I. Sumarya. SJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Homili dan Renungan Harian “Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ”

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


(1Mak4:36-3752-59 ; Luk19:45-48)

“ Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun." Tiap-tiap hari Ia mengajar di dalam Bait Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari bangsa Israel berusaha untuk membinasakan Dia, tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia” (Luk19:45-48), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Bait Allah berarti ‘tempat Allah bertahta atau tempat tinggal Allah’ alias tempat suci, seperti gereja/ kapel, masjid/surau, candi, tempat peziarahan dst.. Siapa pun yang datang ke tempat suci pada umumnya memiliki harapan atau kerinduan agar dirinya semakin suci, semakin membaktikan diri seutuhnya kepada Allah atau agar dirinya pun juga semakin menjadi ‘bait Allah’. Dengan kata lain sebenarnya kita sebagai umat beriman atau beragama diharapkan dapat menjadi ‘bait Allah’ alias dalam keadaan suci. Maka baiklah di hari-hari terakhir tahun Liturgi ini saya mengajak kita semua, khususnya umat Katolik, untuk mawas diri apakah semakin tambah usia dan berpengalaman juga semakin suci, semakin membaktikan diri seutuhnya kepada Penyelenggaraan Ilahi, tidak materialistis. Melalui orang suci orang dapat mengintip siapa sebenarnya Tuhan dan sesama manusia dan apa harta benda atau uang. Manusia adalah gambar atau citra Tuhan, sedangkan aneka macam jenis harta benda atau uang merupakan bantuan bagi manusia agar dapat menjadi gambar atau citra Tuhan yang baik. Harta benda atau uang adalah sarana bukan tujuan. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak kita semua untuk tidak bersikap mental materialistis, lebih-lebih bagi para pemimpin agama maupun mereka yang terlibat dalam kepemimpinan agama, seperti dewan paroki, pengurus gereja/masjid, dst.. Kami sering mendengar masih ada seksi-seksi social di paroki-paroki yang bersikap mental materialistis, yang berarti berlawanan atau bertolak belakang dengan fungsinya. Kami juga berharap kepada para orangtua maupun guru/pendidik untuk mendidik anak-anak atau peserta didik agar tidak bersikap mental materialistis.

· “Delapan hari lamanya perayaan pentahbisan mezbah itu dilangsungkan. Dengan sukacita dipersembahkanlah korban bakaran, korban keselamatan dan korban pujian. Bagian depan Bait Allah dihiasi dengan karangan-karangan keemasan dan utar-utar. Pintu-pintu gerbang dan semua balai diperbaharui dan pintu-pintu dipasang padanya. Segenap rakyat diliputi sukacita yang sangat besar. Sebab penghinaan yang didatangkan orang-orang asing itu sudah terhapus” (1Mak4:56-58). Kutipan dari Kitab Makabe di atas ini kiranya baik menjadi bahan permenungan atau refleksi kita bersama. Marilah kita hiasai bait Allah atau gereja, masjid atau tempat ibadat kita sebaik mungkin sehingga menarik dan memikat semua orang untuk berdoa atau beribadat. Hendaknya aneka sarana-prasarana ibadat dirawat sebaik mungkin, kebersihan lingkungan tempat ibadat, entah bagian luar maupun dalam sungguh diperhatikan, dst.. Kita sering melihat lingkungan rumah begitu indah dan asri, tetapi lingkungan tempat ibadat kelihatan kumuh, demikian juga pakaian dan perhiasan yang dipakai umat bagus dan baru, tetapi pakaian para petugas ibadat seperti pakaian misdinar, kasula dll kelihatan kotor. Bukankah hal ini menunjukkan bahwa umat kurang memperhatikan perawatan atau pemeliharaan tempat ibadat beserta lingkungannya maupun sarana-prasarananya? Secara khusus kami ingatkan juga perihal tujuan kepemilikan harta benda gerejawi, misalnya uang, yaitu untuk “mengatur ibadat ilahi, memberi sustentasi yang layak kepada klerus serta pelayan-pelayan lain, melaksanakan karya-karya kerasulan suci serta amal kasih, terutama terhadap mereka yang berkekurangan” (KHK kan 1254). Kami berharap para pastor paroki maupun dewan paroki dalam hal pengelolaan harta benda atau uang sungguh berpedoman pada tujuan di atas ini. Fungsikan harta benda atau uang gereja untuk membina umat Allah agar semakin suci dan beramal kasih. Ingatlah bahwa uang atau harta gereja berasal dari umat Allah, maka hendaknya juga difungsikan bagi pelayanan umat Allah.

“Ya TUHAN, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya TUHAN, punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala. Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan” (1Taw29:11-12)

Ign 18 November 2011
Tgl 18Nov2011 oleh Rm I.Sumarya, SJ

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda