I. Sumarya. SJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Homili dan Renungan Harian “Janda ini memberi dari kekurangannya bahkan ia memberi seluruh nafkahnya”

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


(Dan1:1-68-20 ; Luk21:1-4)

“ Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya." (Luk21:1-4), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta ‘SP Maria dipersembahkan kepada Allah’ hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Persembahan kepada Allah maupun sesama yang benar dan baik adalah ‘memberi dari kekurangan’ bukan ‘memberi dari kelimpahan’. Memberi dari kelimpahan berarti memberi sisa-sisa kepada orang lain alias membuang sampah atau menjadikan orang lain sebagai tempat sampah, dan dengan demikian melecehkan atau menginjak-injak harkat martabat manusia. Maka kami mengajak anda sekalian sebagai umat beriman atau beragama untuk mawas diri: apakah kita sungguh menghayati iman kita, yang berarti memberikan atau mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah melalui sesama atau saudara-saudari kita. Ingatlah, sadari dan hayati bahwa hidup dan segala sesuatu yang kita miliki dan kuasai sampai saat ini adalah anugerah Allah, maka selayaknya kita bersyukur dan berterima kasih dengan mempersembahkan diri kepadaNya. Secara konkret persembahan diri kepada Allah selain setia berdoa setiap hari tentu saja juga harus menjadi nyata dalam cara hidup dan cara bertindak. Maka hendaknya sebagai pelajar atau mahasiswa memboroskan waktu dan tenaganya untuk belajar, sebagai pekerja hendaknya memboroskan waktu dan tenaganya pada pekerjaan yang dibebankannya dst.. Namun hemat saya entah apapun yang menjadi tugas, kewajiban atau pekerjaan kita, hendaknya dilaksanakan dengan semangat belajar, sebagaimana dicanangkan oleh UNESCO dalam memasuki Millenium Ketiga ini dengan empat mottonya, yaitu “learning to be, learning to learn, learning to do, learning to live together”.

· “Orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim” (Dan1:4). Marilah ajakan atau peringatan di atas ini kita refleksikan atau renungkan serta kemudian kita hayati. Rekan-rekan muda-mudi hendaknya berusaha untuk “berperawakan baik, memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan mempunyai pengertian tentang ilmu”, dan untuk itu caranya tidak lain adalah memiliki semangat belajar yang tinggi, handal dan tangguh. Tidak hanya belajar di sekolah/perguruan tinggi saja, tetapi juga belajar dari kehidupan sehari-hari dalam rangka menghadapi aneka masalah, tantangan, hambatan atau peristiwa-peristiwa. Anda juga dapat belajar dari aneka berita atau informasi yang diwartakan oleh berbagai sarana komunikasi seperti majalah, koran, TV, internet dst.. Selanjutnya hendaknya dikembangkan semangat ‘belajar sendiri’ atau ‘auto study’. Kepada para orang tua maupun guru/pendidik kami harapkan mengajarkan ‘tulisan dan bahasa’, artinya mengajarkan tata krama atau sopan santun yang baik sesuai dengan situasi dan lingkungan setempat. Setiap suku dan bangsa memiliki tata krama atau sopan santun yang berbeda satu sama lain, namun juga ada yang sama. Sebagai contoh: di daerah Batak ketika anda disuguhi makanan dan minuman dalam suatu harus dihabiskan, bahkan boleh dibawa pulang, itulah sopan santun yang baik; sedangkan di Jawa ketika disuguhi makanan yang demikian itu biasanya hanya dimakan sedikit alias harus disisakan, itulah sopan santun yang baik. Berdiri merupakan tanda hormat, tetapi juga dapat merupakan tanda tidak hormat. Karena kita belum tentu menguasai aneka kebiasaan aneka suku atau bangsa, maka pada suatu saat ketika kita memperoleh kesempatan untuk datang ke tempat-tempat tersebut, tidak lain dari kita dituntut sikap belajar. Lihat dan cermati dan kemudian tiru saja cara bertindak orang setempat yang dinilai sopan, meskpun bagi kita terasa tidak sopan.

"Terpujilah Engkau, Tuhan, Allah nenek moyang kami, yang patut dihormati dan ditinggikan selama-lamanya. terpujilah nama-Mu yang mulia dan kudus, yang patut dihormat dan ditinggikan selama-lamanya. Terpujilah Engkau dalam Bait-Mu yang mulia dan kudus, Engkau patut dinyanyikan dan dimuliakan selama-lamanya. Terpujilah Engkau di atas takhta kerajaan-Mu, Engkau patut dinyanyikan dan ditinggikan selama-lamanya. Terpujilah Engkau yang mendugai samudera raya dan bersemayam di atas kerub-kerub, Engkau patut dihormat dan ditinggikan selama-lamanya.Terpujilah Engkau di bentangan langit, Engkau patut dinyanyikan dan dimuliakan selama-lamanya.” (Dan3:52-56)

Ign 21 November 2011h
Tgl 20Nov2011 oleh Rm I.Sumarya, SJ

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda