I. Sumarya. SJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Homili dan Renungan Harian “Anak dunia ini lebih cerdik dari sesamanya anak terang”

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


(Rm14:15-21 ; Luk16:1-8)

“Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.”(Luk16:1-8), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Carolus Borromeus, uskup, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Berurusan dengan uang atau harta benda atau hal-hal duniawi memang harus cerdik jika mendambakan kesuksesan atau keberhasilan, sebagaimana dilakukan oleh para bankir atau pedagang saham di bursa-bursa saham maupun para pedagang di pasar-pasar tradisionil. Mereka pada umumnya juga tidak jujur guna mendukung dan memperkuat kecerdikannya. Maka paradigma para pengelola harta benda atau uang akan bertolak belakang dengan paradigma para rohaniwan-rohaniwati maupun pembantu-pembantunya dalam mengurus atau mengelola umat Allah, manusia beriman, sebagaimana juga dilakukan oleh Carolus Borromeus. Sebagai uskup atau pelayan umat Allah Carolus Borromeus juga cerdik, namun juga tulus dan jujur, maka ia dapat melihat dan berpihak pada mereka yang kurang diperhatikan seperti orang-orang sakit maupun dengan tegas dan berani melawan dan memberantas semangat materialistis yang telah merasuki Gereja, para imam maupun tokoh-tokoh Gereja. Sebagai umat beriman kita dipanggil untuk cerdik dan beriman, tulus dan jujur, tidak cukup hanya cerdik saja. Marilah kita berantas semangat materialistis yang merasuki hidup beriman atau beragama, entah dengan keteladanan kita maupun gerakan bersama. Sesuatu yang sungguh memprihatinkan bahwa di dalam kehidupan menggereja di tingkat paroki misalnya, ada seksi sosial yang seharusnya berjiwa sosial namun dalam kenyataannya materialistis. Sungguh kontradiktif anara atribut dan pelaknasaannya. Sebagai contoh konkret adalah pengurusan orang mati, yang dengan mudah dikomersielkan oleh orang-orang bersikap mental materialistis, dan mungkin juga dalam pelayanan orang sakit.

· “Demikianlah dalam perjalanan keliling dari Yerusalem sampai ke Ilirikum aku telah memberitakan sepenuhnya Injil Kristus. Dan dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, di mana nama Kristus telah dikenal orang, supaya aku jangan membangun di atas dasar, yang telah diletakkan orang lain” (Rm15:19b-20). Dalam melaksanakan tugas pengutusannya Paulus senantiasa ‘berjalan’, tidak berhenti di tempat, dengan kata ia menghayati panggilannya dengan semangat memperbaharui, entah memperbaharui diri maupun lingkungan hidupnya. Ia berani mengadakan inovasi maupun terobosan-terobosan seraya terus menerus mencari celah-celah yang harus dilaluinya. Paulus kiranya dapat menjadi teladan bagi kita semua dalam menghayati semangat missioner kita sebagai umat beriman atau beragama, yaitu semangat pembaharuan, tentu saja tidak asal baru, melainkan pembaharuan yang sungguh mengembangkan, menggairahkan serta membahagiakan atau menyelamatkan, terutama jiwa manusia. Memang terhadap apa-apa yang baru pada umumnya orang bergariah, maka marilah kita sadari dan hayati bahwa setiap detik, menit, jam, hari yang akan kita lalui adalah baru adanya, dengan kata lain marilah kita hadapi masa depan dengan gairah dan gembira. Secara khusus kami berharap kepada mereka yang bekerja dalam pelayanan terhadap orang sakit hendaknya dengan gairah dan gembira melayani setiap orang sakit atau pasien; kegembiraan dan kegairahan anda merupakan obat yang ampuh sekaligus wujud ‘markerting’ diri maupun karya anda. Semoga semangat Carolus Borromeus menjiwai siapapun yang berkarya dalam pelayanan orang-orang sakit.

“Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus. TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa. Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!” (Mzm98:14)

Ign 4 November 2011. “Selamat pesta para mereka yang memiliki pelindung St.Carolus Borromeus”
Tgl 04Nov2011 oleh Rm I.Sumarya, SJ

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda