I. Sumarya. SJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Homili dan Renungan Harian “Siapakah hamba yang setia dan bijaksana?”

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


(1Tes3:7-13 ; Mat24:42-51)

“Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana
Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu
mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia
berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu,
hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat
yang tidak kamu duga." "Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang
diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka
makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya
melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata
kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi
pengawas segala miliknya. Akan tetapi apabila hamba itu jahat dan
berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai
memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama
pemabuk-pemabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak
disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan
membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di
sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.” (Mat 24:42-51),
demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:

• Cukup banyak orang kurang setia pada janji-janji yang telah
diikrarkan, maka dengan demikian mereka juga kurang bijak dalam
berperilaku atau bertindak. Sabda hari ini mengajak kita semua untuk
mawas diri perihal kesetiaan dan kebijakan, maaf bukan bijaksana. Para
pengusaha sering mengurangi ukuran kemasan sebagaimana terulis dalam
sampul, para pendidik/guru dan pelajar pada umumnya mengurangi jam-jam
pertama atau terakhir jumlah jam pelajaran, dalam mengikuti atau
berpartisipasi dalam ibadat atau kegiatan sering orang datang
terlambat dan pulang lebih awal, para pengendara tidak setia pada tata
tertib berlalu-lintas, dst.. “Setia adalah sikap dan perilaku yang
menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah
dibuat” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti
Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Baiklah secara khusus
kami mengajak anda sekalian untuk mawas diri perihal ‘janji baptis’,
dimana kita berjanji ‘hanya mau mengabdi Tuhan saja dan menolak semua
godaan setan’. Mengabdi Tuhan berarti senantiasa mendengarkan dan
melaksanakan perintah Tuhan, yang antara lain diterjemahkan ke dalam
aneka tata tertib yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan
kita masing-masing. Maka marilah kita setia melaksanakan tata tertib
yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing.
Tidak setia pada tata tertib berarti mengikuti godaan setan. Godaan
setan antara lain menggejala ke dalam aneka tawaran kenikmatan sebagai
wujud nafsu yang tak terkendali, yang memang terkait dengan
kenikmatan-kenikmatan phisik seperti tidur, makan-minum dan seks.
Kenikmatan memang merupakan anugerah Tuhan, kenikmatan yang
dikehendaki Tuhan ialah yang membantu, memperdalam dan membangun
persahabatan kita dengan Tuhan maupun sesama manusia, antara lain
melayani sesama dengan rendah hati.

• “Kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan
dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama
seperti kami juga mengasihi kamu. Kiranya Dia menguatkan hatimu,
supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada
waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya”
(1Tes3:12-13), demikian dambaan dan doa Paulus bagi umat di
Tesalonika, bagi kita semua umat beriman. “Bertambah-tambah dan
berkelimpahan dalam kasih terhadap yang lain dan terhadap semua
orang”, inilah yang hendaknya kita renungkan atau refleksikan. Semua
agama atau orang kiranya mengajarkan kasih, dan mendambakan kita semua
saling mengasihi, agar ‘tak bercacat dan kudus’. Sekali lagi saya
angkat di sini bahwa masing-masing dari kita adalah ‘yang terkasih’
atau buah kasih, diciptakan dan ditumbuh-kembangkan dalam dan oleh
kasih. Jika masing-masing dari kita menyadari dan menghayati diri
sebagai ‘yang terkasih’ kiranya panggilan untuk hidup saling mengasihi
dapat kita hayati dengan mudah. Maka pertama-tama saya mengingatkan
kita semua untuk menyadari dan menghayati diri sebagai yang terkasih.
Untuk itu marilah kita kenangkan ketika kita masih berada di rahim ibu
atau masa kanak-kanak/bayi kita: bukankah pada masa itu kita sungguh
dikasihi sehingga kita dapat tumbuh berkembang sebagaimana adanya saat
ini. Dengan kata lain masing-masing dari kita kaya akan kasih secara
melimpah ruah, maka panggilan untuk saling mengasihi adalah
menyalurkan kasih yang kita miliki tersebut. Memang kita diharapkan
tidak pelit untuk menyalurkan kasih kepada saudara-saudari kita.

“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami
beroleh hati yang bijaksana. Kembalilah, ya TUHAN -- berapa lama lagi?
-- dan sayangilah hamba-hamba-Mu! Kenyangkanlah kami di waktu pagi
dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita
semasa hari-hari kami” (Mzm90:12-14)

Ign 25 Agustus 2011
Tgl 25Aug2011 oleh Rm I.Sumarya, SJ

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda