluk-beluk duniawi hendaknya semakin suci, semakin dikasihi oleh Allah dan sesama manusia. Kita dipanggil untuk mengusahakan kesucian hidup dengan membumi atau mendunia. Maka baiklah jika kita menghadapi aneka macam tata tertib atau kebijakan yang merangsang orang untuk berbuat dosa, hendaknya sesegera mungkin diluruskan atau dibetulkan, sehingga aneka macam tata tertib atau kebijakan menjadi sarana atau pendukung dalam mengusahakan kesucian hidup.

“Hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu. Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2Tim3:14-16)

Sejak kita dilahirkan di bumi ini dari rahim ibu kita masing-masing, kiranya tak jemu-jemunya orangtua kita, khususnya ibu kita masing-masing mendidik, mengasuh, membina dan mengasihi kita dengan berbagai macam cara dan bentuk, berupa ‘kebenaran-kebenaran’ atau apa yang benar dan baik. Bukankah kata-kata atau tindakan orangtua kita merupakan kepanjangan sabda dan kehendak Allah, dengan kata lain diilhamkan oleh Allah dan dengan demikian ‘memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran’?. Maka marilah kita tetap berpegang teguh pada aneka macam teladan hidup, nasihat, saran, petuah dst.. dari orangtua kita masing-masing, dan dimana perlu untuk masa kini diperbaharui, diperdalam atau disesuaikan sesuai dengan tuntutan atau perkembangan zaman.

Marilah kita kenangkan kasih ibu sebagaimana sering disenandungkan ‘kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia’. Mengenangkan kasih ibu tersebut berarti dalam hidup dan cara bertindak kita masa kini atau saat ini sungguh saling mengasihi satu sama lain baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit sampai mati. Hendaknya tak jemu-jemu mengasihi saudara-saudari kita dalam kondisi atau situasi apapun. Hidup kita adalah kasih karunia dan segala sesuatu yang menyertai diri kita, atau kita miliki dan kuasai sampai kini juga kasih karunia, maka selayaknya kita senantiasa menghadirkan dan menampilkan diri sebagai kasih karunia bagi sesama dimanapun dan kapanpun.

“Terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek.” (Kel17:11). Kutipan ini menggambarkan bahwa bersama dan bersatu dengan Tuhan kita dapat mengalahkan kejahatan atau setan. Hidup dan bertindak saling mengasihi satu sama lain adalah bentuk kebersamaan dan kesatuan dengan Tuhan, maka marilah sebagai orang-orang beriman atau ber-Tuhan kita perdalam dan perteguh persaudaraan atau persahabatan sejati tanpa pandang bulu atau SARA. Persaudaraan atau persahabatan sejati masa kini begitu mendesak dan up to date untuk dihayati dan disebar-luaskan mengingat dan memperhatikan masih maraknya permusuhan dan tawuran sebagaimana disiarkan atau diberitakan oleh berbagai media masa, entah cetak atau elektronik. Marilah kita bersama-sama mengangkat tangan ke atas artinya berdoa bersama sesuai dengan keyakinan atau cara kita masing-masing setiap hari.

“Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel. TUHANlah Penjagamu, TUHANlah naunganmu di sebelah tangan kananmu. Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam. TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu. TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.”
(Mzm1:21)

Jakarta, 17 Oktober 2010
Tgl 15Oct2010 oleh Rm I.Sumarya, SJ

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda