I. Sumarya. SJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Homili dan Renungan Harian Mg Biasa XXVIII

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


(2Raj5:14-17 ; 2Tim2:8-13 ; Luk17:11-19)

"Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? “

“Trima kasih seribu, kepada Tuhan Allahku, kar’na dicinta, terima kasih…”, demikian kutipan dari sebuah lagu yang sering disenandungkan dalam berbagai kesempatan. Kata-kata itu begitu indah dan mulia, namun apakah hanya manis di mulut tetapi tidak menjadi nyata dalam penghayatan? Memperhatikan dan mencermati berbagai peristiwa, rasanya kata-kata tersebut hanya manis di mulut, tetapi tidak menjadi kenyataan dalam tindakan atau perilaku. Memang benar apa yang dikisahkan dalam Warta Gembira hari ini bahwa yang tahu berterima kasih pada umumnya mereka yang jauh atau orang asing, sedangkan mereka yang dekat sebagai saudara rasanya jarang melakukan terima kasih, entah dalam kata maupun tindakan. Maka juga benarlah kata sebuah pepatah “Dekat ditendangi, ketika jauh dicari”. Warta Gembira hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk senantiasa hidup dalam terima kasih dan syukur baik dalam kata-kata maupun tindakan, maka marilah kita renungkan sabda Yesus hari ini dengan saksama.

"Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?”(Luk17:17)

Hidup dan segala sesuatu yang menyertai kita, kita miliki dan kuasai sampai saat ini, termasuk jika kita sungguh beriman, sehat wal’afiat, segar bugar dst…adalah anugerah Tuhan yang kita terima melalui mereka yang telah berbuat baik atau mengasihi kita, antara lain orangtua dan mereka yang setiap hari hidup dan bekerja bersama dengan kita. "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.", demikian sabda Yesus kepada orang yang telah disembuhkan dari penyakit kustanya, dan sedangkan tersungkur di hadapan Yesus untuk menghaturkan terima kasih. Kita dapat berdiri tegak dan bepergian kemana saja setiap hari dengan selamat dan bahagia, bukankah hal itu terjadi karena kasih karunia atau anugerah Tuhan yang kita terima melalui siapapun yang telah berbuat baik kepada kita atau mengasihi kita, maka marilah kita senantiasa hidup dalam terima kasih dan syukur.

Entah telah berapa ribu kali kita mengucapkan ‘terima kasih’ ketika sedang menerima pemberian yang baik, enak dan nikmat. Namun apakah kita juga berani berterima kasih ketika ditegor, dimarahi, dikritik, diejek, dilecehkan atau direndahkan? Bukankah apa-apa yang tidak enak dan nikmat di hati dan perasaan tersebut juga merupakan perwujudan kasih mereka kepada kita, dan dengan demikian menggembleng atau membina iman kita? Tidak mungkin orang mengejek, menghina, mengritik dst…kita jika mereka tidak mengasihi kita, maka sikapilah semuanya itu sebagai kasih dan tanggapan kita melalui kata-kata singkat dan padat saja, yaitu ‘terima kasih’. Kita semua sedikit banyak memiliki penyakit atau sedang menderita sakit, yang berakar pada kesombongan, dengan kata lain kita bagaikan sedang menderita penyakit kusta. Sikapi segala perlakuan yang tidak enak di hati dan perasaan tersebut sebagai obat untuk menyembuhkan kesombongan kita, agar kita dengan rendah hati berani tersungkur atau bersembah-sujud kepada Tuhan melalui saudara-saudari atau sesama kita.

“Imanmu telah menyelamatkan engkau”, demikian sabda Yesus. Kita semua mengaku diri sebagai orang beriman, entah apapun agama atau keyakinannya. Yang lebih utama dan pokok adalah iman bukan agama, maka jika kita mendambakan selamat, damai sejahtera dan bahagia marilah kita hayati iman kita dalam hidup sehari-hari. Beriman berarti bersembah-sujud sepenuh kepada Tuhan, dengan rendah hati tersungkur di kaki Tuhan, dan kita percaya bahwa Tuhan hidup dan berkarya dalam diri kita masing-masing. Maka marilah sebagai orang beriman kita saling bersembah-sujud dan tersungkur, berterima kasih dan bersyukur, demi kebahagiaan dan keselamatan kita semua.

“Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu. Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal” (2Tim2:9-10)

Percaya kepada Injil atau firman Allah memang harus bersedia dengan rendah hati untuk menderita dengan penuh kesabaran, apalagi pada masa kini yang sedikit banyak ditandai ketergesaan-ketergesaan yang berakibat dengan malapetaka dan korban manusia. “Sabar adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan gejolak diri dan tetap bertahan seperti keadaan semula dalam menghadapi berbagai rangsangan atau masalah” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Taat dan setia pada firman Allah pasti akan menghadapi aneka rangsangan yang merongrong ketaatan dan kesetiaan maupun masalah-masalah setiap saat.

Firman Allah antara lain dicoba diterjemahkan kedalam aneka tata tertib yang harus dilakukan atau dihayati demi kebahagiaan dan keselamatan hidup bersama. Rangsangan yang sering muncul di hadapan kita antara lain ajakan atau bisikan untuk merelativir atau melanggar tata tertib tersebut. Rangsangan yang cukup banyak kita hadapi adalah nafsu untuk marah ketika kita diperlakukan tidak baik atau tidak sesuai dengan selera pribadi. Jika menghadapi rangsangan tersebut hendaknya disikapi sebagai kesempatan untuk menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan gejolak diri. Memang mengendalikan dan mendisplinkan diri lebih sulit daripada mengendalikan atau mendisplinkan orang lain, namun ketika kita dapat mengendalikan atau mendisiplinkan diri dengan baik, maka dengan mudah kita mengajak orang lain untuk mengendalikan atau mendisiplinkan diri.

Masalah atau perkara yang sering kita hadapi adalah kekayaan/harta benda, nyawa musuh dan umur panjang. Semakin memiliki banyak kekayaan atau harta benda pasti akan menghadapi banyak masalah. Nyawa musuh alias aneka perbedaan atau pardigma dari orang lain juga merupakan masalah, demikian juga bertambah umur atau usia juga akan semakin menghadapi banyak masalah mengingat dan memperhatikan aneka perkembangan dan pertumbuhan dalam berbagai hal yang begitu cepat pada masa kini. Untuk menghadapi masalah-masalah tersebut dibutuhkan hati yang jernih dan bersih agar dapat mempertimbangkan dan memutuskan masalah dengan baik sesuai dengan kehendak Allah. Maka marilah kita senantiasa mohon hati yang baik dan bijaksana kepada Allah, diiringi atau disertai dengan perilaku-perilaku atau tindakan-tindakan yang baik dan bijak. Secara khusus kami berharap kepada para pemimpin atau atasan dalam hidup dan kerja bersama dimanapun untuk sabar dan bijak menghadapi aneka masalah atau perkara. Hendaknya masalah-masalah atau perkara-perkara tersebut dihadapi dengan sabar dan rendah hati, dan jangan dihindari atau disingkirkan. Ingat dan hayati bahwa berbagai masalah atau perkara tersebut merupakan wahana untuk memperdalam dan memperteguh iman kita kepada Allah. “Jer basuki mowo beyo” = untuk hidup mulia, damai sejahtera orang harus berani berjuang dan berkoban, demikian kata sebuah pepatah Jawa.

“Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus. TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa. Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!” (Mzm98:1-4)

Jakarta, 10 Oktober 2010
Tgl 09Oct2010 oleh Rm I.Sumarya, SJ

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda