"Tuhan supaya aku dapat melihat!" @ 13 November 2011 12:00 PM
([[1Mak 1:10-15.41-43.54-57.62-64; Luk 18:35-43]])

“Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: "Apa itu?" Kata orang kepadanya: "Yesus orang Nazaret lewat." Lalu ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!" Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Dan ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya: "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang itu: "Tuhan, supaya aku dapat melihat!" Lalu kata Yesus kepadanya: "Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!" Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah.” ([[Luk 18:35-43]]), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Mata merupakan salah satu indera kita yang penting, karena dengan penglihatan yang baik kita akan menyaksikan aneka keindahan alam, sesama manusia yang tampan atau cantik dst.. sebagai ciptaan Tuhan, apalagi melihat dalam dan dengan kaca mata iman. Dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan seorang buta yang mendengar Yesus melewatinya dan kemudian mohon “Tuhan, supaya aku dapat melihat”, dan karena imannya orang buta itu pun disembuhkan serta kemudian dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. Memang orang buta pada umumnya dianugerahi kepekaan mendengarkan dengan baik, sehingga ia dapat mendengarkan aneka suara di lingkungan hidupnya dengan baik. Alangkah indahnya jika kita semua dapat mendengarkan dan melihat dengan baik. Kami percaya mayoritas dari kita tidak buta dan tidak tuli, namun apakah dapat mendengarkan dan melihat segala sesuatu dengan baik dapat dipertanyakan. Agar kita dapat mendengarkan dan melihat dengan baik dibutuhkan kerendahan hati, tanpa rendah hati kita tak akan dapat melihat dan mendengarkan dengan baik. Rendah hati juga merupakan salah satu perwujudan iman yang utama. Beriman berarti membuka diri sepenuhnya terhadap Penyelenggaraan Ilahi, sedangkan rendah hati adalah ‘sikap dan perrilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Marilah kita dengarkan dan lihat segala sesuatu di lingkungan hidup dan kerja kita dengan rendah hati.

· “Di masa itu tampil dari Israel beberapa orang jahat yang meyakinkan banyak orang dengan berkata: "Marilah kita pergi dan mengadakan perjanjian dengan bangsa-bangsa di keliling kita. Sebab sejak kita menyendiri maka kita ditimpa banyak malapetaka." Usulnya itu diterima baik.Maka beberapa orang dari kalangan rakyat bersedia untuk menghadap raja. Mereka diberi hak oleh raja untuk menuruti adat istiadat bangsa-bangsa lain” ([[1Mak 1:11-13]]). Para penjahat memang cenderung untuk hidup menyendiri, menjauhi sahabat-sahabatnya dan bekerja sama dengan orang lain, yang sama-sama berkehendak jahat. Mereka lebih suka bekerjasama dengan orang asing daripada saudara-saudarinya sendiri, dengan kata lain meereka membutakan diri terhadap saudara-saudarinya. Rasanya di lingkungan hidup kita juga ada orang-orang yang bertindak demikian; mereka akrab dengan orang-orang lain di luar keluarga atau komunitasnya, tetapi tak bersahabat dengan saudara-saudari sekeluarga atau sekomunitas. Dengan kata lain mereka kurang atau tidak beriman: mampu melihat apa yang jauh, tetapi buta terhadap yang dekat; terhadap orang lain kelihatan melayani namun yang benar adalah menindas atau menguasai. Dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk tidak meniru orang-orang yang demikian itu, melainkan marilah dengan rendah hati, cermat dan teliti serta tekun saling melihat dan mengakui alias mengimani apa yang baik di antara saudara-saudari kita sekeluarga, sekomunitas atau setempat kerja. Jika kita dapat dengan terampil mengasihi yang dekat dengan kita, maka terhadaap otang lain akan melayani dan membahagiakan, sebaliknya jika kita tak mampu mengasihi yang dekat dengan kita, maka terhadap yang lain akan menindas dan menguasai alias mencelakakannya. Para pemimpin hendaknya peka melihat anak buahnya yang berkehendak jahat, dan sedini mungkin dicegah agar mereka tidak berbuat jahat.

“Aku menjadi gusar terhadap orang-orang fasik, yang meninggalkan Taurat-Mu. Tali-tali orang-orang fasik membelit aku, tetapi Taurat-Mu tidak kulupakan” ([[Mzm 119:53.61]])

Ign 14 November 2011

Copyights 2001 Artikel diambil dari Ekaristi.org