I. Sumarya. SJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Homili dan Renungan Harian Barangsiapa terbesar di antara kamu hendaklah ia menjadi pelayanmu

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


(Rut2:1-38-11 ; 4:13-17 ; Mat23:1-12)

“Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya,
kata-Nya: "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki
kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang
mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti
perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak
melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di
atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua
pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang;
mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang;
mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat
terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar
dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi;
karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara.” Dan janganlah
kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu,
yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena
hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara
kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan
diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan
ditinggikan.” (Mat23:1-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Bernardus,
Abas dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:

• Abas adalah pemimpin atau superior hidup kontempaltif fungsinya
sederajat dengan uskup, pembesar atau pemimpin Gereja Katolik di
keuskupannya. Para uskup atau gembala kita senantiasa berusaha untuk
menjadi hamba atau pelayan umat, maka di dalam doa Syukur Agung uskup
senantiasa menyatakan diri sebagai hamba yang hina dina. Sabda Yesus
hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua yang beriman kepadaNya
untuk merendahkan diri; “Barangsiapa terbesar di antara kamu,
hendaklah ia menjadi pelayanmu”, demikian sabdaNya. Maka marilah kita
semua berusaha untuk rendah hati, dan sudah berkali-kali saya
mengingatkan agar kita semua rendah hati. “Rendah hati adalah sikap
dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri,
yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada
kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak
menonjolkan dirinya” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman
Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 24). Kami berharap
rendah hati ini sedini mungkin dididikkan atau dibiasakan pada
anak-anak di dalam keluarga dengan teladan konkret para orangtua atau
bapak ibu. Penghayatan rendah hati pada masa kini kiranya dapat
menjadi nyata dalam cara hidup dan cara bertindak yang tidak mengeluh
atau tidak menggerutu dalam menghadapi apa saja yang tidak sesuai
dengan selera pribadi. Saya yakin bahwa dalam kehidupan kita
sehari-hari cukup banyak hal yang tidak sesuai dengan selera pribadi,
dengan kata lain rendah hati dapat kita latih atau biasakan setiap
hari dalam hidup sehari-hari. Mengeluh atau menggerutu hemat saya
merupakan bentuk kesombongan yang paling halus atau lembut, dan mudah
dilakukan oleh siapapun.

• "Biarkanlah aku pergi ke ladang memungut bulir-bulir jelai di
belakang orang yang murah hati kepadaku.” (Rut2:2), demikian kata Rut
kepada Naomi. Apa yang dikatakan oleh Rut ini hemat saya merupakan
ungkapan hati orang yang rendah hati. “Memungut bulir-bulet jelai di
belakang orang yang murah hati” berarti mengumpulkan sisa-sisa panenan
jelai gandum. Bukankah hal ini berarti merupakan pekerjaan yang hina?
Maka dengan ini kami berharap kepada kita semua untuk tidak malu
melakukan pekerjaan-pekerjaan sederhana atau hina seperti menyapu,
mengepel, membersihkan toilet dst.. alias melakukan pekerjaan
sehari-hari sesuai dengan kebutuhan hidup kita, sebagaimana sering
dilakukan oleh para pembantu rumah tangga dll. Sekiranya anda tidak
memiliki kesempatan untuk melakukan pekerjaan tersebut, baiklah kami
mengajak anda untuk menghargai dan menghormati para pembantu rumah
tangga anda, antara lain tidak mudah memarahi mereka, memberi jaminan
kesejahteraan yang memadai alias imbal jasa yang menjamin kehidupan
mereka serta keluarganya sehingga dapat hidup sejahtera baik phisik
maupun spiritual, lahir maupun batin. Hari-hari ini ada kemungkinan
para pembantu anda sudah minta cuti dalam rangka merayakan Idul Fitri,
dan anda akan merasa kehilangan sesuatu dengan absennya para pembantu
rumah tangga. Jadikanlah pengalaman tersebut menjadi bahan refleksi
betapa mahalnya nilai pembantu rumah tangga, betapa besar arti dan
kehadiran para pembantu rumah tangga di dalam keluarga kita
masing-masing. Memang benar sesuatu akan terasa berharga ketika ia
absen atau tidak ada di hadapan kita, sementara itu kita sungguh
membutuhkan.

“Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut
jalan yang ditunjukkan-Nya! Apabila engkau memakan hasil jerih payah
tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu! Isterimu akan
menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu
seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! Sesungguhnya demikianlah
akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN.” (Mzm128:1-4)

Ign 20 Agustus 2011
Tgl 20Aug2011 oleh Rm I.Sumarya, SJ

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda