I. Sumarya. SJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Homili dan Renungan Harian “Celakalah kamu hai ahli Taurat dan orang Farisi”

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


(1Tes1:2b-58b-10 ; Mat23:13-22)

“ Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai
kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan
Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu
merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. [Celakalah kamu, hai
ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik,
sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang
dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima
hukuman yang lebih berat.] Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan
orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu
mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang
saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan
dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri.
Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah
demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait
Suci, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang
buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan
emas itu? Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi
bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat.
Hai kamu orang-orang buta, apakah yang lebih penting, persembahan atau
mezbah yang menguduskan persembahan itu? Karena itu barangsiapa
bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala
sesuatu yang terletak di atasnya. Dan barangsiapa bersumpah demi Bait
Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang diam di
situ. Dan barangsiapa bersumpah demi sorga, ia bersumpah demi takhta
Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya.” (Mat23:13-22),
demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Perawan
Maria, Ratu, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

· Cirikhas orang Farisi dan ahli Taurat antara lain kurang
melaksanakan apa yang mereka ajarkan atau mereka ketahui, dengan kata
lain kurang dalam penghayatan dan unggul dalam omongan maupun teori.
Sedangkan keutamaan Bunda Maria antara lain kebalikannya, yaitu
‘mendengarkan dan merenungkan dalam hati apa yang didengarkan’, dengan
kata lain mendengarkan dan kemudian melaksanakan apa yang didengarkan.
Maka mengikuti cara hidup dan cara bertindak orang Farisi maupun ahli
Taurat pasti akan celaka, sebaliknya mengikuti atau meneladan cara
hidup dan cara bertindak Bunda Maria akan selamat, bahagia dan damai
sejahtera. Kalau pada hari ini kita diajak untuk mengenangkan SP Maria
sebagai Ratu kiranya berarti kita diajak untuk meneladan cara hidup
dan cara bertindaknya. Marilah kita perdalam dan teguhkan keutamaan
‘mendengarkan dan melakukan’ dalam cara hidup dan cara bertindak kita
setiap hari dimanapun dan kapanpun. Menghayati dua keutamaan ini butuh
kerendahan hati dan pengorbanan diri disertai kesiap-sediaan hati,
jiwa, akal budi dan tubuh untuk senantiasa siap diperbaharui atau
dirubah, sebagaimana juga dihayati oleh SP Maria: “Sesungguhnya aku
ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu."(Luk1:38.
Mendengarkan dan melakukan apa yang didengarkan erat sekali
dengan keutamaan ketaatan, sebagaimana dihayati oleh SP Maria dengan
tanggapannya “jadilah padaku menurut perkataanmu itu”. Maka marilah
kita hayati keutamaan ketaatan dalam cara hidup dan cara bertindak
kita setiap hari dimanapun dan kapanpun. Kita taati dan laksanakan
aneka tata tertib yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan
kita masing-masing.

· “Kami selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu semua dan
menyebut kamu dalam doa kami. Sebab kami selalu mengingat pekerjaan
imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita
Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita.Dan kami tahu, hai
saudara-saudara yang dikasihi Allah, bahwa Ia telah memilih kamu.”(1Te1:2-4),
demikian ungkapan iman Paulus kepada umat di Tesalonika. Kami
berharap kita meneladan Paulus dengan saling mengungkapkan iman satu
sama lain, artinya secara konkret saling memperlihatkan keimanan
saudara-saudari kita kepada yang bersangkutan alias melihat
kebaikan-kebaikan saudara-saudari kita. Marilah dengan rendah hati
kita lihat dan angkat ‘pekerjaan iman, usaha kasih dan ketekunan
pengharapan’ yang dihayati oleh saudara-saudari kita serta saling
mendukung agar kita semua juga sungguh tekun dalam ketika keutamaan
utama ‘iman, kasih dan pengharapan’. Dari ketiga keutamaan ini yang
terbesar adalah kasih, maka marilah kita saling mengasihi satu sama
lain tanpa pandang bulu atau SARA. Kasih pertama-tama dan terutama
harus menjadi nyata dalam tindakan atau perilaku bukan dalam omongan
atau wacana. Maka hendaknya perbuatan sekecil apapun dilaksanakan
dalam dan oleh kasih; bukan besarnya tugas yang utama, melainkan kasih
yang menjiwai tugas. Laksanakan perbuatan seperti menyapu, mengepel,
membukakan pintu, dst..dalam dan oleh kasih.

“Haleluya! Nyanyikanlah bagi TUHAN nyanyian baru! Pujilah Dia dalam
jemaah orang-orang saleh. Biarlah Israel bersukacita atas Yang
menjadikannya, biarlah bani Sion bersorak-sorak atas raja mereka!
Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tari-tarian, biarlah mereka
bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! Sebab TUHAN berkenan
kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan
keselamatan.” (Mzm149:1-4)

Ign 22 Agustus 2011
Tgl 21Aug2011 oleh Rm I.Sumarya, SJ

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda