I. Sumarya. SJ

 

Ikuti Jalan SalibJalan Salib

Homili dan Renungan Harian “Hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?"

Kirim Ke Printer Kirim artikel ini ke teman


(Rut1:13-614b-1622 ; Mat22:34-40)

“Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat22:34-40), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Dalam kehidupan bersama bidang apapun telah diberlakukan atau diundangkan aneka tata tertib atau aturan yang diharapkan dilaksanakan atau dihayati oleh mereka yang berada dalam kebersamaan tersebut. Namun jika dicermati nampaknya banyak tata tertib tinggal dalam tulisan yang rapi, kurang diperhatikan dan dihayati. Semua tata tertib atau aturan hemat saya dibuat dan diberlakukan dalam dan oleh kasih serta diharapkan mereka yang melaksanakan hidup dan bertindak saling mengasihi, maka marilah kita sikapi dan hayati aneka tata tertib atau aturan dalam dan oleh kasih; kita hayati dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan atau tubuh. “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu seperti dirimu sendiri”, demikian sabda Yesus. Sabda ini kiranya dapat menjadi pedoman atau acuan kita dalam saling mengasihi dalam rangka melaksanakan aneka tata tertib atau aturan hidup bersama. Kami percaya bahwa setiap dari kita pasti mengasihi diri sendiri dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tenaga, maka baiklah cara mengasihi diri ini kita teruskan dalam mengasihi sesama kita dimanapun dan kapanpun. Sekali lagi saya mengajak para suami-isteri atau bapak ibu yang memiliki saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh untuk dapat menjadi teladan dalam saling mengasihi bagi anak-anaknya. Kepada para pemimpin atau tokoh agama kami harapkan juga menjadi teladan dalam saling mengasihi bagi umatnya, dan marilah kita bangun dan perdalam kehidupan saling mengasihi antar umat beragama. Marilah kita meneladan para pendiri bangsa kita yang terdiri dari aneka perbedaan SARA bersatu padu melangkah dan maju bersama.

· "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku” (Rut1:16), demikian kata Rut kepada Naomi. Apa yang dikatakan oleh Rut ini kiranya dapat menjadi acuan atau pedoman hidup kita; suatu kesaksian iman perihal hidup persaudaraan atau persahabatan sejati. Persaudaraan atau persahabatan sejati kiranya masih mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebar-luaskan pada masa kini, mengingat dan memperhatikan masih maraknya aneka permusuhan dan tawuran yang membawa korban di sana-sini. Salah satu cara yang utama dan terutama dalam membangun dan memperdalam persaudaraan atau persahabatan adalah menghayati apa yang sama di antara kita, sehingga apa yang berbeda antar kita akan fungsional menghayati persaudaraan atau persahabatan. Maka marilah kita cari dan hayati apa yang sama di antara kita dengan kerjasama dan gotong-royong. Pertama-tama marilah kita hayati sebagai manusia, ciptaan terluhur dan termulia di dunia ini, yang diciptakan sebagai gambar atau citra Tuhan. Marilah kita saling berkomunikasi, bercakap-cakap dan bercurhat. Ada aneka macam bahasa dimana ada kemungkinan kita tidak saling tahu satu sama lain, tetapi ingatlah dan sadari bahwa ada bahasa yang sama di antara kita yang berlainan, yaitu bahasa tubuh, sebagai anugerah Tuhan. Maka baiklah kita tidak melupakan bahasa tubuh ini dalam berkomunikasi serta membangun dan memperdalam persaudaraan atau persahabatan sejati. Sekali lagi kami ajak untuk mengenangkan hari Kemerdekaan Negara kita NKRI dengan merenungkan dan menghayati sila ketiga dari Pancasila “Persatuan Indonesia”, dan semoga kita bangsa Indonesia, yang terdiri dari aneka suku dan bahasa bersatu padu membangun bangsa tercinta.

“Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya: Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya, yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung, TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar.” (Mzm146:5-8)

Ign 19 Agustus 2011
Tgl 18Aug2011 oleh Rm I.Sumarya, SJ

Register agar anda dapat ikut mengirimkan komentar anda