I. Sumarya. SJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Homili dan Renungan Harian Mg Biasa XXVII

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


(Pkh1:2-3 ; 2:2-4 ; 2Tim1:6-813-14 ; Luk17:5-10)

“Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."

Jika memperhatikan atau mencermati para pekerja kasar, seperti mereka yang sering harus menggali jalanan yang keras di panas terik atau malam kelam, yang memanjat pohon atau gedung tinggi yang sarat dengan bahaya, dst.. , secara jujur kami sungguh kagum pada mereka. Mereka ini sedikit bicara dan banyak bekerja serta hanya mengerjakan apa yang diperintahkan oleh atasan-atasannya, dan apa yang dikerjakan berhasil atau sukses pada waktunya. Hal yang senada kiranya juga terjadi di antara para pemulung di TPA-TPA (=Tempat Pembuangan Akhir alias sampah), misalnya di Bantar Gebang – Bekasi, Jawa Barat. Di tempat yang kotor dan berbau tak sedap mereka hidup dan bekerja, meskipun demikian mereka tetap sehat wal’afiat. Kami percaya mereka ini adalah orang-orang yang sungguh beriman, artinya menjalani hidup dan melaksanakan tugas pekerjaan dalam iman, dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan/tenaga. Dalam dan dengan iman mereka melakukan apa yang harus mereka lakukan. Maka marilah kita mawas diri dengan cermin Warta Gembira hari ini, yang antara lain mengetengahkan perihal iman.

"Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu." (Luk17:6).

Sebagai orang beriman, marilah kita hidup dan bertindak atau melakukan apapun dimanapun dan kapanpun dalam dan dengan iman, sebagaimana juga tertulis dalam azas Anggara Dasar LSM Katolik, yaitu “Dalam semangat iman kristiani hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila dan UUD ‘45”. Beriman antara lain berarti mempercayakan diri sepenuhnya pada Penyelenggaraan Ilahi di dalam hidup sehari-hari. Maka baiklah kami mengajak anda sekalian untuk mawas diri perihal hal-hal utama yang kita kerjakan sehari-hari, dimana kita memboroskan waktu dan tenaga kita, yaitu :

(1) bekerja/belajar,
(2) makan dan minum dan
(3) istirahat/tidur:

(1) Bekerja/belajar. Bekerja atau belajar dalam dan dengan iman, antara lain berarti setiap hari bekerja atau belajar kurang selama 8 (delapan) secara efektif, efisien dan afektif, dengan kata lain sungguh bekerja atau belajar. Secara khusus di sini saya angkat perihal belajar, karena ketika selama memiliki tugas belajar sungguh belajar dengan baik, kiranya ketika bekerja juga akan bekerja dengan sungguh-sungguh dan baik. Para pelajar atau mahasiswa pada umumnya paling banyak di sekolah/tempat belajar menerima pengajaran atau belajar selama 6 (enam) jam efektif, apakah afektif tanda tanya besar. Maka baiklah di rumah atau di luar sekolah menyediakan waktu kurang lebih 2(dua) jam sehari untuk belajar sendiri atau bersama, entah mempersiapkan pelajaran yang akan datang atau mengulangi pelajaran yang telah diterima atau menambah pengetahuan baru, dst.. Kami percaya jika selama di sekolah mengikuti proses pembelajaran secara efisien, efektif dan afektif dan ditambah 2(dua) jam di luar sekolah, maka pasti akan sukses dalam tugas belajar, dan yang tak kalah penting adalah terbiasa untuk memboroskan waktu dan tenaga secara efisien, efektif dan afektif.

(2) Makan dan minum. Makan dan minum dalam iman antara lain berarti makan dan minum berpedomam pada apa yang sehat dan tidak sehat, bukan suka dan tidak suka atau enak dan tidak enak. Setiap suku dan bangsa memiliki kebiasaan sendiri-sendiri perihal apa yang dimakan dan diminum setiap hari. Mereka yang sering bepergian ke lain daerah, kota, pulau atau Negara kiranya memiliki pengalaman dalam hal makan dan minum yang berbeda satu sama lain. Ketika kita bertamu hendaknya menikmati makanan atau minuman yang disediakan oleh ‘pemilik rumah/tuan rumah’, meskipun jenis makanan asing bagi kita alias jarang kita makan dan minum. Makan dan minum dalam iman berarti saya makan dan minum apa yang biasa dimakan dan diminum oleh orang setempat pasti tidak akan mati dan tetap sehat wal’afiat, meskipun jenis makanan dan minuman tidak sesuai dengan selera pribadi. Orang setempat makan dan minum apa yang disuguhkan setiap hari tidak mati dan tetap sehat wal’afiat, maka saya makan dan minum yang sama pasti sehat dan tidak akan mati, itulah iman. Sekali lagi kami ingatkan hendaknya dalam hal makan dan minum tidak mengikuti pedoman enak dan tidak enak, sesuai selera pribadi atau tidak, tetapi berpedoman pada apa yang sehat dan tidak sehat.

(3) Istirahat/tidur. Ada orang tidak dapat tidur atau istirahat ketika ganti tempat tidur alias di tempat lain sulit tidur atau istirahat, demikian juga ada orang menjelang tidur dalam suasana cemas atau was-was, ada kekhawatiran-kekhawatiran, terkait dengan harta benda, saudaranya maupun keselamatan dirinya. Tidur/istirahat dalam iman berarti menjelang istirahat atau tidur siap sedia meninggalkan segala sesuatu atau menyerahkan segala sesuatu pada Penyelenggaraan Ilahi, termasuk kesiap-sediaan sewaktu-waktu tidak dapat bangun lagi alias ketika sedang tidur nyenyak langsung dipanggil Tuhan atau meninggal dunia, entah karena musibah, bencana alam ataupun sebab-sebab lain.

“Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah” (2Tim1:7-8)

Roh atau jiwa kekuatan, kasih dan ketertiban itulah yang dianugerahkan oleh Allah kepada kita dan harus kita hayati dengan penuh syukur dan terima kasih. Ada aneka macam tata tertib yang harus kita hayati atau laksanakan dengan semangat kasih dan seluruh kekuatan kita. Aneka macam tata tertib hemat saya dibuat dan diundangkan atau diberlakukan atas dasar kasih dan demi kasih, serta dibuat dengan seluruh kekuatan dari mereka yang terlibat untuk membuatnya, maka selayaknya kita hayati atau laksanakan dalam kasih dan dengan seluruh kekuatan kita.

Pertama-tama dan terutama marilah masing-masing dari kita menertibkan diri sendiri, antara lain makan dan minum maupun istirahat secara teratur, olahraga secara teratur sesuai dengan tuntutan kesehatan, belajar maupun bekerja secara teratur pula. Barangsiapa dapat mengatur diri sendiri, maka ia akan memiliki kemudahan untuk mengatur lingkungan hidup dan sesamanya, sebaliknya barangsiapa tidak dapat mengatur diri sendiri, maka ia akan menjadi pengacau dalam kehidupan bersama. Kepada mereka yang bertugas untuk mengurus dan mengatur aneka macam jenis surat atau tugas pengarsipan kami harapkan mengatur sedemikian rupa, sehingga sewaktu-waktu ada surat yang dibutuhkan dapat segera dilayani dengan baik.

Ketertiban yang juga mendesak untuk dihayati dan dilaksanakan pada masa kini antara lain tertib berlalu-lintas di jalanan. Tertib berlalu-lintas di jalanan hemat saya merupakan cermin kwalitas pribadi bangsa. Maka dengan ini kami berharap kepada para pengemudi jenis kendaraan apapun serta para pejalan kaki untuk mentaati aneka tata-tertib di jalanan: rambu-rambu lalu lintas seperti marka jalan, lampu lalu lintas, tanda-tanda dilarang parkir, membelok dst.. Tak kalah penting adalah mentaati aneka aturan perawatan kendaraan sebagaimana tertulis dalam buku petunjuk perawatan kendaraan. Marilah kita sikapi aneka tata tertib di jalanan dalam dan oleh kasih, agar para pengguna jalan selamat sampai tujuan, tiada kecelakaan dan korban di jalanan.

“Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita. Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun, pada waktu nenek moyangmu mencobai Aku, menguji Aku, ada hal mereka melihat perbuatan-Ku “ (Mzm95:6-9)

Jakarta, 3 Oktober 2010
Tgl 01Oct2010 oleh Rm I.Sumarya, SJ

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda