I. Sumarya. SJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Homili dan Renungan Harian “Di hadapan Dia semua orang hidup."

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


(1Mak6:1-13 ; Luk20:27-40)

“ Maka datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: "Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia." Jawab Yesus kepada mereka: "Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan. Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan.Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup." Mendengar itu beberapa ahli Taurat berkata: "Guru, jawab-Mu itu tepat sekali." Sebab mereka tidak berani lagi menanyakan apa-apa kepada Yesus.” (Luk20:27-40), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Sesuatu yang kontradiktif, tidak percaya akan kebangkitan orang mati menanyakan perihal kebangkitan orang mati, itulah orang-orang Saduki. Tidak percaya kepada kebangkitan orang mati berarti tidak percaya kepada Allah, maka menanggapi pertanyaan orang-orang Saduki, Yesus menjawab: “Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup”. Maka baiklah kami mengajak semua umat beriman atau beragama untuk merefleksikan sabda Yesus di atas ini, yaitu bahwa ‘di hadapan Dia/Allah semua orang hidup’. Berada di hadapan Allah mau tak mau akan tunduk atau taat pada Allah dan dikuasai oleh Allah, harus melaksanakan kehendak atau perintah Allah. Apakah kita sebagai umat beriman atau beragama semakin tambah usia dan berpengalaman dalam hidup juga semakin berada ‘di hadapan Allah’? Kami percaya bahwa sebagai umat beragama sering berdoa atau bahkan setiap hari berdoa, berusaha untuk berada ‘di hadapan Allah’, namun apakah hal itu terjadi secara formal atau liturgis melulu serta kurang dihayati, kiranya boleh dipertanyakan. Jika setiap berdoa kita sungguh berdoa alias berada ‘di hadapan Allah’, maka selayaknya kita semakin mesra hidup bersama dan bersatu dengan Allah, dan dengan demikian juga percaya bahwa setelah mati atau meninggal dunia nanti akan hidup mulia selamanya bersama Allah di sorga, dan selama hidup di dunia ini juga lebih mengandalkan diri pada Penyelenggaraan Ilahi daripada pada manusia, harta benda atau uang.

· “Teringatlah aku sekarang kepada segala kejahatan yang telah kuperbuat kepada Yerusalem dengan mengambil perkakas perak dan emas yang ada di kota itu dan dengan menyuruh bahwa penduduk Yehuda harus ditumpas dengan sewenang-wenang. Aku sudah menjadi insaf bahwa oleh karena semuanya itulah maka aku didatangi malapetaka ini. Sungguh aku jatuh binasa dengan sangat sedih hati di negeri yang asing” (1Mak6:12-13), demikian kata sang raja setelah menerima berbagai peringatan dari orang yang mendatanginya. Kutipan di atas ini mungkin baik menjadi bahan permenungan atau refleksi bagi para koruptor, yang dengan seenaknya mengambil milik atau hak orang lain. Namun sayang, mungkin para koruptor tidak membaca renungan saya ini, maka kepada mereka yang menerima email saya, silahkan diteruskan kepada para koruptor. Tindakan korupsi atau tindakan pembusukan hidup bersama, sehingga hidup bersama busuk alias tidak sedap lagi, tidak menarik, tidak mempesona dan tidak memikat. Perilaku korupsi sebenarnya sudah terlatih sejak masih dalam sekolah atau dunia pendidikan yaitu ‘kebiasaan menyontek’, maka kami berharap kepada para pengelola atau pelaksana pendidikan/guru untuk memberlalukan ‘dilarang menyontek baik dalam ulangan maupun ujian’ di lingkungan sekolahnya. Membiarkan atau memberi kemungkinan kepada para peserta didik untuk menyontek baik dalam ulangan maupun ujian hemat saya berarti mempersiapkan diri para koruptor untuk masa depan. Sadarlah bahwa kebiasaan menyontek menjadi modal untuk berbuat jahat: mencuri atau korupsi.

“Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib; aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Mahatinggi, sebab musuhku mundur, tersandung jatuh dan binasa di hadapan-Mu. Engkau telah menghardik bangsa-bangsa, telah membinasakan orang-orang fasik; nama mereka telah Kauhapuskan untuk seterusnya dan selama-lamanya” (Mzm9:2-46)

Ign 19 November 2011
Tgl 18Nov2011 oleh Rm I.Sumarya, SJ

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda